Bab 18

1016 Kata
18 *** Empat bulan sudah berlalu. Kehamilan Gwenny mulai terlihat jelas. "Sauang, jadi gak kita USGnya? Aku udah siap loh." kata Samudra, dia merilik ke pintu kamar, memastikan Gwenny keluar dari dalam kamar. Samudra sudah mempersiapkan segalanya, termasuk keperluan yang akan dibawa kedokter kandungan, dan dokumen cek up jantung Gwenny. "Jadi, yang. Ini loh mager banget jalannya. Berat banget." "Ada lagi yang ketinggalan?" "Nggak ada kayaknya, Sam. Ini kamu udah kasih si Gemoy makan kan?" "Cuma mager aja tiap hari, bangun minta makan, pagi makan, sekarang dia mau lagi," "Ih tapi kan dia lucu. Kalau sampai dia sakit liat aja aku bakal marah sama kamu." Gwenny memorotkan bibirnya, kesel jika Samudra lupa memberi Gemoy kesayangannya makan. "Samudra menghela nafas. Paling malas kalau urusan kucing, apalagi sejak gweny hamil samudra suka banget benci sama kucing sendiri. "Iyaaa.. sebntar aku kasih makan dia satu porsi makanan." "Papa kamu tuh, tu. Suka banget bikin mama naik darah. Nanti kalau kamu lahir, kamu jangan kayak papah kamu ya." Seakan tau apa yang ibunya katakan, perut Gweny bergerak kecil, pertanda mendapatkan respons dari sang bayi. "Mooy Gemoy, kamu makan yang banyak, mohon kerjasamanya oke moy? Jangan sampai ibu negara marah." Hewan bukan berarti tidak paham yang dikatakan sang owner tapi dia tau dan mengerti apa yang diinginkan Tuannya. "Udah belum yaanng. Ini aku kalau marah kamu tau kan? Aku malas loh kalau nunggu-nunggu kamu." Semenjak kehamilan Gwenny semakin besar, Gwenny semakin lebih sering marah dan mengomeli Samudra walah hanya karena masalah sepele. Beruntung Samudra bisa mengendalikan kesabarannya, sehingga sebentuk apa pun lelahnya, dia tidak akan pernah menyakiti Gwenny lagi. Ia anggap ini sebagai bentuk untuk menebus semua rasa bersalah yang pernah dilakukan. Tidak hanya itu, dia juga harus pandai menjaga Gwenny agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan. "Iya sayang, ayoo!" Samudra akhirnya selesai memberi makan kucing Gweny. Di mobil, Samudra sangat antusias ingin tau jenis kelamin anak anak mereka. Apapun itu, Samudra siap menerima buah cintanya yang lahir ke dunia. Akan menyayanginya sepenuh hati. "Coba rasain deh." Gwenny menarik sebelah tangan Samudra. Kemudian meletakkan tangan Samudra di perutnya. "Kerasakan? Kenceng banget. Kalau emang ini princess yang kamu inginkan, pasti jago banget." Disisi lain Samudra memikirkan harus mengambil langkah apa agar keduanya tetap menjalani hidup pada umumnya. "Iya, pasti cantik kok."senyum tipis mengukir sudut bibir Samudra . "Iya dong, harus cantik kayak aku. Wajahnya harus sama kayak aku, biar ada yang nemenin kamu." Bahkan Gwenny terkadang selalu mengucapkan hal-hal yang semakin membuat Samudra parno. Rasa takut kehilangan semakin menekannya setiap hari. "Sam, Gwen. Ini anak kalian, lucu banget. Kalian mau dengar detak jantungnya?" Samudra tak lepas menatap layar monitor yang menunjukkan calon anaknya. "Dok, itu detak jantung anak saya?" "Yaps, jantunnya sehat, normal. Nggak ada masalah. Nah, ini, jenis kelaminnya perempuan, Sam." "Perempuan, Dok? Gwen, benar dugaan aku. Dia perempuan!" Samudra lantas menggenggam tangan Gwenny, kemudian mengusap pelan pipi Gwenny. "Ehh tunggu, ini." "Kenapa Dok?" "Ini bayi kina kembar. Ada bayi yang sembunyi." Samudra dan Gwenny berhasil dibuat kaget. Kembar? Pantas saja perutnya sudah sebesar itu padahal kandunganya masih berusia empat bulan. "Ja..Jadi,. jadi anak saya kembar dok?" "Yaps, da..... ini, ini jenis kaminnya laki-laki. Waw, kembar pengantin ya." Dokter Lia tertawa pelan. "Sam .. anak kita kembar Sam..." mata Gwenny berbinar-binar. bahagia atas semua yang sudah diberikan kepadanya. semoga saja semuanya akan baik-baik saja. dia bisa melahirkan kedua anaknya dengan selamat. "Iya, sayang. aku bahagia banget," Samudra mencium kening Gwenny lembut. Meski pun begitu, Samudra tetap saja mencemaskan kondisi Gwenny. bahagia memang, tapi jika memikirkan tentang kesehatan Gwenny, Samudra sangat takut. takut jika dia harus dihadapi kenyataan kehilangan anak dan istrinya. "Ingat, kandungan kamu kan udah semakin besar, nggak boleh banyak aktivitas lagi, benar kan dok?" Dokter Lia menganggukkan kepala. "Tuh liat, suami kamu perhatian banget sama kamu. dengerin ya apa katanya dia. dengar-dengar kamu bandel juga ya. kata Samudra kamu suka banget tuh ngeyel kalau dibilangin." "Bukannya gitu, Dok. tapi gimana ya, susah banget buat ngendaliin diri, kalau misalnya gak sesuai sama apa yang aku inginkan, langsung deh. aku sedih dan bawannya pengen nangis gitu aja.* Dokter Lia menggelengkan kepalanya, "gak apa-apa. hal yang wajar kok. perempuan dan lagi masa hamil memang sedikit lebih sensitif. Tapi ingat, semuanya demi kebaikan kamu dan calon anak kamu. jadi nggak boleh bandel jika kami mau anak-anak kamu selalu dalam kondisi baik. Karen kesehatan bayi tergantung kesehatan si ibu. kalau kamu sakit tentu bayi kamu juga akan sakit." "Tuh, denger tuh. nggak boleh bantah suami." Samudra semakin merasa mendapatkan pembelaan dari dokter Lia. "Seneng ya?" "Iyalah, karena aku tuh begini tandanya aku sayang dan cinta sama kamu. Kalau aku gak cinta mana mau aku peduliin kamu." Gwenny cemberut. dokter Lia hanya tertawa pelan melihat Samudra yang seperti itu. menurutnya Gwenny sangat beruntung memiliki suami seperti Samudra. Dia bener-bener menyayangi istrinya. Andai semua lelaki seperti Samudra, mungkin semua perempuan akan bahagia, begitulah yang ada di dalam pikiran dokter Lia. "Gwenny kamu itu perempuan yang beruntung karena kamu memiliki suami seperti Samudra. lihat Kak dia jaga kamu dengan begitu sangat baik sampai semua apapun keperluan kamu diurus sama dia kan, dia itu begini dan melarang hal apapun yang mungkin bisa membahayakan kamu tentu semuanya sudah dengan pertimbangan yang sangat matang. karena dia tahu hal itu sangat membahayakan buat kamu. seperti yang waktu itu pernah Samudra katakan Dia pernah melarang kamu naik roller coaster kan. hal itu memang sangat dilarang untuk kamu, karena saya punya sehat nggak mau ambil resiko untuk naik rollercoaster seperti itu. lagi pula kita nggak tahu kapan musibah itu datang lebih baik menjaga daripada mengobati bukan? kalau kondisi kentok kamu baik mungkin Samudra nggak akan melarang hal itu. orang-orang yang sehat aja merasakan sensasi serangan jantung. lagi kamu yang memiliki riwayat penyakit jantung. bisa-bisa kamu serangan jantung saat naik itu, pokoknya jangan minta hal aneh-aneh yang bisa membahayakan nyawa kamu." kata dokter Lia memberi saran. lagi-lagi Samudra menganggukan kepala. menatap Gwenny seakan berketa bener kan apa yang aku bilang. Gwenny menghembuskan nafas pelan. "Awas nanti kamu di rumah," bisik Gwenny pelan." melirik Samudra dengan sini. namun Samudra hanya menanggapinya biasa saja sementara malah tersenyum melihat reaksi istrinya yang seperti itu. *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN