Part 10 Penawaran Dimetri

2121 Kata
Di sebuah ruangan yang minim penerangan dan dihiasi bau amis yang menyeruak itulah yang dilakukan oleh seorang pria berparas tampan yang memiliki kedua bola mata berwarna tosca, hidung mancung dan berkulit putih s**u sedang menatap tajam bak elang pada seorang wanita yang kedua tangannya diikat ke belakang kursi. Pria tampan itu bernama Alex Betrix yang memiliki jiwa psikopat dan tanpa satu hari saja ia tidak menyiksa korbannya maka ia akan seperti orang gila. Entah apa yang merubah sifat Alex yang awalnya seorang manusia normal menjadi seorang psikopat. Plash! Plash! Alex mengibaskan tali pinggangnya menuju ke arah wanita berpakaian seragam putih abu yang terlihat menjerit kesakitan. “Nikmatilah rasa sakit itu dan aku tidak suka siapapun merasa bahagia. Sementara aku selalu menderita dengan rasa kerinduan mendalam,” ucap Zakra memberikan senyuman miringnya. “Tolong hentikan! Jangan siksa aku seperti ini! Apa salahku!” lirih Wanita muda itu yang merasa sakit luar biasa dibagian sekujur tubuhnya. “Diam! Kau pantas menderita! Bukankah kau seorang p*****r yang menggoda setiap pengusaha muda seperti diriku.” perkataan Alex memang benar, ia tidak sengaja bertemu dengan wanita itu bernama Suri yang terus menggodanya di kafe tadi. Alex yang merasa frustasi dengan kondisi perusahaannya ditambah lagi dengan dirinya diusik oleh w************n. Akhirnya, Alex menjadikan Suri sebagai korban aksi bejatnya. Alex menundukkan tubuhnya agar dapat mensejajarkan tubuhnya berhadapan langsung dengan Suri. “Kenapa diam? Ayo berbicaralah bukankah kau senang keinginanmu terkabulkan saat bersamaku. Kita sudah bersama sayang dan nikmatilah rasa kebersamaan itu.” Cuih! “Aku sangat menyesal telah mengejarmu yang ternyata seorang pria sakit jiwa dan memiliki mental lemah.” setelah meludahi Alex, ia membalas tatapan tajam itu, tidak ada rasa takut sama sekali didalam dirinya berhadapan dengan pria terbilang seorang psikopat. Memang benar Alex katakan tadi kalau ia bukan wanita baik-baik. Tapi, semua itu ia lakukan untuk meneruskan hidupnya yang serba kekurangan ditinggal kedua orang tuanya. Alex menghabus air saliva wanita yang berani meludahinya mentah-mentah. Kedua tangannya terkepal kuat hingga urat-urat lehernya terlihat menonjol keluar dengan sorotan mata yang mematikan itu. Suri bergidik ngeri dengan perubahan ekspresi wajah Alex layaknya seperti monster. Tidak terima diperlakukan kurang ajar dari bocah ingusan itu, Alex langsung memberikan tamparan bertubi-tubi dibagian wajah wanita itu. “Beraninya kamu memperlakukanku, Hah,” ucap Alex. Plak! Plak! Plak! Sudut bibirnya mengeluarkan darah segar dan Alex tersenyum penuh kemenangan melihat tubuh Suri sudah bergetar hebat. “Bagaimana rasanya hasil melawan orang lebih tua darimu? Mantap kan, apa perlu aku tambah lagi lebih kasar?” tanya Alex dibalas gelengan cepat oleh Suri. “Hah, banyak drama kamuy a biarkan aku membantumu untuk bertemu dengan Tuhan.” setelah mengatakan itu, Alex langsung mengambil pisau tajam dan diarahkannya pada bagian kedua bola mata Suri hingga mengeluarkan darah segar. Teriakan histeris menggema diseluruh ruang bawah tanah yang dimana tempat penyiksaan yang dilakukan oleh Alex pada korbannya. Belum puas dengan itu, ia langsung menusuk bagian perut wanita itu hingga memutilasi setiap organ tubuhnya menjadi kecil-kecil. Pakaian baju Alex berwarna putih telah berubah menjadi merah darah dan ia sangat menyukai pemandangan ini. Kemudian, ia menoleh menuju ke arah tangan kanannya yang berdiri didepan pintu dan berusaha menahan rasa jijik saat mendapati perintah Alex untuk membakar mayat itu dan membersihkan ruangan bawah tanah mensionnya agar kembali bersih dan rapi. Alex melangkah pergi dari ruangan itu, ia ingin membersihkan diri dari kotoran darah yang membasahi bagian tubuhnya. Setelah kepulangan Dimetri tadi, Lily mulai mencari bahan makanan untuk makan malamnya. Ia membuka lemari kulkas yang ternyata full bahan makanan untuk satu bulan. “Alhamdulillah si Dimetri memang pengertian dan aku tidak susah lagi untuk memikirkan bahan makananku. Aku cukup memikirkan cara berhasil lolos dalam mengikuti test wawancara itu,” ucap Lily tersenyum bahagia. Lily menoleh ke arah jam dinding menunjukkan pukul 17:00 Wib dan ia lebih memilih masak terlebih dahulu agar tidak repot-repot memasak dimalam hari. Diambilnya telur dua butir, daging sapi yang ia bawa dari kota kelahirannya dan bumbu tumbuk dari dalam lemari kulkas. “Menu makan malam hari ini aku cukup memasak daging rica-rica dan telur sup saja.” Lily menaruh bahan makanan itu diatas westafel untuk merendamnya agar tidak dingin. Ia berjalan mendekati tempat Magic com untuk mengecek apa ada nasi didalam dan ternyata masih kosong. Untung saja ada nasi yang disiapkan Dimetri untuk dirinya, memang baik tingkat malaikat emang tuh laki-laki termasuk kriteria pria idaman sekaligus suami Lily, eh tapi bohong. Lily mulai mengambil isi Magic com untuk diisinya beras dan dibersihkan menggunakan air yang mengalir. Kemudian, barulah ia memasak nasi itu didalam Magic com yang telah tercolok di terminal listrik. Lily menghela nafas panjang untuk memulai aksi memasaknya. Ia menyentuh daging dingin yang sudah terasa biasa saja untuk memulai menirisnya kecil-kecil dan ditambah lagi mengisi bumbu pada daging sapi direbus didalam kompor gas. Dua puluh menit kemudian, masakan nasi dan lauk Lily telah matang. Bau mangi khas dari makanan itu mampu menggoda perut menjadi menyanyi. Lily menaruh kedua masakannya diatas meja makan dan menutupnya agar tidak ada lalat yang hinggap. Sebenarnya, ruangan apartemen ini bersih sih tapi ia sudah terbiasa untuk hidup bersih dan sehat. Lily memilih membersihkan diri dan mengambil air wudhu untuk sholat Magrib, sebagai Muslimah tetap menjalankan ibadahnya dengan baik. Lily yang telah berpakaian baju stelan celana rumahan berwarna pink motif bunga tulip itu terkesan manis dan lucu saat Lily kenakan dibagian tubuhnya. Ketahuilah, pakaian ini sangat mahal bagi kalangan rakyat jelaka seperti Lily. Sebab, Dimetri membelikan barang tidak tanggung-tanggung mahalnya yang setara dengan satu baju celana itu dengan gaji pegawai selama satu tahun. Sungguh mahal pake banget tapi Lily tetap menghargai pemberian Dimetri yang baik hati dan tidak sombong itu. Lily membuka tas kopernya untuk mengeluarkan semua barangnya, iya, sedari tadi ia belum sempat membereskan semua peralatannya mengingat Dimetri masih berkunjung diapartemen yang ia tinggali. Ia tidak enak hati apabila mengabaikan orang baik yang membuat dirinya seperti ratu diatas kekayaannya. Lily melihat-lihat pakaian yang sering ia gunakan dirumah orang tuanya yang terlihat warnanya sudah memudar dan lusuh. Pantas saja, si tukang maling itu menghina pakaiannya memang benar kenyataannya kok begitu. Lily akui ia jarang membeli pakaian karena ia lebih menyayangi uang untuk ditabung lebih baik daripada pemborosan belanja di medsos. Tapi, kalau sedang khilaf ia akan senang hati mengunjunginya. Lily melipat semua pakaiannya dengan rapi dan dimasukkannya ke dalam lemari berukuran besar itu yang ternyata banyak pakaian baru dan mewah yang seukuran dengan tubuhnya tapi ia tetap menyimpan pakaiannya dengan baik. Setelah itu, ia menutup lemari dan kembali lagi merapikan isi tas koper yang sudah kosong untuk disimpannya disamping lemari pakaian. Lily membalikkan tubuhnya berjalan mendekati tas ranselnya agar mengeluarkan semua dompet, alat kecantikan wanita yang pastinya berkaitan dengan make up dan berkas penting untuk ia cek untuk dibawa besok di perusahaan cabang Industri. Suara adzan sholat magrib berkumandang jelas dan Lily memilih merapikan semua peralatannya dan mencuci tangannya di westafel. Ia sudah mengambil air wudhu tinggal mengambil mukenah dan sajadah miliknya untuk memulai sholat Magrib dengan khusyu. Di sudur terakhirnya, Lily mendoakan pada Allah SWT agar mempermudahkan dirinya dalam mengikuti test wawancara dengan lancar dan lulus untuk mendapatkan pekerjaan. Setelah itu, ia merapikan kembali alat sholatnya menuju ke arah dalam lemari. Lily berniat untuk menelpon kedua orang tuanya bahwa ia telah sampai dengan selamat di Jakarta. Ia mengambil ponselnya berada diatas meja rias dan ia mencari nomor Ibunya untuk melakukan sambungan panggilan masuk. Tut… Tut… Ibu Leani : “Assalamualaikum,” Lily : “Wa’alaikumsalam bu, apa kabar Ibu, ayah dan Lio?” Ibu Leani : “Alhamdulillah sehat nak, kamu apa kabar disana? Kamu sudah sampai dengan selamat kan?” Lily memejamkan kedua bola matanya sejenak, ia tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya bahwa ia datang di Jakarta mengalami kemalingan dan tidak ada orang-orang disekitarnya yang mau menolongnya kecuali Dimetri. Jika diingat waktu itu Lily menjadi senyam-senyum sendiri saat pertemuan pertamanya dengan Dimetri. Lily : “Iya Lily sehat bu, Lily sudah sampai di Jakarta dan Lily bertemu dengan pria baik yang memberikan salah satu apartemennya beserta isinya.” Ibu Leani : “Benarkah? Apakah pria itu tampan, kaya dan baik hati?” Lily : Iya Bu, sudah paket lengkap dan pastinya aku rasa masih sendiri.” Ibu Leani : “Wah, itu mah menantu idaman Ibu. Cepat deketin dia kalau ia pria baik.” Lily : “Tidak Bu, aku seorang wanita. Kodrat wanita itu dikejar tapi bukan mengejar.” Ibu Leani : “Ibu tahu tapi maksud Ibu itu tidak ada seorang bunga apabila tidak ada yang menyinari. Tidak ada rasa cinta jika tidak mencoba menjadi temannya.” Lily : “Benar juga sih Bu. Kalau begitu aku ingin menjadi teman dekatnya saja siapa tahu kalau aku berjodoh dengannya dan aku bisa merubah nasib hidupku.” Ibu Leani : “Boleh tapi berteman secara sehat ya jangan kegatelan gitu.” Lily : “Iya pasti dong Bu, oh iya Bu disini aku enak banget seperti ratu saja. Semua barang mewah sudah disediakan untukku dan dia pernah menawarkan agar aku bekerja saja di Perusahaannya yang diterima dengan tangan terbuka. Tapi, sayangnya aku tidak mau menjadi parasit dan anehnya lagi kenapa dia terlalu baik padaku. Sementara aku orang baru dikenalinya?” Ibu leani : “Mungkin dia merasa kasihan padamu yang tidak pernah berpakaian mewah dan biasa saja seperti rakyat jelata.” Lily : “Ibu, kamu mengataiku? Aku sungguh tidak suka berdandan yang glamour seperti tante-tante. Aku kan masih muda dan cantik natural dengan bedak biasa sudah tidak asing bagiku.” Ibu Leani : “Setidaknya kamu berhak berpenampilan cantik dan anggun, nak.” Lily : “Yayaya, Ibu doakan aku besok ya agar lulus test wawancara.” Ibu Leani : “Ibu doakan kamu lulus dan mendapatkan pekerjaan yang layak.” Lily : “Aamiin.” Ibu Leani : “Kamu sudah sholat magrib nak? Sudah makan belum?” Lily : “Aku baru saja selesai sholat dan ini aku mau makan malam.” Ibu Leani : “Ya sudah jaga kesehatan dan jangan telat makan ya. Ibu tidak ingin kamu sakit.” Lily : “Siap Ibu negara, laksanakan perintah! Ya sudah kalau begitu aku tutup dulu teleponnya, assalamualaikum.” Ibu Leani : “Wa’alaikumsalam.” Lily menutup sambungan secara sepihak dan ia berjalan keluar dari kamarnya untuk makan makan. Tok! Tok! Tok! Lily mendengar suara ketukan pintu apartemennya, ia pun membalikkan tubuhnya untuk melangkah mendekati ke arah pintu apartemennya. Sebelum membuka pintu, ia melihat dari jendela apartemen agar menghindari orang jahat yang ingin mencuri. Lily sedikit trauma dengan kejadian itu ia mulai berhati-hati pada siapapun. Setelah dirasa aman, barulah ia membukakan pintu apartemen. Lily melihat seorang pria tampan yang berdiri dihadapannya tengah tersenyum manis pada dirinya. “Hay!” sapa Dimetri. “Hay juga! Mari silahkan masuk,” ucap Lily merubah posisi berdiri disamping pintu agar Dimetri berjalan masuk kedalam. Lalu, ia menutup pintu apartemennya kembali. Lily melihat Dimetri telah duduk di ruang keluarganya dan ia mendekati Dimetri agar duduk menemaninya. “Hem… Harum sekali baunya. Kamu sedang memasak?” tanya Dimetri menatap ke arah Lily yang sudah duduk dihadapannya. “Iya nih aku tadi memasak sebelum sholat magrib. Apakah kamu mau ikut bergabung makan malam padaku?” tanya Lily balik. “Jika tidak merepotkan.” jawab Dimetri cepat. “Tidak sama sekali, ayo langsung makan saja nanti tidak enak lagi loh.” ajak Lily pada Dimetri agar berjalan mendekati meja makan yang sudah dihidangkan masakannya tadi. Lily memberikan piring dan mengisi nasi dan lauk daging rica-rica dan telur sup pada Dimetri. Dimetri dengan senang hati menerima piringnya itu dicobanya dengan melahap makanan itu terasa enak ala masakan rumahan buatan Lily. Lily tersenyum melihat Dimetri mengangkat jari jempolnya didepannya. “Apakah ada rasa yang aneh?” tanya Lily iseng. “Bukan aneh tapi enak banget. Sumpah demi apapun, aku baru merasakan makanan seenak ini. Boleh juga nih kalau kamu bekerja sebagai koki makanan.” jawaban Dimetri membuat Lily tertawa kecil. “Masa sih makanan aku enak, padahal kan aku itu formula gitu kalau tentang memasak.” sahut Lily tampak berpikir dan dibalas anggukan oleh Dimetri. Setelah pembicaraan pujian dan pertanyaan itu tidak ada lagi topik pembicaraan. Lily dan Dimetri tampak fokus menikmati makan malam berdua. Setelah menghabiskan makanannya masing-masing barulah mereka berbicara kembali. “Apakah kamu sudah memiliki baju putih hitam?” tanya Dimetri memulai topik pembicaraan awal. Lily yang sudah meneguk air putihnya hingga habis pun langsung membalas perkataan Dimetri. “Ada kok, baju aku sudah dua tahun aku kenakan sejak kuliah tapi tetap muat banget.” “Hem… Sepertinya kamu perlu membeli pakaian baru?” “Tidak usah kok, cukup gunakan pakaian yang ada saja. Sayang banget loh uangnya dibeli yang dengan pakaian yang masih bagus.” tolak Lily pada Dimetri yang menatap intens menuju ke arah dirinya. “Masa sih? Tapi, aku berniat banget ingin membelikanmu pakaian baru? Apakah kamu tidak tertarik?” tanya Dimetri lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN