Lily menatap kedua bola mata malas menuju ke arah Dimetri, walau bagaimanapun, ia tidak mau bergantung pada pria baik hati dan dermawan itu.
“Sedikit saja, tapi aku tidak diajarkan untuk…” perkataan Lily terhenti disaat Dimetri memotong pembicaraannya.
“Sudahlah, sekalian temani aku untuk membeli casing ponselku,” ucap Dimetri dan akhirnya Lily mengangguk setuju melihat tatapan sendu Dimetri yang benar-benar menyukai dirinya.
“Kapan?” tanya Lily.
“Sekarang.” jawab Dimetri tersenyum.
“Malam ini kah tapi sudah pukul 17:00 wib dan aku…” sahut Lily yang sepertinya Dimetri mulai lagi memotong pembicarannya.
“Aku akan bersiap-siap berganti pakaian sebelum pergi ke Mall.” sambung Dimetri tersenyum manis.
Lily menghela nafas kasar dan ia membalas senyuman Dimetri dengan terpaksa.
“Baiklah, aku akan menemanimu. Tapi, sebelum pergi aku bersihkan dulu piring makanan dan berganti pakaian.” perkataan Dimetri dibalas anggukan cepat oleh Dimetri.
Lily mempersilahkan Dimetri duduk di ruang keluarga dan menyalakan TV agar tidak merasa sepi dikala ia sibuk membersihkan piring dan gelas kotor. Setelah semuanya bersih, Lily berinisiatif akan mengganti pakaiannya dengan baju stelan celana berwarna lylac dan menguncit rambutnya seperti ekor kuda. Tidak lupa disisipkannya bedak tipis dan lipstick agar tidak terlihat pucat.
Lily yang menatap dirinya didepan pantulan meja rias kamarnya, ia tersenyum manis melihat penampilan dirinya yang terlihat cantik dengan mengenakan pakaian yang dibeli oleh Dimetri.
“Cantik banget diriku, suka aku pakai baju sekeren ini.” Lily memuji dirinya sendiri didepan cermin.
Setelah puas menatap penampilan dirinya, barulah ia mengambil tas sandang mini miliknya untuk menaruh dompet dan ponsel. Tidak lupa membawa masker mulut untuk mengikuti anjuran prokes pemerintah. Lily melangkah keluar dari kamar, dari kejahuan ia melihat Dimetri sedang asyik menonton siaran TV. Sampai-sampai tidak menyadari dirinya telah berdiri di sebelahnya.
“Ehem…” deheman Lily mengalihkan pandangan Dimetri dari TV menuju dirinya. Satu kata yang Dimetri lihat dari dalam Lily yaitu cantik.
Dimetri berdiri dari duduknya dan ia berjalan mendekati Lily. Lihatlah senyuman lebar menghiasi wajah tampan Dimetri.
“Kamu cantik banget malam ini,” ucap Dimetri yang menatap ke arah Lily tanpa berkedip.
“Bisa saja kamu gombalin aku.” sahut Lily malu-malu.
“Sudah siapkan? Bagaimana kita langsung pergi saja.” ajak Dimetri.
“Boleh, lebih cepat lebih baik.” Lily mengambil remote TV yang berada diatas meja dan dimatikannya agar menghemat biaya listrik.
Akhirnya Lily dan Dimetri berjalan keluar dari apartemen dan Lily mengunci apartemen itu agar tidak kemalingan. Mereka melanjutkan langkah kakinya menuju ke arah ruang lift untuk turun dilantai dasar dan berjalan menuju ke arah parkiran apartemen.
Lily mensejajarkan langkah kaki Dimetri yang lebih cepat dari dirinya. Maklumlah, Lily memiliki tubuh ideal 150 cm pastinya memiliki langkah kaki mungil. Sementara Dimetri memiliki tinggi tubuh berkisar 175 cm memiliki langkah kaki lebar.
Dimetri mengeluarkan kunci mobil mewahnya dari saku celana dan ia menekan tombol kunci otomatis dan menyuruh Lily agar duduk disebelahnya. Lily mengikuti keinginan Dimetri dan ia duduk disebelah Dimetri dengan rasa canggung. Mengenalnya selama 2 hari terasa begitu dekat tapi rasa canggung masih ada diantara Lily dan Dimetri.
Kini mobil yang dikendarai oleh Dimetri telah melaju keluar dengan kecepatan sedang menuju ke arah jalan raya. Kondisi malam hari dan dinginnya terasa menerpa kulit Lily dibagian lehernya membuat dirinya kedinginan.
“Kamu kedinginan?” tanya Dimetri tanpa menoleh menuju ke arah Lily, ia terlihat fokus menyetir dan melihat ke arah jalan raya tapi Lily hanya mengangguk saja.
“Perlu aku matikan AC?” tanya Dimetri lagi.
“Tidak, nanti kamu kepanasan, cukup atur kecilkan saja AC agar tetap sejuk.” jawab Lily.
“Okey.”
Dua jam kemudian, mereka telah sampai didepan Mall terbesar di Jakarta. Dimetri memilih memarkirkan mobilnya didepan Mall saja agar tidak bolak-balik ke belakang. Setelah keluar dari mobil. Dimetri mengajak Lily agar berjalan masuk ke dalam serta menarik lengan tangan Lily untuk digandengnya.
Lily tampak terkejut dengan sikap Dimetri terlihat agresif itu, ingin dilepas gandingan tangannya tapi ia tidak enak hati. Bukan Mahram sih sebenarnya tapi ia yakin Dimetri pasti menjadi jodohnya.
Didalam mall, banyak orang yang berlalu lalang dan menatap ke arah kedua insan layaknya seperti sepasang kekasih dengan tenang mengumbar kemesraan didepan publik. Ada yang memberikan tatapan kagum dengan pasangan itu tampak serasi dan ada pula banyak merasa iri dengki pada Lily yang hebat menjadi calon pendamping pengusaha muda terkaya nomor dua didunia itu.
Lily tak menghiraukan tatapan mereka itu, ia datang kemari diajak oleh Dimetri tapi bukan dengan keinginannya sendiri. Lily pun tidak mengerti dengan jalan Dimetri yang sudah mereka lewati beberapa toko konter ponsel tapi Dimetri tak menghentikan langkah kakinya.
“Kita mau kemana? Bukankah kita sudah melewati toko konter ponsel?” tanya Lily menoleh ke arah Dimetri yang terlihat menatap fokus ke arah depan.
“Sesuai kata aku tadi.” jawab Dimetri datar.
“Tapi toko konter ponsel sudah kita lewati. Kok gak berhenti?” tanya Lily benar-benar merasa penasaran dengan Dimetri tampak misterius.
Dimetri menoleh ke arah Lily yang menatap dalam ke arah dirinya.
“Beritahu gak ya?” tanya Dimetri iseng.
“Beritahu dong, aku bisa mati penasaran loh kalau gak ada kepastian.” Lily mencibirkan bibirnya membuat dirinya terlihat imut.
“Nanti kamu tahu sendiri kok. Sebentar lagi, kamu tahu sendiri kita akan kemana.” tidak lama kemudian, Langkah kaki Dimetri terhenti dan otomatis Lily juga menghentikan langkah kakinya didepan sebuah toko butik.
Lily menyerhitkan keningnya merasa binggung, dengan apa Dimetri mengajaknya disini. Jika mau membeli casing ponsel pasti di toko konter ponsel dan jika membeli pakaian putih hitam ditoko pakaian biasa juga bisa dibeli dengan harga biasa saja.
“Ngapain kita kesini? Jangan bilang kalau kamu ingin membelikanku pakaian putih abu,” ucap Lily mulai menyelidiki Dimetri.
“Iya kok aku malu membelikan pakaian untukmu dengan bahan berkualitas agar kamu gak malu-maluin.” sahut Dimetri enteng.
“Ya ampun, aku tidak ingin berhutang budi apalagi merepotkanmu seperti ini. Aku masih ada kok pakaianku masih bagus dan bisa dikenakan dengan baik.” balas Dimetri.
“Bisa dikenakan dengan baik maksudmu itu dengan pakaian sudah dua tahun tidak dibeli dan warga yang terlihat lusuh begitu. Apalagi dengan jahitan kecil diarea yang robek itu tetap menarik ya.” goda Dimetri mengingat semua pakaian Lily saat berhamburan oleh tukang maling kemarin.
Seketika pipi Lily memerah menahan malu saat mendengar perkataan Dimetri yang sesuai dengan kenyataannya.
“Tapi kan pakaiannya tidak rusak parah.” bela Lily diselingi senyuman manisnya.
Dimetri langsung memanjit hidung Lily yang tertutupi oleh masker dengan gemas, entahlah berada didekat Lily membuat dirinya merasa nyaman.
“Sudahlah, kita masuk kedalam. Aku akan membelikan pakaian yang cocok untukmu,” Dimetri menarik lengan tangan Lily agar mengikuti langkah kakinya berjalan masuk ke dalam toko butik.
Kedatangan Dimetri dan Lily disambut hangat oleh karyawan toko butik serta pemilik pun dengan hormat dan merasa hebat bisa menerima kunjungan Dimetri yang ingin membeli pakaian ditokonya.
“Selamat datang Tuan muda, di Toko butik Minja.” sapa dua karyawan wanita pada Dimetri.
Mereka tidak menghiraukan kehadiran Lily yang membuat Dimetri berdehem.
Seketika dua karyawan pun terpaksa tersenyum dan menyapa Lily juga.
“Selamat datang Nona muda, ada yang bisa kami bantu.”
Tidak lama kemudian, datangnya pemilik Toko butik Minya yang menerima laporan dari karyawannya menerima kedatangan Dimetri.
“Tuan Muda Dimetri, selamat datang di Toko butikku. Kehadiranmu membuat kami merasa bahagia dan ada yang bisa saya bantu?” ucap Pemilik butik bernama Pak Tino.
“Aku ingin membeli pakaian kemeja putih dan rok hitam untuk wanitaku. Tolong carikan ukuran yang cocok untuk Lily.” sahut Dimetri tersenyum ramah.
“Baik Tuan muda dan nona silahkan masuk ke ruang pakaian kemeja. Disana banyak berbagai macam model dan pilihan warna yang pastinya cocok dengan ukuran tubuh nona.” Pak Tono berjalan lebih dulu agar Dimetri dan Lily dengan mudah melihat-lihat berbagai macam pakaian yang tersusun disekitar toko butiknya.
Sepertinya yang lebih bersemangat disini adalah Dimetri. Buktinya Dimetri sendiri yang mengambil beberapa pakaian yang cocok untuk Lily dan diarahkannya dibagian tubuhnya. Sementara Lily hanya diam saja dan menatap kedua bola mata malas ke arah Dimetri yang menyuruh dirinya agar mau mencoba satu persatu pakaian di ruang ganti. Sehingga, Lily bolak-balik keluar dari ruang ganti untuk memperlihatkan pakaian yang dikenakannya pada Dimetri. Terasa membosankan apalagi Lily melihat nominal harga satu baju yang dapat jiwa misquinnya meronta-ronta.
“Hem… Kalau tahu rata-rata harga pakaian disini mahal semua. Lebih baik, aku minta saja uang pada Dimetri agar aku sendiri saja yang membelikan pakaian dengan harga biasa saja dan sisa uangnya dapat aku tabung. Lumayan kan ditabung uangnya dapat memenuhi kebutuhan hidupku selama satu tahun kedepan.” lirih Lily pelan.
Setelah pakaian terakhir cocok dengan penilaian Dimetri, barulah Dimetri mengeluarkan kartu black card untuk melakukan pembayaran dimeja kasir. Lily langsung bersujud syukur karena ia tidak bolak-balik di ruang ganti.
Lily dan Dimetri melangkah keluar dari toko batik dan barulah Dimetri membeli casing yang cocok untuk ponselnya. Dimetri menawarkan Lily mau membeli ponsel baru atau casing tapi ditolaknya mengingat ia tahu diri untuk tidak memanfaat kebaikan orang lain padanya.
Entah kenapa Lily merasa kebelet ingin buang air kecil, Lily memberitahu Dimetri yang sedang sibuk memilih casing ponselnya. Setelah itu, Lily melangkah keluar dari toko dan berjalan menuju ke arah toilet umum. Untunglah tidak ada ramai, jadinya, Lily langsung berjalan masuk menuju ke ruang toilet wanita. Setelah menuntaskan hadis kecilnya dan membalas uang sumbangan ke ruang toilet. Lily berjalan menjauhi tempat itu.
Lily melihat-lihat disekitar mall yang banyak menyediakan berbagai toko untuk masyarakat yang ingin berbelanja. Lily dengan asyik melihat sebuah boneka hello kitty berukuran besar tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang berjalan dihadapannya.
Bruk!
Tubuh Lily sedikit terpental dan untunglah ia dapat menyeimbangkan dirinya agar tidak jatuh diatas lantai.
“Maaf, maaf aku tidak sengaja,” ucap Lily yang memegang lengan tangannya terasa sakit dan ia mengandahkan kepalanya ke arah depan.
Seketika wajah Lily memucat saat melihat seorang pria sedang tersenyum manis ke arah dirinya.
“Al-alex,” ucap lily terbata-bata.