Bab 21

3264 Kata
Gwenny keluar dari dalam kamar, kesal karena Samudra tak kunjung masuk kamar, padahal ancamannya itu hanya bercanda saja. "Awsshhh!" Gwenny sudah mengambil posisi duduk, seakan-akan benar-benar terpleset. "Gwen!" Samudra Beranjak berdiri langsung berlari menangkap tubuh gwenny. "Jalannya bisa hati hati kan ? Kamu ngapain sih, udah diem aja dikamar tiduran "Sakit, perut aku sakit..." Tangan Gwenny langsung melingkar di leher Samudra "Kita masuk, lain kali jalannya hati hati.. nggak tau lantainya licin atau enggak kan "Kakinya juga sakit..." Gwenny merengek layaknya anak kecil. 'Tadi gak mau.. sekarang gengsi pengen digendong.. ' Gumam dalam hati sendiri. Gwenny kesel, mencoba untuk berdiri. Samudra tetap melangkah menuju kamar. Pintu kamar terbuka, merebahkannya Gwenny di atas ranjang. "Diluar Masih hujan kayaknya" Biasanya orang hamil akan merengek ingin di gosok punggungnya. Susah tengkurap penyebab utamanya. "Mau aku gosokin punggungnya?" Gwenny menganggukkan kepala. "Pegel, aku susah kalau tidur." Sesekali terdengar suara petir dari luar. Sebenarnya Gwenny sangat takut, tapi sebisa mungkin ditahan untuk tidak terkejut. Menggosok punggung Gwenny lembut. "Tambah lotion atau minyak angin?" "Minyak angin aja biar hangat. Di sini juga pegel banget." Gwenny menunjuk bagian pundaknya. Semenjak hamil, kaki dan punggungnya memang sering pegal. Bahkan tidak jarang juga Gwenny merasakan sesak saat sehabis makan. Padahal, Gwenny hanya makan sedikit. "Perutnya baru segini aja udah serba susah, gimana nanti kalau makin gede." Samudra terus memijit pundak Gwenny. "Yaudah, kita beli bantal yang khusus ibu hamil, kalo dipake miring gak bahaya. Aku liat itu di online shop atau mau kita ke dokter lagi?" "Pesan aja di online shop." Gwenny memejamkan mata, merasa nyaman dengan pijitan Samudra. "Berangkat ke Bali kapan? Model kamu masih Ayla?" "Aku masih cari model lain, Ayla bukan lagi brand ambasador di kantor. Jadi dia lebih tepatnya dikeluarkan papah sebelum jatuh tempo kontraknya selesai." "Dulu tuh bisa-bisanya kamu suruh aku belajar desain cuma buat dipake dia, mana ngomongnya ketus banget." "Kan itu dulu, sekarang beda dong, ada si kembar, makin sayang istri akau, terus? Kamu kenapa sok-sokan nolak aku, gak mau pacaran sama aku?" "Yaa aku nggak mau ikutan kena bully, aku kasian sama kamu cuma aku nggak bisa berbuat apa-apa. Dulu kamu juga jelek banget." Gwenny menjawab dengan wajah tanpa dosa. "Sekarang gimana? Ganteng kan?" Tanya Samudra memuji diri sendiri. "Kalau aku gak glow up begini, menurut kamu gimana?" "Lumayan lah walaupun nggak ganteng-ganteng banget. Kalau masih jelek mah, mana mau aku sama kamu. Anak aku bakal kaya gimana. Duh amit-amit, jangan kaya papa ya dek wajahnya. Papa kamu tuh standard wajahnya." "Beneran standart? Kan aku banyak fansnya looohhh." "Fans dari Hongkong?" "Iyalah masa boongan sih, panik yaaa?" "Ihh panik apaan?" Bicara tentang Hongkong, mendadak Gwenny menginginkan sesuatu. "Sam, aku tiba-tiba kok pengen banget ya makan Char Siu Buns, Roti Kukus yang isinya Daging. Tapi, di luar hujan. Pasti kamu nggak pengen kan beliin." "Hujan, kamu jangan ngada-ngada deh, dari sore hujannya deras begini kamu ngajak keluar? Udah tengah malam, nanti kalau keluar kita beli, tapi jangan sekarang ,tau kondisi di luar kan?" Gwenny menundukkan wajahnya. Entah kenapa tiba-tiba air mata begitu gampang keluar disaat Samudra tidak memenuhi keinginannya. Padahal ini semua timbul karena anak yang sedang dia kandung. "Aku lagi pengennya sekarang, kalau besok belum tentu pengen, Sam." Gwenny mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Sambil tidur membelakangi Samudra. Kenapa sekarang Samudra tidak ingin memenuhi ngidamnya? Apa karena tadi dia bertemu dengan Ayla. Apa cita mereka kembali terjalin dibelakangnya? Pikiran Gwenny mulai kacau. "Gwenny, jam 2 dini hari loh ini, mau nyari dimana? Besok, sepulang dari kantor aku cari sampe dapet, janji deh." Gwenny semakin terisak. Samudra begitu tidak peduli padanya "Aku ngerti kamu maunya sekarang, tapi ini udah jam 2 pagi.. Gwen.. " Samudra sudah dilanda rasa kantuk yang teramat berat dimata "Yaudah, aku pergi sendiri." "Gwennyyy...." Samudra merasa omongannya tidak pernah didengar serius oleh Gwenny. "Oke oke.. aku keluar cari rotinya, kamu di sini, tolong.. dengerin aku, tetep disini, jangan ikut, oke?" "Aku pengen makan langsung di tempat itu. Jadi aku ikut, Sam." Satu kali masih bisa ditahan emosinya oleh Samudra. "Jangan, ini jam dua dini hari loh, kamu mau apa? Makan di sini, biar aku yang cari." Gwenny menggelengkan kepala. "Aku pengen ikut, Sam." "Pleaseeee... jangan, tolong ngertiin. Aku tau kamu mau makan di sana, belum tentu ada orang jualannya, besok kita makan ditempatnya." Gwenny masih tetap kekuh dengan keinginannya. Bahkan dia sendiri juga tidak mengerti kenapa hati ya begitu keras untuk ikut ke luar. Mata Samudra sudah ngantuk berat. Besok sudah masuk pagi untuk kerja lagi. "Gwenn!" Tangan Samudra terangkat, nyaris lepas kontrol dan melayangkan tamparan di pipi Gwenny. Tapi tangan Samudra menggantung di udara, bergetar kemudian kembi menurunkan tangannya. "Kamu mau tampar aku? Tampar! Kamu ngerti nggak sih, Sam. Aku maunya gimana?!." "Aku tau ! Aku ngerti Gwenn ! Kita besok cari orangnya! Kita makan di sana, sepuas kamu. Tapi bukan sekarang, liat? Jam berapa ini ? Aku belum tidur satu menit pun , besok harus masuk kerja ! Tolong, pahami aku juga !." Gwenny tidur membelakangi Samudra. Hati ini, dua kali Samudra membentaknya. Apa dia terlalu egois? Selebihnya Gwenny hanya diam. Gak lagi menjawab Samudra. Paginya, Gwenny sudah tidak ada lagi di kamar. Pergi ke dapur, bikin mie goreng ke kesukaannya dari dulu. Karena hanya ini satu-satunya masakan yang bisa dia buat. Sementara Bi Arsi, minta izin keluar karena ingin mengirimkan uang untuk anaknya. "Pagi ini kita makan mie goreng dulu ya sayang. Nanti kalau Bi Asri udah pulang baru deh kita minta dimasukin apa aja." Gwenny tersenyum sambil mengelus perutnya. Beberapa kali Gwenny merasakan tendangan kencang dari bayinya. Samudra sudah siap mau pergi ke kantor, tunggu bi asri sampai rumah baru dia jalan. Padahal dulu kurus banget loh. Gwenny yang hendak ke kamar melihat Samudra akhirnya berbalik memilih untuk pergi keruang tengah untuk kembali menonton tv. Tidak lama setelah itu, Ponsel Samudra berbunyi. Pertanda panggilan masuk, dari papanya "Hallo pah ? Sam masih di rumah pah, tunggu bi Asri yang keluar dulu, mungkin 15 menit lagi." "Sam, ini 30 Menit lagi loh Sam. Kita nggak bisa bunda ini, kalau sampai meeting ini gagal, kita bisa rugi besar. Tolong, Sam. Gwrnny bakal baik-baik aja di sana." "Sam jalan sekarang. " Mau berpamitan dengan Gweny, tapi nampaknya masih marah , jadi sam mengurungkan niatnya, langsung melenggang keluar. Hujan di luar sampai pagi. Gwenny kembali rebahan di dalam kamar. Tidak lama setelah itu si Gemoy nyelonong masuk ke kadalm kamar. Naik ke atas kasur dan tidur di samping Gwenny "Gemoy. Ya ampun, kamu ini ya." Gemoy yang seolah paham, duduk di dekat Gwenny, badannya digosokkan ke lengan Gwenny. Samudra dan Papa Gwenny kembali bertemu secara empat mata. Sebenarnya jauh di lubuk hati Ardi, masih menyimpan kecewa pada Samudra perihal masalah yang pernah terjadi antara Samudra dan Putrinya. Banyak sekali yang sebenarnya menjadi beban pikiran bagi Ardi. Dia bisa kehilangan Gwenny kapan saja, bahkan Samudra pun juga mungkin bisa jenuh merawat Gwenny yang sakit-sakitan. Tak ada pembicaraan apa-pun. Ardi masuk ke dalam ruangan meeting tanpa mengusap Samudra atau hanya sekadar menyapa. Meeting berjalan lancar tanpa ada kendala apapun. Samudra yang merasa ardi berbeda, tidak banyak bicara. Hanya sekedar sapaan biasa saja. "Pah, mau makan siang bareng?" Membuka pembicaraan agar mengurangi kekakuan hari ini. Sejak meeting pagi hingga jam makan siang, ardi tampak tidak ingin memulai percakapan. Ardi mengembuskan napas berat. "Ya, sekaligus ada yang ingin saya bicarakan." Ardi memasang wajah datar. Pandangannya beralih pada Dirga, papa Samudra yang sepertinya ikut mengerti. Samudra yang merasa ada kecanggungan di keduanya, hanya bisa berharap ajakannya bisa ditanggapi dengan sukarela. "Apa papah bisa untuk siang ini?" Adri hanya merespons dengan anggukan kepala. Kemarin, sebenarnya Ardi sempat melihat Samudra dan Ayla berpelukan tepat saat Ardi ingin menjenguk putrinya. Lantas melihat pelukan Ayla pada Samudra, membuat Ardi tak mampu menahan emosi. Dia pergi begitu saja membatalkan keinginan untuk menjenguk sang anak. Samudra yang tepaku diam tidak mengerti isi pikiran Ardi. Mungkin kalau dia membatalkan ajakkannya, tidak apa apa. Samudra bisa lebih sabar untuk menenangkan hati Ardi. Mereka makan siang di kantin kantor yang tidak terlalu jauh dengan padatnya jam kerja hari ini. "Sepertinya, papah mau membicarakan sesuatu tadi." "Ya, itu betul." Ardi meminum air mineral. "Bagaimana kondisi Gwenny sekarang? Kamu menjaganya dengan baik?" "Gwenny baik pah, tapi dokter menyarankan di usia kandungan 7 bulan, bayinya harus dilahirkan secara prematur. Aku bwlum memutuskan mana pilihan yang tepat untuk keduanya." "Itu tidak jadi masalah. Apa kamu menjaga perasaannya? Apa kamu bisa memegang ucapan kamu untuk tidak membuat dia menangis lagi?" Tatapan Ardi begitu menusuk. Samudra yang merasa gugup bukan main, meminum air seteguk , demi menghilangkan rasa gugupnya. "Tentu pah, mungkin