Dimetri tampak berpikir sejenak untuk memahami keinginan wanita yang duduk berhadapan langsung dengan dirinya.
“Perusahaan cabang Industri? Aku kenal betul dengan pemilik perusahaan itu,” ucap Dimetri.
“Benarkah?” tanya Lily cepat.
“Hem… Aku bisa membantumu untuk berhasil bergabung menjadi karyawan disana. Dalam proses wawancara pastinya banyak orang-orang titipan dan masyarakat biasa pasti kalah dengan hal itu. Aku akan menghubungi pemilik perusahaan itu agar kamu bisa lolos dalam sistem seleksi terakhir. Bila perlu kamu bisa bekerja di perusahaanku saja.” jawab Dimetri terdengar serius dipandangan Lily.
“Maksudnya gimana-gimana aku gagal paham?” tanya Lily mencoba mencerna perkataan Dimetri diakhir kalimat yang menawarkan untuk bergabung di perusahaannya. Berarti Dimetri ini salah satu pengusaha terkaya.
Dimetri menghela nafas panjang saat menatap ke arah kedua bola mata Lily.
“Abaikan saja, tetap fokus dengan kerja kerasmu itu. Tapi, aku akan tetap membantumu.”
“Terima kasih banyak, Dimetri. Aku sangat beruntung dipertemukan dengan orang baik sepertimu. Maafkan aku belum bisa membalas kebaikanmu tapi aku harap Tuhan akan secepatnya mengabulkan doaku agar dapat membalas kebaikanmu padaku.”
Setelah menikmati makan siang bersama, Lily menerima penawaran baik pada Dimetri agar mau tinggal diapartemennya saja. Entah rasa kasian atau tertarik pada wanita itu. Tapi, ia akan tetap berusaha membantunya.
Sebuah pintu ruangan yang dilapisi teraris berbahan emas serta pintunya memiliki kode sandi saat melangkah masuk kedalam inilah ruangan apartemen mewah milik Dimetri yang terletak di kota Jakarta yang bergaya klasik. Dimetri yang berdiri lebih dulu didepan pintu, ia mempersilahkan Lily melangkah masuk ke dalam ruangan apartemen.
Lily menatap takjud pada apa yang dimiliki oleh Dimetri, pepatah memang benar kalau orang kaya mah bebas untuk memiliki apapun. Satu kata yang Lily katakan didalam ruang apartemen bernomor 40 yang berada ditingkat lantai 10 itu yaitu sangat indah.
“Wow indah sekali.” lirih Lily pelan memuji tempat yang menjadi tempat tinggalnya.
Dimetri yang berada disebelah Lily hanya tersenyum kecil melihat mulut Lily mulai terbuka lebar saat mengamati ke sekeliling ruangan.
Dengan dekor ruangan apartemen berwarna kuning gold dihiasi dengan berbagai alat mewah yang tentunya jiwa miskin Lily meronta-ronta saat ia mengikuti langkah kaki Dimetri menyelusuri setiap ruangan apartemen.
Di dalam ruangan apartemen memiliki ruang tamu yang tersedia sofa mewah dan meja dengan vas bunga lily yang berada diatas taplak meja terkesan sangat mewah. Ruang keluarga yang sudah tersedia televisi layar kaca lebar dan dvd dengan ac yang terpasang di setiap ruangan membuat Lily benar-benar merasa betah menjadi orang kaya. Belum itu saja, masih ada dua ruang kamar tidur berukuran besar dengan kasur ukuran king size, lemari, meja rias dengan kamar mandi yang terdapat disetiap ruang kamar tidur membuat Lily dengan cepat meletakkan tas ranselnya saat Dimetri menaruh tas koper yang dibawanya.
“Ini kamar utama dan kamu bisa tidur disini. Semua alat perlengkapan bisa memenuhi kebutuhanmu dan tidak usah repot-repot untuk mandi sudah bisa menggunakan didalam kamar.” jelas Dimetri berjalan menuju ke arah pintu kamar mandi untuk memperlihatkan suasana kamar mandi di ruang kamar utama.
Lily yang berdiri tidak jauh dari Dimetri, ia berjalan mendekati Dimetri untuk melihat lebih jelas dari dalam kamar mandi. Ternyata memang indah yang dibaluti dengan kamar mandi terdapat bathtub yang menyediakan air panas dan dingin secara otomatis yang tersusun rapi dengan shampoo, sabun, odol dan alat sikat gigi. Apalagi ini dengan kran berdiri, toilet duduk dan westafel sungguh paket lengkap untuk Lily. Lily memberikan senyuman manis pada Dimetri yang memberikan fasilitas mewah.
