Author Pov.
Sementara di KEN’Security, Ethaan sudah menghajar dua orang di dalam ring tinju, Ethaan memang suka beberapa olahraga, termasuk boxing dan karate, Ethaan benar benar melampiaskan kemarannya pada pengawal yang sedang latihan, Ethaan bahkan tidak memperdulikan wajahnya yang memar, Ethaan juga mendapat beberapa tendangan di perut dan kaki, tapi Ethaan belum menyerah, dia ingin meluapkan emosinya, hingga benar benar habis, inilah sisi gelap seorang Ethaan yang orang lain tidak ketahui, bahkan dulu Ethaan pernah membuat satu pengawalnya mendapat perawatan intansif di rumah sakit karena Ethaan hajar habis habisan, bukan salah pengawalnya, namun Ethaan ingin melampiaskan kekesalannya, walau setelah itu dia merasa bersalah, jadi kini Ethaan harus berhati hati untuk memilih lawan tanding.
***
Cheril siang ini kembali ke apartemen Ethaan, namun dia baru menyadari jika apartemen mewah ini memiliki keamanan yang cukup tinggi, bahkan Cheril harus menunggu di lobby karena Ethaan tidak di apartemennya, padahal Cheril hanya ingin mengambil ponselnya dia tentu tidak akan berbuat yang aneh aneh, tapi memang standar keamanan disini cukup tinggi.
Tiga puluh menit Cheril menunggu dia menemukan Ethaan dengan wajah babak balur berjalan ke arahnya.
“Ada apa?.” Tanya Ethaan tanpa basa basi.
“Aku mau ambil ponsel sama baju aku,” Jawab Cheril.
“Hemmm,” Ethaan berjalan ke arah lift, Cheril tentu saja mengikutinya, mereka sama sama diam, Cheril tentu saja takut dengan Ethaan, entah kenapa sepertinya Ethaan sedang dalam mood yang tidak bagus, jadi Cheril memilih untuk diam.
Sesampainya di apartemen Ethaan, Cheril segera mengambil gaun yang dia pakai semalam, tote bag, dan ponselnya, serta boneka pemberian Ethaan.
Cheril tadi ingin mengobati luka milik Ethaan, namun Ethaan menolaknya, jadi Cheril memutuskan utuk segera pergi, dari pada dia nanti yang mendapatkan masalah.
***
Ethaan hanya duduk di sofa setelah kepergian Cheril, dia bahkan mengabaikan Cheril perempuan yang dia sukai, Ethaan tidak ingin Cheril ikut campur masalahnya. Ethaan mengobati lukanya sendiri, dia sudah biasa dengan luka luka seperti ini.
Semoga saja Mommynya itu tidak tau jika dia baru selesai bermain main dengan pengawal KEN’S karena disana masih ada Tio dan Baim, orang kepercayaan Kezia yang membantu menghandel perusajaan jasa keamanan itu karena Ethaan belum bisa menghandel secara keseluruhan KEN’S
Ethaan membaringkan tubuhnya di tempat tidur, aroma sampo Cheril masih tercium di bantalnya membuat Ethaan mengantuk, selain aroma tubuh Kezia milik Cheril juga bikin dia mengantuk.
***
Pagi ini kampus heboh dengan beberapa foto Ethaan dan Cheril di depan asrama malam minggu kemarin, memang fotonya tidak di tempel di papan pengumuman, namun di share dalam grup kelas dan web khusus mahasiswa Spindler, ternyata ada orang yang memfoto mereka berdua, tentu saja Cheril menjadi bahkan gunjingan lagi, awal masuk kampus Cheril menolak Elthan, baru dua minggu Cheril sudah jalan dengan saudara kembar Elthan aka Ethaan.
Cheril tentu saja diam, karena dia sendiri tidak tau siapa yang menyebarkan fotonya, tapi dari cerita Anggika tadi di kampus ini ada sekumpulan orang yang menamakan dirinya stories University, mereka yang mengirim info terbaru tentang kampus, tidak jarang gosip gosip pun ikut di up di web mereka ataupun di grup antar fakultas.
“Cheril, banyak banget orang yang bicarain lo di belakang.” Tunjuk Anggika, tapi Cheril masa bodo dia tidak perduli, dia fokus membaca bukunya karena pagi ini ada kuis, bukannya lebih baik belajar dari pada bergosip.
“Biarin aja,” Balas Cheril.
Dosen masuk tepat jam Sembilan pagi, Cheril tentu saja sudah siap dengan kuis pagi ini, bahkan semalam dia tidur tengah malam hanya untuk belajar.
Ketua kelas membagikan lembar pertanyaan, Cheril yang mengetahui materi ini segera mengerjakannya tanpa kesulitan sama sekali, hanya butuh waktu empat puluh menit bagi Cheril untuk menyelesaikan kuisnya, Cheril segera menyerahkan lembar kerjanya pada Dosen membuat Dosen yang mengawasi kusi cukup kaget, namun setelah memperiksa sekilas lembar kerja Cheril Dosen tersebut mengangguk, lalu menyuruh Cheril keluar dari kelas ini.
Cheril menunggu Anggika di perpustakaan, lumayan masih ada waktu satu jam untuk membaca buku.
Cheril mengambil buku tentang bisnis online, duduk di dekat jendela, mendengarkan musik lewat headset, Cheril bahkan mencatat beberapa hal penting di bukunya.
Satu jam berlalu Anggika menemui Cheril dengan wajah kusutnya, Anggika duduk dihadapan Cheril mengambil buku Cheril karena Cheril pasti mengabaikannya jika Cheril sudah asik dengan bukunya.
“Anggka, kenapa?.” Tanya Cheril, wajah Anggika sangat berbeda, jika pagi tadi dia ceria kini kusut banget, seperti baju yang tidak si setrika berbulan bulan.
“Lo tau, satu kelas enggak ada yang benar benar mengerjakan kuisnya, sehingga Dosen Fadil marah marah, bahkan jika terulang kembali di kuis minggu depan kita semua bakalan mendapat nilai C dan kemungkinan terburuk tidak lulus, kecuali Lo, bahkan Dosen Fadil tadi memperlihatkan lembar jawaban lo, semua tulisan lo itu bahasa inggris, membuat kita semakin di cerca Dosen Fadil abis abisan,” Cheril hanya mengangguk, sudah biasa hal seperti ini di kampusnya dulu, jadi Cheril hanya mengangguk saja, tidak berkomentar sama sekali.
“Makanya, kalau di bilangin belajar ya belajar, jangan menggosip mulu, lo sendirikan yang nanggung akibatnya.” Ucap Cheril pada akhirnya.
“Ahhhh,,,,, kenapa harus ada kuis segala sih,” Anggika menaruh kepalanya di meja, dia bahkan tidak memperdulikan lagi orang orang yang berada di perpustakaan yang terganggu dengan suaranya.
“Kekantin aja yukkk, aku tau kamu butuh makan,” Cheril menarik tangan Anggika, membawanya keluar dari perpustakaan.
“Lo yang paling tau, kita makan di luar, gue bawa mobil,” Cheril mengangguk, mereka segera menuju ke parkiran di depan fakultas bisnis.
“Anggika,” baru saja mereka sampai di parkiran Bryan dan kedua temannya siapa lagi kalau bukan Zio dan Elthan menghampiri Anggika.
“Bryan sayang, kamu mau masuk kuliah ya?,” Tanya Anggika.
“Iya, kamu mau kemana?.” Tanya Bryan,
“Mau makan sama Cheril,” Bryan mengangguk,
“Hati hati, jangan ngebut ngebut,” Anggika kini yang mengangguk, Bryan, Zio, dan Elthan meninggalkan Anggika dan Cheril.
Anggika memarkirkan mobilnya di depan café yang cukup ramai, tidak jauh dari kampus, banyak juga mahasiswa yang makan siang disini.
Cheril dan Anggika memilih tempat duduk di rooftop, beruntung angin spoi spoi dan juga langit cukup mendung jadi tidak terlalu panas.
Cheril memesan ayam panggang, kentang goreng, nuget, orange juss, Anggika memesan ayam panggang blackpaper, ice cream, juss mangga, nuget, sosis, Anggika memang ingin makan banyak, melampiaskan kekesalannya dengan kuis tadi pagi, bahkan setelah makanannya habis dia masih memesan pudding, Cheril yang melihat pudding langsung mual, jadi dia memilih untuk ke toilet sebentar.
Cheril cukup lama di toilet, Cheril kembali ke rooftop kaget dengan kedatangan Bryan, Elthan, Zio dan seorang perempuan yang duduk disamping Zio, bukannya mereka bertiga tadi bilangnya kuliah ya?, kenapa cepet banget kuliahnya, batin Cheril.
Cheril duduk di tempat semula yang berarti duduk disamping Elthan, Cheril sendiri cukup canggung dengan Elthan namun dia harus membiasakan dirinya untuk dekat dengan Elthan, bukan dekat untuk menjalin hubungan namun dekat dengan Elthan karena Elthan anak dari Kezia, wanita yang sudah dia anggap ibu kedua baginya.
“Cheril, kenalin, dia Mona, pacar Zio,” Anggika mengenalkan Cheril pada Mona.
“Cheril.” Ucap Cheril sambil mengulurkan tangannya.
“Mona,” Ucap Mona sambil mengururkan tangannya, mereka berjabat tangan.
Ponsel Cheril berdering, Tante Kezia, tumben siang siang gini Kezia menghubunginya.
“Hallo Tan, ada apa?.” Tanya Cheril,
“Cheril lagi dimana?.” Tanya Kezia
“Aku lagi makan siang Tante, sama teman teman, gimana Tan?.” Jawab Cheril.
“Kirain di kampus, tadi Tante mau minta tolong sama kamu kalau ketemu Elthan atau Ethaan suruh segera ke Jogja, Kakek Dewa, sakit, jadi Tante dan Om Xander sudah di bandara, mereka mereka berdua di hubungi enggak bisa.” Jelas Kezia.
“Iya Tante nanti Cheril sampaikan pada Elthan ataupun Elthan,” Balas Cheril. semua orang yang ada di meja itu menoleh pada Cheril.
“Makasih sayang, Tante tutup dulu, pesawatnya mau take off bye sayang,,” Kezia mematikan sambungan telfonnya sepihak.
“Kenapa sama Mommy?,” Tanya Elthan langsung,
“Kata Tante Key, Paman Dewa sakit, kalian berdua disuruh nyusul ke Jogja,” Elthan mengangguk.
“Mommy sekarang dimana?,” Tanya Elthan lagi,
“Di pesawat perjalanan ke Jogja,” Elthan mengangguk lagi.
“Kamu enggak bawa ponsel?.” Tanya Cheril lagi.
“Mati, tuhh lagi di charger,” Cheril mengangguk.
“Jadi ada yang mau menjelaskan kenapa bisa Tante Kezia menghubungi Cheril, sementara perempuan yang deket sama lo banyak, tapi enggak pernah lo kasih nomer telfon orang tua lo, sedangkan Cheril dia punya nomer telfon Tante Kezia?.” Tanya Anggika
“Gue enggak pernah ngasih nomer telfon Mommy ke Cheril, bahkan dia sudah punya nomer telfon Mommy sebelum dia di Jakarta,” Jelas Elthan...
“Jadi sebenarnya lo udah kenal Cheril duluan?.” Tanya Mona, orang yang duduk di samping Zio,
“Ya gitu, dia temen kecil gue dulu, sebelum dia pindah ke New York, pas balik udah berubah mana gue tau jika dia Cheril temen gue dulu, sekaligus anak perempuan Mommy sebelum Ale lahir,” Semuanya hanya menganggukan kepalanya.
“Jadi, Cheril pas lo nolak ajakan Elthan jalan itu lo udah tau jika dia temen kecil lo?.” Tanya Anggika,
“Iya,, Tante Key sering mengirim foto ketiga anaknya, tidak jarang Tante akan curhat panjang lebar tentang kelakuan ketiga anaknya,” Jawab Cheril.
“Gue mau tanya lagi, pas hari kamis lo jalan sama cowok, pacar lo ya?.” Tanya Anggika lagi,
“Enggak sih, Cuma gue sangat dekat dengannya,” Jawab Cheril, benarkan Cheril memang dekat dengan Dava tapi kan Dava adiknya tidak mungkin Cheril pacarin.
“Terus hubungan lo sama Ethaan gimana?.” Tanya Bryan, Cheril masih melihat lebam di rahang Bryan akibat pulukan Ethaan kemarin.
“Gue sama dia temenan kok,” Jawab Cheril, karena status mereka memang teman.
“Lo beneran Cuma temenan sama Ethaan?.” Tanya Zio, Zio sendiri enggak percaya jika Cheirl dan Ethaan hanya temenan, karena sikap Ethaan menunjukan yang sebaliknya.
“Iya gue cuam temenan sama Ethaan, emang kenapa sih?.” Tanya Cheril, malah sekarang Cheril yang bingung dengan topik pembahasannya, kenapa malah ngomongin hubungannya sama Ethaan sih.