"Kamu bilang aku galak? Iya Hem?" Gwenny mengambil bantal yang ada di samping Samudra, siap memukulkan bantal itu pada tubuh Samudra
"Rasain, iya kenapa kalau aku galak, Hem?" Satu pukulan mendarat dipunggung Samudra. Situasi seperti ini mengingatkan pada masa di awal pernikahan mereka. Tepat saat Gwenny menolak untuk tidur satu kamar dengan Samudra.
"Aduuh ... iya iyaaa! Ampun. Nggak ada romantis-romantisnya suami lagi sakit juga.. ini bisa jadi KDRT loh.."
"Mau romantis? Yakin nih?"
"Ya, yakin lah! Masa bohongan, aduuhh sakit semua badannya. Digebukin, nggak disayang.."
"Uuuuhh pengen banget yaa di tayang-tayang, sini aku tayang..." Gwenny memegang kedua pipi Samudra. Mendekatkan bibirnya ke wajah Samudra. Terlihat Samudra memejamkan mata, saat itu juga, Gwenny mengigit pipi Samudra dengan gemas.
"Makan tuh sayang, sayang, sayang."
Samudra meringkuk kesakitan.
"Kenapa sih.. galak banget. Mentang-mentang udah punya anak.. huhuuuu..."
Gwenny lagi-lagi ingin mencubit Samudra. Tapi kakinya tanpa sengaja menyentuh karpet, hingga tubuhnya jatuh tepat di atas tubuh Samudra, kepada keduanya saling berbenturan.
"Awsshh, sakit!"
"Aawwh! Sakit sakiitt..
Gwenny juga ikut merintih kesakitan, tapi dalam beberapa detik dia juga tertawa.
"Kepala kamu keras, sakit!"
"Haha.. keras teriak keras.. emang ada kepala kayak agar-agar?"
"Ada, itu kepala Binar, nggak keras kayak kepala kamu." Gwenny masih mengusap kepala yang ngilu
"Kan masih bayi.. masa langsung keras kayak batu bata."
"Tapi pas masih dalam perut kayak keras banget, aku sampai kesakitan pas dia gerak-gerak."
"Masa sih? Kan mereka lunak.. masa keras gitu."
"Kamu sih gak hamil, coba ngerasakin pasti suka kaget, kayak gini." Gwenny kembali mencubit perut Samudra tiba-tiba. Cubitan Gwenny tidak main-main, tubuh Samudra sering lebam-lebam
Samudra meringis kesakitan.
"Kenapa kamu cubitnya keras-keras... sakiiiittt."
"Lebay, kamu. Gitu doang sakit.
"Tau ah! Nyebelin banget sih! Mau boker!" Samudra berlalu pergi.
"Dasar, tukang beperan lu, Sam!" Gwenny memukul pintu toilet, kemudian keluar dari dalam kamar
***
"Apa kamu nggak urus surat adopsi saja? Biar Berlian Sah secara hukum jadi milik kamu. Nggak bakal ada yang rebut dia dari kamu."
"Itu terlalu jahat ma.. Arka nggak akan melakukan itu.."
"Terus nanti gimana Belian mau sekolah? Harus ada akte lahirnya, Arka."
"Arka akan masukan Berlian di playground anak-anak."
" Yasudah, tapi kamu harus cepat kembalikan dia ke orang tuanya."
"Kalau Arka sudah siap untuk Berlian dikembalikan, aku kembalikan ma."
***
Gwenny duduk di atas kursi yang ada di balkon kamarnya. Tatapannya kosong dan membiarkan Binar yang menangis di atas stroller. Lagi-lagi, Gwenny memikirkan Berlian yang sempat dia peluk kemarin.
Andai saja saat itu dia bisa berfikir bahwa itu Berlian, pasti dia tidak akan pernah melepaskan bayi itu dari dekapannya. Sekarang, kemana dia harus mencari Berlian lagi?
Apa dia sebagai ibu tidak becus? Hingga tidak memiliki insting yang kuat terhadap anaknya sendiri?
"Berlian, kamu dimana, sayang." Lirih Gwenny pelan. Meski pun sekarang dia tahu Berlian sangat terawat, tetap saja dia merasa tidak aman karena Berlian tidak bersamanya.
"Gwenn.. sayang, kita ke taman yuk.." sesampainya di sana dia baru menyadari Gwenny yang melamun sendiri.
"Gwenny?" Samudra menepuk bahu isitrinya.
Samudra mengambil Binar dan menggendongnya.
Merasa tersentuh, Gwennypun kaget, "Sa...Sam?"
"Kamu kenapa disini melamun sendirian? Binar nangis loh dari tadi, kamu kenapa? Cerita sama aku."
"Binar nangis? Ya ampun, sayang maafin mama ya." Gwenny mengambil alih Binar dari gendongan Samudra. Tapi, Gwenny masih belum fokus, Binar nyaris lepas dari gendongannya.
"Gwenn.. kamu istirahat dulu. Kamu dari belum makan apapun. Binar sama aku dulu.."
Mengambil alih Binar yang kaget mau jatuh dari tangan Gwenny.
"Ma--maaf, Sam. Aku, aku aku nggak bermaksud nyelakain Binar. Aku, keinget sama Berlian."
"Istirahat dulu.. kamu isi makanan perut kamu. Gimana mau cari Berlian kalau kamu sakit nanti?"
"Aku nggak apa-apa, Sam. Aku baik-baik aja, yang nggak baik itu otak aku, karena terus mikirin Berlian."
"Kamu makan dulu. Isi makanan diperut kamu Gwenn, kamu perlu asupan nutrisi untuk tubuh kamu sendiri. Please jangan siksa diri kamu dengan pikiran yang entah kemana. Aku paham kamu memikirkan Berlian, sedikit demi sedikit semua orang memmbantu kita. Kita nggak sendirian Gwenn.. kamu ingat itu."
"Aku malas, Sam. Nggak nafsu."
"Kamu tunggu disini. Binar sama Bi Asri sebentar.."
Samudra menyerahkan gendongan Binar pada Bi Asri. Kembali lagi membawa senapan makanan nasi dan lauk juga air putih.
"Aku suapin, kamu makan yang banyak. Binar butuh Asi dari kamu, dia lagi lahap-lahapnya minum asi kamu, masa kamu mundur program Asi, gimana nantinya Binar terkena virus dari luar?"
Gwenny mengembuskan napas pelan. Akhirnya memilih memakan makanan yang disuapi oleh Samudra. Mungkin benar, jika dia seperti ini terus, produksi ASI-nya bisa kembali berkurang, atau bahkan tidak ada sama sekali.
Terlebih Binar, yang ternyata Alergi s**u sapi.
"Jangan terlalu banyak pikiran, ingat juga kesehatan jantung kamu. Kamu nggak mau kan? Binar sedih lagi."
"Maafin aku ya, aku nggak bisa jadi ibu yang baik buat Binar. Aku juga nggak bisa jadi istri yang baik buat kamu,"
"Nggak ada istilah kamu buruk dimata suami kamu. Kamu tau? Kamu Ratu sekaligus ibu dari anak-anak aku. Kamu bisa bertahan sampai saat ini sudah jauh dari kata baik.
Gwenny tersenyum kemudian memeluk Samudra
"Makasih, ya. Maaf, dulu aku sering nyakitin kamu."
"Kamu pelukan terus.. mau nambah anak lagi nih?"
"Yaudah, kalau nggak mau dipeluk." Gwenny langsung kesal.
"Iih.. makannya habisin, capek nih masakin.. kamu nggak sayang banget sih sama nasinya."
"Iya, iya..."
Tidak lama setelah itu panggilan masuk dari dokter Aretha di ponsel Samudra.
Samudra dengan cepat langsung menjawab telponnya.
"Iya Dokter? Ada info apa tentang Gwenny Dok?"
"Begini, Sam. Kamu sudah tahu kan gimana kondisi jantung Gwenny setelah melahirkan kemarin. Jantung ya itu benar-benar sudah parah. Dan Gwenny mungkin bisa kapan saja serangan jantung lagi bahkan benar-benar sampai meninggal "
"Lalu? Solusi terbaik untuk mencegahnya ada hal lainnya Dok? Pendonor misalnya."
"Yap, kita sudah menemukan pendonor untuk Gwenny. Hari ini, bawa Gwenny ke rumah sakit. Kita harus mempersiapkan Gwenny untuk dioperasi."
Samudra langsung mematikan sambungan telponnya.
"Gwenn, dokter Aretha bilang kamu sudah menemukan pendonor yang cocok. Kamu bisa sembuh Gwenn.."
Sebenarnya Gwenny senang mendengar kabar ini. Karena dia pun pasti ingin sembuh. Tapi buat apa sembuh jika Berlian tidak ada di sisinya?
"Aku nggak mau, Sam."
"Aku berharap kamu sembuh Gwenn. Berlian pasti senang mendengar ini, kamu bisa mendapatkan jantung baru berkat Doa dari Binar dan Berlian. Hanya itu Gwenn, tolong.."
"Aku nggak mau, Sam! Jangan paksa aku. Biarin aja aku kayak gini, tanpa jantung baru! Percuma aku bertahan hidup kalau aku nggak bisa ketemu berlian. Jantung ini, jantung ini yang menjadi irama buat Berlian saat dia masih ada di kandungan aku, kalau gantung ini di ganti, dia nggak akan kenal lagi, Sam. Dan jantung baru itu juga gak akan ngenalin Berlian juga!"
"Dia bisa tahu kalau kamu adalah ibunya. Bukan dari jantung, naluri seorang anak dia akan kenal dengan ibunya. Tanpa kamu minta dan memohon dia lebih mengenal kamu. Jantung baru atau pun lama dia tau kamu ibunya."
"Aku nggak mau..."
"Aku mohon Gwenn.. demi Berlian. Kamu bertahan dengan jantung ini yang rusak tidak menjadi jaminan kamu bisa tahu kapan Berlian kembali. Aku yakin kamu bisa menerima jantung baru. Kamu bisa melewatinya, ingat Berlian."
"Sam, aku mohon. Jangan paksa aku!"
"Sia-sia aku bertahan sejauh ini. Sia-sia aku menunggu momen yang indah disaat anak-anak sudah mengenal dunia bukan dari tangan orang lain. Kamu nggak pernah memikirkan selanjutnya kamu hanya mementingkan diri kamu yang akan berakhir besok!"
Samudra meradang karena emosi. Memecahkan kaca rias di samping ranjang menjadi pelampiasan sudah tersalurkan.
Gwenny menutup kedua telinganya, refleks kaget karena aksi Samudra.
Berkali-kali pukulan itu Samudra layangkan hingga tangannya mengeluarkan cairan merah. Air mata Gwenny jatuh, dia tidak bermaksud membuat Samudra terluka.
"Sam, udah. Tangan kamu berdarah, jangan sakiti diri kamu, Sam." Gwenny menggelugut, menahan tangan Samudra untuk berhenti melayangkan pukulan pada kaca itu.
Samudra memungut serpihan kaca yang tajam meruncing ditangannya.
"Ini yang kamu mau?!! Kamu bisa pakai jantung yang aku punya! Aku bisa menerima jantung pendonor orang lain! Kamu bisa-bisanya menolak ada niat baik dari orang lain untuk mendonorkan jantung buat kamu! Kamu sia-siakan begitu?! Aku yang jauh lebih kecewa Gwenn! Kamu nggak pernah menuruti kemauan hal baik dari aku!!"
Oke! Fine! Aku terima jantung itu!
"Ada peluang datang untuk kamu. Jangan buang-buang waktu kamu untuk pola pikir kamu yang sejengkal lebih buruk dari kehilangan Berlian!"
" Iya, aku mau. Iyaaa"
"Alasan kamu menolaknya kenapa? Kamu takut besok tidak ada kesempatan bertemu Berlian?"
Gwenny hanya menangis. Tidak lagi menjawab pertanyaan Samudra
"Singkirkan pikiran akan mati besok! Ada Binar dan Berlian yang jauh lebih kuat dari kamu! Harusnya kamu malu! Malu Gwenn!"
"Iya, iya. Aku salah, aku salah!" Gwenny tidak tahu harus bagaimana lagi, diraihnya tangan Samudra yang berlumur darah.
"Maafin aku, luka kamu harus aku obatin."
Menepis uluran tangan Gwenny.
"Kita harus bersiap. Dokter Aretha sudah menunggu kita lebih awal."
Gwenny masih diam ditempatnya. Tidak bergerak sama sekali
"Tunggu apalagi Gwenny?! Ayo kita pergi sekarang, nggak ada waktu untuk berpikir panjang."
"Tangan kamu, Sam. Itu darahnya banyak!"
Samudra hanya membalut lukanya dengan saputangan.
"Bisa di obati nanti di Rumah sakit. Kita harud cepat Gwenn."
"Loh, loh, Den Sam sama No Gwenny mau kemana?" tanya Bi Asri, dia masih menggendong Binar yang sekarang sedang tertidur
"Mau ke Rumah sakit dulu Bi. Titip Binar sebentar kita nggak lama perginya.."
"Ohh, Iya den. Tapi nanti mamah den minta tolong ke sini apa bisa? Bibi takut nanti kalau Binar sakit lagi."
"Sudah saya telpon kok Bi. Sebentar lagi sampai."
***
"Ini operasi besar, Sam. Kemungkinannya Fifty-Fifty. Kalau tubuh Gwenny menerima jantung baru, berarti operasinya berhasil, tapi jika tubuh Gwenny nolak, operasi ini gagal. Dan kemungkinan terburuk kondisi jantung baru akan lebih parah dari pada jantung Gwenny yang sekarang. Setelah menjalani transplantasi jantung, Gwenny diharuskan untuk mengonsumsi obat imunosupresan sepanjang hidupnya dalam artian Gwenny memang harus mengonsumsi obat ini seumur hidupnya. Hal ini dilakukan untuk mencegah penolakan tubuh Gwenny terhadap jantung yang dicangkokkan nantinya. Kamu harus ingat Sam, resiko terbesar pencangkokan jantung ini adalah penolakan dari tubuh Gwenny." Dokter Aretha memberikan penjelasan pada Samudra. Sebab tidak ingin terjadi hal buruk ke depannya dan Samudra menyesali ini semua.
ini."
"Kamu berdoa, semoga Gwenny berhasil selamat. Karena kekuatan doa, itu bisa merubah takdir."
Samudra berada diruang tunggu ditemani mama Jihan.
"Sam, kamu yakin kan? Gwenny pasti akan selamat. Dia sekarang punya jantung baru." Mama Jihan berusaha menguatkan Samudra. Meski terlihat tenang, tetap saja Jihat bisa tahu bahwa anaknya menyimpan rasa panik yang luar biasa.
"Sam yakin ma. Sangat yakin, Binar dan Berlian sudah menjadi kunci kekuatan Gwenny. Dia tau mana yang seharusnya di perjuangkan."
Ayla berkali-kali berusaha menghubungi Arka. Tapi Arka tak kunjung mengangkat panggilan dari Ayla.
"Ayolah, Arka. Please, angkat. Mama kamu butuh kamu." Ayla benar-benar panik setengah mati, dia mengeluarkan Siska dari dalam mobil. Perempuan itu baru saja mengalami kecelakaan tunggal, bersama sopirnya. Saat Ayla memeriksa Sopir pribadi Siska, ternyata dia sudah meninggal dunia.
Kini, Siska ada dalam pangkuan Ayla. Ayla berhasil mengeluarkan Siska dari dalam sana. Percikan api mulai menjalar, bersiap untuk meledakkan mobil Ayla berwarna merah itu.
"Tante, Tante bertahan ya. Aku janji bakal cari bantuan." Ayla melirik sekitar, namun tak ada siapa pun yang lewat. Dia juga tidak tahu bagaimana cara menelpon Ambulance.
"Tante bertahan ya, aku bakal hubungi Arka lagi."
Arka yang baru saja selesai Operasi korban penembakan tepat di jantungnya membutuhkan waktu 5 jam lamanya di ruangan Operasi.
Melihat banyak notifikasi telepon dari Ayla. Arka menghubungi kembali.
"Ayla? 20 panggilan tidak terjawab. Ada apa lagi ini."
"Arka, mama kamu, Ar. Mama kamu"
"Ada apa Ay! Jawab aku kenapa kamu sepanik ini?"
Arka semakin penasaran dengan jawaban dari Ayla.
"Mama Siska kecelakaan. Dara di kepalanya banyak banget, aku gak tau gimana cara berhentiinnya, Ar. Aku harus apa."
"Aku kirim Ambulance ke tempat kamu, jangan angkat kepala mama setinggi bahu biarin dia terkapar disitu."
Arka sendiri tidak tahu kenapa mama bisa bersama dengan Ayla. Ada apa mereka sampai terjadi kecelakaan separah ini.
Ayla hanya menutup luka Mama Siska dengan syalnya. Tetap saja hal itu tidak menghentikan pendarahan.
"Iyaa, iya. Cepat, Arka. Mama kamu udah nggak sadar." Ambulance datang tepat waktu. Kini diperjalanan menuju Rumah sakit Arka bekerja. Sesampainya langsung ditangani oleh Arka, bagaimana pun dia bertanggungjawab sekaligus menjadi wali dari keluarganya.
"Jelaskan alasan kamu nanti, jelaskan kenapa mama bisa bersama kamu sampai terjadi kecelakaan. Sudah cukup amu kehilangan Kayla! Bukan mama Ay."
Arka membawa Siska diatas brankar.
"Arka, aku nggak tau apa-apa soal kematian mama kamu. Aku dari makam Kayla, dan aku ngeliat mobil kecelakaan dan ternyata saat aku samperin mama kamu! Jangan selalu salahin aku, Ar! Aku cuma nolongin!" Ayla tidak habis pikir dengan Arka. Apa Arka sebenci itu padanya? Hingga selalu menyalahkannya dalam hal apapun mengenai keluarganya.
Selebihnya Arka tidak menjawab. Sekarang hal terpenting adalah mamanya bisa tertangani secara serius.
Sudah satu jam Arka berada di Instalasi Gawat Darurat. Pendarah dikepala Siska sudah berhenti dengan dua belas jahitan luka dikepalanya. Arka melenggang keluar, pakaian dinasnya ada bercak darah segar di lengan dan sisi bajunya.
"Ikut aku keruangan, jelaskan didalam."
Ayla hanya bisa mengikuti langkah Arka.
Layaknya akan disidang dimeja hijau.
"Jangan jadikan Kayla menjadi alasan atas kejadian mama yang begini Ay! Aku marah, aku kecewa, aku bahkan nggak paham bagaimana aki bisa memaafkan kamu! Ya, hari itu aku bercerai karena sifat angkuh kamu yang nggak hanya bisa merendahkan laki-laki! Aku suami kamu! Aku bukan boneka yang kamu minta untuk menyiksa anak kamu sendiri. Oke fine! Aku nggak bahas Kayla. Tapi kamu liat Ay? Mama seperti ini apa ada sangkutannya sama kamu? Satu hal Ayla, kalau hari itu kamu bisa memaklumi diri kamu yang memiliki bayi Kayla yang membutuhkan kasih sayang ibunya itu wajar Ay! Dia butuh kamu. Butuh ibu yang bisa merawat! Bukan membuang Kayla bagai s****h! Sakit hati aku Ayla!"
Remuk redam emosi Arka yang sudah memuncak ingin memaki Ayla. Tidak peduli ini Rumah sakit atau tempat umum sekali pun. Arka yang dulu mecintai Ayla seperti pangeran yang bahagia memiliki puteri bangsawan, cinta yang bertepuk sebelah tangan berakhir penghianatan. Siapa yang tidak sakit hati? Lelaki mana yang tidak bisa menahan cinta seperti ini? Arka bukan lagi lekaki yang bisa segampang dulu mencintai Ayla sebegitu cinta matinya. Terimakasih Ayla luka yang sudah kamu buat membuat aku sadar apa itu cinta yang sesungguhnya!
"Kamu bisa tanya sama mama kamu, Arka. Di mobil kamu juga ada Dashcam di mobil kamu, kamu bisa liat! Ini bukan karena aku!"
"Keluar!! Keluar Ayla!! Aku muak segala hal tentang kamu!"
Ayla mememegang lengan Arka.
"Sumpah demi tuhan, Arka. Ini bukan salah aku, kenapa sih kamu selalu salahin aku? Aku nggak salah Arka. Aku cuma niat nolong mama kamu. Kalau nggak ada aku, siapa yang nolong mama kamu?!" Ayla menangis, sungguh sakit sekali rasanya dituduh seperti ini.
"Biar mama yang angkat bicara nanti. Aku capek Ay! Dulu aku yang cinta mati ingin memiliki kamu. Tapi setelah dihianati aku baru sadar, kamu penyebab dari semuanya! Itu karma buat kamu!"
Cinta gak bisa dipaksakan, Arka. Harusnya kamu ngerti!
"Harus kamu paham! Ada laki-laki yang sudi bertahan dengan sikap kamu seperti ini!"
"Kamu nggak ngerti! Karena kamu cuma pikirin diri kamu! Aku juga menderita, kamu pikir mengandung anak dari laki-laki yang nggak cinta itu mudah? Enggak! Aku harus ngelayani kamu sementara hati aku nggak terima kamu! Kamu pikir, melahirkan itu gampang? Enggak! Aku sayang sama anak aku, cuma yang gak bisa aku terima itu kamu selalu paksa aku sementara aku baru belajar!"
"Cukup! Kamu selalu salahin aku tentang urusan pernikahan! Dan kenapa kamu setuju dengan pernikahan kita?! Kamu bisa menolaknya dari awal! Di dunia ini bukan cuma kamu satu-satunya perempuan yang aku inginkan. Ingat itu Ayla!"
"Terserah kamu, Arka!"
Ayla akhirnya memilih diam. Tidak lama setelah itu seorang suster datang memasuki ruangan Arka.
"Dokter, ibu anda ingin bertemu dengan anda dan juga perempuan bernama Ayla katanya."
Arka keluar tanpa sepatah kata mengajak Ayla.
Diruangan mencekam hanya terdengar suara Elektrokardiogram yang memecah kehenginan.
"Mama? Mama bisa cerita.. ada apa." Arka mendekatkan bisikan ditelinga ibunya.
"So... sopir kita, ti...dak bi--sa, ke....ken....da..kan mo...mo...bil, Ar. Ba...bannya, pecah..." kata Siska terbata-bata.
"Mama cepat pulih ya? Mama satu-satunya yang Arka miliki."
"Mama, mo...Hon, Arka. Me...menikah, den..dengan Ay....la, se... ka... rang .." kata Siska dengan mulut terbata-bata...
"Tapi ma.. bukan sekarang.."
"Ma...mama, mohon.... Ma...mama, Uda, nggak ku---kuaat...."
Arka menerik napas dalam-dalam. Sejenak menatap Ayla. Haruskah dia kembali lagi dengan Ayla?
"Baik, ma. Arka akan menikah dengan, Ayla. Sesuai permintaan mama."
Arka segera menghubungi penghulu yang dulu pernah menikahkannya dengan Ayla. Karena hanya itu yang Arka punya sekarang. Ayla memang sudah tidak memiliki wali lagi sejak dia kecil ayah ya sudah pergi entah kemana dan tidak tahu ada dimana.
Sementara itu, Ayla tidak tahu harus berbuat apa. Jika menolak, dia takut Arka semakin membencinya, terlebih sekarang kondisi Mama Siska sangat buruk.
"Aku harus apa, aku nggak mau." kata Ayla di dalam hati
Seperti layaknya pernikahan pada umumnya. Kali ini hanya di hadiri oleh kerabat dekat saja, terlebih ini wasiat dari ibu Arka. Rasa berat dihati Arka sempat menghampiri, tetapi apa boleh buat? Hanya ini bakti seorang anak untuk ibunya. Melaksanakan wasiat terakhir dari ibudanya.
"Sudah siap Mas Arka? Kalau sudah saya akan memulai ijab khobulnya sekarang ini. Mempelai wanita sudah siap?"
Hanya perpakaian seadanya, cicin sebagai syarat utama pernikahan, dan sejumlah uang mahar untuk tanda syari'at Sah-nya pernikahan.
"Saya, saya siap, Pak." Air mata Ayla jatuh. Untuk kedua kalinya harus menikah kembali dengan Arka
"Saya terima nikahnya Ayla binti Rahman Almarhum dengan maskawin 40 gram emas dibayar tunai."
Saat pernikahan Arka dan Ayla sah, detik itu juga Mama Siska pergi untuk selamanya.
Setidaknya, saat mama Siska pergi dia tahu bahwa anaknya sudah ada yang mengurus. Sebab mama Siska yakin bahwa Ayla lah yang pantas menjadi pendamping hidup Arka.
"Ma, Mama......"
***
Samudra masih menunggu Gwenny di ruang operasi. Baru berjalan 6 jam, seperti berabad lamanya menunggu. Samudra rela menemani sampai dimana ini akan berhasil. Berkat doa keluar dan anak-anak yang menjadi mukjizat sekarang.
"Ada kabar dari Binar ma? Sam sedikit khawatir."
"Binar baik-baik saja. Walau tadi sempat rewel tapi kata mama Aruni dia sudah membaik."
Jihan dan Dirga yang ada di sana ikut cemas dan was-was.
"Papa Ardi udah di mana? Apa dia udah sampai bandara?"
"Belum ma, mungkin masih di pesawat."
Samudra terus melantunkan doa sepanjang jam berdetak tidak ada hentinya. Mudah-mudahan adanya donor jantung ini bisa memperpanjang umur Gwenny hingga akhir hayatnya menemani sampai anak-anak tumbuh dewasa.
Memakan waktu mereka kecil, lebih 6 jam, hal ini bertujuan untuk mengembalikan aliran darah dan oksigen ke jantung. Dokter Aretha keluar dari ruangan Operasi. Wajahnya tampak lega. Akhirnya operasi besar ini berhasil dia selesaikan
"Dok? Semua berhasil kan? Gwenny gimana?"
Samudra melempar berbagai pertanyaan ke kekhawatirannya terlihat jelas diwajahnya. Kali ini bisa menjadi alasan kenapa Gwenny harus tetap berada didekatnya.
"Gwenny...." Dokter Aretha mengantungkan ucapannya. Semakin terlihat jelas kekhawatiran di wajah Samudra
"Dokter, gimana?" Mama Jihan ikut bertanya.
"Maafkan saya, Sam."
"Dok?! To.. tolong.. tolong jawab dengan benar. Kenapa Dok? Ada apa? Apa Gwenny menerima jantungnya?"
***.
Bersambung