"Sekarang, operasinya berjalan lancar. Semoga tubuh Gwenny tidak mengalami penolakan. Tapi, untuk saat ini, hanya satu orang yang bisa menemui Gwenny. Kamu mau menemuinya?"
"Boleh dok, saya mau menemui Gwenny."
Yasudah, silakan. Nanti saat Gwenny dipindahkan ke ruangan ICU kamu bisa temui dia.
Nafas berat Samudra terasa lega seperkian detik. Rasanya seperti mimpi, operasi berjalan dengan lancar dan tidak ada hambatan. Tentu sebuah kabar baik sekaligus pesan dari Tuhan untuk tetap menjaga pemberian kedua dari-NYA.
"Ma.." samudra memeluk Jihan.
"Gwenny ma.. mama, dia selamat."
Jihan membalas pelukan Samudra ikut lega saat operasi menantu kesayangannya itu berhasil.
"Gwenny pasti akan selalu menemani kamu. Sekarang kamu temui dia, ya. Temani dia."
Samudra masuk dengan memakai baju khusus serba hijau.
Terduduk disamping brankar Gwenny.
"Terimakasih, sudah berjuang sejauh ini. Aku bangga sama kamu Gwenn. Kamu bertahan untuk anak kita, ini semua berkat doa dan kekuatan dari Berlian."
Jari Gwenny bergerak pelan. Merespon suara Samudra.
Samudra menangis tersingkuh di lengan Gwenny.
"Binar sejak pagi nggak rewel sama sekali. Dia pinter banget.. tidur terus, haus pun cuma minum Asi dari kamu satu botol. Dia tidur lagi hehe.. lucu ya."
***
Hari ini mama Siska dimakamkan. Arka tak hentinya menangisi kepergian sang mama yang begitu mendadak. Apalagi kemarin mereka masih sempat bertemu. Andai saja Arka tidak membiarkan mamanya pulang, pasti semuanya akan baik-baik saja.
"Arka, kamu sabar, ya. Sekarang Mama udah tenang." Ayla menyentuh pundak Arka, mengusapnya pelan dan berusaha untuk menguatkan lelaki yang sekarang sudah resmi kembali menjadi suaminya.
"Iya, makasih.." Arka menghembuskan nafasnya lirih. Terlihat jelas air mata yang tertahan di pelupuk mata Arka. Berat rasanya ditinggal dua malaikat cantik dihatinya terasa mimpi disiang bolong.
"Iya, aku tau. Kayla baru pergi satu Minggu yang lalu, sekarang Mama udah nyusul."
"Kamu bisa bawa mobil? Kita pulang, aku mau istirahat dirumah."
"Bisa. Mana kuncinya?"
Serahkan kunci mobil ke Ayla.
Arka duduk disamping hanya diam fokus melihat sekeliling jalanan, masih belum menyangka ini akan seperti ini.
"Sekarang kita udah nikah lagi, apa kamu bakal terus benci sama aku, Ar?"
"Tergantung bagaimana sikap aku selanjutnya setelah menikah."
"Aku bakal berusaha lebih baik lagi, aku minta maaf kalau aku pernah gagal jadi istri kamu dan jadi ibu yang baik buat Kayla."
"Aku nggak mau membahas itu lagi Ay. Tolong kamu paham kondisi aku sekarang, aku muak berdebat panjang tentang Kayla."
Sesampainya di rumah Ayla dikagetkan dengan kehadiran bayi yang ada di rumah ini. Arka memiliki bayi?
"Arka, ini bayi siapa?"
"Ay! Jangan bahas siapa bayi ini, yang jelas kamu harus bisa mengerusu Lian. Aku nggak mau kejadian kedua tentang Kayla terulang. Dia bayi aku yang ditemukan didepan pintu rumah."
"Ba..bayi kamu?" Ayla masih menatap bingung bayi perempuan yang ada di gendongan Bi Asih.
"Kamu mau mengurus Lian atau kamu hanya mau Kayla ke dua terulang kembali?! Urus Lian!"
"I...iya, aku... Aku bakal urus dia dengan baik, Ar." Ayla berjalan mendekati Bi Asih
"Namanya Lian, ya Bi? Sini biar aku gendong aja, Bi."
"Tolong ya non, bibi mau masak buat makan malam.. nanti kalau rewek bisa susuun pake s**u formula."
"Iya, Bi. Aku bawa Lian ke kamar ya." Ayla mengikuti Arka masuk ke dalam kamar.
"Mmmm, Arka. Dia tidur di sini sama kita?"
"Dia ada kamar sendiri. Kamu mau tidur sama Lian yaudah."
"Aku, aku tidur sama kamu."
Arka berbaring membelakangi penggung Ayla.
"Aku jadi ingat, pas Kayla bayi kamu begadang jagain dia. Aku, aku malah malah tidur karena capek habis ngelahirin."
Selebihnya Arka hanya diam seribu bahasa.
"Lian tidur di sini aja gimana? Buat malam ini, aja."
Ayla tahu, kemarahan Arka padanya sudah terlalu dalam. Jadi mana mungkin Arka mau menyentuhnya selayaknya seorang suami-istri.
Arka terlelap tidur guna menghindaripercakapan selanjutnya daru Ayla.
Setelah tiga hari pasca operasi jantung, Gwenny masih menjalani perawatan lebih intensive lagi. Perihal Binar, menjadi sering berkunjung ke Rumah sakit karena stock ASI sudah menipis dan Binar tidak mau meminum Asi yang sudah lama di lemari es.
"Duuhh cucu eyaang. Ganteng banget ini... haloo Binar ganteng.." celoteh Dirga. Kali ini bobot berat badan Binar sudah sangat berisi seperti bayi normal pada umumnya.
"Gemes banget ya Pa? Cepet bangeg loh gedenya..."
Gwenny tersenyum, ikut senang melihat anaknya disayangi seperti itu.
"Binar, sini yuk sama mama. Mama kangen banget loh sama kamu." Tangan Gwenny terulur, tak sabar ingin menggendong Binar.
Dengan posisi setengah berbaring Gwenny sanggup untuk menggendong anaknya itu.
"Sam, mana ya pa? Katanya pergi cari pempers sebentar kok nggak balik lagi. Ini nanti pipis Binar nggak suka ini loh."
Suster Intan menggendong bayi perempuan yang masih tertidur.
Bersyukur setelah dipecat oleh Arka sekarang sudah mendapatkan pekerjaan yang baru. Kedua orang tua bayi yang sekarang dia asuh tak kalah baik. Mereka memperlakukan Suster Intan layaknya seorang saudara.
Suster Intan memilih pempers ukuran Newborn untuk bayi yang baru berusia kurang lebih satu bulan itu.
"Nih, suster ambilin pempers nih buat Dede." Kata Intan sambil sesekali melirik ke arah bayi yang sedang dia gendong. Sementara ibu si bayi sedang memilih buah untuk memperlancar ASI nya.
Samudra mengantre untuk membayar belanjaan di kasir. Jaraknya tidak terlalu jauh, suster Intan berada jarak satu meter dari arahnya berdiri.
Melirik seperti kenal dengan berdiri tegapnya punggung perempuan yang ditatap Samudra dari belakang.
'Suster ini, sama persis yang aku liat di Supermarket waktu itu kan? Apa itu Berlian?' Gumam Samudra dalam hatinya.
"Aduh, Dede. Maaf ya jangan nangis. Bentar lagi kok ya..."
Suster Intan lantas berusaha menenangkan bayi yang mulai merengek itu. Sesekali dia menimang bayi itu.
Samudra mendekati suster itu. Menepuk bahu dengan rasa penasaran sedari tadi.
"Berlian?!!"
"Ee... Pak? Ada apa ya pak?"
"Suster yang waktu itu sama istri saya kan? Bayi perempuan yang sempat disusui istri saya. Dia dimana sekarang Sus? Saya nggak mungkin salah lihat kali ini."
"Sa--sa--saya... Eee...." Suster Intan tampak gelagapan.
"Ma--maaf, pak saya, saya buru-buru." Suster Intan langsung melangkah cepat, meninggalkan Samudra.
Sebisa mungkin dia mengecoh Samudra, berjalan berbelit-belit untuk menghilangkan jejak.
"Sus! Dimana anak saya Suster?" Samudra dibuat frustrasi dengan dilihatnya bayi yang bukan Berlian.
"Istri saya nggak mungkin salah lihat. Siapa orang yang memperkerjakan suster hari itu? Saya mohon suster!" Samudra mengejar langkah suster Intan.
Suster Intan semakin panik saat bayi yang dia gendong menangis. Tentu saja Samudra bisa mendengar tangisan itu.
"Dek, bantuin suster, jangan nangis ya sayang. Nanti suster kena masalah besar."
Suster Intan langsung masuk ke toko buah, mencari majikannya untuk minta tolong.
Sesekali pandangan suster Intan mengarah ke belakang, di lihatnya Samudra masih saja terus mengejar.
"Aku harus jalan lebih cepat, orang itu pasti ayah kandungnya non Berlian. Kalau sampai aku ketangkap, pak Arka pasti bakal apa-apain saya."
Langkah suster Intan semakin lincah. Masuk ke dalam kerumunan orang-orang kemudian berhasil hilang dari jangkauan Samudra.
"Suster! Suster!"
Lengkingan suara Samudra membuat banyak orang tertuju.
'Dia suster yang waktu itu Gwenny ceritakan. Nggak mungkin salah! Tapi kenapa dia bukan membawa Berlian?'
***
Sepanjang perjalanan menuju kembali ke Rumah sakit, pikiran Samudra tidak tentu arah. Dipenuhi sepintas raut muka suster Intan yang menyembunyikan sesuatu.
Tiba di ruang rawat Gwenny, keadaan Samudra sudah dibuat bingung seisi orang terdekatnya. Terlebih melihat Gwenny, tidak akan mengatakan yang sebenarnya terjadi hari ini.
"Maaf agak telat.. tadi sempat macet dijalan." Membersihkan peluh keringat dipelipisnya.
Gwenny masih mendekap Binar. Binar tidak mau lepas dari delapan ibunya, seakan tau bahwa hari ini masih belum bisa tidur bersama ibunya.
"Sam, kamu... Kamu kenapa?" tanya Gwenny bingung.
Tidak hanya Gwenny yang bingung, kedua orang tua mereka juga ikut binging.
"Sam, kamu baik-baik aja kan?"
"Umhh.. Nggak apa-apa kok ma, pa. Tadi cuma nggak sengaja nabrak orang di jalan. Tapi baik-baik aja kok, orangnya udah dibawa ke klinik terdekat disini."
Kali ini Samudra berbohong untuk Berlian. Tidak mau keadaan yang sebenarnya disampaikan secara gamblang didepan Gwenny hanya akan membuat khawatir semuanya.
Binar terlihat nyaman bersama ibunya.
'Bayi itu bukan Berlian. Yang aku lihat di Cctv persis Berlian, tapi kenapa sekarang berbeda? Apa Gwenny salah lihat?'
Samudra bergumam sendiri dalam pikirannya. Menerka kembali wajah Binar dan Berlian. Mereka sama persis tidak ada yang membedakan antara keduanya, kenapa bayi itu berbeda?
Ribuan pertanyaan membuat Samudra berdecak gemas. Siapa yang tega menjauhkan Berlian seperti ini?
"Kamu nabrak orang? Tapi dia baik-baik aja kan?" Mama Jihan terkejut dengan apa yang disampaikan putranya itu.
"Kamu harus ya hati-hati, Sam. Untung orang itu nggak kenapa-napa. Kalau dia celaka gimana? Kamu bisa berurusan sama hukum. Kamu itu punya Gwenny dan Binar sekarang, kamu juga harus cari Berlian, kalau nanti kamu ditahan karena kasus tabrakan, siapa yang bakal lebih esktra lagi buat cari Berlian?" Dirga mewanti-wanti sang anak.
"Kamu nggak lagi bohong kan Sam?" Gwenny menatap curiga, dia masih berbaring, sebab untung bangun Gwenny masih belum mampu, luka operasinya masih basah, ditambah sering nyeri bagian d**a saat Gwenny memaksa untuk duduk.
"Iya.. aku nggak apa-apa. Cuma shock aja, yang aku tabrak sambil bawa anak. Aku refleks ingat Berlian dan Binar."
Lagi, maaf Gwenny. Hanya dengan cara begini Samudra menjaga perasaan kamu. Kondisi yang tidak sebanding dengannya hari ini akan cepat berlalu melupakan.
"Kamu ini, banyak pikiran yang diluar nalar. Udah, kamu tenangin diri dulu. Shock berat bisa stress mendadak nantinya." Jelas Dirga.
"Kamu mau gendong Binar? Mungkin hal itu bisa membuat kamu jauh lebih tenang, sayang." Gwenny memberikan Binar pada Samudra yang kini berdiri di sampingnya
"Luka ditangan kamu udah nggak sakit lagi kan?"
Samudra menggendong Binar. Ditatapnya penuh arti harapan besar untuk Berlian segera bertemu kembali.
"Kirim doa buat adik ya sayang. Binar berdoa biar adik bisa cepat pulang lagi sama kita, Binar anak sholeh, anak baik."
Pagi-pagi sekali Ayla sudah terjaga. Mulai detik ini dia berjanji akan menjadi istri yang baik untuk Arka.
Semenjak kepergian Kayla, dia menjadi sadar bahwa Arka dan Kayla memang sangat berharga baginya.
Ayla sadar dan tidak menyalahkan Arka yang bersikap dingin padanya, Ayla anggap ini adalah prosesnya untuk kembali mengambil hati Arka.
Selayaknya seorang istri yang baik, Ayla sudah menyiapkan makanan untuk Arka sejak pagi. Semua dia masak sendiri, berharap kedepannya akan semakin lebih baik lagi.
"Dulu Arka suka banget sama sup iga, semoga kali ini dia senang aku masakin sup Iga." Ayla tersenyum pelan, sekarang dia sudah bau keringat, Ayla kembali ke dalam kamar, dia harus segera mandi sebelum Arka bangun.
Saat sampai di kamar, dia masih melihat Arka yang tertidur, di sampingan ada Berlian yang juga masih terlelap. Rasanya melihat pemandangan ini seperti melihat Arka dan Kayla dulu.
Ayla berjanji jika nanti diberi kesempatan lagi untuk melahirkan seorang anak, dia akan menjaganya dengan penuh kasih sayang.
Ayla langsung masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan tubuh dan menyambut Arka saat bangun tidur dengan tubuh yang sudah wangi.
Diliriknya jam menunjukkan jam 9 pagi. Arka masih belum siap untuk bangun melanjutkan aktivitasnya kembali. Setiap bagun diawali selalu minum sdgelas air putih, itu anjuran untuk tips badan supaya membuang metabolisme tubuh yang tersisa semalam.
Disambut dengan meja makan penuh masakan aroma khas masakan rumahan. Arka masih belum ingat, dia baru saja menikah kembali dengan Ayla
"Siapa yang masak?"
Mengendus aromanya. Menggiurkan memang, tapi tidak ada selezat masakkan ibunya.
"Siapa yang masak bi? Ini bukan masakkan bi Asih kan?"
Dari aromanya Arka sudah tau. Ini bukan Bi Asih yang masak, sangat hafal.
"Itu, yang masak tadi non Ayla, Tuan. Dia bangun dari subuh buat masak ini. Cobain deh tuan, enak banget." Bi Asih mengacungkan kedua jempol nya, meyakinkan Arka bahwa masakan yang Ayla masak memang enak.
"Nggak usah Bi. Saya pesan gofood aja." Menekan tombol layar di handphonenya. Dipesannya beberapa menu yang dia inginkan.
Selera makan yang tadi ingin cepat makan menghilang begitu saja saat melihat masakkan yang tersaji hasil karya dari Ayla.
Tidak lama setelah itu Ayla turun ke bawah. Di lihatnya Arka yang sudah duduk di meja makan.
"Ar, aku kira kamu masih tidur. Kamu mau makan apa? Biar aku ambilin ya?"
Dengan nada yang malas untuk bicara. Arka hanya fokus pada santapan dimejanya.
"Aku biasa pesan makan sendiri. Kamu aja habisin, masak sebanyak itu cuma dimakan beberapa orang dirumah aja. Kamu bagiin ketetangga bisa kok."
Sembari fokus memperhatikan layar handphone miliknya.
Status pernikahannya yang kedua kalinya membuat Arka semakin enggan menginginkan agar mereka terlihat baik-baik saja saat dulu. Kali ini berbeda Ayla.
Kedua mata Ayla terasa memanas. Sebentar lagi air mata akan segera jatuh.
"Arka, aku udah capek masak dan ini buat kamu, Ar. Tapi kenapa kamu malah pesan makanan, bukannya itu lebih mubazir? Aku udah berusaha jadi istri yang baik buat kamu, tapi kalau kamu terus-terusan nggak mau buka hati kamu lagi aku bisa apa?"
Bi Asih yang ada di situ langsung pergi meninggalkan kedua majikannya. Sebab dia tidak ada hak untuk mendengarkan perdebatan ini.
"Kita udah nikah Arka, jangan sampai kita gagal lagi."
"Oh ya? Haha"
Arka menelan makanan dimulutnya. Tertawa sebentar, lalu lebih memilih melanjutkan makannya dengan santai, bagi Arka celotehan pagi ini bumbu telinga agar semakin terlatih dengan iming-iming 'ingin berubah'.
"Uummh.. satu hal lagi. Kamu bilang gagal? Tunggu, jangan bilang.." menalan makanan.
Dilanjutkan lagi.
"Yang pertama itu kamu bisa bilang berhasil? Gitu? Ooh.. atau yang ini hanya permainan percobaan akan sama atau enggak?"
Aku nggak bilang kita berhasil, Ar. Aku sadar pernikahan kita yang pertama itu gagal, makanya aku nggak mau ini terjadi untuk kedua kalinya. Ini udah pesan terakhir dari mama kamu."
Melanjutkan makan lagi. Terlihat malas membalas ucapan Ayla, tapi juga ingin membuatnya gerah dengan Arka.
"Ummh.. yaudah, sudah terlaksana, nikah udah, so? What do you want it? Aku bisa menilai aku bisa mendengar apa yang kamu katakan. Dan jangan asal bicara tentang pernikahan kita dulu, berbeda Ay!"
Ayla sudah tidak tahu harus bagaimana lagi, dia pergi meninggalkan Arka dan menangis di dalam kamar.
Andai saja Kayla masih ada, pasti semuanya tidak akan seperti ini. Kayla tidak mungkin membiarkan Arka menyakitinya.
Di tatapnya Berlian yang sudah terbangun, bayi itu tampak menghisap jempolnya.
"Binar kok tumben ya. Ngga mau di gendong, maunya tiduran disofa begini. Nggak biasanya mau disofa.."
Binar lebih suka tidur digendong dibanding di biarkan tidur telentang disofa.
Kayaknya dia pegel digendong terus, Sam. Sama aja kayak kita, rebahan Mulu juga capek
Tidak lama setelahnya terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Gwenn, kayaknya ada tamu. Kamu undang teman kamu kesini?"
"Enggak ada, Sam. Kalau Naura, aku udah lama juga nggak ketemu sama dia. Naura juga sibuk kuliah. Aku kan belum sempat lanjutin kuliah aku, karena aku harus bedrest kan. Jadinya kuliah online. Tapi siapa ya?"
Samudra membukakan pintu. Tidak dikenal juga?
"Maaf, mau cari siapa ya?"
"Saya, Saya suami Yasmi. Perempuan yang mendonorkan jantungnya untuk Gwenny." Kata Rama.
Dia sudah tahu nama Gwenny sejak awal saat dokter Aretha mengatakan bahwa ada pasien yang membutuhkan donor jantung.
Dulu, saat Yasmin masih hidup dia sudah berpesan jika suatu saat dia meninggal, dia ingin mendonorkan organnya untuk siapa pun yang membutuhkan.
Tepat, tiga hari yang lalu Yasmin meninggal dunia saat melahirkan putri mereka. Yasmin mengalami pendarahan hebat dan mengalami ruptur yaitu terjadi ketika ada robekan pada dinding rahim.
Komplikasi yang terjadi saat proses persalinan ini dapat membuat seluruh lapisan dinding rahim robek sehingga membahayakan keselamatan dan akhirnya merenggut nyawa Yasmin.
Rama masuk sambil membawa bayi yang baru lahir. Mungkin saat di dekap oleh Gwenny, anak itu bisa merasakan detak jantung ibunya yang sekarang berada di dalam tubuh Gwenny.
"Dulu, jantung Yasmin selalu menjadi musik terindah saat dia masih di dalam kandungan. Saya hanya ingin, anak saya mendengar kembali detak jantung ibunya yang ada di tubuh Gwenny."
Samudra begidik heran. Kenap kok tiba-tiba?
"Mas, maaf. Ini kenapa jadi minta tolong ke istri saya? Kan istri saya belum pulih, bisa kita bicarakan nanti saat semuanya sudah normal kembali. Istri saya sudah sehat, sudah baikkan, kenapa harus sekarang? Harusnya izin dulu sama saya."
Memandang aneh laki-laki yang baru dikenal sudah meminta Gwenny untuk menggendong anak orang lain. Samudra sempat tidak habis pikir, dari suster yang membawa Berlian tapi bukan. Dan sekarang meminta menggendong anak orang lain ke istrinya? Ini gila! Mau cemburu tapi susah.
"Papa sama Mama keluar ya Sam, Gwenn. Kalian selesaikan saja urusan kalian ya.. biar Binar mama bawa keluar." Jihan dan Dirga membawa Binar keluar.
Dipandangnya dua orang secara seksama. Gwenny dan Rama, samudra sudah berpikir yang tidak-tidak.
'Ini nggak mungkin jadi keterusan gara-gara alasan jantung istrinya bawa anaknya tiap hari minta gendong?'
Ucap Samudra dalam hati.
"Saya juga baru kehilangan putri saya. Dia belum kembali, mas Rama ini kenapa bisa kepikiran datang ke istri saya ya?"
"Samudra, udah. Nggak apa-apa. Aku bisa kok gendong anaknya. Harusnya kita berterimakasih sama Yasmin dan pak Rama ini. Gimanapun dia udah kasih jantungnya buat aku, Sam. Aku ngerti kok posisi anaknya."
Gwenny dengan senang hati mendekap bayi perempuan itu. Ini aneh, tapi Gwrnny bisa sesayang ini dengan bayi itu.
Dia masih kecil, namun sudah ditinggal oleh ibunya untuk selamanya.
"Namanya Aisha." kata Rama lirih. Dia senang bahwa Gwenny mau memenuhinya untuk memeluk putri kecilnya.
Begitu pun dengan Aisha, saat berada dalam gendongan Gwenny dia bisa nyaman.
"Andai aja Berlian ada, Sam. Pasti bakal secantik bayi ini."
Air mata Gwenny jatuh. Kembali ingat dengan momen waktu pertama kali dia bertemu dengan Berlian. Saat pertama mendekapnya terasa sangat hangat.
Gwenny, kembali merindukan Berlian, sangat merindukannya.
Samudra melihat keduanya baper. Jadi bingung sendiri.
"Maafkan saya Mas Samudra. Hanya ini yang bisa ingin minta tolong. Sehari-harinya memang saya kesusahan dengan cara apalagi agar anak saya bisa tenang dan tidur nyenyak. Saya menantikan Aisha sudah sangat lama. Delapan tahun lamanya saya dan istri menanti buah hati, tapi doa mengambulkan hal lain sepertinya. Ujiannya sangat berat, saya tidak ingin ini akan menjadi kisah selanjutnya bagi anak saya."
Tutur pak Rama.
"Sam, nggak apa-apa kan? Sebentar aja kok aku gendong Aisha. Seenggaknya sampai dia tidur. Ngeliat Aisha aku kayak ngeliat Berlian, Sam."
Kesal seharusnya, tapi melihat Gwenny yang memelas begini Samudra tidak bisa membuatnya sedih.
"Yaudah iya. Tapi kalau Binar nangis, kamu jangan pilih kasih. Binar satu-satunya juga butuh kamu, tau sendiri kan? Kalau nangis gimana?"
"Iya, aku nggak mungkin juga ngabaiin anak aku sendiri." Gwenny melihat Aisha yang sudah tertidur saat dia dekap.
"Emmm, bayinya udah tidur. Aku kembalikan ya, ini udah jam 11 siang, waktunya Binar itu nimum ASI. Nggak apa-apa kan?"
Rama menganggukkan kepala. Mengambil Aisha dari dalam pangkuan Gwenny.
"Terimakasih, saya permisi." Rama kemudian tersenyum tipis. Keluar dari ruangan Gwenny secepatnya
Gwenny mengembuskan napas pelan.
"Sayang, kamu kenapa gitu responsnya sama orang itu? Dia kan cuma minta tolong buat tenangin bayi dia."
Samudra masih kesal karena cemburubya belum mereda.
"Kamu nggak tau aja, kalau seandainya dia tetap kesini. Tiap hari minta gendong anaknya terus gimana? Dikira aku nggak cemburu? Cemburu banget lah!"
Mulut Samudra berkomat kamit.
"Kamu cemburu?" Gwenny tertawa, namun meringins memegang dadanya.
"Aduh, sshh. Masa gitu aja cemburu sih? Kan dia nggak goda aku,"
"Kan aku sama Binar yang cemburu. Kamu tuh pelan-pelan jangan banyak gerak, kreatif banget sih jadi orang. Nggak mau diem." Bantu Gwenny duduk.
Gwenny masih tertawa.
"Sini, sini aku cium biar nggak cemburu."
"Enggak, lagi. Ngambek sama kamu."
"Yaudah kalau nggak mau, nggak rugi kok."
"Mana sok akrab banget, tipe-tipe sok kecakepan!"
"Emang cakep kok."
"Alhamdulillah, sekarang Gwenny udah dapat donor jantung. Seenggaknya kita gak cemas lagi sama Gwenny yang bisa kapan saja serangan jantung. Semoga tubuhnya tidak menolak ya, Pa." Aruni menatap suaminya yang ada di depannya.
"Untuk kamu, Jihan. Makasih, ya. Kamu berhasil bikin Samudra jadi anak yang baik, dia pun bisa jadi suami yang baik buat Gwenny. Selama Gwenny koma dia masih setia nunggu Gwenny. Aku senang, kamu bisa terima Gwenny sebagai menantu kamu meskipun kamu tau kondisi dia yang sakit-sakitan."
Aruni menggenggam tangan sahabatnya itu. Sampai sekarang Aruni masih belum menyangka, padahal semasa SMP mereka hanya sekedar bercanda untuk menjodohkan anaknya kelak dan saling menjadi besan. Karena dengan begitu mereka akan terus bertemu.
Ternyata benar, keinginan mereka saat itu di dengar oleh Allah. Sekarang mereka berhasil menjadikan anak mereka.
"Saya juga minta maaf karena sempat ragu dengan Samudra. Kamu tahu sendiri kan masalah Samudra yang pernah berpelukan dengan Ayla di kantor dan dia menyakiti hati Gwenny beberapa kali. Jujur, saya sempat marah dan memaksa mereka untuk berpisah. Tapi setelah melihat Samudra mengurus anak saat sewaktu koma, saya menjadi yakin, Dia memang pantas menjadi suami Gwenny."
"Saya juga berterimakasih. Ardi, saya tahu betul bagaimana kamu saat posisi itu. Mungkin benar adanya anaka-anak Binar dan Berlian menjadi semakin erat keluarga kita. Apapun yang mereka hadapi, buktinya sampai hari ini bisa dilalui bersama. Kita sebagai orang tua hanya bisa bersyukur, bahagia melihatnya. Terlebih pendonor jantung untuk Gwenny sudah sangat lama juga kan menunggunya?"
Brian menjadi cucu satu-satunya untuk saat ini. Entah dimana Berlian sekarang tapi mereka yakin seyakin apapun Berlian akan kembali. Sesuai harapan dan doa dadi Samudra dan Gwenny yang mengharapkan semuanya kembali lagi.
"Tapi pa. Perkembangan pencarian Berlian sudah sejauh mana? Mama sampai minta bantuan teman-teman mama untuk ikut mencari Berlian juga. Mama jadi nggak bisa berdiam diri juga akan hal ini. Ya kan Run."
Binar di pangku nyaman oleh Neneknya. Nyaman sekali.
"Berlian seakan hilang jejak. Sampai saat ini belum ada informasi apa pun..."