"Arkaaaa, buka. Kamu nggak inget? Gimana perjuangan aku saat ngelahirin Kayla? Kamu pernah janji sama aku, kalau aku dan Kayla akan selalu jadi yang berharga buat kamu. Kamu juga janji nggak akan nyakitin aku yang udah berjuang buat lahirin anak kamu. Kamu yang ucapin itu, karena aku udah mau kasih kamu anak!" Ayla menangis, sesekali memukul pintu rumah Arka. Melihat Ayla yang tak kunjung pergi, Arka lantas turun ke bawah, menemui Ayla yang masih menangis di teras rumah.
Arka berusaha membuang rasa sesak yang semakin merajam di dadanya. Rasanya untuk memaafkan Ayla benar-benar sangat sulit, bahkan lebih tepatnya Arka tidak ada kemampuan untuk memaafkan Ayla.
Setiap melihat Ayla, Arka selalu ingat bagaimana kematian Kayla yang disebabkan oleh kelalaian Ayla.
Jika memang Ayla tidak sengaja, tetap saja dia sudah gagal dalam menjaga anaknya.
"Ngapain kamu masih di sini? Seharusnya kamu bersyukur! Aku masih punya hati dan membatalkan niat untuk menuntut kamu di pengadilan!"
"Tolong, berikan aku baju peninggalan milik Kayla. Aku memang gak dapat izin untuk pergi kepemakaman.. tapi aku bisa kan? Kamu kasih aku baju peninggalan milik kayla? Hanya itu Ar, hanya itu yang bisa aku beluk sekarang!" Arka menggelengkan kepala. Tidak sudi memberikan barang-barang milik Kayla.
"Buat apa? Percuma! Yang membutuhkan kamu itu Kayla! Yang membutuhkan pelukan kamu itu juga Kayla! Bukan barang-barang dia! Sekarang aku tanya sama kamu, apa dengan cara begitu kamu bisa merasa puas buat lepasin rindu kamu sama anak kamu sendiri?!"
"Setidaknya aku bisa miliki satu benda dari Kayla Ar! Hanya itu yang aku mau! Bukan cuma kamu yang kehilangan, aku juga! Aku ibunya! Sebenci itu kamu kamu sama aku? Dan seburuk itu kamu menilai aku, Ar? Gak ada sedikit pun kamu melihat aku dari sisi ibu kandung Kayla?"
"Bagiku, ibu kandung Kayla sudah mati sejak dia memutuskan untuk meninggalkan aku dan Kayla. Saat dia lebih mementingkan Kariernya!"
Ayla semakin menjadi, menangis dibawah kaki Arka.
"Aku mohon Arka! Tolong aku... aku cuma minta baju milik Kayla. Aku gak akan meminta yang lainnya."
Arka menarik tangan Ayla dengan kuat. Menyeretnya hingga keluar dari perkaragan rumah.
"Pergi! Jangan pernah datang lagi. Karena aku yakin, Kayla pun sangat membenci kamu!"
Ayla kembali menangis. Kepergian Kayla benar-benar membuat kemarahan di hati Arka. Bahkan sampai laki-laki itu enggan menatapnya.
Apa yang dia rasakan sekarang? Bahagia? Tidak. Ayla justru menyesal. Dia sendiri, tidak ada satu pun yang membela.
Samudra? Dia pun juga sudah bahagia bersama perempuan pilihan orang tuanya. Kenapa harus Ayla yang menderita?
Pertanyaan itu terus muncul dibenaknya. Ayla menjatuhkan tubuhnya. Padahal kemarin adalah hari pertama nya dan Kayla jalan-jalan. Namun Ayla tidak menyangka jika itu juga jadi hari terakhirnya bersama Kayla.
***
Panas terik menyengat di ubun kepala. Sejumlah pekerja pencari botol bekas beristirajat di emperan toko kelontong berada dekat dengan kantor Samudra. Letaknya masih dipinggir jalan, masih terjangkau harga untuk kalangan kelas bawah meneguk sebotol air mineral. Tempat ini biasa dijadikan tempat mangkal orang kantor di tanggal tua belum menerima upah kerja.
"Buk, minta air mineral yang dingin."
Penjual warung memberikan sebotol mineral pada lelaki paruh baya itu.
"Gimana pak? Dapat banyak gak hari ini?" tanya pemilik warung sebagai basa-basi.
"Namanya juga lagi susah cari botol bekas, mana anak saya mau masuk SMA buk. Rezeki lagi seret begini bingung mau kerja apa." Ucap pemulung yang bernama Usman.
Kang Daryo supir pribadi Samudra terbiasa nongkrong di area toko kelontong ini tebilang sudah akrab dengan mereka. Kang Daryo baru saja berkeliling membagikan brosur pencarian Berlian.
"Buk Mar. Nasi goreng sama Es teh manis ya, eh jangan lupa ini tolong bagiin ke pelanggan Buk Maryati di sini." Kang Daryo membagikan selembaran kertas informasi tentang Berlian.
"Ini brosur apa emang Kang? Bayi hilang ya? Gila. Dapat uang 5 miliar. Kalau saya yang nemuin bayi ini, bisa-bisa nanti saya kaya dan nggak jualan di sini lagi."
Bu Maryati yang bertahun-tahun merantau membuka warung kelontong ditengah sudut kota sangat susah mendapat uang miliaran rupiah.
"Anaknya Bos saya Buk, saya taruh di sini ya.. barangkali ada yang lihat tolong hubungi saya atau nomor di sini ya." Menujuk dua nomor di sisi kertas.
"Wah! Mendadak ini mah jadi orang kaya haha!" Ucap Pak Usman yang antusias degan hadiah yang dijanjikan
"Ini Brosurnya sama simpen ya. Nanti saya bakal bantu cari. Tapi ini beneran kan bakal dapat uang Segede gini? Ini nanti cara simpannya gimana." Pak Usman sudah terlalu semangat saat melihat nominal yang ada, bagaimana tidak, jika dia berhasil mendapatkan uang itu sudah bisa dipastikan bahwa kedepannya hidupnya akan terjamin
"Iya.. bapak bisa simpan di bank nanti. Siapa tau rezeki kita nih.. hehe. Separuhnya tempelkan di tembok kontrakan juga boleh dah buk!"
"Siap, Kang."
***
Kondisi Gwenny sudah semakin membaik. Saat ini Gwenny sudah diizinkan untuk pulang. Tentu Gwenny merasa sangat bahagia, sebab dalam hitungan menit dia akan bertemu dengan kedua anaknya, Binar dan Berlian.
Senyum merekah tercetak di wajah Gwenny, sesekali pandangannya beralih pada Samudra yang sedang menyetir, tangganya menggenggam tangan Samudra erat
"Sam, aku nggak sabar ketemu mereka."
Samudra terpikirkan bagaimana harus mengawali situasi Berlian yang sebenarnya.
"Ummh.. Gwen, aku mau bicara sesuatu sama kamu. Tapi kamu janji, jangan terbawa emosi dengan kabar ini."
"Maksud kamu apa?"
"Kamu janji gak aka shock dnegan beritanya?"
"Kamu mau kasih tau berita apa, Sam? Jangan bikin aku panik dong." Gwenny mendadak cemas seketika. Feeling nya langsung tidak enak mengenai anak-anaknya.
"Kita bicarakan nanti saat dirumah."
Selebihnya Samudra memilih diam dan fokus menyetir mobil.
Sesampainya di rumah, Samudra sudah lebih dulu memanggil orang tua masing-masing untuk bisa menjadi penengah akan peristiwa ini.
Gwenny langsung bahagia saat melihat bayi yang ada gendongan mama Jihan.
"Ma, ini .. ini anak aku?" Mata Gwenny berkaca-kaca. Dia langsung mengambil alih bayi yang ada dalam gendongan mama Jihan.
"Sayang, mama minta maaf ya. Baru bisa gendong kamu sekarang. Maafin mama waktu Karin belum bisa jaga kamu." Gwenny menghapus air matanya.
"Ini siapa, Sam?"
"Itu Binar.. dia cowok, jadi aku kasih nama dia Binar."
"Ya ampun kamu Binar. Ya ampun ganteng banget, Sih. Mmmh Berlian mana?"
"Berlian... aku, aku belum menemukan Berlian dimana Gwenn.." dengan hati-hati Samudra mengatakan yang sebenarnya.
Aruni memberi kode pada Suaminya. Takut jika hal ini membuat Gwenny terkejut dan kembali serangan jantung.
"Maksud kamu apa Sam, Berlian kenapa? Kamu belum menemukan gimana?!"
"Gwenny, maksud Samudra anak kamu, anak kamu lagi ada di suatu tempat. Kita pasti akan segera menemukan Berlian."
Seketika Gwenny pun lemas. Hampir menjatuhkan Binar dari dekapannya. Beruntung Jihan cepat menangkap tubuh Binar.
"Ya Allah, Gwenny ..." Aruni menuntun Gwenny untuk duduk di atas sofa. Berusaha menenangkan anaknya itu
"Maksud kalian, Berlian hilang?! Iya?" Suara Gwenny langsung melengking. Bersamaan di saat itu air mata Gwenny jatuh. Anaknya hilang? Gwenny menangis, jadi ini alasan Samudra terlihat aneh? Hati Gwenny perih saat anak yang dia kandung dengan susah payah harus hilang dan tidak tahu ada di mana, bahkan untuk menyentuh pertama kali pun Gwenny tidak bisa.
"Aku janji, aku akan cari dimana pun dia berada. Kita semua mencari keberadaan Berlian. Bahkan ada imbalan lima miliar untuk mereka yang menemukan Berlian. Kita semua berusaha semaksimal mungkin."
"Kalian nggak bisa jaga Berlian." Air mata Gwenny jatuh tanpa henti. Rasa sesak di d**a sangat terasa. Sakit? Tentu. Gwenny yang mengandung anak itu, tapi dia juga yang jadi orang terakhir yang tahu bahwa anaknya itu hilang.
"Dia masih bayi, dia belum bisa apa-apa. Dia juga lahir Prematur, apa kalian nggak mikir gimana keadaan dia? Gimana kalau di luar sana dia kedinginan, dan gimana kalau dia di luar sana kehausan?!" Gwenny berbicara dengan intonasi tinggi, bahkan sampai Binar menangis karena mendengar suara yang berisik
Mama Jihan membawa cucunya itu ke dalam dekapan, berusaha untuk menenangkan sang cucu.
"Aku bisa jelaskan kenapa bisa sampai seperti ini. Rangga yang berulah menculik Berlian, dia dendam dan membenci aku. Saat itu, dia yang berusaha menyakiti kamu. Aku membuat sebelah matanya menjadi cacat dia melampiaskan dendamnya dengan menculik Berlian di Rumah sakit."
"Aku yang ngerasain sakit pas ngelahirin dia, kalau kayak gini mending saat itu aku mati aja!"
Gwenny sudah putus asa. Kecewa dan marah. Marah pada diri sendiri karena tidak bisa berbuat apa-apa
Memeluk Gwenny berusaha menenangkannya.
"Aku cari sampai ke ujung Dunia pun aku kejar. Aku yakin dia ada bersama orang yang tepat."
"Lebih baik aku nggak sembuh, lebih baik aku nggak bangun dari koma itu!" Gwenny semakin mengamuk. Sungguh, tidak menerima karena sudah kehilangan Berlian.
"Gwenny, jangan bicara seperti itu. Kamu jangan egois kamu masih punya Binar, sayang. Dia juga butuh kamu. Kalau kamu koma kasian Binar. Dia butuh asi dari kamu, dia butuh dekapan kamu..." Mama Jihan ikut bicara. Setidaknya hanya Binar yang mungkin sekarang bisa menguatkan Gwenny.
"Aku nggak mau urus Binar, aku nggak mau bayi itu, aku mau Berlian!"
"Gwenny, sekarang hanya kamu yang Binar punya. Setelah ini aku yakin, Berlian akan segera ditemukan. Status Rangga sudah menjadi buronan."
"Terus dengan dia jadi buronan, apa kamu janin dia bakal buka mulut? Enggak!"
"Dia masih di incar polisi, sekarang dia bersembunyi gak tau dia dimana."
Gwenny berlalu begitu saja. Masuk ke dalam kamar. Tanpa mau peduli dengan Binar.
"Samudra. Bawa Binar ke kamar, paksa Gwenny untuk dekat dengan anaknya. Mama takut, Gwenny nanti tidak mau menerima Binar." Samudra menggendong Binar membawanya masuk ke kamar.
"Binaarr.. anak papa yang ganteng.."
"Keluar!"
"Gwenn, lucu banget iniii.. mukanya gak jauh beda sama Berlian. Dia kakanya Berlian.."
Tidak menggubris Gwenny yang terus mengusir.
Binar menangis, melengking di dalam ruangan kamar. Dia haus, sangat haus.
Gwenny masih menangis, sesekali matanya melirik ke arah Samudra yang menggendong Binar.
"Binar haus ya? Haus banget yaaa? Kasiaaann Binar haus."
"Sini, Binar..." Gwenny mengusap air mata yang ada di matanya
Seketika Binar terdiam dan sangat tenang berada di dekat Gwenny.
"Kamu keluar, Sam. Aku pengen kasih asi ke Binar?"
Iya aku keluar, Binar disini ya sama mama ya sayang?" Ci*m pipi Binar.
"Maafin mama ya Binar. Tadi, mungkin mama kebawa emosi, jadi mama marah sama Binar." Gwenny menyentuh dengan lembut pipi Binar. Mengusap air mata Binar yang terkumpul di kelopak mata.
Apa benar wajah Berlian seperti Binar? Untuk pertama kalinya Gwenny memberikan asi pada anaknya.
"Apa Asiku ada?" Tanya Gwenny di dalam hati
Binar kembali menangis, Asi Gwenny hanya keluar sedikit.
"Gwenn, mama mau kasih s**u formula untuk Binar. Selama kamu koma Binar selalu di beri s**u formula ini anjuran dari dokter."
"Tapi aku pengen kasih asi aku, Ma. Tapi nggak keluar." Gwenny malah ikut menangis. Tidak tahu bagaimana cara mengurus bayi.
"Sini mama bantu kamu cara mengurus bayi.." Aruni mengajarkan Gwenny caranya menggendong dengan benar. Menyalin popok, sampai mengganti baju Binar.
Asi aku gimana, Ma.
"Kamu harus jaga pola makan, banyakin air putih dan makan buah-buahan."
"Binar, maafin mama..."
"Mama tau perasaan kamu, merasa kehilangan sudah pasti. Tapi yang mama terasa sedih selama kamu koma, Samudra terus-menerus berada di samping kamu. Dia rela membagi waktunya untuk kamu, Binar dan mencari Berlian. Setiap hari begitu."
Gwenny masih diam. Tetap saja dia kecewa karena tidak ada satu orang pun yang bisa menemukan Berlian hingga sekarang.
"Tetap aja aku pengen Berlian kembali."
"Mama tau Gwenn, kamu mau secepatnya Berlian kembali. Kita semua gak pernah tinggal diam atas hilangnya Berlian. Sampai kapan pun tetap dicari , apalagi Samudra yang gak ada hentinya untuk mencari Berlian. Petunjuk satu-satunya ada di bahu kanan Berlian."
Bahu kawan Berlian? Ada apa sama bahu kanannya?
"Ada tanda lahir Berlian, bentuknya bulan sabit hitam.. hanya itu satu-satunya petunjuk untuk menemukan dimana Berlian."
Bahu kawan Berlian? Ada apa sama bahu kanannya?
"Ada tanda lahir Berlian, bentuknya bulan sabit hitam.. hanya itu satu-satunya petunjuk untuk menemukan dimana Berlian."
Apa nggak ada jejak sama sekali? Dari cctv rumah sakit? Kemana dia bawa Berlian, jalanan?
"Itu mama kurang tau Gwenny, nanti mama coba tanyakan ini ke papa dan juga Sam."
Aruni yang sepemikiran tentang Cctv yang dibicarakan Gwenny, tentu terbilang masuk diakal sehat. Rumah sakit sebesar itu kenapa tidak ada satu pun Cctv yang menampakan siapa pelakunya.
Aruni kembali ke ruang keluarga untuk membicarakan ini.
"Pa, samudra. Apa kita gak sebaiknya mencari bukti lagi yang mengarah ke Cctv pa? Kita bisa cek ke Cctv yang ada di luar Rumah sakit pa. Mungkin ada jejak yang bisa menemukan kemana perginya Berlian."
Ardi tampak berpikir sejenak. "Bisa jadi, Ma. Mungkin akan ada beberapa cctv yang ada di jalan. Mungkin bisa jadi barang bukti dijalan bisa menunjukkan dimana Rangga membuang Berlian." Ardi menarik napas kemudian mengembuskan secara perlahan.
"Dengan adanya CCTV ini, papa yakin, Rangga akan dihukum berat."
"Cctv parkiran misalnya pa? Sam ingat betul, diruangan bayi ada Cctv tapi rusak. Pasti dia bawa kendaraan dan gak mungkin dia asal masuk tanpa menggali infomasi dulu. Ya kan? Dan gak hanya itu pa, kita bisa cari Cctv sepanjang jalan menuju ke Rumah sakit. Gimana?"
"Oke, papa akan suruh anak buah papa buat cari informasi ini. Semoga Berlian cepat kembali. Kasihan juga Binar, harus terpisah dari kembarannya. Anak kembar itu satu jiwanya. Papa yakin, Binar juga sedang merasakan hal yang sangat membuat hati ya tidak tenang, itu sebabnya Binar sering menangis."
Seperti bayi lainnya, Berlian setiap malam menjelang tidur selalu menangis. s**u yang dibuat selalu tidak habis terkadang tidak diminum sama sekali.
"Kasian ya nangis terus.. apa dia inget ibunya? Ko bisa kamu dibuang gitu aja."
"Tuan, apa tuan kepikiran kalau anak ini korban penculikan gitu? Sekarang marak banget soalnya penculikan bayi. Apalagi bayi ini ditemukan masih dalam keadaan kecil dan prematur kan? Ada gelangnya meskipun nama rumah sakitnya udah nggak keliatan karena basah kena hujan. Apalagi orang tuanya kasih nama Berlian. Kalau dibuang kayaknya nggak bakal ngasih nama deh, tuan." Kata Bi Asih menerka-nerka
"Kalau memang bukan dari hasil hubungan gelap kenapa dia ada diluar?"
"Saya yakin bukan, sepertinya Tuan. Kalau memang ada yang cari bayi ini, apa Tuan mau balikin?"
Arka tidak menjawab.
'Benar, dia pasti sedang dicari oleh keluarganya. Cepat atau lambat dia pasti mencari siapa ibunya' Gumam Arka dalam hatinya.
Sekarang, Binar sudah terlelap tidur. Gwenny mencoba melakukan pompa asi pada payudaranya. Berharap ada asi yang keluar.
"Non, bibi buatin jus buah.. soalnya ibu yang minta selalu sediain jus buah-buahan. Diminum ya non, sama ada steak daging sapi ini juga pesen dari Mas Samudra suruh bikin buat non Gwenny."
"Iya, Bi. Makasih ya Bi, aku bakal minum dan makan apapun yang penting asi aku banyak. Bibi liat, cuma segini." Gwenny mengangkat botol s**u yang hanya berisikan berapa tetes saja ASI-nya.
"Kasian dia kalau minum s**u formula terus, nggak baik."
"Itu mungkin karena non Gwenny lama komanya non, jadi kurang nutrisi dan cairan. Bisa jadi begitu non.."
"Samudra mana, Bik?"
"Pagi-pagi pergi sama bapak non. Katanya si mau cari neng Berlian."
"Doain ya Bi, semoga Berlian cepat ketemu."
"Seorang ibu gak akan berhenti berdoa untuk anaknya non, anggap aja ini ujian dari Allah SWT. Pasti dipertemukan kembali."
***
Bersambung