Aku melihat calon mertuaku yang sedang berjalan ke arahku, semakin mendekat, hingga posisi mereka berada tepat di depanku dan Ale. Papa masih berdiri menghadapku, lalu Mama duduk di sampingku, dan aku hanya sedetik melempaskan senyum kaku pada keduanya. Aku mendapati rona kebingunan pada wajah Mereka, mungkin Papa dan Mama belum mengetahui alasan kami berada di tempat ini. Lantas tidak lama setelah itu, muncul ekspresi bersalah pada raut muka wanita yang seumuran dengan Mamaku tersebut. Aku sudah bisa menebak dari gerak mulutnya yang membuka dan menutup, seakan ia ragu ingin mengatakan sesuatu. “Mama baru saja melihat beritanya di televisi. Ternyata kamu benar, mayat itu bukan Arkha. Mama sebagai ibu kandungnya merasa sangat malu padamu, karena telah salah mengenali anak Mama send

