"Aku juga capek Gwen, capek." Samudra frustrasi, tidak tahu bagaimana harus menjelaskan pada Gwenny dia sangat mencemaskan Gwenny.
"Aku yang capek, Sam. Akuuu!" Gwenny menangis. Tidak tahu harus bagaimana lagi.
Aruni memberi isyarat agar Samudra keluar lebih dulu.
Di luar ada Ardi yang sedang duduk di kursi tunggu.
"Gwenny pulang sama saya."
"Sam tidak izinkan pah! Maaf."
Samudra mencegah. Kali ini dia harus benar-benar mempertahankan istrinya itu. Sebab tidak akan ada satu pun yang bisa merebut Gwenny darinya.
"Saya ayahnya!"
"Dan aku suaminya! Jauh lebih berhak. Sepenuhnya dia tanggungjawab Sam. Bukan papah."
Aruni keluar sambil membawa Gwenny yang sudah duduk di kursi Rodanya.
"Masih mau berantem? Masih belum kelar?" tanya Aruni tidak habis pikir.
"Kalau kalian nggak bisa berdamai, yasudah. Biar mama sama Gwenny yang pergi." Kata Aruni penuh penekanan, dia berjalan mendorong kursi roda Gwenny dan menjauh dari Ardi dan Samudra.
Disusul Samudra yang juga mengikuti Aruni dan Gwenny pergi.
Rrdi menarik tangan Samudra dengan cepat.
"Mau apa kamu?!"
"Kenapa?" Ucap Samudra menantang pertanyaan Ardi.
"Gwenny pulang sama saya."
"Aku yang berhak membawanya, kemana pun! Papah nggak ada hak apa pun atas hal itu!"
Kedua tangan Ardi terkepal kuat. "Berani kamu sama saya? Dia anak saya!"
"Seorang Ayah nggak ada lagi tanggung jawab lagi sama anak perempuannya yang sudah menikah, sudah sepenuhnya Gwenny berada dalam pengawasan aku. Aku suaminya, ingat Pah! Dia milik aku, bukan milik papa lagi!" Samudra berlalu meninggalkan Ardi.
Gwenny dan Aruni masih berada di koridor rumah sakit.
Gwenny diam, tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kepada sang papa bahwa dia yakin Samudra tidak mengkhianatinya lagi
"Mah! Biar Samudra yang bawa Gwenny pulang, mmh... dan makasih sudah membantu Sam dan Gwenny di Rumah sakit."
Sudah dipikirkan oleh Samudra untuk rencananya membawa Gwenny pergi.
"Iya, maafin papa Gwenny ya Sam. Kamu langsung mau pulang?"
"Iya Mah, ayo Gwenn kita pulang, kamu mau mampir di toko roti kemarin kan?"
"Ummm, udah nggak pengen."
"Yaudah, kalau gitu kita pulang mah."
"Kalian hati-hati hati..."
Selama perjalanan pulang Gwenny banyak diam, hanya Samudra yang kerap mengajaknya bicara.
"Kita ke Newzeland hari ini, aku sudah pesan tiket."
"Newzeland? Kenapa mendadak?" Gwenny melirik Samudra sejenak. "Aku belum kasih tau Papa sama Mama."
Samudra menepikan mobilnya di bahu jalan.
"Kita nggak perlu izin, aku nggak mau ada orang lain yang berani memisahkan kita. Aku sudah cari tempat tinggal juga disana, nggak ada waktu lagi kita di sini."
"Gimana kalau papa semakin marah sama kamu, Sam."
"Itu terserah Papah. Aku mau kita pergi dari sini."
"Yaudah, terserah kamu, Sam. Gimana baiknya, aku ngikut."
"Tentang biaya hidup, aku udah pikirin. Aku jago masak, kita buka restoran kecil kecilan disana, gimana?"
"Boleh. Tapi nanti apa pun itu kalau kita sampai di sana, kita harus kabarin ke mama sama papa."
"Nggak, aku nggak mau mereka mengusik lagi. Kamu liat sendiri kan?"
Gwenny hanya memijat kepala yang pening. Sekarang dia hanya bisa mengikuti permintaan Samudra.
Tanpa pulang ke apartement mereka langsung pergi menuju bandara. Tanpa membawa bawa baju, hanya pasport dan tiket pesawat beberapa benda penting lain saja yang dibawa.
"Ini baju gimana, Sam. Masa begini doang?
"Tenang aja, kita beli di sana. Atau kamu mau beli sebelum kita ke bandara?"
"Yaudah, beli di sana aja...
***
Bussines Class.
Samudra yang tidurnya merasa tidurnya terganggu dengan suara tangisan Bayi, terbangun.
"Mmh.. bayi siapa ya? Dari tadi nggak bisa diem."
Gwenny melirik ke belakang, "Kayaknya bayi yang ada dibelakang kita deh Sam."
Perempuan pemilik bayi itu hampir menangis, lantaran si bayi tidak bisa diam.
"Sam, coba kamu izin sama ibunya, boleh gak bayi ya sama kita. Siapa tau nanti mau diem."
Samudra mendekati Ibu yang membawa bayi. Meskipun sudah digendong Pramugari tapi tetap tidak mau diam.
"Permisi, bayinya kenapa Bu?"
"Nggak tau, Mas. Ini dari tadi nggak bisa diem, saya bingung harus gimana."
"Saya minta izin, mau saya gendong boleh?"
Perempuan itu langsung menyerahkan bayinya. "Maaf ya mas."
Samudra membawa bayi itu di tempat duduknya.
"Lucu ya bayinya, jadi nggak sabar si kembar lahir."
Bayi perempuan lucu, dengan pakaian bayi dan bau khas harum bayi. Umurnya sekitar 5 bulan, tapi moment seperti ini yang sangat dinantikan.
"Sini, aku pengen gendong." Gwenny mengambil alih bayi yang ada di tangan Samudra. "Sama Tante ya sayang. Kamu kenapa? Kok nangis? Kamu takut ya? Nggak apa-apa kok sayang, kita bakal baik-baik aja di sini." Membawa bayi itu tepat dalam dekapannya. Sedikit membuat Samudra ngeri, sebab bayi itu ditelakkan di atas perutnya.
"Kasian dong si kembarnya ke tindihan gitu." Samudra ketar ketir melihat gendongan Gwenny.
"Gak apa-apa. Babynya kan nggak berat." Sambil terus membawa mengelus kepala si bayi. Bayi mungil itu tampak kantuk sekali, dia mengusap mata yang basah beberapa kali.
"Kayaknya ngantuk deh."
"Heran, kan sama aja digendong ibunya mau pun sama kamu. Terus bedanya dimana?"
"Aku pernah baca, kalau kita lagi panik saat kita gendong bayi, itu bayi bisa merasakan kepanikan ibu, sama aja kayak si ibu mentransfer energi yang nggak positif."
"Oh gitu, jadi dia akan tau secara naluri bahwa dia minta ketenangan juga?"
Samudra yang tidak tahu soal bayi-bayian hanya mengangguk paham saja.
"Iya... Eehh kamu ngapain, sayang." Gwenny terkejut saat tangan munggil bayi itu menarik bajunya. "Sam, dia kaya ya haus deh."
"Eh iya, si ibunya ngasih aku ini." Sebotol s**u.
"Kalau dia masuk angin gimana? Dikerokin gitu?"
Gwenny memberikan sebotol s**u pada bayi kecil itu.
"Ngaco kamu masa bayi dikerokin. Nanti bayinya dikasih minyak telon, perut sama punggung, terus putar searah jarum jam dibagikan sini." Gwenny mengusap punggu si bayi membentuk gerakan arah jarum jam. Nanti bayinya bakal kentut atau sendawa."
Samudra hanya memperhatikan Gwenny yang sedang menjelaskan.
"Kalau dia makan? Dari umur berapa?"
Namanya MAPSI, Makanan Pendamping Air s**u Ibu. Itu adalah makanan atau minuman bergizi seimbang yang diberikan kepada bayi yang udah berusia 6-24 bulan dengan takaran tertentu untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi. Misal, kita kasih dia brokoli itu nanti masaknya harus benar-benar halus. Di blender, nasinya juga. Sama halnya kayak ayam direbus terus di blender juga.
"Dia langsung tidur loh, apa diatau ada bayi didalam perut kamu?" Pandangan Samudra beralih pada bayi mungil itu
"Kayaknya deh. Nih, coba kamu kasih ke ibunya."
Samudra mengembalikan bayinya ke ibunya lagi. Perempuan itu benar-benar berterimakasih karena sudah membantu menenangkan bayinya.
"Kamu gak istirahat?" Samudra berbaring lagi.
"Kan masih jauh, kamu yang tenang jangan banyak pikiran."
"Aku nggak ngantuk, susah tidurnya kalau begini."
"Sini tangannya aku pijitin." Memijit tangan Gwenny dan memberi kenyamanan agar istrinya itu rileks dan tidur.
***
Mereka sampai di Newzeland. Disambut hangat dengan suasana musim semi, jujur saja ini tempat terindah yang baru pertama kali dikunjungi bahkan sampai menetap. Hamparan tanah hijau yang sejuk, air danau yang tenang, cuaca cerah, dan udara yang minim polusi. Cocok untuk Gwenny saat ini.
"Kamu istirahat aja, biar aku yang beresin yang lainnya. Oh iya, bajunya ada semua di lemari. Aku minta bantuan pemilik rumah ini buat cari pakaian kamu."
Gwenny duduk di atas ranjang. Rasanya benar-benar lelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua hari.
Jujur, Gwenny memikirkan bagaimana papa dan mamanya di sana. Gwenny tidak bisa membayangkan bagaimana kemarahan papanya terhadap Samudra saat ini.
"Tetangga kita disini juga baik baik kok, kamu bisa berbaur dengan mereka nanti."
"Kamu nggak hubungi mama Jihan dan papa Dirga? Seenggaknya ada yang tau kita di sini."
Gwenny masih tidak tahu harus bagaimana lagi. Sampai detik ini perasaannya masih tidak tenang
"Aku hubungi mereka besok."
Samudra tidak ada niat untuk menghubungi mereka. Sedikit pun
"Janji?" Gwenny menatap Samudra penuh harap.
Samudra mengangguk.
'Aku begini, karna satu hal. Jangan lagi ada yang berusaha memisahkan kita Gwenn.' kata Samudra dalam hati.
***
Lake Tekapo sebuah kota kecil yang terletak di tepi Sungai Tekapo. Sungai yang sangat terkenal dengan pemandangan yang sangat memikat dengan warna turquoise dan bentangan pegunungan yang ada di belakangnya. Tak hanya itu, Tekapo adalah salah satu titik terbaik di New Zealand untuk melihat pemandangan aurora yang menakjubkan. Fenomena yang hanya terjadi antara bulan April hingga September. Kebetulan sekali, Samudra dan Gwenny berada di waktu yang tepat untuk menyaksikan salah satu keindahan New Zealand.
"Sam, apa kita nggak jalan-jalan di sini?" tanya Gwenny dengan suara pelan. Takut jika hal itu berakhir dengan perdebatan karena Samudra tak memehuni keinginannya.
Semalam, Gwenny sudah mencari-cari di internet tempat terbaik yang bisa dia kunjungi selama berada di sini. Dia menemukan Lake Tekapo, sebuah kota terletak sekitar 3 jam perjalanan ke barat daya Christchurch di Mackenzie Basin. Kotapraja ini menghadap utara, melintasi danau berwarna biru-kehijauan yang sangat menawan hingga jajaran pegunungan Southern Alps. Lake Tekapo mendapatkan warna biru-kehijauan pekatnya itu dari serbuk cadas halus yang terhancurkan oleh gletser yang tertahan dalam air.
Tak hanya itu, tepi danau itu mereka juga bisa menemukan Church of the Good Shepherd yang cantik, di mana jendela altarnya menampilkan pemandangan Mount Cook yang sempurna.
"Boleh, aku siap-siap dulu."
Berganti pakaian.
"Gimana kesan kamu setelah tinggal disini?" Timpal samudra.
Sejak tinggal di New Zealand, banyak tetangga berdatangan ingin menyapa Samudra dan Gwenny. Orang-orang di kota kecil ini sangat ramah bila ada pendatang baru. Terlebih, kotanya yang kecil nan tentram sangat nyaman untuk tinggal lebih lama lagi. Rasanya tidak ingin kembali ke Jakarta. Sudahkah Samudra menghubungi mereka?
Samudra memindahkan Gwenny ke kursi roda.
"Lest go!"
Gwenny merentangkan tangannya, menghirup dalam-dalam udara sejuk yang menyapa kulit.
Sepeti yang Dejavu, Gwenny seakan pernah melalui hal seperti ini.
"Sumpah, ini indah banget...."
"Surga yang sesungguhnya!" Samudra teriak dengan lantang, lalu menjerit sekencangnya. Melepas semua unek-unek di kepalanya.
"Aku pengen nyebur ke danau rasanya..."
"Mau berenang? Kan ada bathup di rumah."
"Bathup? Nanti masalahnya kalau di bahup kamu malah pengen ikutan."
Samudra menggeleng cepat.
"Enggak kok, enggak, suwer deh!"
Mengacungkan dua jari.
"Oke, nanti aku bakal berendam di Bathup. Pakai bunga mawar, pasti wangi. Awas aja kalau kamu ikutan."
"Aku nggak apa apa ko." Lesunya Samudra. Padahal ingin.
Gwenny berdiri dari kursi roda, berjalan mendekati Danau. Tapi seketika senyum dibibir Gwenny hilang. Teringat akan masalah yang sedang terjadi.
"Gwenn? Kamu masih ingat dengan mamah papah? Aku sudah hubungi mamah Jihan."
"Kata mama apa?"
"Mamah bilang, itung-itung refreshing buat kamu dan anak-anak."
Gwenny mengembuskan napas pelan, kemudian tersenyum tipis. "Fotoin aku dong."
Memotret Gwenny seperti foto maternity shoot.
"Bagus kan? Kamu coba fotoin aku."
Hahahah, sumpah Sam. Kamu alay banget. Ih, Jiji banget liatnya." Gwenny tertawa sampai terbahak-bahak.
"Lagi-lagi!"
Foto kayang sampai kepala kebalik. Pemandangan indah dengan suasana indah yang tidak akan terlupakan dengan adanya foto ini akan abadi.