Aku menapakkan kaki memasuki restoran tempatku bekerja bersama dengan Virza. Aku edarkan bola mata ke seluruh penjuru, tapi sepertinya dia tidak nampak juga. “Apa yang kamu cari?” Virza membuntutiku. “Vivi,” jawabku pendek. “Untuk apa kamu mencari orang itu? Lebih baik kita pergi saja dari sini dan mencari tempat tujuan lain yang jauh lebih menyenangkan.” Virza sepertinya tidak senang berada di tempat ini. “Aku ingin menemuinya sebentar,” sahutku. “Terserahlah,” celetuknya. “Nis, nis, kamu lihat Vivi? Dia sif pagi hari ini, kan?” Aku bertanya pada Danis yang terlihat sibuk membersihkan meja kotor. “Iya, tapi lagi sama Pak Dirga di dalam,” gadis manis itu berujar padaku. “Ada apa?” tanyaku penasaran. “Aku tidak tahu.” Danis menggelengkan kep

