Part 7 Kamu Beneran Mau Menolongku?

2165 Kata
Di sebuah ruangan outdoor yang menghandalkan tenda-tenda mewah yang tersusun rapi yang terletak disebelah terminar bus. Disana ada acara sosialisasi mengenai prokes masyarakat dan perlunya pengetahuan imtek dari perusahaan Telekomunikasi yang turun tangan langsung oleh pemilik perusahaan itu. Acara itu berjalan dengan lancar dan saatnya waktu istirahat untuk bersantai ria dalam menikmati menu makanan pemberian dari masyarakat pada pemilik perusahaan Telekomunikasi yang suka cita memberikan ilmu pengetahuan dan bahan sembako beserta uang tunai untuk semua masyarakat. Namanya Dimetri Betrix yang merupakan seorang pengusaha muda yang ramah, baik hati dan tidak sombong itu pemilik perusahaan Telekomunikasi terkaya kedua didunia. Saat ini, ia sedang menikmati jamuan siang di sebelah tenda. Samar-samar suara orang meminta tolong terdengar jelas diindera pendengaran Dimetri. Awalnya Dimetri tak menghiraukan perkataan itu tapi semakin lama suara teriakan histeris dan tanggisan yang tak sanggup ia rasakan itu berhasil meracuni pikirannya. Dimetri yang sedang menikmati kopi, ia langsung menaruh gelas itu diatas meja dan ia berdiri dari duduknya. “Ada apa Tuan muda? Apakah kopinya tidak enak?” tanya Pak Heru selaku ketua pelaksana acara sosialisasi. Dimetri menggeleng pelan dan ia tersenyum tipis. “Tidak, semua hidangan makanannya nikmat. Seperinya ada orang yang memerlukan bantuan. Aku harus pergi kesana,” ucap Dimetri pamit undur diri dihadapan beberapa masyarakat yang mengajaknya menjadi narasumber dari acaranya. Dimetri langsung membalikkan tubuhnya dan berniat berjalan meninggalkan mereka. “Tuan muda, tunggu,” langkah kaki Dimetri terhenti dan ia menoleh ke arah belakang yang ternyata empat orang yang menemaninya untuk menikmati jamuan pun sepertinya mau ikut bersamanya. “Kami ikut Tuan.” Pak Heru menatap dalam menuju ke arah Dimetri. “Iya, silahkan.” Setelah mengatakan itu, Dimetri mempercepat langkah kakinya menuju ke arah sumber suara. Dimetri berjalan lebih dulu menuju ke sekitar area terminal bus. Dari kejauhan, ia melihat seorang wanita muda yang terus berteriak meminta tolong tapi tidak ada siapapun yang berniat untuk menolongnya. Sungguh miris pemandangan dihadapannya membuat Dimetri merasa kasian. Dimetri mempercepat langkah kakinya menuju ke arah wanita itu. “Tuan muda, sepertinya wanita itu sedang mengalami kecopetan. Apakah kita perlu berpencar untuk menemukan tukang maling itu,” tawar Pak Heru membuat langkah kaki Dimetri terhenti, ada bagus juga dengan perkataan itu. “Baiklah, lakukan semaksimal mungkin. Bila perlu cek semua kamera CCTV untuk menemukan dimana tukang maling itu bersembunyi!” titah Dimetri dibalas anggukan cepat oleh ke empat pria itu yang langsung pamit meninggalkan dirinya agar mencari secara berpencar. Sementara Lily yang sedari tadi mengejar tukang maling itu sambil berteriak minta tolong, tidak ada siapapun yang berani menolongnya. Bukankah disekitar area terminal bus itu rawan banyak pencuri? Lily baru teringat dengan hal itu, ia benar-benar ceroboh untuk memberikan kepercayaan pada orang baru dikenalnya. Bukankah kedua orang tuanya dan adik laki-lakinya selalu mengingatkan dirinya agar tidak mudah mempercayai orang lain. Tapi, kebaikan hatinya membawa petaka bagi dirinya sendiri. “Haduh, aku harus bagaimana ini? Semua barangku berada didalam tas koper itu. Apalagi semua persyaratan untuk melamar pekerjaan di perusahaan Industri. Lalu, apa yang bisa aku lakukan? Hiks, hiks,” ucap Lily membiarkan buliran kristal membasahi wajah cantiknya. Ia hanya bisa pasrah dan menunggu keajaiban seperti pahlawan kesiangan yang ikhlas menolongnya. Lily menjatuhkan dirinya diatas trotoar, ia seperti hidup tanpa arah dan tak tahu harus kemana arah. Lily mendudukkan kepalanya kebawah sambil memeluk tas ranselnya. “Hey wanita! Apa yang terjadi? Bisakah aku membantumu?” ucap suara berat dan pastinya seorang pria. Lily langsung mengandahkan kepalanya yang ternyata sosok pria berparas tampan sempurna bak malaikat. Ia menggeleng pelan untuk tidak terpengaruh dengan pesona ketampanan pria itu. Lily berinsut memundurkan dirinya ke belakang yang menyebabkan ujung celananya kotor. Ia tidak memperdulikkan itu, ia tidak ingin mengalami kemalingan untuk kedua kalinya. Tapi, tunggu dulu. Wajah itu sangat familiar diingatannya yang Lily tidak mengenali siapa pria tampan yang berdiri dihadapannya itu. “Hei! Ayo aku bantu!” ucap pria tampan seraya mengulurkan tangannya pada Lily. Lily menggeleng pelan dan ia menatap tajam bak elang pada pria tampan itu. Lily berdiri dari duduknya dan ia menelisik disetiap gerak-gerik pria tampan yang berdiri dihadapannya saat ini. “Berhenti menipuku! Kau pasti temannya tukang maling tadi kan. Pastinya ingin mencuri tas ransel itu. Ayo mengaku kamu!” ucap Lily sedikit berhati-hati. “Bukan, aku bukan pria jahat. Aku yang akan membantumu, cepat katakana pergi kearah mana tukang maling tadi?” tanya pria tampan itu pada Lily. Lily terdiam sejenak, ia memikirkan sesuatu dari ekspresi wajah khawatir yang terlihat jelas itu sangat dikenalinya. “Disana.” Lily mengarahkan jari telunjuknya menuju ke arah jalan yang berbelok kiri dan pria tampan itu mengikuti arah jari Lily. “Okey, tunggu disini. Aku akan menyelamatkan tasmu.” Pria tampan itu langsung melangkah pergi meninggalkan Lily tapi Lily langsung menarik lengan tangannya. Pria tampan itu menoleh ke arah tangan Lily yang reflek menariknya. “Eh, maaf. Aku ingin ikut bersamamu. Aku tahu itu sungguh merepotkan tapi setidaknya dengan kehadiranku ikut bersamamu dapat membantumu menangkap tukang maling itu,” ucap Lily dan Pria tampan itu hampir melupakan ciri-ciri orang yang mencuri tasnya dan pastinya nanti tidak membuahkan hasil yang maksimal. Akhirnya, mereka pun pergi bersama mencari tukang pencuri yang tidak tahu dirinya menambil tas koper Lily. Walapun terbilang isi didalam koper itu tidak seberapa yang hanya pakaian koleksi Lily dan surat lamaran pekerjaan. Tapi, bagi Lily itu sangatlah berhargai dan penting. Tidak ada percakapan apapun diantara dua insan yang bergenerasi berbeda. Mereka terlihat sibuk dalam satu targetnya. Tapi, tunggu dulu, rezeki tidak pernah tertukar apalagi jodoh. Terlihat dari kejauhan seorang pria tampan yang berada di depan teras rumah kayu yang tadinya berhasil mencuri tas koper milik Lily tampak frustasi dengan membongkar seluruh isi koper milik Lily. Lily dan Pria tampan itu saling memandang satu sama lain saat menyaksikan siaran langsung disaat tukang maling itu sedang marah-marah tidak jelas. Mereka mempercepat langkah kakinya agar bisa melihat dengan jelas semua barang-barang yang berserakan diteras rumah kayu. “Sialan! Ternyata tidak ada barang yang pantas untuk dijual. Apalagi ini juga, sudah usang tak layak pakai,” ucap Tukang maling itu sambil mengangkat beberapa c*****************a yang bergambar strawberry tapi terdapat jahitan kecil dan berwarna kusam. “Dih payah ini alat-alatnya tak bermutu.” Tukang maling itu melempari semua pakaian milik Lily yang tak menarik itu apalagi sekumpulan kertas yang tidak bisa ia baca. Memang benar perkataannya itu yang menyesali perbuatan tercela tak pantas dicontohkan itu dapat merugikan diri sendiri. “Huh, untuk apa aku capek-capek berlali tapi hasilnya tidak menguntungkan bagiku. Sungguh tak penting!” lanjut tukang maling itu. Setelah langkah kaki mereka telah mendekat lebih tepatnya dihadapannya itu, sungguh pemadangan seperti kepal pecah dengan dikelilingi berbagai pakaian dalam hingga luar milik wanita membuat Lily merasa malu. Pria tampan yang berdiri disebelahnya dan melihat satu persatu pakaian yang telah habis masa pakai itu hanya diam saja menatap ke arah wanita yang tersenyum menampilkan seluruh gigi putihnya. “Semua barang yang berserakan itu milikmu?” tanya Pria tampan itu memastikan dan dijawab anggukan cepat oleh Lily. “Tuan muda! Tuan Muda!” panggil seorang pria dari arah belakang. Lily dan Pria tampan langsung menoleh ke arah belakang dan mensejajarkan dirinya berhadapan langsung dengan Pak Heru dan tiga orang yang sedang mengatur nafasnya menjadi normal. “Maaf Tuan muda, aku tidak bisa menemukannya,” ucap Pak Heru merasa tidak enak hati pada Dimetri yang suka menolong padanya. “Oh, pria tampan yang bersedia menolongku ini bernama Dimetri. Tapi kok disebut Tuan muda? Biasanya, sebutan panggilan itu orang-orang memiliki jabatan tinggi. Lalu, siapa Dimetri sebenarnya?” tanya Lily dalam hati. Ia mengamati percakapan diantara kelima pria disebelahnya. “Tidak apa-apa kok. Tanpa dicari juga, tenyata tukang malingnya itu.” jawab Dimetri mengarahkan jari manisnya agar Pak Heru dan ketiga temannya dapat melihat tersangkanya. “Oh Micta. Memang kurang ajar tuh anak perlu aku hajar saja biar kapok tidak mencuri lagi,” ucap Pak Heru yang terpancing emosi yang meledak-ledak dan ia berjalan cepat menuju pria muda itu. Dimetri dan Lily mengikuti langkah kaki Pak Heru yang terlihat tak bersahabat. “Eh, Micta! Kenapa kamu maling milik wanita ini, hah! Apakah kamu tidak diajarkan sopan santun untuk kedua orang tuamu agar tidak mengambil hak milik orang lain!” hardik pak Heru dan Pria muda yang lebih muda empat tahun dari Lily pun langsung terkejut dengan kedatangan mereka yang ramai-ramai didepan halaman rumahnya. “Ak-aku memang tidak memiliki kedua orang tua kok. Kedua orang tuaku sudah lama meninggal.” sahut Micta jujur. Perkataan Micta tak dihiraukan oleh Pak Heru tapi ia mengangkat kerah baju anak itu agar terpaksa ikut berdiri dihadapannya. “kamu itu ya sudah tahu kedua orang tuamu telah meninggal. Tidak merasa kasihan apa dengan kedua orang tuamu merasa tidak tenang dialam sana. Kenapa kamu mencuri? Bukankah, bantuan sembako sudah kamu dapatkan,” ucap Pak Heru to the point. Micta menggeleng pelan dan menatap sendu ke arah Pak Heru. “Aku tidak mendapatkannya Pak.” lirih Micta. “Bohong kamu! Sudah berani maling ternyata berbohong pun kamu lakukan!” sahut Pak Heru yang mengangkat tangan kanannya untuk siap memberikan pukulan pada Micta. Lily langsung menahan tangan Pak Heru. “Pak, tolong jangan melakukan kekerasan. Kita bicarakan secara kekeluargaan saja. Semua barangku juga tidak ada yang hilang kok dan tetap utuh dengan posisi berserakan seperti itu,” ucap Lily melihat barang kesayangannya seperti tak berhargai dan berantakan dimana. “Tapi Nona, biarkan dia jera tidak mencuri lagi.” sahut Pak Heru pada Lily. “Tak apa Pak, beri dia kesempatan untuk memperbaiki dirinya menjadi lebih baik lagi. Untuk permasalahan ini kita selesaikan secara kekeluargaaan saja.” Lily menatap sulit diartikan pad Micta. Micta tidak berani membalas tatapan Lily itu. “Dan kamu cepat bereskan semua barangku didalam koper tanpa tertinggal satupun. Aku harap kamu menyadari perbuatanmu itu salah dan dapat merugikan orang lain. Coba saja ada manusia tidak memiliki hati nurani, kamu memiliki dua pilihan, yaitu; kamu merasa aman setelah mati dan kamu akan hidup menderita dipenjara.” Lily menghela nafas panjang dan ia melanjutkan perkataannya terhenti. “Satu lagi, jika kamu tidak memiliki pekerjaan, kamu bisa tinggal di panti asuhan untuk menimba ilmu dan mendapatkan makanan.” “Baik kak, terima kasih sudah memberiku maaf dan kesempatan agar dapat menjadi anak yang baik. Aku minta maaf karena membuat kakak menderita,” ucap Micta tulus. “Ya sudahlah, cepat masukkan semua barangku. Aku masih ada kerjaan yang penting untuk merubah nasibku menjadi lebih baik.” sahut Lily menunggu anak itu mengambil satu persatu barang miliknya untuk dimasukkan kedalam kopernya. Lily sengaja tidak membantunya karena ia masih merasa kesal dengan perlakukannya tadi. Lily mengambil tas koper berwarna pink miliknya dan ia tersenyum tulus menatap ke arah Micta. “Terima kasih,” ucap Lily. “Oh iya dek, ini sedikit untuk bantuan biaya sembako untukmu. Saya harap kamu tidak melakukan kesalahan yang sama lagi.” Dimetri memberikan lima puluh lembar uang berwarna merah pada anak laki-laki itu. Micta tampak terharu dan tangannya bergetar hebat saat menerima uang pemberian dari Dimetri. “Terima kasih banyak kak,” ucap Micta tersentuh. Lily melirik sekilas pada Pria bernama Dimetri itu ternyata ia sosok pria baik dan dermawan. “Iya, sama-sama. Kalau begitu kami pamit pulang dulu, assalamualaikum,” setelah mengatakan itu, mereka pergi dari kediaman rumah kayu Micta. Lily memilih pergi menjauhi pria asing bernama Dimetri itu, bukannya ia tidak berterima kasih tapi ia wajib menfokuskan tujuan hidupnya datang ke Jakarta untuk mendapatkan pekerjaan. “Hei wanita! Mau kemana?” tanya Dimetri berusaha mengejar Lily yang sibuk mencari taksi untuk ditumpanginya. Lily menoleh sekilas pada Dimetri yang telah mensejajarkan langkah kakinya berada disebelahnya. “Mau mencari taksi.” jawab Lily cepat. “Perlu aku antar.” “Tidak usah, nanti merepotkanmu lagi. Aku masih mencari tempat kosan terdekat agar mendapatkan tempat tinggal.” “Hem… Apakah kamu bukan berasal dari kota ini?” Lily menggeleng pelan dan ia memilih menghentikan langkah kakinya agar merasa sopan berbicara dengan pria yang menolongnya. “Aku berasal dari Bandung.” “Kamu memiliki keluarga disini?” “Tidak, aku tidak memiliki siapapun disini, aku mencoba mencari pekerjaan yang layak untuk merubah perekonomianku menjadi terjamin.” “Oh, kamu belum memiliki tempat tinggal dan pekerjaan begitu?” tanya Dimetri berani menyimpulkan dari perkataan Lily. “Eh, maaf sebelumnya, perkenalkan namaku Dimetri Betrix. Nama kamu siapa?” Dimetri mengulurkan tangannya didepan Lily. Lily langsung mengatupkan kedua tangannya didepan dadanya. “Lily Kharisma, panggil saja namaku Lily.” “Terima kasih atas bantuanmu tadi yang sudah menyelamatkan tas koperku.” Lily tersenyum manis dihadapan Dimetri. Dimetri tampak merasa kagum dengan paras cantik natural Lily yang tidak mengenakan make up tapi tetap terlihat cantik. “Iya, sama-sama. Ada lebih baiknya kamu ikut sama aku saja. Aku memiliki apartemen kosong loh yang pastinya cocok untuk kamu.” tawar Dimetri. Lily tampak berpikir sejenak dengan penawaran menarik Dimetri yang sepertinya ia ingin mengenal lebih jauh dirinya. “Apakah aku tidak merepotkanmu?” tanya Lily memastikan. “Tidak, aku tidak merasa repot kok. Aku justru merasa senang menolong orang yang sedang kesusahan. Tolong terima kebaikanku, aku tidak bermaksud jahat kok padamu.” “Kamu beneran mau menolongku?” tanya Lily lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN