Keheningan senja kian merayap, memudarkan bias jingga di cakrawala, saat Riria menatap Luira dengan gurat cemas yang tak sanggup ia sembunyikan. Matanya menyapu setiap lilitan tali gote shibari yang membelenggu tubuh Luira, terutama di area s**********n, tempat tali-tali itu menyingkapkan dress dan roknya ke atas. Semburat merah tipis merayapi pipi Riria, seolah bayangan canggung mencengkeramnya. "Luira," suara Riria melirih, nyaris berbisik, "apa kamu benar-benar baik-baik saja dengan tangan dan badan yang masih terikat begini?" Ia berhenti sejenak, menelan ludah, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih pelan, "Dan, anu… apa kamu tidak merasa malu dengan ikatan di selangkanganmu itu?" Kekhawatiran Riria bukan hanya terletak pada kondisi fisik Luira, tetapi juga pada bagaimana Luira dapat

