Aretha, dokter Pribadi Gwenny melihat hasil lab terakhir Gwenny. Dimana detak jantungnya yang semakin terjadi peningkatan denyut jantung semakin lama jantung akan mengalami kelelahan. Hal ini benar-benar sangat dikhawatirkan.
"Bagaimana dokter?" Samudra penasaran apa yang dikatakan dokter Aretha nanti. Harus siap jawaban dokter pribadi Gweny.
"Sam, ini adalah hasil cake up Gwenny terakhir. Ini menandakan adanya gangguan pada detak jantung Gwenny. Apa Gwenny sering terlihat lelah dan lebih sering tidur?
"Sering Dok, saya pikir itu krna dia efek dari mengandung. Bisa terjadi seperti itu apa memang fatal kondisinya dok?"
"Saya sarankan Gwenny melahirkan dengan Operasi Caesar. Karena itu yang paling aman. Hindari Gwenny dari aktifitas berat, sebisa mungkin dia harus bedrest."
Seakan dunia berhenti berputar, Samudra sudah terlalu habis kata-kata untuk memilih pilihan yang akan dia pilih kali ini. Ketiganya harus tetap hidup, jangan ada salah satu diantaranya memilih untuk dikorbankan.
"Hasil cek up terakhir ini saya memang tidak mengetahui perkembangannya Dok, baru hari ini saya tau kondisi Gwenny."
"Nanti saat usia memasuki 7 bulan, saya ingin Gwenny di rawat di sini. Kita pantau kondisinya sampai melahirkan nanti. Sebab, setiap saat jantungnya harus di periksa. Satu lagi, Sam. Tolong selalu siaga, karena Gwenny bisa kapan saja serangan jantung."
Pesan terakhir yang dokter sampaikan cukup membuat hati Samudra semakin kacau. Samudra memilih tidak menjawab apapun, dia keluar dari ruangan dokter Aretha dengan wajah tak terbaca. Ingin kembali ke menghampiri Gwenny namun terasa berat, Samudra lebih memutuskan untuk menenangkan hatinya, duduk di kursi tunggu.
Wajah Samudra tampak banyak pilihan, kenapa harus memilih? Sedangkan kebahagiaan baru saja hinggap di alur hidupnya, nyaris memiliki keluarga impian pada umumnya.
'Jangan ada pilihan lain, kenapa harus ditempatkan diposisi seperti ini' ucap samudra dalam hati.
Gwenny yang melihat Samudra dari kejauhan lantas berjalan mendekati sang suami. "Sam? Kamu kenapa? Dokter pasti kasih tau kondisi aku lagi ya?" Gwenny mengusap bahu Samudra. "Aku sama baby twins bakal baik-baik aja. Percaya deh, kamu nggak liat nih? Aku baik-baik aja." Gwenny berusaha meyakinkan Samudra. Bagaimana pun Gwenny tidak ingin membuat Samudra khawatir dengan kondisinya saat ini. Memang terkadang Gwenny sering merasa sakit yang tak tertahankan. Sebab selama beberapa waktu ini Gwenny tak lagi mengonsumsi obatnya.
Samudra memilih diam sejenak. Lalu menghembuskan napas berat.
"Kamu banyak banyak istirahat, kali ini aku harus lebih sering disamping kamu."
"Iya... Kamu jangan khawatir ya. Aku janji bakal ngelahirin anak ini sampai mereka selamat. Kamu janji sama aku jangan pernah ngerasa sedih dan terpuruk karena semuanya bakal baik-baik. Semua udah di atur sama Tuhan. Sekuat apa pun kita berencana kalau rencana Tuhan berbeda kita bisa apa, Sam?" Gwenny memeluk lengan Samudra, tersenyum gemas sambil memejamkan mata. "Ingat, kamu udah mau jadi ayah dari dua bayi kembar. Apa yang kamu pengen dikabulin sama Allah. Pengen bayi kembar langsung dikasih tanpa kita program-program.
Tanpa terasa air mata Samudra berjatuhan, buru-buru Samudra menghapusnya.
"Aku gak sekuat itu Gweny. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu, Please, stay with me. Jangan pernah tinggalkan aku. Kalau kamu pergi, apa gunanya aku hidup."
"Sam. Aku mohon kamu jangan kayak gini. Kalau kamu kayak gini, aku juga ikutan stress. Siapa yang mau nguatin aku kalau aku setiap saat harus ngeliat orang yang aku sayangi rapuh karena aku."
Samudra dengan suara parau menahan tangisnya. Pecah dihadapan Gwenny.
Melihat itu, lantas Gwenny membawa Samudra ke dalam pelukan. Berusaha membuat Samudra merasa nyaman dan menghilangkan rasa sedih yang mungkin sedang dia rasakan
Masih dalam keadaan menangis sampai sesegukan tak mampu membuat Samudra lega.
"Aku minta maaf Gwen..." Samudra memeluk Gweny dengan sangat erat, benar-benar tidak ingin kehilangan istri tercinta.
"Minta maaf untuk apa, Sam?"
"Sekarang aku gak bisa lagi, ini nggak gampang dengan memilih pilihan dari dokter Gwen. Kenapa kamu sampai merahasiakan hasil cek up setiap bulan kamu? Kamu sembunyiin dari aku, maksud dan tujuan kamu apa Gwen."
"Aku nggak mau kamu khawatir dan kepikiran terus. Karena aku tau, itu cuma bikin kamu tersiksa."
"Ini jauh membuat aku semakin tersiksa Gwen, aku harus memilih di antara dua pilihan, kamu bisa sangat rapi menyimpannya dari aku."
Samudra kembali menangis pecah dikoridor rumah sakit. Terkulai lemas di lantai.
Gwenny mencoba mengatur napasnya. Dadanya sudah terasa sesak. "Please, jangan kayak gini, Sam..."
"Kali ini kamu harus lebih lama dirumah sakit, itu saran dari dokter. Aku takut terjadi sesuatu hal yang fatal."
"Aku baik-baik aja." Gwenny pergi meninggalkan Samudra. Berjalan menuju mobil mereka yang berada di tepat parkir. Gwenny tidak ingin Samudra melihat kondisinya saat ini.
"Gwen!!" Samudra menghentikan langkah Gweny.
"Kali ini gwen ! Kali ini, tolong turuti apa yang aku mau, ini semua demi kamu dan anak anak kita, tolong Gwen!"
"Aku nggak mau nyusahin kamu. Aku nggak mau bikin orang cemas."
"Apa aku harus memohon agar kamu mau dirawat? Apa aku harus merasa kehilangan dulu baru kamu mau?"
"Sam, jangan nangis, Please..."
"Tolong, Gwen. Jaga kondisi kamu."
"Dokter bilang nanti diusia 7 bulan, kan? Sekarang aku pengen nikmatin waktu sama kamu apa salah?"
"Sudah, cukup untuk waktu bersenang senangnya, kesehatan kamu jauh lebih penting dari apapun."
Samudra mendekat selangkah lebih dekat dengan Gweny.
"Sam, kamu pikir enak kalau harus nginap di rumah sakit? Iyaa, aku mau. Aku mau untuk dirawat kalau itu emang untuk kebaikan anak kita. Tapi kamu belum penuhi janji kamu ke aku."
Samudra siap mendengarkan apa pun permintaan Gweny.
"Apa lagi Gwenny? "
"Kamu pernah bilang kalau kita bakal ke Newzeland. Aku pengen ke sana, nikmatin waktu di sana."
"Gwen, setelah anak anak lahir dan besar, aku janji kita ke sana. Tapi ini bukan waktu untuk kita bersenang senang, aku lebih memilih kesehatan kamu yang jauh lebih penting."
" Kalau aku nggak sempat gimana? Kamu pasti bakal nyesel." Gwenny cemberut, berharap Samudra tetap mau memenuhi keinginannya
"Sekarang kita pulang, kamu bisa pegang janji aku setalah anak anak lahir dan besar kita ke sana, bahkan kita boleh menetap di sana"
***
Di rumah , apapun yg gweny lakukan samudra yang menggantikan
"Gemoy. Sayang, kamu lucu banget siihhh." Gwenny mengelus kucing yang sedang dia gendong.
Semua pekerjaan rumah sudah ada yang membantu, Bi Asri namanya. Wanita paruh baya yang bisa diajak curhat Gwenny tentang seputar kehamilan.
"Mau saya buatkan jus lagi, Non? Nanti Bi asri buatin."
"Boleh, Bi. Jus mangga enak deh kayaknya."
Samudra yang baru saja bersihkan badan. Melegang keluar dari kamar.
"Boleh bi, saya juga ya."
"Siap, Den. Bibi bikinin dulu ya." Bi Asri berjalan menuju dapur.