papah hari ini bisa menjenguknya sepulangnya dari kantor." Ardi tersenyum Sarkas. Bisa-bisanya Samudra bersikap seakan tidak terjadi apa-apa. "Kemarin kamu dan Ayla bertemu? Bagaimana rasanya berpelukan?." "Bukan seperti yang papah pikiran hari itu, aku di sana bukan untuk bertemu ayla , aku keluar mencari kebutuhan gwenny, itu semua bukan yang papah lihat, sam bisa jelaskan bagaimana kronologinya." Ardi masih berusaha menahan emosinya. Tapi kedua tangannya sudah terkepal kuat. "Gwenny?" Ardi menggeleng tak habis pikir. Bisa-bisanya Gwenny dijadikan alasan hanya untuk menutupi kebusukannya. "Saya sudah pernah katakan, Sam. Kalau kamu melakukan kesalahan lagi, kamu harus mengembalikan putri saya. Untuk apa dipertahankan kalau kamu tidak bisa menerimanya. Jujur saja, apa perjodohan ini masih belum bisa kamu terima?" "Sam bisa jelaskan pah, semuanya bukan seperti yang papah lihat, dan bukan karena Gwenny. Tolong." "Hari ini, saya ingin membawa Gwenny pulang dulu." Dalam hati Ardi sudah tersirat untuk memisahkan Samudra dan Gwenny. Ardi masih belum yakin dengan keinginan Samudra yang ingin membahagiakan putrinya. Setiap kali samudra ingin menjelaskan, Ardi tidak ingin mendengarnya. Walau hanya satu kata yang terucap. "Pah.. sam bisa jelaskan.. tolong dengarkan dulu." "Setelah anak kalian lahir. Kamu bisa berpikir dulu. Setidaknya itu adalah waktu untuk kamu yang tersisa bersama Gwenny." Samudra tidak berani bicara apapun lagi. Pikirannya tertuju pada nasibnya ke depan akan seperti apa. Ardi sampai di Apartemen Gwenny dan Samudra. Saat sampai di dalam, Ardi langsung mencari keberadaan putrinya. Gwenny duduk di atas sofa sambil menggendong kucing kesayangan. Karena menangis semalaman, mata Gwenny masih bengkak. Hal itu semakin membuat kecurigaan di hati Ardi. Pandangannya beralih pada Samudra. "Kamu apakan anak saya?" Kedatangan sang papa masih belum diketahui oleh Gwenny. "Buu.. bukan pah, bukan seperti yang papah pikirkan." Satu pukulan menghantam samudra. "Jangan pernah sakiti anak saya!" Pukulan mendarat lagi. Gwenny langsung dikagetkan dengan suara keributan. "Papa?." Gwenny langsung berlari mendekati keduanya. Menahan tangan sang papa untuk berhenti memukuli Samudra. Cairan berwarna merah segar mengalir keluar dari hidung Samudra. "Pa, ini kenapa?." Samudra meringis kesakitan. Bukan kali ini saja dia mendapat pukulan. Dulu pun pernah hingga memar sekujur wajahnya. "Biar dia tau diri! Sudah papah peringatkan jangan lagi membuat Gwenny menangis!" Bertubi tubi memukul Samudra. Tapi tidak ada perlawanan ingin membalas. Lebih tepatnya samudra menerima dengan pasrah. "Apa yg dia dilakukan Gwenn?! Jawab papah, jangan selalu membela dia." Gwenny meremas d**a yang sudah sesak. Kejadian ini benar-benar membuatnya kaget. Gwenny tergeletak dengan rasa sakit yang terus meghujam seluruh tubuh. Bagaimana tidak, kedua lelaki yang dia sayangi sekarang berada dalam posisi seperti ini. "To..tolong, be--berhenti..." "Non ! Ya allah , pak udah pak.. ini non gweny kenapaa." Hanya bi asri yang sedari tadi menyaksikan bagimana adegan tonjok menonjok berlangsung. Ardi langsung menghentikan aksinya. "Gwenny! Gwenny!." Ardi berusaha menyadarkan Gwenny, tapi tidak bisa. Wajah Gwenny sudah membiru, menandakan bahwa serangan jantung sudah menyerang anaknya. Sayup sayup samudra mendengar kepanikan ardi. "Gween.. jangan bawa dia pah.. jangan pah." Ardi lantas membawa Gwenny pergi, sesegera mungkin Gwenny harus mendapatkan pertolongan medis. "Den, ya Allah. Ini ada apa sebenernya den." Bi Asri yang kebingungan lantas membantu Samudra untuk bangkit. Bi asri membersihkan luka samudra yg lebam membiru campur darah. "Gwenny pergi ke rumah sakit mana bi?." "Bibi nggak tau, Den. Tapi kayaknya ke rumah sakit yang biasa." Samudra berusaha memfokuskan pandangan, sedikit pusing krna terusmenurus dipukul. "Bi.. saya boleh minta tolong? Ambilkan kunci mobil diatas laci." "Den yakin mau nyetir?" "Iya, Bi." *** Samudra menyusul ke rumah sakit yang dituju . Dengan keadaan seperti orang mendapat siksaan, dia manjadi pusat perhatian pasien di rumah sakit. "Sus, saya mencari pasien yg bernama Gwenny." Samudra vmendatangi resepsionis. Aruni yang baru tiba di rumah langsung mendekati Samudra. "Sam? Ya Allah kamu kenapa?" "Gimana gwennya mah ? Dia baik baik aja kan ? Anak anak gimana mah ?! Mah semuanya baik kan mah?" Mama juga belum tau Sam. Gwenny ada di UGD, barusan papa nelpon." Ardi baru saja keluar dari dalam bersama dokter. Samudra yg melihatnya beranjak dari tempatnya duduk. "Saya saran, gwenny harus disini di rawat lebih intensive lagi, sampai dia melahirkan" ucap dokter "Dok, istri saya bagaimana sekarang?" "Beruntung Gwenny cepat dibawa ke sini. Saya sudah beberapa kali pesan, jangan sampai Gwenny seperti ini. Sementara Ardi menatap Samudra dengan penuh ambisi ingin menghajar lagi. Aruni dengan sigap menahan ardi. "Pah.l, udah , jangan lakukan k*******n di sini, ini tempat umum, jangan ya.. papah harua lihat Gwrnny." "Dia mengkhianati Gwenny lagi!" "Pah! Sudah hentikan, ini rumah sakit. Banyak orang, papah nggak malu ?!." Kita bicarakan ini nanti setalah Gwenny siuman, kita bahas dirumah , samudra juga kasihan pah dia babak belur begini. " Ardi pergi begitu saja. Mencari udara segar untuk menenangkan pikiran. "Samudra, tolong maafkan papa. Dia memang orang yang emosional. Dia sangat menyayangi Gwenny. Mama harap kamu mengerti." "Aku memang pantas mendapatkan hukumannya mah, aku rela bertukar nyawa sekali pun untuk gwenny dan bayinya, sakit karna dipukul bukan berarti bisa setulus hati papah mempercayai aku, lain hal kalau memang samudra bisa menjaga gwenny dengan cara tidak membuatnya sedih dan kecewa, mungkin tidak akan berakhir seperti ini." Aruni juga tidak tahu harus bagaimana lagi. "Jika memang pernikahan kalian terus menerus harus menyiksa kalian berdua dan kedua pihak keluarga, apa memang tidak sebaiknya berpisah saja?" "Sam akam tetap bersama gwenny, bagaimana pun kondisinya, yg berhak menentukan bercerai atau tidak, semua ada ditangan sam, bukan kalian." "Tapi, Sam. Kamu lihat sendiri. Kalau terus-terusan seperti ini mama takut keluarga kita bermusuhan. Lebih baik berpisah secara baik-baik." Samudra menerka kembali ucapan aruyni. "Nggak, itu bukan pilihan yabg benar untuk kita mah." Samudra masuk ke dalam ruangan Gwenny. Di sana Gwenny masih belum sadarkan diri. Namun kondisinya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Di tubuhnya terpasang beberapa alat medis. Kondisinya memang tidak sadar, namun di di matanya keluar cairan bening. Seakan di alam bawah sadarnya sedang memikirkan sesuatu yang amat berat. Samudra duduk di samping Gwenny menemani sampai Gwenny siuman. Terlelap teridur di samping Gwenny. Jemari Gwenny mulai bergerak kecil. Masih belum sadar dari tidur. Ini sudah semalaman di rumah sakit, hanya berdua dengan gweny. Gwenny merasakan haus yang teramat. Tangannya berusaha untuk menggapai gelas yang ada di meja tepat sampingnya. Samudra terjaga dsri tidurnya. "Gwen ? Kamu.. kamu siuman ? Tt.. tunggu, tunggu disini aku panggilkan dokter." Gwenny memegang tangan Samudra. Kemudian menggelengkan kepala. "Kamu tau, papah berusaha memisahkan kita. Ini kesempatan terakhir yg aku punya, aku gak akan tau selanjutnya masih bisa memiliki kamu atau aku hanya disebut mantan suami kamu." "Pa--papa?" Gwenny membuka masker oksigen yang menempel dihidungnya. "Ke--kenapa?" "Aku selalu salah dimata papah, dia hanya menyebutku selalu membuatkamu sedih dan kecewa, hari itu.. dia liat aku dipeluk ayla, aku sendiri tidak bisa menjelaskan kronologi awalnya , papah memilih tidak mau dengar penjelasan apapun." "Cctv." hanya itu yang mampu Gwenny katakan saat ini. Sebab hanya itu juga ya g bisa menjadi barang bukti bagaimana kronologi yang sudah terjadi antara Ayla dan Samudra. Jujur, pertengkaran antara Samudra dan papanya kemarin masih membuatnya kaget hingga saat ini. Gwenny tidak bisa memilih antara keduanya. Sebab keduanya sama-sama penting. Ardi adalah ayah yang sangat dia sayangi, lelaki yang sudah berhasil menjadi cinta pertamanya. Sementara Samudra, adalah suami yang dia cintai, kalau memang dia dan Samudra berpisah, bagaimana nasib anaknya? Bagaimana juga jika dia meninggal saat melahirkan nanti. Gwenny sangat mencemaskan masa depan anaknya kelak. "Papah tetap tidak percaya lagi Gwenn, aku hanya perlu menunggu keputusan daripada kamu. "A--akuh... Aku ba--kal. Ngomong sa--sama. Pa... papa." "Kamu istirahat , jangan banyak gerak , kalau butuh apapun aku bisa bantu kamu." Beberapa hari setelah di rawat kondisi Gwenny semakin membaik. Sekarang di dalam ruangan hanya ada kedua orang tua Gwenny. "Pa, aku mohon. Sudahi kemarahan papa sama Samudra. Aku percaya dia nggak mungkin selingkuh lagi." "Ck terlalu baik putri papah, sampai sebegitu percayanya haha." "Pa, sebentar lagi aku bakal punya anak. Aku nggak mau anak aku tumbuh tanpa ayahnya." "Ha ! Omong kosong ! " "Pah jangan gitu. Nanti Gwenny Anfal lagi." Aruni berbisik di telinga suaminya "Kita bahas nanti, apa papah tetap memisahkan kalian atau tidak." "Samudra. Papa sama Mama itu berharap kamu bisa sedikit lebih sabar terhadap mertua kamu. Mama tau, dia udah kelewatan sama kamu. Tapi mama harap kamu jadi laki-laki yang kuat, ya g bisa mempertahankan rumah tangga kamu. Ingat, jangan menyerah." "Aku tau itu mah, aku bisa merasakan seperti apa perasaan papah. Lagi pula diperlakukan ssperti apapun tetap hanya sam yg disalahkan." "Mama bukan menyalahkan kamu. Sekarang kamu maunya gimana?" "Mamah menanyakan mau bagaimana ? Aku tidak mau pisah dengan gwenny, apapun taruhannya mah." "Mama sama papa akan bantu kamu, Sam. Meyakinkan papa Ardi kalau kamu gak bersalah. Urusan Ayla. Mama bakal kasih dia pelajaran. Sementara papa, papa nggak jadi proses Dia melalui jalur hukum?." Jihan bertanya pada Dirga suaminya "Sudah ma, tapi pengacaranya bermain licik, akan ada sidang lanjutan lagi. Dan ada dana dua miliar yg dia ambil dari perusahaan papah, dia lumayan pintar. "Nggak salah kan, dulu mama itu larang kamu sama dia! Feeling seorang ibu itu nggak pernh meleset!." "Jangan bahas itu lagi mah, kasian Gwenny. jam berapa kalian pulang?" "Kamu yang seharusnya ditanyain. Apa kamu nggak pengen istirahat pulang? " "Barang barang Sudah dikemas kok mah, tunggu obat dari dokter, hasil cek up gwenny ,baru kita pulang." "Yasudah, kita pulang sama-sama ya. Mama juga pengen antar Gwenny pulang ." Tidak lama setelah itu suster datang, memanggil Samudra untuk datang ke ruangan dokter Aretha. "Permisi, maaf Pak Samudra. Anda di minta datang untuk menemui Dokter Aretha di ruangannya." "Apa ada hal tentang gwenny lagi dok?." Samudra di buat penasaran dengan hasil lab jantung milik gwenny. "Samudra. Kondisi jantung Gwenny semakin hari semakin memburuk. Seharusnya, jika dia mematuhi aturannya untuk meminum obat-obatan, jantungnya tidak separah ini. Apa selama ini Gwenny menghentikan konsumsi obatnya?" Dokter Aretha sangat bingung dengan hasil cake up Gwenny. Bukannya membaik, namun yang terjadi malah sebaliknya. Mendengar hal ini samudra mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah. Kembali keruang rawat inap gwenny. Berdiri diambang pintu. Sia sia samudra merawat gwenny agar cepat pulih, dan obat saja tidak disentuh? "Boleh aku menanyakan satu hal?" "Apa?" Kening Gwenny berkerut bingung. Kondisinya sekarang sudah lumayan segar. Tadi pagi, sempat dimandikan oleh mamahnya. "Obat.. apa kamu minum teratur?" "Minum, Kok." "Berapa lama kamu membuang obat itu? " "Buang? Ma--maksud kamu apa sih, Sam. Aku nggak ngerti. Aku minum obatnya, teratur. Buktinya selalu habis, kan?" "Kenapa kamu seputus asa ini? Obat itu sama pentingnya gwen, kamu buang dimana." "Okey, okey! Aku ngaku. Aku buang bukan karena aku putus asa, Sam. Aku nggak mau celakain anak aku sendiri aku nggak mau mereka kenapa-napa. Kamu tutupin dari aku risiko jika aku terus kosumsi obat aku. Kamu mau anak kita terlahir nggak sempurna?" "Kita bisa bicarakan ini, ada dokter kamu bisa konsultasi. Cacat ataupun sempurna dia tetap anak kita." "Tapi aku nggak mau!" Gwenny menangis. "Tolong ngertiin aku, kalau kamu jadi aku kamu juga pasti bakal lakuin hal yang sama. Kamu bakal lindungi orang yang kamu sayang sekalipun mengorbankan diri kamu, kan?." "Aku ngerti aku paham gwen, setidaknya kamu bisa bicara lebih awal." "Aku bakal baik-baik aja, Sam." "Kalau sudah seperti ini, aku yang ngerasa seperti orang lain, aku berhak tau akan hal itu." "Aku minta maaf, please aku capek berantem." *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN