Episode 45. Ruang Operasi

1318 Kata

    Untuk sesaat aku tidak percaya dengan yang baru saja aku lihat. Namun hatiku terus bergejolak perih, hingga mataku tidak bisa terlepas dari jalur yang telah dilaluinya.     “A-Ale... d-dia...!” Aku berlari mengejar pasien tersebut dan sepertinya Ale mengikutiku. “Kali ini … saat ini aku tidak mungkin salah mengenali orang. Aku sungguh tahu dia,” isak tangisku meledak.     Meskipun Ale terus mengikuti dan memanggil-manggil namaku, tetapi aku tidak bergeming sedikit pun. Di kepalaku saat ini hanya ada kepingan penyesalan yang menyertai kesedihanku. Kala aku bisa mengenali mayat yang hangus terbakar hanya dengan sekali lirik, tapi sekarang muncul keraguan cuma karena wajah yang bersimbah darah, dan aku masih juga menerka-nerkanya. Namun tidak, hatiku masih tetap bisa mengenalinya, hanya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN