Twins Lovers Part 12 Calon Tunangan

1410 Kata
Author Pov. Ethaan menyusul Xander dan Kezia ke Jogja malam hari, Ethaan tidak bisa meninggalkan pratiknya makanya dia terlambat datang ke Jogja, sementara Ale dan Elthan sudah sampai di Jogja tadi sore. Ethaan di jemput abdi dalem di bandara, padahal Ethaan sendiri paling tidak suka yang namanya di kawal, walau mereka bilang sebagai protokol, dan keamanan namun Ethaan lebih suka sendiri. Beruntung mobil abdi dalem bisa masuk hingga ke landasan pacu jadi tidak bikin banyak orang penasaran, Ethaan memang tidak ingin hidupnya terekspos kamera ataupun media, tohh jika mereka tau Elthan maka mereka juga tau Ethaan karena wajah mereka sama, hanya bola matanya yang beda. Elthan sampai di rumah sakit Betesda, karena Dewa memang di rawat disana, beberapa abdi dalem juga berjaga di sekitar lorong ruang inap Dewa. Ethaan segera menghampiri Kezia dan Xander yang duduk di luar, “Mom, Dad,” Panggil Ethaan pada kedua orang tuanya itu, “Ethaan kamu sudah datang, masuklah dulu, jenguk Kakekmu,” Ethaan mengangguk, dia segera masuk kedalam kamar inap Dewa. Di kamar inap Dewa ada Tyas, dan Farisa yang menjaga Dewa, Ethaan mendekat ketempat tidur Dewa, Dewa terbaring di tempat tidur, Dewa memang memiliki riwayat sakit jantung, dan tadi pagi saat Dewa berada di ruang kerjanya tiba tiba pingsan sehingga di larikan ke rumah sakit, dan kata Dokter tadi, perlu adanya pemasangan ring atau cincin untuk membantu arteri jantung kembali berjalan dengan baik karena tersumbat. Ethaan cukup tau tentang operasi yang akan di lakukan Dewa beberapa hari kedepan, sebagai seorang mahasiswa kedokteran spersialis penyakit dalam, Ethaan juga mempelajari beberapa penyakit di sekitar jantung. Ethaan keluar dari kamar inap Dewa, Kezia dan Xander masih duduk di kursi ruang tunggu. “Mom Dad, kenapa tidak kembali ke Keraton atau kerumah, kalian berdua juga butuh istirahat,” Ucap Ethaan, tanpa di beri tau pun Ethaan tau jika Mommy dan Daddynya sedari tadi siang di rumah sakit. “Key, benar apa kata Ethaan kita istirahat dulu, kamu juga belum makan dari tadi pagi, Paman Dewa memang sakit, tapi kamu juga tidak boleh sakit,” Bujuk Xander, Kezia hanya menghela nafas panjang dan mengangguk, Xander masuk kedalam untuk pamitan, mungkin nanti setelah dia mandi dan istirahat dia akan kembali ke rumah sakit lagi. *** Cheril sedang asik bercanda bersama kedua temannya di taman asrama, sambil makan pop mie dan camilan, mereka membicarakan fashion dan sebagainya Cheril yang lama tinggal di Kingstone Kanada pun menceritakan bagaimana trend fashion disana, di tambah di Kingston memiliki empat musim maka trend fashion pun cepat sekali berubah. “Lo yang namanya Cheril?.” Tanya seorang perempuan, dia bahkan masih dengan jas laboratoriumnya. “Iya, kenapa ya?.” Tanya Cheril balik. “Lo jauh jauh deh dari Ethaan, Ethaan itu calon tunangan gue,” Ucap perempuan itu, sementara Prisila dan Anggika yang tidak tau apa apa hanya diam, memnyimak saja. “Kenapa gue yang harus ngejauhin Ethaan coba, emang lo fikir gue sedekat apa sama Ethaan?.” Tanya Cheril. “Lo tau kan gue Ryandra mahasiswa kedokteran, mahasiswa tercantik di fakutas kedokteran, orang tua gue cukup berpengaruh di negeri ini, dan orang tua gue juga punya saham di kampus ini, mending lo jauhin Ethaan kalau enggak ingin keluarga lo ikut menderita.” Ancam perempuan itu. “Gue enggak tau siapa lo, gue enggak tau keluarga lo, dan hubungan gue sama Ethaan Cuma teman untuk saat ini, kalau lo emang calon tunangan Ethaan seharusnya keluarga kalian sudah beretemu dan membahas segala persiapannya, tapi yang gue lihat keluarganya Ethaan sedang di Jogja, tuhh,” Ucap Cheril, Cheril tentu saja tidak takut dengan orang seperti perempuan di hadapannya yang ingin pamer kekuasaan orang tuanya. “Lo,, lihat aja nanti, gue yang akan tunangan sama Ethaan.” Ryandra perempuan itu bicara lagi. “Udah deh, jangan menghalu mulu, kebanyakan bergaul sama kerangka manusia bikin lo halu ya,, gue aja yang temenan sama Ethaan dari lama enggak pernah sekalipun dia nyebut nama lo, bahkan gue enggak pernah lihat Ethaan jalan sama lo sekali aja, itu yang di namakan calon tunangan?.” Tanya Anggika. “Lo jangan ikut campur ya, lo semua enggak ada tandingannya sama gue,” Ucap Ryandra lagi. “Gue enggak perduli ama lo, kalau lo emang calon tunangannya Ethaan, gue ucapin selamat, tapi sikap lo yang kaya gini gue enggak yakin jika orang tuanya Ethaan apa lagi keluarga Ethaan yang di Jogja menerima lo dengan baik.” Cheril tentu saja cukup tau gimana kriteria yang Kezia tetapkan untuk kedua anak laki lakinya dan satu anak perempuannya itu. “Lihat aja nanti di pesta ulang tahun gue, dua minggu lagi, gue bakalan umumin kalau gue dan Ethaan tunangan,” setelah mengatakan itu Ryandra segera pergi meninggalkan mereka bertiga, beruntung taman malam ini cukup sepi, hanya satu dua orang yang lewat. “Gila siapa sih Ryandra itu, sombong amat.” Ucap Anggika. “Dari yang gue tau, Ryandra itu anak dari pemilik stasiun televisi Mutiara Cipta, dan beberapa anak perusahaan lainnya, ya memang cukup berpengaruh sih di dunia pertelevisian, secara gue anak IT jadi gue cukup paham.” Jelas Prisila, “Ealahhh,,, gue kira anaknya Menteri atau presiden gitu, ternyata Cuma pemilik stasiun tv, mungkin dia belum tau gue kali, makanya sombong amat.” Ucap Anggika. Orang tua Anggika juga seorang pengusaha bahkan usahanya sudah memiliki cabang di beberapa negara Asia dan Eropa, namun Anggika sendiri memang tidak ingin di ekspos oleh media, makanya dia lebih memilih tinggal di asrama dan menjauh dari pesta pesta tempat untuk ajang pamer. Anggika lebih suka pesta di bar, karena disana banyak anak muda seusianya yang ingin mencari kebebasan bukan menyombongkan dirinya. “Udah udah, mending masuk aja yukk,, udah jam delapan, biasanya Mommy bakalan nelfon aku,” Ajak Cheril pada dua temannya itu. Benar saja, baru sampai di kamar ponsel di genggaman Cheri berbunyi, tapi tumben Daddynya yang menelfonnya. “Halo Dad, ada apa?.” Tanya Cheril, “Ini Mommy sayang, Mommy pake ponsel Daddy, kamu sudah makan, sudah mandi, sudah belajar?.” Tanya Letisha. “Maaf Mom, aku kira Daddy tadi, aku sudah makan sama mie instan, aku sudah mandi tadi sore, aku sudah belajar tadi siang di perpus, mungkin setelah ini aku ingin istirahat Mom.” Jelas Cheril. “Iya sayang, jangan banyak banyak makan mie instan enggak baik buat kesehatan.” Letisha memberi nasihat pada anaknya. “Aku selama di asrama baru kali ini makan mie instan Mom, biasanya makan di kantin pas sore hari, atau gofood makanan dari luar, kadang juga mendapat kiriman makan malam dari orang, mana makanannya kesukaan Cheril semua, jadi walau Cheril enggak tau siapa yang ngirim makanannya Cheril tetap memakannya sama teman asrama Cheril.” Cheril bahkan baru cerita sama Letisha jika dia sering di kirimi makanan dari seseorang. “Siapa sayang yang ngirim makan buat kamu?..” Tanya Letisha. “Aku enggak tau Mom, biasanya pas sore aku pulang kampus ibu penjaga asrama mencegatku, memberi bingkisan, pas aku tanya ibu asramanya bilang dari ojek online,” Jelas Cheril, “Lumayan dong uang sakunya utuh jika dapat makan dari penggemat rahasia tiap hari,” Canda Letisha. “Enggak juga Mom,, aku banyak beli buku, tapi di sini jarang buku bahasa inggris, jadi aku cukup kesusahan membacanya,” Cerita Cheril lagi. “Kamu ini gimana sih, tinggal di Indonesia masa enggak mau baca buku bahasa Indonesia,” Letisha tau anaknya awal sekolah hingga kuliah di New York dan Kingston Kanda yang belajarnya menggunakan bahasa inggris, tentu saja Cheril sudah terbiasa menggunakan buku bahasa Inggris, dan bicara menggunakan bahasa Inggris, “Iya Mom, aku akan belajar dengan buku bahasa Indonesia, tapi Mom, di Spindler University aja Dosennya ngomong pake bahasa Inggris, tugas juga pake bahasa Inggris, percuma Cheril belajar dengan buku bahasa Indonesia,” Ucap Cheril. “Iya juga, Mommy enggak kepikiran sampai sana, jaman Mommy dulu kuliah masih pakai bahasa Indonesia, mungkin karena perkembangan Zaman ya beberapa sekolah bahkan mewajibkan siswanya untuk mengusai paling sedikit dua bahasa asing,” Ucap Letisha, di angguki Cheril. “Iya Mom, Dava aja sampai pusing dengan bahasa mandarin, dan Prancisnya, belum lagi kimia dan fisikanya, tapi tumben Dava belum chat aku nanyain tugas,” Dava paling sering merecoki Cheril, bahkan saat di Kingston dulu Dava dengan pedenya menelfonnya di tengah malam gara gara tugas kimianya, tentu saja di Indonesia saat itu siang hari. “Dava lagi nemenin Daddynya main catur, tumben tumbenan mereka main catur, mana pinjem punya pengawal yang jaga di depan, malu maluin banget.” Cheril langsung tertawa, Daddynya dan Dava memang paket komplit kata Mommynya, mereka berdua sangat kompak, bahkan dulu Cheril sempat nangis saat Devan mengajak Dava mendaki gunung sedangkan Devan hanya mengajaknya jalan jalan ke national park. “Yaudah kamu istirahat aja, Mommy mau lihat siapa yang menang main catur malam ini,” Ucap Letisha. “Ok Mom, See u, salam buat Daddy dan Dava,” Setelahnya Cheril langsung mematikan sambungan telefonnya. Selesai bertelfonan dengan Mommynya, Cheril segera mengambil baju tidurnya, Cheril melangkah ke kamar mandi, kedua temannya itu sudah asik dengan dunianya masing masing, Anggika sedang bermain i********:, dan Prisila entah dia sedang belajar menghack atau membuat program Cheril tidak tau apa yang di kerjakan temannya itu. Cheril terlebih dulu mencuci mukanya, lalu gosok gigi, ganti baju, sebelum tidur biasanya dia akan menggunakan skincarenya sebelum tidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN