Dua Minggu sudah Gwenny pulang ke rumah. Dia berusaha untuk tetap tenang dan yakin bahwa putrinya akan kembali. Menghindari stress agar tidak berdampak pada Binar. Gwenny beruntung bisa memiliki Samudra. Suami yang selalu mau mengerti keadaannya. Tak jarang Samudra rela terjaga tengah malam hanya untuk menemaninya dan menenangkan di saat Gwenny menangis karena memikirkan Berlian.
Dulu, mungkin Samudra pernah menyakitinya. Tapi kini, Samudra membayar semua nya dengan perhatian yang tak ada habisnya. Kali ini, Gwenny benar-benar merasa menjadi perempuan yang paling beruntung di dunia. Dijadikan princess oleh ayahnya kemudian dijadikan ratu oleh suaminya.
Gwenny meletakkan Binar yang sudah tertidur di dalam box bayi. Dia melihat stok pempers Binar yang sudah menipis.
"Bik, bisa jagain Binar sebentar? Aku mau beli pempers buat Binar. Udah mau habis nih." kata Gwenny saat melihat Bi Asri masuk ke dalam kamarnya untuk mengantarkan baju-baju Binar yang sudah selesai di cuci.
Samudra yang baru saja mandi dan berganti pakaian. Duduk didekat keranjang bayi, ditatapnya lekat Binar yang tertidur pulas.
"Boleh non, nanti biar Bi Asri yang jagain. Kerjaan juga udah beres semua kok."
"Mau kemana emangnya yang? Kalau mau belanja biar aku aja yang turun belanja kebawah." Ucap Samudra.
Bau bayi memang sedao di hirup. Samudra hari ini baru saja pulang dari pencarian Berlian. Tidak apa-apa hari ini belum rezekinya bertemu Berlian. Semoga selalu dalam lindungan Tuhan.
"Mau beli pempers buat Binar. Bajunya juga banyak yang udah kecil, pertumbuhan bayi cepat banget. Padahal ada yang belum dipakai tapi udah nggak muat."
"Yaudah, kita ke bawah. Belanja apa yang mau dibeli, udah dicatat belum?"
Samudra masih terpikirkan dimana Berlian. Apa dia baik-baik saja? Apa dia berada di tangan orang yang tepat?
"Belum, nanti aja pas di bawah. Tapi kita langsung beli baju-baju buat Berlian ya. Siapa tau nanti dia bisa ditemukan, kamu janji kan?"
"Iyaa.. kita beli juga buat Berlian. Kebutuhan dapur ada lagi mau di beli?"
"Nggak ada, kan udah dibeli kemarin sama Bi Asri. Ayo buruan, nanti Binar bangun."
"Iya, sayangku, cintaku, istriku, bawelku,masalalu dan masa depanku, se...."
"Hiiusshh! Diam." Gwenny memotong cepat ucapan Samudra.
Di supermarket Samudra terpisah dengan Gwenny. Gwenny yang mencari baju untuk bayi, sedangkan Samudra mencari popok dan bedak bayi yang mulai habis.
"Aku cari popok ke sana ya.. kamu yang cari bajunya, nanti kalo aku yang cari, sizenya jadi anak muda." Kata Samudra sambil tertawa pelan.
"Huuuu, yaudah. Sana." Gwenny langsung berjalan ke tempat pakaian khusus bayi.
Saat Gwenny sibuk mencari baju bayi, di tempat itu dia mendengar suara tangisan bayi yang semakin melengking. Mendengar itu, d**a Gwenny merasa sesak. Tangisan itu seakan tak asing di telinga
Baby sitter yang menggendong bayinya semakin kewalahan.
"Iyaa sebentar lagi ya sayang, Lian minum dulu susunya biar gak haus ya?"
Gwenny mendekati Baby sitter itu.
"Mmm maaf mbak, bayinya kenapa ya?"
"Humm maaf mbak, pasti terganggu ya? Iya ini nangis terus gak tau kenapa. Dikasih s**u gak mau mbak."
Gwenny merasakan basah dibagian payudaranya. Tiba-tiba ASI-nya merembes keluar.
"Boleh saya gendong, mbak?"
Sang suster memberikan Berlian ke Gwenny.
Seketika Berlian yang tadinya menangis tidak mau berhenti. Sekarang dia merasa tenang.
"Ya ampun ..." Gwenny merasakan nyaman saat mendekap bayi itu. Persis seperti dia memeluk Binar. Tanpa sadar air mata Gwenny jatuh saat menggendong bayi perempuan itu. Andai saja Berlian tidak hilang, pasti dia akan memiliki bayi perempuan lucu seperti ini.
"Kamu kenapa nangis sayang? Kamu haus ya? Kenapa nggak mau minum susunya?"
"Maaf ya mbak, jadi merepotkan.. saya aja gak tau kenapa bisa begini."
"Asi saya tumpah, saya juga punya bayi. Boleh saya kasih dia ASI?"
"Saa.. saaya.. hm.. boleh mbak, kalau gak keberatan."
Gwenny pun langsung memberikan ASI nya pada bayi itu. Tanpa Gwenny sadari, dia sudah memeluk anak yang selama ini dia cari.
"Sebenarnya saya punya bayi kembar, Mbak. Tapi salah satu bayi saya hilang, dia perempuan. Kalau dia ada, pasti secantik anak ini." Gwenny mengelus pipi Berlian. Bayi yang ada di dekapan Gwenny seakan menikmati asi yang diberikan Gwenny.
"Pelan-pelan ya sayang, nanti kamu keseleg," dengan lembut, Gwenny mencium kening bayi itu.
Ini aneh, tapi apa? Gwenny bertanya-tanya di dalam hati.
***
Samudra berkeliling mencari Gwenny yang tidak ada ditempat area baju bayi.
"Gwenny kemana ini? 3 kali aku cari keliling disini, ternyata nemuin orang hilang susah juga."
Arka tanpa sengaja menabrak tubuh Samudra. "Sorry...."
"Dokter Arka?" Ucap Samudra yang baru menyadari orang yang menabraknya ternyata mantan suami Ayla.
Dokter Arka tampak mengerutkan kening. "Samudra?"
"Belanja juga Dok? Atau sama Ayla kesini?"
"Enggak, saya sendiri. Ngapain saya sama dia?" Dokter Arka terkekeh pelan. "Kamu sendiri? Atau sama... Istri kamu?"
"Iya saya belanja sama istri saya. Umm .. saya turut berduka atas perginya Kayla Dok. Saya tau rasanya kehilangan anak, itu sangat menyakitkan."
"Terimakasih, Samudra. Iya kamu benar, rasanya sangat menyakitkan. Kalau boleh milih, lebih baik saya saja yang mengalami itu jangan Kayla."
"Saya juga baru kehilangan putri saya. Putri saya menjadi korban penculikan Bayi."
"Bayi kamu hilang?" Arka terkejut dengan apa yang dikatakan Samudra.
"Kenapa bisa?"
"Cerita panjang kalau dari awal di rinci secara runtut Dok. Yasudah, saya masih harus mencari istri saya, dia tiba-tiba terpisah dengan saya."
"Yasudah, semoga anak kamu cepat ditemukan, ya."
"Mudah-mudah Dok, tolong kabari saya kalau tau anak saya ada dimana"
"Baiklah, nanti saya akan coba bantu kamu." Yasudah, saya juga buru-buru. Sampai jumpa lagi.
Sementara Gwenny selesai memberikan ASI-nya pada Berlian. Hingga bayi itu benar-benar sudah tenang. Kedua bola matanya menatap Gwenny lekat. Seakan ada pancaran rindu dari dari sana. Hati Gwenny terenyuh, ada apa ini?
"Mbak, sepertinya dedenya udah tenang." Gwenny mengembalikan bayi perempuan itu pada Baby sitter itu. Sekarang dia udah kenyang.
"Makasih ya mbak, semoga mbak segera dipertemukan sama bayi, Mbak."
"Aamiin, makasih ya, Sus."
Baby sitter itu mengangguk, kemudian melangkah pergi meninggalkan Gwenny.
"Gwen? Kamu darimana aku cari disekitar sini tapi gak ketemu."
Ini tadi kan cari baju buat Binar.
"Tadi siapa? Kok ada beby sitter disini." Samudra tidak tahu, hanya melihat punggung beby sitter dari jauh saja.
"Itu, bayinya nangis. Kasian, pas aku peluk langsung diam. Dia haus aku kasih asi aku. Tapi, wajahnya mirip tau sama Binar. Apa semua bayi wajahnya mirip?
Samudra mendadak berpikir.
'Apa jangan-jangan itu Berlian?' Ucap Samudra dalam hati. Matanya masih tertuju pada punggung bebysitter yang mulai menjauh.
"Tapi, Sam. Aku ngerasa kayak Deket banget sama bayi itu. Apa karena aku kangen sama Berlian? Jadi setiap liat bayi perempuan jadi kayak gitu."
"Mungkim iya, kamu kangen sama Berlian. Tapi bayi itu langsung nyaman sama kamu? Kamu liat sesuati gak dari badan dia yang mirip sama tandanya Berlian?"
"Aku nggak sempat liat. Tapi dia mirip banget sama Binar. Jidatnya kayak ada bekas luka,"
Samudra langsung membuka layar kunci handphone.
"Seperti ini?" Bayi Berlian dan Binar saat masih usia 2 minggu.
"Iya, Sam. Persis. Benar !" Untuk pertama kalinya Gwenny melihat foto Berlian dengan sangat jelas.
"Jangan-jangan, yang tadi beneran Berlian? Suster bilang namanya Lian, jangan-jangan Lian itu berlian?!"
Dengan sigap, Samudra dan Gwenny berlari mengejar bebysitter yang baru saja ditemui. Tapi mereka hilang jejak, entah kemana perginya.
"Sam, mereka kemana..." Gwenny sudah menangis. Merasa gagal mempertahankan anak itu.
"Kamu tunggi disini ya, aku mau ketemu managernya langsung. Mungkin dengan adanya Cctv bisa membantu pencariannya."
Pergi menemui Manager supermarket. Berharap bisa membantu mencari jejak dimana Berlian. Gwenny hanya bisa menangis dan terus berdoa, berha semoga bisa ditemukan.
Di dalam ruangan cctv, Samudra memang terlihat Gwenny menggendong bayi itu.
"Apa rekaman ini yang bapak maksud?"
"Iya mas yang itu, bisa perbesar bagian Bebysitter yang pakai hijab itu mas? Saya butuh videonya untuk mencari putri saya."
"bisa pak."
Saat di Zoom samudra langsung memfoto wajah suster itu, kemudian petugas keamanan cctv juga langsung memperhatikan wajah Berlian.
"Benar ini putri bapak? Dan ini wajah susternya."
"Iya benar mas! Saya minta kirimkan lewat email saya ya, Mas." Setalah file masuk. Samudra memberi sejumlah uang untuk Manager yang baik hati ini.
"Kalau mas sempat melihat orang ini, hubungi saya segera mungki mas. Dan ini ada sedikit uang toling diterima Mas."
"Taa..tapi pak? Ini terlalu banyak." Penjaga cctv merasa sungkan saat diberikan uang dengan jumlah yang begitu besar. "Saya hanya menolong"
"Tolong, terima ini mas. Saya yang banyak terima kasih, atau mas bisa berikan ini ke orang yang lebih membutuhkan nantinya."
"Terimakasih, Pak. Semoga anaknya segera ditemukan."
"Aamiin, terimakasih, Mas."
Samudra langsung turun ke bawah, lantas di sambut oleh Gwenny. Tangannya langsung memegang tangan Samudra.
"Sam, gimana? Apa itu benar Berlian? Aku bodoh banget, kenapa aku nggak ngeh kalau itu Berlian. Padahal aku udah nyusuin dia! Tapi tetap aja aku nggak bisa kenalin anak aku sendiri! Padahal dia udah ditangan aku, Sam. Udah ditangan aku...."
"Itu benar Berlian. Tapi aku gak tau dia pergi kemana Gwen, cuma ini yang didapat dari Cctv. Kita bisa cari Susternya dengan ini kita bisa tau dimana Berlian."
Gwenny kembali menangis. Sejadinya di dalam dekapan Samudra.
"Cari sekarang, Sam. Cariiii! Aku mohon, kita harus temuin. Ayo kita cari Berlian. Aku nggak akan pulang sebelum berlian ditemukan. Ayo, Sam ...."
Samudra nekad mencari Berlian. Menelusuri sepanjang jalan raya dan berhenti setiap angkringan tempat nongkrong banyak orang-orang.
Tidak lama setelah itu ada panggilan dari Bi Asri
"Siapa yang telpon, Sam?"
"Bi Asri, tolong jawab dulu."
Samudra fokus menyetir melihat sekeliling jalan berharap ada sedikit peluang untuk menemukan suster itu.
"Hallo, Bi? Ada apa ya Bi? Maaf ya kita agak lama baliknya. Tadi kita ketemu Berlian, tapi kehilangan jejak, Bi."
"Iya gak apa-apa non, tapi ini Binar nangis terus non. Tiba-tiba kebangun nangis gak berhenti-henti."
"Ada asi di botol s**u yang ditaro di kulkas, mau nggak Bi?"
"Nggak mau non. Ini juga dedenya muntah-muntah terus." Bi Asri yang menjaga Binar dari pagi sampai kewalahan. Tidak biasanya Binar seperti ini, apa karena Gwenny sedang bertemu Berlian dan menyusui sebentar?
"Sam, Binar kata bibi nggak bisa berenti nangis, katanya Binar juga muntah-muntah terus."
"Kita pulang aja ya? Kasian Binar, atau karena kamu tadi ketemu Binar? Mungkin dia tau kalau kamu barusan ketemu."
"Yaudah, kita pulang aja. Baju aku udah basah banget ini." ASI-nya tumpah-ruah, benar-benar basah baju Gwenny
"Binar, kenapa nak? Binar sakit ya sayang?" Samudra lebih sering mengajak bicara Binar agar tidak terlalu sedih juga.
"Badannya panas." Kata Gwenny saat mengecek suhu tubuh Binar dengan alat termometer digital.
"Panasnya dari pagi atau baru ini Bi?" tanya Samudra sambil sesekali memegang pipi Binar.
"Berapa suhunya Gwen? Aku panggil Dokter ya.."
Samudra sedikit panik dengan Binar yang tiba-tiba panas tinggi.
"Iya Den, dari pagi. Tapi nggak setinggi sekarang."
"Suhunya 40°c Sam." Gwenny mengambil Koolfefer dan ditempelkan di kepala Binar.
"Maafin mama ya, sayang. Mama seharian ninggalin kamu. Tadi mama ketemu sama adik kamu. Maafin mama ya, mama nggak bisa bawa dia pulang." Gwenny mencium tangan mungil Binar.
"Dokternya sebentar lagi sampai, sementara kita kasih Koolfefer dulu ya, mudah-mudahan sedikit turun."
Sekarang Binar sudah berada dalam dekapan Gwenny. Sebisa mungkin Gwenny menenangkan bayi itu.
Tidak hanya menangis, Binar juga sempat memuntahkan isi perutnya beberapa kali setelah digendong oleh Gwenny.
Gwenny menelungkup kan tubuh Binar dalam gendongannya, karena dengan begitu Binar tidak menelan kembali muntahnya.
Tidak lama setelahnya, Dokter anak sudah di Apartment Samudra.
"Hanya demam biasa.. saya sudah bawakan obatnya, setelah demamnya turun jangan konsumsi obatnya."
"Baik, Dok. Terimakasih."
***
Sekarang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Gwenny berhasil menidurkan Binar setelah cukup lama memberinya Asi.
"Tumben kamu tidur, Sam. Kenapa?" Gwenny meletakkan Binar yang sudah tertidur di dalam box bayi. Panas tubuhnya sudah mulai turun.
"Ummm.. iya nih, aku gak enak badan kayaknya." Kata Samudra lesu ditambah dengan muka pucat.
"Binar gimana? Panasnya udah turun belum?"
"Udah tidur. Sini, kamu biar aku pijitin." Gwenny meletakkan kepala Samudra di atas pahanya. "Badan kamu anget, Sam. Kayaknya Demam Binar pindah ke kamu, deh." Gwenny memijit lembut kepala Samudra. Memberikan sensasi nyaman ditubuh suaminya itu.
"Kayaknya aku kurang tidur, sehari 3 jam tidurnya. Kadang subuh baru tidur jam 7 bangun langsung kerja." Matanya masih terpejam, tapi masih bisa merespon Gwenny dengan sangat baik.
"Maaf, ya. Gara-gara aku koma, kamu jadi susah." Gwenny mendesah pelan. Namun tangannya terus memijit kepala Samudra.
"Jangan kayak gitu, kamu sadar dan kembali ke aku, aku udah bersyukur."
"Tapi, Sam..."
"Besok aku mau libur kerja kayaknya, aku mau istirahat total." Samudra mengalihkan topik bicara, dia tidak ingin Gwenny terus-menerus merasa bersalah
"Iya, istirahat aja. Aku ambilin kamu obat dulu."
"Iya, sayang."
***
"Hari ini saya berhentikan suster bekerja di sini." Ada selembar kertas ditangan Arka. Berisi informasi bayi hilang Samudra, Arka sudah membacanya.
"Ke... Kenapa, Pak? Saya salah apa? Apa karena saya biarin saat itu ibu Gwenny memberikan ASI-nya pada Berlian? Tapi kasihan berlian, Pak dia kehausan."
Terobsesi dengan hilangnya Kayla. Arka semakin Protective terhadap Berlian.
"Iya, saya sudah peringatkan jangan percaya pada orang lain!"
"Maafkan saya, Pak. Tapi jangan pecat saya. Saya mohon."
"Tidak ada kata maaf, suster saya pecat hari ini juga."
"Tapi Non Berlian baik-baik aja, Pak. Tidak terluka sedikit pun..." Suster Intan menangis, kembali memohon agar tidak dipecat.
"Sus, saya sudah peringatkan ini berkali-kali. Kali ini saya sudah hilang sabar. Jadi silahkan kemasi barang-barangnya dan tinggalkan rumah ini." Suster Intan terpaksa pergi dari rumah Arka.
Suster Intan menangis, sedih karena harus kehilangan pekerjaan. Padahal, dia tidak melukai Berlian sama sekali.
***
Malamnya, tubuh Berlian panas, sama seperti Binar. Dia juga demam tinggi.
Tangisan Berlian tak kunjung henti hingga tengah malam. Hal ini mengingatkan Arka tentang Kayla yang dulu juga seperti ini. Sementara itu Ayla tidak pernah mau peduli.
"Ay, kamu nggak mau tendangin Kayla? Dia menangis loh ini. Dia butuh kehangatan kamu, dia butuh kasih sayang kamu. Dia juga butuh asi dari kamu."
"Arka, aku ini model, kalau aku ngasih Kayla asi, tubuh aku bisa rusak. Aku nggak mau. Kamu nggak liat aku lagi diet habis ngelahirin. Kamu masih obat ajalah."
"Kamu lebih mementingkan tubuh kamu? Ayla! Dimana-mana seorang ibu itu lebih mementingkan anaknya."
"Berisik kamu! Diamin aja dia, itu anak kamu!"
Ayla berlaku begitu saja, pusing mendengar tangisan Kayla.
Arka tersenyum Sarkas, masih ingat bagaimana perlakukan Ayla dulu terhadap anaknya. Jadi jangan sampai Ayla berharap maaf lagi.
Tidak seperti biasanya Samudra tertidur sembari mengigau.
"Berlian..."
Gwenny pun ikut terbangun. Menggoyangkan tubuh Samudra untuk terbangun.
"Sam... Samudra..." Suhu tubuh Samudra malah semakin panas. Gwenny benar-benar dibuat khawatir.
"Sayang, bangun..."
"Berlian sakit ini... kasian..." matanya masih terpejam. Dalam mimpinya Berlian sangat ketakutan dan menangis kencang.
Gwenny kembali mengompres kening Samudra. Dia sebenarnya juga stress memikirkan Berlian yang masih belum ditemukan. Tapi sepertinya Samudra jauh lebih terpukul karena kehilangan anak perempuan nya. Karena sejak dulu di awal kehamilan, Samudra sangat menginginkan kan bayi perempuan.
"Sam, minum dulu.... Berlian baik-baik aja, yang penting sekarang kita tau, Berlian dirawat sama orang."
Samudra membuka matanya.
"Aku ngigo kayaknya... besok kalau aku udah baikan, bisa aku cari lagi."
Rasanya badan Samudra seperti remuk.
"kamu istirahat aja biar aku yang cari Berlian..."
"Ada papa, kamu fokus mengurus Binar. Dia lebih butuhkan kamu, urusan Berlian biar aku sama papa.."
Samudra, plis. Kamu lagi sakit, tolong istirahat sampai kamu sembuh. Aku ibunya aku juga mau cari dia
"Ingat Brian, dia jangan selalu ditinggal.. aku tau kamu ibunya, kita bertiga sama saling kehilangan Berlian Gwenny.."
Gwenny malas berdebat. Padahal dia hanya ingin membantu Samudra mencari Berlian, membiarkan Samudra istirahat agar lekas pulih kembali.
Gwenny berpaling, membelakangi Samudra. Sekarang, Gwenny hanya bisa menangis.
Samudra lantas memeluk pinggang ramping Gwenny.
"Iya aku paham.. kamu mau membantu aku cari Berlian. Tapi kan kamu baru pulih, Binar juga sakit nanti siapa yang ngurus dia di rumah kalau kita semua cari Berlian? Kasian Binar.."
"Sam, kamu yang harus istirahat. Kamu lagi sakit, aku nggak mau kamu sakit."
"Aku istirahat kok, ini buktinya udah turun.. kalo aku pulih, Binar sehat lagi, nggak apa-apa kita pergi cari Berlian, sekalian jalan-jalan bawa Binar keluar."
"Janji ..."
"Aku janji... aku juga berharap lebih untuk Berlian. Aku yakin dia akan kembali."
Gwenny memeluk hangat Samudra. Sekarang hanya saling menguatkan yang bisa mereka lakukan
Keesoknya demam Binar belum turun juga.
"Binar? Udah sembuh belum anak papa.." Samudra tidak menyentuh hanya lihat dari sisi ranjang bayi.
Gwenny baru keluar dari dalam kamar mandi, Binar masih terus merengek merasa tidak nyaman dengan tubuhnya yang demam.
"Belum, dia masih demam. Tidurnya cuma kalau digendong. Kalau nggak aku gendong dia pasti nangis." Mata Gwenny cukup terasa kantuk, semalaman dia begadang mengurus Samudra dan Binar.
Tapi, bagi Gwenny tidak masalah, dia melakukan itu semua karena memang tugasnya sebagai seorang istri.
"Setiap aku kasih asi, dia muntah lagi. s**u formula nggak mau dia."
"Yaudah, kamu istirahat dulu.. kamu makan dan santai sedikit. Binar aku taruh di stroller bayi aja, biasanya dia suka."
Sebisa mungkin Samudra berganti menjaga Binar. Dirasa badannya merasa jauh mendingan dari kemarin
Gwenny menggelengkan kepala.
"Enggak, kamu istirahat aja, biar Binar aku bawa ke kolam renang, biar dia berjemur. Matahari pagi bagus kan buat dia."
"Nggak apa-apa. Binar emang suka gitu, dia suka di stroller bayi.. mungkin karena dikira jalan-jalan jadi dia ke enakan."
Samudra meletakan Binar di stroller bayi. Hanya berkeliling di ruangan yang luas, Binar diam dan tidur tenang.
"Ngeyel banget sih!" Cubit pinggang Samudra kuat. "Kalau disuruh istirahat itu ya istirahat...." Gwenny mengambil alih Binar. "Gimana sih, nggak mau banget nurutin istri! Hobi banget bikin orang marah-marah."
"Kan aku cuma mau bantu momong Binar .. ko dicubitin si.. Binar nanti tolongin Papa, papa dicubit looohhhh.. sakiiiit" Binar bergumam, dia tertawa seakan senang Samudra mendapat perlakuan seperti itu dari Gwenny.
"Makanya! Istirahat. Kamu mau aku jantungan lagi gara-gara marah-marah?"
"Iya iya iyaaaa... bawel banget deh. Tapi nanti aku bisa gantian kok kalo kamu capek. Boleh kan?"
"Iya!" Gwenny pergi begitu saja, membawa Binar yang ada di dalam stroller.
"Ngeyel banget dibilangin." Gwenny terus mengomel sepanjang mengelilingi rumah.
"Ya Allah! Istri aku galak bangeeettt Ya Allah... ampuni Baim Ya Allah." Meniru gaya sinteron
"Bik, jagain Binar sebentar ya. Kayaknya ini Samudra harus dikasih pelajaran deh."
Arka yang merasa was-was dengan Berlian yang sudah mulai diketahui Gwenny. Berusaha sebaik mungkin tidak terlihat curiga oleh mamanya.
"Mama harusnya gak usah bolak-balik kesini. Menetap juga boleh kok, nanti bisa jaga Berlian disini."
"Arka, seharusnya kamu dan Ayla itu nggak cerai. Mama itu masih berharap kalian balikan dan rujuk. Kayla baru aja meninggal, sekarang kamu malah ngurus bayi yang nggak jelas ini, Ar. Gimana kalau orang tuanya cari dia."
"Dia dibuang keluarganya ma. Bisa jadi hasil dari hubungan gelap mereka, aku memang berharap begitu ma. Ayla yang berbuat k**i seperti ini, membuat Arka makin susah untuk percaya kembali."
"Mama mohon sama kamu Arka. Maafin Ayla ya. Rujuk sama dia, mungkin kehadiran bayi ini bisa membuat kalian lebih baik lagi, apalagi kalian sudah diuji karena kehilangan anak.
"Kita lihat nanti ma. Arka nggak akan berharap lebih dengan Ayla, masih kecewa dengan sikap dia yang tidak mau menuruti Arka."
"Terus sekarang kamu bakal tetap urus anak ini? Lebih baik kamu urus surat adopsi biar kamu itu sah secara hukum sebagai anak kamu. Jadi kalau semisal nanti orang tuanya mau ambil dia nggak gampang."
***
Bersambung