Twins Lovers Part 13 Hukuman

1518 Kata
Author Pov. Elthan baru saja membuka matanya, sebenarnya dia masih mengantuk, namun tinggal di Keraton dengan segudang peraturan, termasuk bangun pagi membuatnya mau tidak mau harus bangun, dari pada kena omelan Mommynya jika tidak ya Eyang Tyas. Elthan melihat saudara kembarnya Ethaan sudah rapi dengan kemaja dan celana khakinya, sementara dirinya hanya menggunakan kaus oblong celana jeans pendek, Elthan memang tidak ada niat untuk pergi keluar, mungkin setelah makan dia akan kembali tidur. “Rapi amat lo, mau kemana?.” Tanya Elthan pada kembarannya. “Rumah sakit,” Balas Ethaan, Elthan kadang jengkel sendiri dengan kembarannya itu, jarang ngomong, tapi sekalinya ngomong kadang pedes banget. “Mommy sama Daddy kemana?.” Tanya Elthan lagi karena di meja makan hanya mereka berdua, Ale sudah kembali ke Jakarta semalam karena masih sekolah sementara Elthan dan Ethaan memang membolos. “Rumah sakit,” Ahhhh sudah lah, malas sekali ngomong sama Ethaan mending Elthan diam, dari pada tanya panjang lebar hanya di jawab sekata dua kata. Ethaan berangkat ke rumah sakit setelah saparan, sementara Elthan berjalan jalan sebentra di lingkungan Keraton, dia memang jarang berkeliling, biasanya dia tinggal di rumah Daddynya yang berada di luar Keraton, tapi tadi malam Keenan Pamannya memaksanya untuk pulang ke Keraton. Elthan berjalan ke taman, pagi pagi begini udaranya masih sejuk banyak pepohonan ditaman, kicauan burung saling bersauran di dahan pohon menjadi alunan musik, jarang sekali di Jakarta mendengar kicauan burung, karena cukup jarang pohon mungkin di taman atau pinggir jalan itupun tidak terlalu banyak. Elthan akhirnya berjalan jalan ke Tamansari atau Watter Castle, pagi begini belum terlalu banyak orang yang datang, harusnya dia membawa teman kesini, garing juga jalan jalan sendirian. Elthan tentu membeli tiket masuk, walau dia masih anggota Kesultanan, namun dia tidak ingin mengumbar identitasnya hanya untuk masuk ke Tamansari secara gratis. Ini pertama kalinya Elthan masuk ke Tamansari, ada dua kolam renang, konon dulu katanya digunakan untuk mandi ratu dan para selir raja, baru Elthan berjalan tiba tiba ada seorang wanita yang menghampirinya. “Permisi Mas, boleh minta tolong enggak fotokan saya.” Pinta perempuan dihadapannya, dia bahkan tidak sungkan untuk mengulurkan kameranya. “Ok,,” Elthan mengambil kamera milik perempuan itu, memotretnya dengan beberapa gaya, Elthan sudah seperti fotografer professional saja. “Terimakasih Mas, Masnya ke Tamansari sendirian?, perkenalkan aku Raquella,” Ucap Raqueella. “Elthan, iya keluarga aku sedang sibuk makanya aku hanya jalan jalan sendiri, mau nemenin aku jalan jalan?.” Tanya Elthan. “Boleh deh,, aku juga lliburan sendiri kok,” Ucap Raquella. Mereka bedua akhirnya berjalan jalan di Tamansari, Elthan tentu saja menjadi fotografer dadakan untuk Raquella, tapi Elthan tidak merasa keberatan dia justru senang menjadi fotografer dadakan untuk Raquella. Mereka pergi ke Masjdi bawah tanah atau kadang di sebut sumur gumuling, ini baru jam sepuluh belum terlalu banyak orang, jadi Raquella dan Elthan cukup menikmati jalan jalan mereka, bahkan kamera Raquella sudah cukup banyak fotonya, dan beberapa foto Elthan, tentu Raquella yang meminta Elthan untuk berpose, tapi dia dan Elthan sempat wefie juga beberapa kali. “Ahhhh lelahnya,” Mereka tiba di pintu keluar, hampir satu jam tiga puluh menit mereka berkeliling di taman sari. “Lo laper enggak?.” Tanya Raquella pada Elthan. “Lumayan, mau makan lo?.” Tanya Elthan balik. “Iya gue laper banget, gimana kalua kita makan, bentar lagi makan siang, tadi malam gue makan mie ayam enak banget, deket penginapan gue, mau kesana gak? Lumayan deket sih dari sini,” Ajak Raquella. “Boleh dehhh,” Mereka berjalan ke jelan raya, Elthan bahkan meninggalkan mobilnya, biarain aja, nanti bisa di ambil sama abdi dalem. “Naik becak aja yuk, jalan kaki cukup jauh,” Elthan mengangguk, jujur ini pertama kalinya dia menaiki becak, awalnya Elthan tentu saja takut, namun gengsi dong mau bilang kalau dia takut naik becak, apa lagi Raquella sepertinya sangat menikmati sekali naik becak. Mereka tiba di pintu masuk pusat bakpia tapi tujuannya bukan untuk membeli bakpia namun makan mie ayam, Elthan mengira jika mie ayam yang di bilang Raquella itu tempatnya seperti restoran atau kedai namun bayangannya salah ketika Raquella membawanya ke warung kaki lima, walau tempatnya cukup bersih ini juga pertama kalinya Elthan makan di pinggir jalan. “Elthan kamu mau makan apa, kalau aku tadi malam nyobain mie ayam ceker ayam enak banget, mau coba enggak?,” Tanya Raquella. Seriously, kaki ayam, membayangkan saya Elthan tidak bisa, apa lagi memakannya. “Aku pesan mie ayam pangsit aja, aku enggak terlalu suka ceker ayam.” Ucap Elthan,. “Ok,, aku pesan dulu,” Raquella memesan dua mie ayam, satu mie ayam pangsit, satu mie ayam ceker, tidak lupa dengan dua es jeruk, panas panas gini minum es emang cocok. Raqeulla kembali ke meja tempat mereka duduk, sambil membawa kerupuk, Elthan tentu saja langsung menyomot kerupuk milik Raquella. “Lo liburan di Jogja?.” Tanya Elthan, “Ya gitu deh, lagi males gue kuliah, makanya liburan dua hari, besok sore gue udah balik ke Jakarta,” Ucap Raquella. “Serius lo orang Jakarta, gue juga sih,” Ucap Elthan. Elthan sendiri tidak menyangka jika Raqeuella orang jakarta ternyata orang Jakarta ada yang tidak mengenalnya. “Lo kuliah dimana kalau gue boleh tau?,” Tanya Elthan. “Gue mahasiswa semester lima Spindler University, fakultas IT, lo sendiri kuliah dimana?.” Tanya Raquella. “Spindler University juga,” Raquella hanya mengangguk. Pesanan mereka datang, dengan semangatnya Raquella mengaduk mie ayamnya, memberi kuah sedikit, Elthan tentu melakukan hal yang sama, ternyata di bawah mie ayamnya ada pangsit rebus, Elthan terlebih dulu memakan pangsit rebusnya, enak, sungguh ini snagat enak sekali. Elthan memasukan sambal sedikit kecap dan saus, mengaduk dengan mie ayamnya agar tercampur, tidak ketinggalan dengan acarnya. Elthan makan dengan lahap, dia ternyata lapar, ahhh mungkin kelaparan. Selesai makan mie ayam, mereka melanjutkan jalan jalan di Malioboro, tentu saja dengan menaiki becak lagi, walau cukup dekat tapi ini panas gaess, makanya mereka naik becak. Elthan kembali jadi fotografer untuk Raquella, bahkan mereka tidak sungkan untuk bercanda di pinggir jalan, saling memotret satu sama lain, hingga tanpa sadar mereka sudah sampai di 0 km, walau terik cukup banyak orang yang duduk foto foto atau hanya sekedar berjalan saja, beruntung ada pepohonan jadi ada angin spoi spoi membuat siang tidak terlalu panas. Raquella izin untuk membeli minum sebentar, sementara Elthan menunggu di kursi tidak jauh dari tempat duduknya namun, dua mobil tiba tiba berhenti di pinggir jalan, beberapa laki laki berpakaian serba hitam menghampiri Elthan, membawa Elthan masuk kedalam mobil, membuat beberapa orang hanya saling pandang, Raquella langsung mengerjar Elthan namun di tahan oleh pihak keamanan yang berpatroli. “Nona, jangan membuat hal yang sia sia, dia bukan orang sembarangan, jadi lupakan yang terjadi barusan anggap saja anda tidak pernah melihat Tuan Elthan.” Ucap security yang berpatroli. Gila sebenarnya siapa Elthan, bodohnya dia tadi enggak meminta nomer wa atau alamat rumahnya. Elthan di bawa ke rumah milik Xander, disana sudah ada Xander, Arya dan Keenan, Ethaan. “Darimana?.” Tanya Xander, tatapan mata tajam Xander membuat nyali Elthan langsung menciut. “Jalan jalan Dad, kalian semua pada sibuk sendiri, Elthan enggak ada teman lagian bisa kan telfon Elthan enggak harus bawa pengawal sebanyak itu untuk emput Elthan,” Ucap Elthan, padahal dia lagi asik jalan jalan, Daddynya enggak asik ahhh.. “Semua orang sedang kalut, Kakek Dewa kritis dan kamu masih punya waktu untuk jalan jalan, dimana rasa empati kamu Elthan?.” Bentak Orlando, Orlando walau sudah berusia enam puluh tahun lebih namun dia masih sehat masih bugar, bahkan masih sanggup membetak bentak Elthan. “Ok, Elthan akui Elthan salah, awalnya Elthan hanya jalan jalan di Tamansari, tapi ke blabasan sampai di malioboro,” Jelas Elthan. “Elthan, kamu pulang ke Jakarta sore nanti, Om Devan sudah menyiapkan hukuman untuk kamu besok, selepas kuliah datang ke kantor” Xander selesai mengatakan tentang hukumannya langsung pergi meninggalkan Elthan dan yang lain di ruang tamu. Kepalanya cukup sakit menghadapi keras kepalanya Kezia yang enggak mau nurut padanya, di tambah Elthan yang menghilang dari Keraton, bahkan meninggalkan mobilnya di parkiran Tamansari membuatnya khawatir. *** Cheril baru saja duduk di kantin, jam makan siang tumben kantin tidak seramai biasanya, Cheril merasa senang bisa makan sambil belajar, walau fokusnya lebih ke batagor yang dia makan. Cheril sedang asik makan tiba tiba ada yang menyiramnya dengan air, sehingga tubuhnya basah kuyup, sial apa lagi sih ini. “Lo,,” Cheril melihat Ryandra dan tiga temannya berdiri di samping meja tempatnya makan, “Gue udah bilang jauhin Ethaan tapi sepertinya lo enggak takut sama gue,” Ryandra menunjukan foto dirinya bersama Ethaan di depan apartemen Ethaan saat Ethaan sedang marah pada Bryan minggu siang kemarin. “Gue sama Ethaan Cuma teman untuk saat ini, so enggak ada salahnya gue main ke apartemennya atau ke rumahnya, tohhh lo bukan siapa siapanya Ethaan kenapa lo yang ribut, Ethaan mau jalan sama siapa itu urusannya, bukan urusan lo,” Ucap Cheril, dia segera membereskan buku dan tasnya, beruntung buku bukunya enggak basah gara gara orange jussnya. “Lo masih berani sama gue, lo fikir lo siapa,” Ryandra mendorong tubuh Cheril sekuat tenaga hingga Cheirl jatuh di lantai, tentu saja semua orang tidak ada yang berani menolong Cheril apa lagi mereka tidak tau permasalahannya. Zio dan Moa yang kebetulan masuk ke kantin untuk makan siang kaget melihat Cheril sedang di bully Ryandra, bukan rahasia lagi jika ada orang yang berani mendekati Ethaan makan Ryandra yang katanya calon tunangan Ethaan akan bertindak bar bar. Zio melarang Mona ikut campur, namun dia merekam kejadian Cheril di dorong Ryandra sampai jatuh hingga Ryandra menyiram tubuh Cheril dengan minuman dan makanan milik mahasiswa yang sedang makan, baju Cheril basah dengan minuman dan kotor dengan beberapa makanan yang asal di lempat Ryandra pada Cheril. Setelah puas Ryandra dan ketiga temannya pergi meninggalkan Cheril. Mona langsung menghampiri Cheril membantunya untuk kembali ke asrama, sementara Zio tentu saja melapor hal ini pada Kezia selaku pemimpin Yayasan Spindler, dan juga Ethaan sang ice prince kampus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN