Ada yang Berbeda

1569 Kata

Sakit, begitu perih kurasa dalam d**a, saat mendengar kalimat terakhir dari Putra. Ya, aku tahu semua salahku. Mungkin, seharusnya sejak awal tak pernah kujalani semua impian ibu ini. Dan mungkin, hidupku lebih tenang jika saja aku memilih bertahan di rumah ayah dulu. Kini hanya penyesalan yang terus menghantui otak ini. Sungguh, aku tak pernah menginginkan ini semua. Persetan dengan harta dan kesuksesan, jika akhirnya malah membuatku menjadi wanita durjana. Kuturuni kursi dengan merentangkan sebelah tangan ke lantai, sedang tangan satunya menjaga keseimbangan di atas kursi. Kumiringkan kaki lebih dulu agar tak mengganggu. Begitu sulit kujalani hari ini. Lelah, sedih, serta marah bercampur menjadi satu dan bergemuruh dalam d**a. Kembali aku mengesot menuju kamar dengan membawa kotak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN