Untuk sesaat aku tidak percaya dengan yang baru saja aku lihat. Namun hatiku terus bergejolak perih, hingga mataku tidak bisa terlepas dari jalur yang telah dilaluinya. “A-Ale... d-dia...!” Aku berlari mengejar pasien tersebut dan sepertinya Ale mengikutiku. “Kali ini … saat ini aku tidak mungkin salah mengenali orang. Aku sungguh tahu dia,” isak tangisku meledak. Meskipun Ale terus mengikuti dan memanggil-manggil namaku, tetapi aku tidak bergeming sedikit pun. Di kepalaku saat ini hanya ada kepingan penyesalan yang menyertai kesedihanku. Kala aku bisa mengenali mayat yang hangus terbakar hanya dengan sekali lirik, tapi sekarang muncul keraguan cuma karena wajah yang bersimbah darah, dan aku masih juga menerka-nerkanya. Namun tidak, hatiku masih tetap bisa mengenalinya, hanya