“Sudah tahu kan cara mandinya? Apa perlu aku mandi kan?” goda Dimetri pada Lily.
Lily dengan cepat memberikan tatapan tajam pada dirinya.
“Sudah banget lah, aku bisa kali mandi sendiri,” ucap Lily cepat.
“Oh ku kira tidak bisa, bercanda saja kali.” sahut Dimetri.
“Untuk kamar tamu ukurannya lebih kecil dan saranku lebih baik tidur dikamar ini saja. Aku sudah menyiapkan beberapa pakaian yang cocok untuk kamu kenakan.” lanjut Dimetri.
Mendengar perkataan Dimetri membuat kedua bola mata Lily berbinar dengan sempurna.
“Ya ampun, kamu baik dan kaya banget sih Dimetri. Emangnya kamu kerja apa sih bisa memiliki apartemen semewah ini?” tanya Lily spontan.
“Aku pengusaha di Perusahaan Telekomunikasi.” jawab Dimetri jujur.
“Apa? Pengusaha pengusaha di Perusahaan Telekomunikasi,” ucap Lily mengulangi perkataan Dimetri yang sedikit membuat dirinya tampak terkejut.
“Iya, aku sekaligus pemiliknya dan aku kakak kandung dari pemilik perusahaan Industri,” ucap Dimetri mengajak Lily sambil berjalan menuju ke ruang dapur dan ruang kerja.
“Jadi, kamu ini kakak kandungnya dari pemilik perusahaan Industri itu?” tanya Lily sambil menoleh sekilas ke arah Dimetri yang melangkah mendekati ruang dapur yang lengkap dengan alat elektronik terbaru.
“Iya, aku baru pulang dari Inggris dua bulan yang lalu, semua kekayaan keluarga aku serahkan untuk adikku karena aku lebih menyukai dunia Telekomunikasi.” Dimetri menghentikan langkah kakinya tepat didepan Lily.
“Apakah kamu tahu? Aku merintis karier dari 0 tanpa menggunakan uang orang tua sangatlah menyenangkan. Aku bisa menghargai mata uang sekecil apapun dan membantu sesame manusia yang kesusahan.” Dimetri menghela nafas panjang untuk melanjutkan perkataannya yang tergantung.
“Ketahuilah, adikku itu bukan pria normal dan aku tidak ingin bertengkar karena masalah warisan. Berusaha lebih baik daripada mengharapkan sesuatu tanpa mencoba.” lanjut Dimetri.
Lily yang menjadi pendengar baik untuk Dimetri, ia mengerti konsep hidup Dimetri yang menjadi kakak yang baik untuk adiknya.
“Aku mengerti dengan posisimu, tidak ada yang mustahil dengan semua usaha yang dilakukan. Justru setiap usaha tak pernah mengkhianati hasil bukan? Kamu hebat Dimetri, kamu sudah berhasil membangun sebuah perusahaan baru yang menduduki posisi kedua setelah perusahaan Industri,” ucap Lily menyemangati Dimetri agar tidak bersedih.
“Terima kasih atas pengertiannya.” Lily membalas dengan senyumannya.
“Oh iya, semua ruangan beserta perabotan sudah siap gunakan ini kamu sengaja membelikan untukku?”
“Iya, aku menyuruh tangan kananku tadi agar bisa membelikan keperluan untukmu. Apa kamu menyukainya?”
“Suka pake banget, aku senang dengan semua pemberianmu Dimetri.”
“Oh iya, kamu mau minum apa biar aku buatkan kopi atau teh?” Lily melihat Dimetri yang duduk berhadapan dengan dirinya diatas sofa ruang keluarga. Iya, mereka memilih melanjutkan mengobrol disini agar dapat melepaskan penat.
“Aku tidak suka dengan kedua tipe minuman itu karena aku memiliki riwayat penyakit mag.”
“Maaf aku tidak bermaksud begitu, aku tidak tahu.” Lily merasa malu sekaligus tidak tahu kalau Dimetri ternyata sama seperti dirinya memiliki riyawat penyakit mag.
“Tidak apa-apa, penyakit itu sudah umum dirasakan oleh semua orang. Aku cukup minum air putih saja.”
“Eh jangan begitu, bagaimana aku buatkan s**u hangat saja. Cocok banget loh untuk mengurangi asam lambung. Aku pun sering meminumnya.” tawar Lily tersenyum.
“Boleh juga tapi sayangnya aku tidak membelikan s**u bubuk atau cair untukmu.” sahut Dimetri melupakan satu jenis minuman yang ia perintahkan pada tangannya untuk membelikan minuman itu.
“Tenang saja, aku selalu membawa s**u bubuk versi saset untuk aku pergi kemanapun. Tunggu disini, aku akan mengambilnya didalam tas ranselku.”
Setelah mengatakan itu, Lily berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ke ruang kamarnya. Lily membuka pintu kamar dan melangkah masuk kedalam kamar. Ia membuka tas ranselnya dan mengeluarkan beberapa barang yang menutupi s**u saset yang disimpannya. Setelah mendapatkannya, ia berjalan keluar dari kamar dan langsung membuatkan s**u hangat untuk dirinya dan Dimetri.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, s**u putih hangat telah siap dihidangkan. Lily melihat didalam kulkas yang ternyata persediaan makanan lengkap dan cukup satu bulan.
“Huh, kalau aku tahu bertemu dengan pria baik yang ikhlas meminjam apartemennya beserta perlengkapan perabotan dan persediaan makanan mana mungkin aku capek-capek menyetok makanan untuk aku bawakan kesini.” gumam Lily pelan.
Lily memilih mengambil makanan kue siap saji yang berada dilaci lemari dapur dan diisinya kedalam toples. Setelah selesai, barulah ia menaruh dua s**u dan dua toples berisi kue coklat dan keju itu diatas nampan agar memudahkannya membawa menuju ke ruang keluarga.
Dari kejauhan, Lily melihat Dimetri duduk tenang dengan sibuk menatap layar ponselnya.
“Maaf menunggu, aku sekalian membawa cemilan untukmu,” ucap Lily sambil menaruh s**u diatas meja dan dua toples kue.
Mendengar perkataan Lily, Dimetri langsung menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya. Ia memberikan senyuman manis pada Lily.
“Iya santai saja kali, aku sambil mengecek jumlah peningkatan saham perusahaan.” sahut Dimetri sambil mengambil s**u hangat untuk diminumnya.
“Hati-hati masih panas susunya dan maafkan aku yang telah menggangu waktu kerjamu,” ucap Lily dengan tatapan sendunya.
“Gak mengganggu waktu kerjaku kok, hari ini aku kerja turun lapangan di masyarakat tapi aku sudah selesai kok. Kalau aku kan bos jadi bebas tidak ada siapapun yang berani memarahiku.”
“Benar juga ya, hehehe… Jadi, pengusaha enak banget ya aku pun ingin tapi gak tahu mau usaha apa? Aku juga bukan keturunan keluarga pengusaha dan pastinya sulit merancang rencana untuk usaha. Aku diterima menjadi karyawan pun sudah alhamdulillah banget bisa dapat pekerjaan.” jelas Lily panjang lebar.
Dimetri yang tampak menelisik kedua bola mata Lily yang terlihat jujur dalam berkata.
“Kalau boleh tahu kedua orang tua kamu bekerja sebagai apa?” tanya Dimetri.
“Kedua orang tuaku bekerja di pegawai negeri sipil dan belum lagi dengan hutang untuk membayar cicilan rumah dan motorku dikota kelahiranku itu membuat perekonomian kami sedang tidak baik-baik saja. Makanya, aku yang telah lulus dari kuliah ingin langsung mencari pekerjaan diibukota Indonesia agar mendapatkan pekerjaan yang layak dan gaji yang aman.” jawab Lily.
“Oh begitu, kamu beneran ingin bekerja di Perusahaan cabang Industri?” tanya Dimetri memastikan dan dibalas anggukan cepat oleh Lily.
“Iya, memangnya kenapa?” tanya Lily merasa heran.
“Gak apa-apa sih, aku Cuma bilang kalau adikku itu orangnya kejam dan tidak suka toleransi. Aku tidak bermaksud untuk menghasut ataupun menjelek-jelekkan tapi kamu harus professional dalam bekerja.” jawab Dimetri membuat Lily memejamkan kedua bola matanya sejenak, ia tidak tahu harus berbuat apalagi dengan keputusannya saat ini. jika ia memilih menyerah sebelum melanjutkan perjuangannya berarti pengorbannya selama ini sia-sia.
“Aku sanggup dan berusaha menjadi karyawan yang professional,” ucap Lily mantap.
“Apakah kamu tidak takut dengan CEO Perusahaan Industri?” tanya Dimetri sengaja menakuti-nakuti Lily karena ia mengetahui sesuatu dari Lily.
“Tidak sama sekali tapi kalau boleh tahu siapa nama CEO itu?” tanya Lily balik.
“Namanya Alex.” Perkataan Dimetri menyebutkan nama itu mengingatkan Lily pada seseorang.
“Alex? Apakah itu dia?” tanya Lily dalam hati, ia merasakan devaju tapi ia berusaha menepisih hal-hal negatif itu.
“Tidak, nama Alex sudah umum dimiliki oleh orang lain. Aku yakin pasti bukan dia.” kata Lily dalam hati berusaha menyakinkan dirinya agar tidak merasa ketakutan.
Dimetri memperhatikan raut wajah Lily yang awalnya ceria menjadi muram.
“Apakah kamu ada masalah? Aku bisa membantumu?” ucap Dimetri merasa khawatir dengan kondisi Lily yang diam saja.
“Lily, seperti kamu mengalami dehidrasi dan minumlah susumu itu sudah dingin.” lanjut Dimetri tapi tak dihiraukan oleh Lily.
“Lily! Kamu bisa mendengar perkataanku.”
“Lily! Hey Lily!” ucap Dimetri terus memanggil Lily hingga ia berinisiatif untuk mencubit hidung mungil Lily.
Seketika Lily merasa tidak bisa bernafas dan ia langsung terkejut dengan tatapan matanya melihat wajah Dimetri yang lebih dekat dari wajahnya ditambah lagi apa ini tangannya yang menjadi tersangka membuat hidungnya tidak dapat bernafas. Lantas, Lily langsung menepis tangan Dimetri agar menjauhi hidungnya.
“Dimetri, aku tidak bisa bernafas,” ucap Lily mendengus sebal ke arah Dimetri.
Bukannya menjawab malahan gelak tawa Dimetri terdengar jelas.
“Hahaha…Makanya wanita gadis gak boleh banyak melamun. Apa yang sedang kamu pikirkan? Sehingga mengabaikan perkataanku.”
“Aku baik-baik saja, aku hanya memikirkan persiapan wawancaraku besok.”
“Jangan terlalu dipikirkan, aku akan membantumu untuk menjadi karyawan diperusahaan itu. Jika gagal pun aku dengan tangan terbuka menerimamu.” jelas Dimetri tersenyum dan Lily benar-benar tidak enak hati pada kebaikan Dimetri.
“Kalau aku menerima tawaranmu untuk bekerja di perusahaanmu berarti perjuanganku selama ini sia-sia dong.”
“Terserah kamu sih, aku hanya menawarkan saja.”
“Okelah kalau begitu, aku lanjutkan besok untuk melakukan wawancara.” Keputusan Lily terakhir dan ia memantapkan hati untuk tidak mudah berpaling yang lebih baik.
Setelah mengatakan itu, tidak ada pembicaraan diantara Lily dan Dimetri. Lily memilih menikmati cemilan dan meminum susunya sedang asyik sendiri.
“Kamu lulusan sarjana apa Li?” tanya Dimetri mengalihkan topik pembicaraan.
Lily yang sudah meneguk habis susunya, ia menaruh kembali gelas kosong itu diatas meja.
“Aku lulusan dari Ilmu Komunikasi, terdengar tidak nyambung sih dengan pekerjaan yang akan aku ikuti. Tapi, aku tamatan dari SMK Mulitimedia pastinya bisa menyeimbangkan diri untuk bekerja disana.” jawab Lily.
“Wah sayang banget itu Li, kamu ada baiknya bekerja di perusahaan aku saja sudah menjamin tentang komunikasi.” sahut Dimetri.
“Kamu lulusan apa?” tanya Lily sengaja mengabaikan perkataan Dimetri.
“Aku lulusan S2. Ilmu Komunikasi di Inggris yang menjadi negara kelahiran orang tuaku dan aku menjalani perusahaan yang aku bangun sejak semester 1 kuliah S1 hingga berkembang seperti saat ini.” jawab Dimetri.
“Kalau ditempatkan dibagian pemerintahan bisa jadi dosen muda nih, hehehe…” ucap Lily bercanda.
“Iya tapi aku tidak tertarik menjadi dosen. Cukup menjadi pengusaha saja untuk mengurangi devisit anggaran dana pemerintah, hehehe…” sahut Dimetri dan mereka pun tertawa bersama-sama.