Sudah tiga hari berlalu, Arkha dan Virza tidak menampakkan bayangannya sama sekali. Aku juga sudah mencoba menghubungi tunanganku, tapi sepertinya ia mengalihkan panggilanku pada suara operator. Aku sudah tidak tahu lagi cara memilih tindakan yang tepat untuk menghadapi tingkah calon suamiku itu. Sedangkan hari ini aku masih harus membantu untuk persiapan pernikahanku yang akan berlangsung minggu pagi. Sebenarnya Mama melarangku menyibukan diri, akan tetapi jika aku hanya berdiam, maka aku akan terus saja teringat tentang pengkhianatan tersebut. Apalagi dengan kondisi Mama yang seperti ini, maka sudah sangat jelas tidak mungkin aku membiarkannya mengatasi segala sesuatu seorang diri. Aku hanya bisa pasrah dengan nasib yang telah digariskan dalam alur kehidupanku. Itulah jalan satu-satu

