Aku memperhatikan Virza dan Vania yang tampak sedang asyik membicarakan masa-masa kuliah mereka yang telah berlalu. Aku merasa sedikit bosan, menyeruput latte macchiato, lantas memperhatikan sekitar yang sepertinya lebih bisa mengusir jenuhku dari pada hanya mendengarkan kelakar sepasang mantan kekasih yang tampak kembali mengakrabkan diri. Aku memperhatikan lampu-lampu lampion eksentrik bergantungan di langit-langit. Aku mengarahkan mataku pada seluruh dinding kafe yang terbentuk dari sebagian besar kaca dan sebagian kecil batu bata bermotif. Di tempat tersebut terdapat beberapa meja khusus dengan sofa bergaya vintage yang menempel pada dinding di sudut ruangan, serta beberapa meja dengan kursi rotan sintetis seperti yang aku duduki saat ini. Kemudian aku memperhatikan pelayan y