"Sam, Gemoy gendut banget ya sekarang."
Kucing orange yang suka membuat banyak orang merasa gemas, lucu, berbulu, kakinya yg pendek, yang suka rebahan setiap harinya. Siapa lagi kalau bukan kucing.
"Iya lucu, gendut, banyak makan.. banyak rebahan."
"Sama kayak kamu, liat tuh perut kamu kenapa ikutan buncit. Kan yang hamil aku, bukan kamu."
"Kan tandanya bahagia, kalau gak gendut ya aku gak bahagia dong."
"Tau gak, kemarin Ayla nelpon aku loh. Tapi aku nggak tau, dia dapat nomor aku dari mana." Gwrnny mengambil ponselnya yang ada di di atas meja di samping Sofa. "Dia kirimin aku foto, kamu liat ini." Gwenny emperlihatkan foto Samudra yang sedang berlutut sambil memberikan bunga padanya. "Dia bilang ini foto baru. Tapi aku agak sedikit kaget sih kenapa ada foto ini. Cuma kalau aku liat dari potongan rambut kamu aja agak beda dari yang sekarang, akhirnya aku iseng deh coba liat di f*******: kamu. Dan aku nemuin foto yang sama." Memberikan ponselnya pada Samudra, "Tapi kamu masih bisa-bisanya ya nggak hapus foto dia di akun kamu."
Meraih handphone Gwenny, melihat foto yang dimaksud istrinya. Itu memang foto yang sudah lama dan sudah tidak ada akun f*******: itu lagi. Sudah lama juga samudra mengunninstall aplikasinya. Tapi tidak tahu bagaimana Gwenny bisa menemukan password dan email milik Samudra.
"Kamu tau darimana akun ini? Aku sendiri udah lama menonaktifkan akun ini, password dan email pun aku sendiri udah lupa." Samudra melihat seksama di foto itu. "Kamu bisa bandingin, tubuh aku, gaya rambut, kulit, jangan hanya dilihat dari caption dia yang merasa itu foto ter-up to date. Kamu bisa cek, tanggal postingan foto itu, Ayla memang suka merusak kebahagiaan orang."
Gwenny kembali merebut ponselnya. "nggak usah juga kali, segitunya lihat ini foto. Ya gue tau, ini tu foto lama lu, Sam. Nih, tau ya password dan emailnya tuh kan ditulis di buku. Gue nemuin, Sam. Jangan salah, kalau ada bau-bau perselingkuhan detektif aja bisa kalah saing sama istri."
Samudra yang gemas kalau cara bicara Gweny seperti anak SMA jaman sekarang. Langsung cubit telinga Gwenny.
"Niiiiihhhhhh."
"Aawwss, aawwss sakkiittt...." Gwenny memegang tangan Samudra yang sedang menjewer telinganya. "Sakit, Sam. Telinga aku copot nanti."
Samudra melepaskan cubitan ditelinga Gwenny.
"Siapa bilang lo gue lo gue? Hm?
"Gue lah!"
Karena gemas, akhirnya Samudra menciumi pipi Gwenny berkali-kali.
Gwenny mendorong tubuh Samudra karena tangan Samudra sedikit mendekan bagian perutnya. "Sakit, Sam. Pelan-pelan dong." Gwenny mengelus perutnya yang terasa ngilu.
"Maaf, sayang sakit ya."
"Iyalah, kamu tekan begitu."
"Maaf ya..." Samudra mengelus pelan perut Gwenny. Beberapa kali Samudra merasakan pergerakan dari salam perut Gwenny.
Tidak lama setelah itu Bi Asri kembali membawakan dua gelas Jus segar untuk majikannya.
"Nih Den, Non. Dijamin, jus buatan bibi enak. Tapi buat non Gwenny, bibi kasih es nya sedikit. Karena minuman dingin nggak baik buat bayi, nanti bayinya bisa besar dan non Gwenny susah pas ngeden buat ngelahirin nantinya." Bi Asri memberikan jus yang tidak terlalu dingin pada Gwenny.
"Nah buat Den Sam, bibi bikinin kayak yang biasa."
"Iyaa. Makasih bi Asri." Samudra lantas meminum jus mangga, rasa segar mampu menghilangkan dahaga seketika.
"Bi, bibi kan udah berpengalaman nih, cara lahiran normal yang lancar gimana sih bi?"
"Kalau mau lancar, harus rajin olahraga non. Kayak senam hamil, sering jalan jalan pagi, banyak gerak, Non. Dan makan makanan yang sehat dan bernutrisi, kata orang jama dulu itu, hindari pamali. Orang hamil banyak pamalinya non."
Bi Asri yang asli jawa dia tahu betul apa saja larangan orang di massa kehamilan, bukan mitos, tapi ada saja yang terjadi secara benar. Meskipun dianggap tabu oleh masyarakat modern seperti sekarang.
Gwenny mengerutkan kening. "Pamali apa, Bi?"
"Kalau orang jaman dulu non, orang hamil jangan berdiri di depan pintu non nanti jalan keluarnya si jabang bayi susah keluarnya, dan jangan juga makan di dalam kamar nanti anaknya banyak korengnya."
"Gitu ya Bi? Emang bisa? Yaudah nanti aku nggak mau makan di kamar lagi, terus aku juga nggak mau berdiri di pintu. Tuh Sam, kata bi Asri bisa lahiran normal yang lancar. Jadi aku nggak perlu nanti operasi ya." Gwenny menatap Samudra penuh harap. Sebab Gwenny sangat ingin melahirkan normal, ingin merasakan bagaimana rasanya seorang ibu memperjuangkan kelahiran anaknya. Katanya, melahirkan setara dengan 20 tulang dipatahkan secara bersamaan. Itu sebabnya apabila seorang ibu meninggal saat melahirkan bisa dikatakan Sahid.
Samudra yang mendengar cerita dari bi Asri, hanya respon menganggukan kepala. Terlebih, Gweny yang antusias ingin melahirkan normal, Samudra hanya menatap Gwenny penuh pertanyaan. Kenapa harus seperti ini?
"Oh jadi begitu bi?" Beralih pandangan ke arah bi Asri, sembari meminum jus mangga yang stengah gelas lagi mulai habis
"Kamu nggak perlu khawatir, bisa kok nanti normal. Kan kamu nemenin aku."
"Nggak, sayang. Harus ada prosedur dari dokter, bukan hanya menuruti keinginan kamu." Samudra segera menyangkal, memperingati sang istri agar tidak seenaknya saja.
"Aku pengen jadi ibu seutuhnya, Sam."
"Seutuhnya kamu adalah seorang ibu Gwenny, mengandung 9 bulan lalu melahirkan pun itu sudah seutuhnya, maupun cesar sama Gwenny."
"Tapi aku pengen denger mereka nangis. Kalau pun harus cesar aku nggak mau bius total."
"Gwen! Kamu!" Samudra nyaris lelah menjelaskan, gelagapan harus bicara apa lagi pada istrinya.
"Melahirkan normal atau cesar bukan berarti itu tidak menyakitkan, kamu pikir itu ajang spikopat mati secara perlahan?!"
"Sam, kan kalau operasi sesar nggak harus bius total. "
"Itu sakit Gwenny, aku gak bisa ngebayangin itu. Sudah cukup jangan bahas soal melahirkan lagi ya? Perbanyak berdoa semua selamat sampai mereka lahir."
Gwenny berdiri, beranjak pergi meninggalkan Samudra.
"Terserah kamu, Sam."
Samudra menghalangi langkah Gwenny yang akan masuk ke kamar.
"Gwenn, sayang... Aku bicara begini krna aku takut, kamu nggak bisa seenaknya, Gwen."
"Samudra. Kamu lihat, artis-artis melahirkan bayinya bisa dalam keadaan sadar."
"Jangan bandingkan kondisi kamu dengan artis, aku nggak suka itu. Mereka baik baik aja, sementara kamu? Kamu punya masalah sama jantung kamu!"
Gwenny menangis, kenapa semuanya harus menganggap nya lemah? Apa karena dia penyakitan? Bahkan untuk melahirkan normal pun kemampuannya diragukan
"Sudah-sudah. Maaf Den, Non. Jangan bertengkar. Serahin semua sama dokter, Non Gwen juga jangan memaksakan kehendak, kalau nanti terjadi sesuatu sama bayinya, Den Sam juga sabar sama Non Gwenny. Bibi tau, gimana rasanya kalau kita jadi seorang ibu, tangisan bayi itu bisa jadi semangat buat kita. Jadi Den juga harus ngerti apa yang diinginkan sama non Gwenny."
Mengalah demi Gwenny, demi anaknya juga.
"Oke, aku salah. Aku minta maaf atas perkataan aku tadi."