Lily menelisik pria tampan blesteran itu dengan seksama, senyuman manis itu benar-benar mengingatkannya dalam mimpinya. Bukankah, pria ini seperti malaikat yang menolongnya. Tapi, Lily tidak mau ambil pusing dengan perihal itu. Lebih baik ia memastikan lebih dulu dengan kebaikan pria itu tulus baiknya atau ada maunya.
“Kamu beneran mau menolongku dan mengajakku untuk tinggal diapartemen mewahmu?” Lily terus mengajukan pertanyaan pada Dimetri.
“Iya, jika kamu berkenan mau menerima penawaranku. Ayo kita pergi dari sini menaiki mobilku.” Dimetri ingin membantu membawakan koper milik Lily yang berada dipelukannya.
“Biar aku saja yang bawa, pasti kamu merasa capek,” ucap Dimetri.
“Tidak, aku bisa sendiri kok. Ini sungguh tidak berat sama sekali dan aku tidak ingin banyak merepotkanmu.” tolak Lily merasa tidak enak hati.
“Sudahlah santai saja kali.” Akhirnya Lily pun membiarkan Dimetri mengambil tas kopernya untuk dibawanya.
Lily dan Dimetri berjalan menuju ke arah pakiran mobil elit. Disana, sudah ada supir pribadi mewah yang membukakan pintu pada mereka.
“Silahkan Tuan muda, masuk,” ucap Pak supir menunduk hormat pada Dimetri.
“Tuan, biar aku saja yang memasukkan ke dalam bagasi mobil.” Pak supir membantu Dimetri untuk mengangkat koper milik Lily agar dirinya saja yang memasukkan ke dalam bagasi mobil.
“Okey, terima kasih,” ucap Lily dihadapan Dimetri dan Pak Supir yang dibalas senyuman manis.
Dimetri menyuruh Lily duduk dikursi penumpang yang bersebalahan dengan dirinya. Ada rasa canggung bercampur sadar diri disaat Lily duduk disebelah Dimetri. Mobil mulai melaju meninggalkan area parkiran mobil menuju ke arah jalan raya. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 wib siang.
Sementara suasana didalam mobil terasa sunyi, kedua penumpang itu asyik berpikir sendiri. Lily yang merasa perutnya mulai perih akibat perutnya meminta diisi, sepertinya penyakit mag mulai kambuh. Ada gelagat tak enak disaat posisi duduk Lily tidak nyaman.
“Haduh, perutku terasa perih dan aku mana mungkin mengajaknya makan siang. Dengan uangku terbilang minim di dalam dompet.” kata Lily dalam hati.
Lily menatap sekilas menuju ke arah Dimetri yang sedang menatap serius pada layar ponselnya. Dimetri menyadari tatapan sendu Lily yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu.
Kriukkk!
Seketika wajah Lily memerah menahan malu disaat perutnya berbunyi. Hal itu, menjadi pusat perhatian Dimetri dan Supir mobil pribadinya menoleh ke arah dirinya.
Lily memberikan senyuman paksa pada Dimetri yang seperti menahan tawa pada dirinya.
“Kamu lapar?” tanya Dimetri membuka topik pembicaraan.
Lily hanya mengangguk cepat menatap ke arah Dimetri yang menatap intens menuju ke arah dirinya.
“Kalau begitu kita makan ditempat restoran favorite ku saja.” ajak Dimetri.
“Jangan!” tolak Lily cepat.
“Kenapa? Bukankah tadi bilang lapar dan aku lihat sudah waktunya istirahat kok.” sahut Dimetri dengan mengerutkan keningnya merasa binggung pada Lily.
“Jangan disana mahal? Aku tidak sanggup, dompetku isi tipis dan lebih baik di warung makan saja,” ucap Lily jujur dan gelak tawa Dimetri mulai terdengar di indera pendengarannya.
Sungguh lucu tingkah wanita polos ini, sudah wajahnya polos dan ternyata gaya bicaranya benar-benar polos. Dimetri berdehem sejenak untuk menetralkan nada bicaranya.
“Jangan dipikirkan, biar aku saja yang mentraktirmu.”
“Kamu yakin?” tanya Lily cepat dan dibalas anggukan oleh Dimetri.
Dimetri mengalihkan pandangannya dari Lily menuju ke arah depan.
“Pak. Kita ke Restaurant Merpati sekarang!” titah Dimetri.
“Baik Tuan muda.” jawab Pak supir bernama Pak Riki langsung memutar arahkan laju mobilnya menuju ke arah Restaurant Merpati.
Dua jam kemudian, mobil mewah berwarna merah milik Dimetri telah memasuki area pekarangan Restaurant Merpati. Setelah dipastikan mobil diparkir dengan rapi, barulah Pak Riki membukakan pintu pada Tuan muda yang keluar dari mobil diikuti oleh Lily.
Lily menatap takjub dengan bangunan megah dan mewah di hadapannya, mulutnya terbuka lebar saat menatap kesekelilingnya tampak seperti surga dunia.
“Hei! Tutup mulutmu! Ada air liurmu jatuh dilantai,” ucap Dimetri langsung membuat Lily tersadar dari lamunannya.
Lily menutup mulutnya rapat-rapat dan ia melihat kearah bawah yang ternyata tidak ada apapun. Ia menoleh ke arah Dimetri yang berdiri disebelahnya yang sepertinya sedang menahan tawa.
Lily mendengus sebal dengan Dimetri yang ternyata sedang mengoloknya. Gelak tawa Dimetri mulai tertawa kembali. Entahlah, Dimetri tidak mengerti dengan dirinya yang merasa nyaman saat berada didekat wanita itu.
“Ya sudah, kita masuk saja. Sudah lapar kan?” tanya Dimetri tersenyum manis pada Lily.
“Iya.” jawab Lily dengan memasang wajah kesal.
“Apakah ini termasuk Restaurant bintang lima di kota Jakarta?” tanya Lily sambil berjalan disebelah Dimetri.
“Kamu menyukainya?” tanya Dimetri tanpa menjawab pertanyaan Lily.
“Tentu saja aku suka, dengan bangunannya yang menjulang tinggi terkesan mewah dan indah. Aku senang bisa memasuki bangunan ini apalagi makan bersama pria baik seperti dirimu.” perkataan Lily membuat Dimetri tersenyum lebar pada Lily.
“Benarkah? Baiklah aku akan tunjukkan makanan kesukaanku saat berada di Restaurant merpati ini.”
Saat ini, Lily dan Dimetri telah duduk di meja VVIP yang selalu ditempati oleh orang-orang kaya. Salah satu pelayan wanita memberikan menu makanan pada Dimetri.
Lily tampak merasa bahagia saat berada didalam Restaurant bintang lima ini.
“Kamu mau pesan apa?” tanya Dimetri setelah memesan makanannya pada pelayan wanita dan diberikannya menu makanan pada Lily.
Lily yang menerima menu makanan ala barat itu ia tampak merasa kebingungan dengan pilihan untuk dimakannya. Lily menoleh menuju ke arah Dimetri yang menunggu dirinya untuk memilih makanan.
“Aku ikut sesuai pilihan makanmu saja.” jawab Lily tersenyum dan tidak mau terlalu pusing dengan nama makanan yang tidak ia ketahui citra rasa makanannya.
“Okey, sepagetty ditambah satu lagi, sandwich satu lagi, kebab satu lagi dan jus jambu biji satu lagi,” ucap Dimetri pada Pelayan wanita yang menuliskan pesanan makanan meraka.
“Baiklah.” Jawab Pelayan wanita itu pamit undur diri.
Lily hanya melongo dengan perkataan Dimetri yang menyebutkan nama makanannya yang tidak pernah ia coba selama ini.
“Menarik sekali nama makanannya, kamu menyukai makanan ala barat?” tanya Lily to the point.
“Iya.” jawab Dimetri tersenyum.
“Tapi, tunggu dulu, melihat dari paras wajah tampanmu dan kedua bola matamu berwarna tosca itu kamu pria blasteran ya?” tanya Lily lagi.
“Kamu benar aku keturunan Inggris dari Papa aku dan Mama aku berasal dari Indonesia.” jawab Dimetri menjelaskan pada Lily sedikit tentang dirinya.
“Wow, berarti kamu pintar dong berbahasa Inggris. Kamu sering ya keluar negeri dan aku lihat kamu itu orang kaya?” ucap Lily blak-blakkan pada Dimetri. Hal itu, benar-benar membuat Dimetri merasa gemas dengan Lily.
“Benar banget.” Dimetri langsung mengacak rambut Lily dengan tangan kanannya.
“Duh, jangan gitu dong, nanti aku mirip orang hutan loh dengan rambutku yang berantakan.”
“Ga kapa-apa, biar berantakan kamu tetap cantik kok.”
“Gombal kamu tuh.”
“Aku serius loh? Aku sedang tidak bercanda.”
Tidak lama kemudian datanglah Pelayan wanita yang membawakan pesanan makanan dimeja VVIP yang ditempati oleh Dimetri dan Lily.
“Permisi, ini pesanannnya Tuan dan Nona.” Pelayan wanita itu menaruh piring berisi makanan diatas meja beserta jus jambu biji.
Lily menelan salivanya disaat ia tertarik dengan semua makanan yang terpampang jelas dihapadannya.
Kemudian Pelayan wanita itu pamit undur diri dan Dimetri memperhatikan Lily yang sedang melototi makanan saja.
“Jangan dilihatin saja dong, wajib dimakan loh makanan yang sudah dipesan,” ucap Dimetri tersenyum.
“Eh eum iy-iya.” Jawab Lily terbata-bata.
Lily pun mengambil sendok dan garbu untuk mengarahkan makanan dihadapannya.
“Enak.” puji Lily disela makanannya.
Dimetri merasa senang saat melihat Lily yang merasa nyaman dengan makanan dihadapannya.
“Lain kali, sering-sering ya ajakin aku kesini,” ucap Lily dibalas anggukan cepat oleh Dimetri.
Setelah menikmati makan siangnya, Lily dan Dimetri duduk sejenak dikursi itu. Kakinya terasa berat untuk berjalan makanya mereka memilih duduk dulu agar perut kenyangnya kembali netral.
“Oh iya, Lily datang kemari sedang mencari pekerjaan apa sudah mendapatkan pekerjaan?” tanya Dimetri pada Lily yang sedang menghapus sisa makanannya disudut bibirnya.
“Lebih tepatnya aku masih mencari pekerjaan tapi pekerjaan ini dalam sistem seleksi administrasi dan test tertulis aku berhasil lolos melalui daring tapi untuk test wawancara secara luring pastinya aku wajib mengikutinya agar mengetahui keputusan terakhir dari perusahaan cabang Industri. Jika aku mendapat rezeki disana maka aku lolos seleksi murni jika tidak aku terpaksa mencari pekerjaan lain dikota ini.” jelas Lily panjang lebar pada Dimetri.