Jefry pov
Sinar berwarna orange buru buru Jefry mencari handphone dan melihat ternyata sudah jam 6 sore pantas saja sinar matahari warnanya sudah orange tidak kuning.
Kaget? Iya Jefry kaget melihat kondisinya yang tak memakai pakaian dia berusaha mengingat apa yang terjadi semalam.
"Sial gue main sama siapa tadi malem? Ah bodo amatlah kalo dia nuntun buat gue tanggung jawab yaudah kalo engga juga lebih bagus"
memilih buru buru Jefry membersihkan Badanya karna niatnya malam nanti dia dan teman temannya bakal nongki di cafe coffee gitu.
Saat sedang memakai pakaian tiba tiba ponselnya berdering dan Jefry mengambil handphone melihat siapa yang menelpon
"Rama? Pasti minta uang nih anak"
Jefry sudah hafal kalau Rama menelfon berarti doi lagi pengen uang, tak lama Jefry mengser ikon berwarna hijau yang berarti menerima
"Abang lo kemana sih tadi malem? katanya mau makan malam di rumah Mama capek nunggu lo balik sampe ketiduran di sofa"
"Gue pulang ke apart ada sedikit masalah makanya ga pulang ke rumah "
"Oh yaudah itu mah masalah lo"
"Hmm, tumben lo ga minta duit"
"Souzon lo sama adek lo sendiri"
"Ya kan lo biasanya gitu udah ah gue matiin gue mau ke-"
"EH BANGGG TUNGGU JANGAN MATIIN DULU DONG GUE MAU NGOMONG SERIUS"
"ck apa buru"
"Hehe anu Tfin adek dong 500k aja bang buat jajan mama ga kasi"
"Kan emang ga ada harga diri banget ya lo udah gue matiin gue tf sekarang"
Belom mendengar jawaban Rama Jefry sudah mematikan telfon dan mentransfer sang adik
"Emang nyusahin bener tu bocah" Jefry menelfon Theo untuk menjemput nya di Apart karena dia ga bawa mobil semalam.
Off
•••Sedangkan di tempat lain•••
"A Adam bukain kakak dam"
Tak lama Adam pun membuka pintu rumah dan berapa terkejutnya sang Adam melihat kakaknya yang sudah berpenampilan urakan dan baju? Mengapa kakaknya memakai kemeja cowok? Lamunan Adam terhenti saat sang kakak memeluknya dan menangis
"Kak aku buatin minum ya kakak duduk dulu"
"Adam telfon Aira tolong"
"Iya kak Adam telfon kak Aira" Adam gerak cepat mencari kontak Aira teman Tiara dari kecil untuk menelfon sesuai yang Tiara bilang
"Halo kak bisa ke sini ga kak"
"Iya dam napa dah buset masih pagi juga"
"Udah kak cepet ke sini kak Tiara"
"HAH TIARA KENAPA DAM? "
"Adam juga ga tau kak udah cepet kakak ke sini Adam ga bisa liat Kak Tiara kaya gini"
"Okeoke gue ke sana sekarang"
Hanya 5 menit Aira sudah sampai di rumah Tiara dan berapa terkejutnya dia melihat sahabatnya dalam keadaan kacau dia terus memukul kepala dan badannya sedangkan Adam yang terus berusaha menghentikan aksi kakanya
"Tiara lo kenapa" Ucap Aira sambil memeluk sahabatnya itu
"Aira aku aku"
"Iya kenapa lo kenapa"
"Aira aku di-" Sangat sulit untuk Tiara mengucapkan kalimat itu
"Aira aku di perkosa"
" APA??!! " teriak Adam dah Aira bersamaan tangisan Tiara pun semakin pecah membuat Aira pun ikut menangis
"Siapa yang udah berbuat kaya gini sama Kakak kakak tau? " Tiara menggeleng
"b*****t berani beraninya terus kakak dimana waktu ngelakuinnya gimana ceritanya kenapa bisa kak kenapa? "
Perasaan Adam campur aduk antara marah, sedih, dan kecewa ke diri nya sendiri karna dia berfikir tak becus menjaga sang kakak
"Udah Dam tunggu Tiara tenang dulu baru kita tanya siapa orangnya dan kita cari"
"Adam ke kamar"
sedangkan ditempat lain
" Terus lo ga ada niatan buat cari tu cewek? "tanya Dion
" Engga"
"LO GILA?! SETELAH LO PAKE LO GA ADA NIATAN BUAT TANGGUNG JAWAB?"
" Sabar dis banyak orang " Cegah Dion saat melihat banyak pengunjung cafe melihat mereka karna teriakan Yudis
" Udah lo pada tenang dulu, emang bener lo ga mau tangung jawab Jef? "tanya Tio yang sendari tadi diam
" Niat nyari aja kaga apalagi tanggung jawab cih" Yudis
benar benar emosi dengan temannya yang satu ini bisa bisanya sesantai itu setelah merusak anak orang
"Kalaupun gue cari gue ga ada foto dan namanya mengandalkan ciri ciri pun ga bisa, lagian gue udah kasi kartu nama gue sebelumnya ke dia kalau terjadi apa apa ya dia cari gue aja kalo dia mau gue tanggung jawab yaudah"
"Asli Jef pengen gue tonjok aja lo"
"Nus udeh ni kita di cafe ga enak di liat orang"
"Bener nus kata Dion ntar aja kita gebuk dia "
" ga bisa gitu dong, entar kalo anak orang depressi gimana? terus kalo dia tulang punggung keluarga juga gimana? tega lo suruh tenang? cih " Yunus benar benar emosi sekarang
" gue mau nyarinya tapi gue ga bisa Yunus, semua butuh waktu! gue juga ga mau ini kejadian tapi gue dijebak " bentak Jeffrey.
Yunus, Dion dan juga Theo lantas langsung diam. mereka tidak berani lagi untuk berbicara
" gue juga Masih shock sama kejadian ini, gue juga butuh waktu buat nyiapin mental. kalian pikir dengan gue ngomong kayak gitu gue beneran sesantai itu? enggak, gue enggak santai. setiap detik gue ngerasa takut tapi kalian malah gini " jujur Jeffrey sedikit kecewa dengan respon temannya terlebih kepada Yunus.
" niat gue cerita ke kalian biar kalian kasi solusi malah kalian hakimi gue, terlebih lo nus " Jeffrey menatap Yunus yang kini sedang menatapnya juga.
" gue cuma bisa minta pertolongan sama kalian, tolong bantu gue buat cari cewek itu dan gue mau bertanggung jawab dengan cara nikahin dia. siapapun itu bagaimana pun rupanya gue ga peduli " ucap Jeffrey dengan matang.
" oke gue bakal bantu lo buat cari cewek itu, tapi pertama yang lo lakuin adalah inget inget gimana visual tu cewek " ucap Dion
merekapun kembali meminum kopi dan mengatur strategi untuk menemukan gadis tersebut.
•••••••••••••••••
"Kak makan dulu ya dari pagi kakak belom makan apa apa loh"
"Kakak ga laper Dam jangan paksa ya kakak cuma mau istirahat" dari pagi hingga malam Tiara belum makan apapun bahkan minum, Adam pun segera pergi dari kamar Tiara sakit sekali rasanya melihat sang kakak seperti ini dia berjanji kalau ketemu laki laki itu Adam akan memukulnya sampe pingsan kalo perlu mati. Tak lama handphone nya pun berdering
"Rama? Kenapa lagi ni anak" Adam menjawab telfon dari Rama "Apaan lo telfon telfon"
"Elah santai napa sih lo ga baca gc emang?"
"Gue ga pegang HP dari tadi emangnya kenapa?"
"Oh pantes, gini Ekal sama Rendi mau kemari kerumah gua ikut kaga lo? "