Bab 20

1520 Kata
*** "Bi, yang belanja ke market biar saya aja, untuk masak kurangi konsumsi gula dan garam bi." "Iya, Den. Ini non Gwenny kalau bangun dan nanyain Aden gimana?" "Bilang aja saya ketemu client di luar." "Bilang aja saya ketemu client di luar." "Yaudah, Den." Samudra pergi menaiki lifht turun ke lantai 2 apartment. Samudra memang lebih suka belanja setiap hari, menurutnya lebih baik seperti itu, sebab semua bahan pasti akan lebih segar. Ayla yang sedang berbelanja di sana melihat Samudra yang sedang memilih buah-buahan. Yaps, Ayla juga tinggal di sini. Jadi jika bertemu sesering itu adalah hal yang biasa. Begitu juga samudra sedang memilih buah yang baik untuk ibu hamil. Troli belanja sudah penuh dengan item belanjaannya. "Kiwi udah, Anggur merah udah, Mangga yang belum, mana ya." ditangan Samudra ada catatan panjang daftar belanja bulanan yang akan dibeli Samudra hari ini. Sengaja tidak membawa Gwenny, karena istrinya itu memang arus istirahat total. Ayla langsung memeluk Samudra dari belakang. "Sama, aku kangen." Samudra tersentak kaget, menyadari bahwa Ayla yang memeluknya, Samudra pun merasa risih dan langsung melepas pelukan dari Ayla dengan kasar. "Lepas! Ayla!" "Sam, nggak ada Gwenny! Aku tau kemarin kamu kayak gitu karena ada Gwenny kan?" Mata Ayla berusaha merik sekitar, dan benar saja Gwenny tidak ada di sini. "Udahlah, lagian ngapain kamu mikirin perempuan yang sebentar lagi mati, dia sekarat Sam. Lagian kamu ngapain juga masih mikirin dia, bukannya waktu itu kamu nggak peduli? Bahkan kita pergi bertiga dan terlihat dekat di depan dia kamu fine-fine aja." Samudra yang kesal merasa Ayla terlalu menghina gwenny. Tamparan keras mendarat di pipi kanan ayla. "Jaga ucapan kamu!" "Awsshh." Ayla merasakan sensasi panas di pipinya. "Kamu kenapa tampar aku? Apa segitu cintanya kamu sama dia? Kamu lupa? Dia yang udah mempermainkan kamu, kamu dipermalukan dan ditolak berkali-kali. Cuma aku, Sam. Cuma aku yang bisa nerima kamu apa adanya. Aku yang ubah penampilan kamu!" Air mata Ayla jatuh bertetesan. Tidak terima jika mengingat rasa sakit hatinya karena Jihan pernah merendahkannya dan menganggap nya tak pantas untu Samudra. "Setelah kamu hancurkan semuanya? Merusak kebahagiaan orang lain bukan kesenangan tersendiri. Jangan lagi membahas istri aku yang sakit, dia jauh lebih baik dri yg kamu kira " "Dia udah mau mati, Sam. Ayolah. Ngapain menghabiskan waktu sama dia? Banyak drama, kalau mati tinggal mati!" "Satu kali tamparan belum cukup menyadarkan Ayla, Samudra kembali menampar. Hingga menjadi tontonan pengunjung supermarket. "Justru aku menyesal pernah mengenal kamu! Seharusnya kalau memang benar benar tulus, bukan cara menyakiti sperti ini. Kamu liat? Semua kesalahan aku dan segala cara apapun yang pernah aku lakuin, dia tetap menerima aku, dan kamu jangan pernah berusaha menghancurkan Gwenny perlahan." "Harusnya kamu salahkan mama kamu. Karena dia yang udah nyebapin ini semua. Kalau seandainya mama kamu nggak pernah ikut campur hubungan kita, pasti kita sama-sama bahagia. Aku nggak akan dipaksa nikah sama orang lelaki b******k itu, anak dan anak aku juga pasti nggak bakal kepisah!" "Kali ini aku diam, untuk seterusnya aku harus memberi pelajaran yang setimpal atas perbuatan kamu." "Kamu ancam aku?" Ayla kembali merengkuh Samudra ke dalam pelukannya. Di dekapnya Samudra dengan sangat erat, berharap Samudra akan terpancing atas aroma tubuhnya." "Lepas Ayla!" Gwenny mendorong paksa tubuh Ayla. "Gila! Kamu gila Ayla! Buang ambisi mu jauh jauh, kamu hanya akan merusak semuanya dari aku!" "Oke, kalau kamu nggak mau terima aku lagi aku pastiin kamu bakal kehilangan Gwenny!" "Ingat, aku yang akan merusak segalanya dari kamu! Cam kan baik baik Ayla." "Aku nggak peduli. Kamu tinggal di Apartemen ini kan?" Ayla tersenyum Sarkas. Kemudian pergi meninggalkan Samudra. "Satu lagi, aku ada kejutan buat kamu! Gwenny kamu itu pasti bakalan schock, jantungnya akan berhenti berdetak!" Samudra tetap pergi menjauh, bergegas mentotal belanjaannya dan kembali ke lantai 12 apartmentnya. *** "Sam, kamu kenapa? Kok buru-buru gitu?" Gwenny melihat kedatangan Sam sambil membawa bahan belanjaan. "Jangan keluar Apartemen kalau bukan pergi sama aku, jangan buka bel pintu yang bunyi, siapapun, harus cek cctv dulu." Samudra masih memikirkan ancam Ayla yg terbilang nekat. "Loh emangnya kenapa, Sam?" Gwenny mengambil tentengan yang ada di tangan Samudra "Pokoknya jangan, siapapun itu, kita gak tau kejahatan apa yang orang lain perbuat pada kita" Meletakan buah-buahan dan mencucinya bersih. "Pokoknya jangan, siapapun itu, kita gak tau kejahatan apa yang orang lain perbuat pada kita" Samudra meletakan buah buahan dan mencuci bersih "Iya, aku tau. Tapi kan biasanya juga aku di rumah aja sama kamu. Keluar aja nggak boleh sama kamu." "Pokoknya.. akan ada bodygard yang jaga rumah kita." "Nggak usahlah pake-pake begituan." "Samudra yang masih kesal karna ayla, ditambah gwenny yg susah dibilangin. "Gwen please! Aku membuat aturan dirumah, untuk keselamatan kamu juga!" ""Kamu kenapa jadi marah-marah sama aku? Dateng-dateng muka kesel, tiba-tiba marah-marah. Aku salah apa?" Gwenny berdecak kesal, apa sekarang benar? Samudra kembali berubah dan menunjukkan sifat aslinya? "Aku nggak tau apa-apa, kalau kamu punya masalah itu diceritain biar diselesaikan, bukannya cuma marahin orang yang gak tau apa-apa!" Gwenny ikut terpancing emosi tidak terima karena dibentak seperti itu. Gwenny berjalan menuju sofa, duduk di sana merasakan kontraksi ringan di bagian perutnya." Samudra ikut duduk bersebelahan dengan gwenny. Lalu kembali menceritakan pertemuannya dengan ayla yang tidak di sengajanya. "Hari ini aku ketemu Ayla di supermarket, dia datang tiba tiba langsung peluk aku didepan umum, dia bilang akan mencelakai kamu kapapun dia bisa, ancaman yang dia buat gak pernah omong kosong, selalu dilakukan kapan pun dia mau." Samudra mencritakan kejadian hari ini yang bertemu Ayla di supermarket. Sampai tidak habis pikir kenapa begitu ambisiusnya Ayla ingin merebut Samudra dari Gwenny. Gwenny tak melirik sedikitpun, dia masih terlalu kesal dengan Samudra. Perihal perkataan Samudra, sudah dipastikan bahwa dia mendengar dengan sangat jelas. "Gwen? Kamu masih marah karena barusan? " Hanya terdengar helaan napas dari mulut Gwenny. Masih tetap sama, Gwenny tidak merespon Samudra. Meraih tangan Gwenny. "Aku minta maaf, aku akhir akhir ini khawatir kehidupan kita akan terancam oleh Ayla." Meraih tangan gwenny. Namun dengan cepat Gwenny menepisnya. ""Aku salah, aku minta maaf. Aku terlalu takut, aku harus apa Gwen." "Tapi kamu bisa kan, nggak harus bentak aku." "Maaf. Aku salah, aku minta maaf." Kembali meraih tangan Gweny. "Aku nggak suka." *** Malamnya gwenny masih marah dengan sam, di luar hujan deras. Samudra mencari cara agar kembali baikan dengan gwenny. "Bi, jangan masak ya. Biar saya yang masak." Kata Samudra sambil mengeluarkan bahan-bahan untuk memasak nasi goreng ala abang abang dipinggir jalan. "Loh emang den Sam mau masak apa?" "Lagi pengen makan nasi goreng bi, mau keluar hujan deras banget, jadi masak sendiri kayaknya lebih enak, lebih sehat juga." "Yaudah, deh Den. Ini bibi mau ini aja. Nyuciin baju-baju baby yang dibeli kemarin aja ya." "Boleh Bi, istri saya kemana Bi ? " Memulai menumis irisan bawang putih dan merah, cabai merah, hingga bau harum keluar menyeruak. "Tadi lagi di kamar. Habis bibi pijitin, katanya badannya sakit, Den." Samudra hanya mengangguk mendengar jawaban dari bi Asri. Aromanya sampai menggugah selera orang lapar. Samudra tau Gwenny pasti keluar kamar setelah bau harum masakannya tercium hidung Gwenny. "Enak kayaknya." satu suapan pertama untuk diri sendiri, masak sendiri , dimakan sendiri. Samudra menyisakan 3 porsi lagi. "Emang gak ada duanya, selamat makaaann." Gwenny masih gengsi. Sebenarnya lapar, tapi Samudra hari ini benar-benar menyebalkan. "Sabar ya sayang, kita nggak usah makan nasi goreng bikinan papa kamu." Si kembar merespon Gwenny dengan cara menendang lembut perut Gwenny. "Tambahin telor, tomat, enak nih." Samudra terus berusaha memancing Gwenny keluar. Gwenny mengelus perutnya. "Jagan, diam dong sayang." "Papa bikin nasi goreng deekk. Enak looh." Samudra masih melahap nasi goreng buatannya. Gwenny mengambil satu porsi nasi yang yang ada di atas meja makan. Membawanya ke ruang tengah sambil menonton TV Samudra yang sengaja meledek, hanya bisa menahan tawa melihat gengsi gwenny yg berlebihan. "Segitunya orang marah, tapi makan juga kok." "Tidur diluar!" Akhirnya Gwenny bawa nasi gorengnya ke dalam kamar. Mengunci pintu dari dalam. Samudra merasa masa bodoh dengan terkunci dia yang berada ruang tengah. "Nggak apa apa kunci aja yaaanggg, kan sidik jarinya aku bisa buka itu pintu." "Diam aja deh lu di luar!" "Kan bi asri bilang, jangan makan didalam kamar.. nanti bebynya korengan .. ya kan bi?" Samudra paling suka meledek Gwenny seperti ini. Rasanya seperti anak kecil mengejek temannya. Gwenny keluar. Nasi gorengnya sudah habis setengah. "Yaudah, nggak usah makan!" Tertawa riang nyaring sekali, karena melihat tingkah Gwenny . "Cciieeeee habis nih hahaha habisin dong dikit lagiiiii, nyenyenyeeee." Gwenny menatap Samudra sinis. "Gak enak!" "Yaudah kunci aja kamarnya, gampang..." samudra mendekati Gwenny. "Kan bisa masuk kapan aja, tapi hati hati loh nanti di kamar mandi ada yang liatin." "Yaudah, aku tidur sama bibi." Hadang Gwenny yang hendak melangkah lagi. "Yakin? Gak mau kekamar lagi? Papah dimarahin mamah loh dek, mau tidur sama papah gak?" Samudra pun akhirnya berbicara diperut buncit Gwenny. "Biarin aja dek, tadi kita dimarahin. Mama dibentak sama papa kamu. Biarin aja dia di luar." Samudra masih menghalangi pintu kamar. "Okee kalo gak mauu... Jangan mimpiin aku yaaa., hati hati di kamar mandinya." "Yaudah, awas juga kamu jangan pernah tidur sama kamu lagi!" Melihat Gwenny menggerutu jadi semakin gemas dibuatnya. "Nyenyenyenyeeeee..." Mulut Samudra diremas sama Gwenny. "Iihhhhhhh!" Samudra malah semakin tertawa dibuatnya, sangat senang melihat Gwenny seperti ini. rasanya lucu sekali. *** bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN