Bab 27

2335 Kata
"Lo ikut gue!" Rangga dengan cepat menarik tangan Ayla hingga perempuan itu turun dari atas jembatan. "Ehhh Lo mau apa ini, mau bawa gue kemana?!" Rangga hanya bergeming, dia terus menyeret tangan Ayla untuk ikut bersamanya. Kali ini, Rangga membawa Ayla ke danau yang tak jauh dari sungai itu. "Lo ngapain mau bawa gue ke danau? Lo mau romantisan sama gue? Nggak mempan!" Ayla mengsap kasar sisa air mata yang ada di pipinya "Lo gue bantu, lo mau bunuh diri kan? Gue bantu sampai ke gerbang akhirat! Haha." Rangga tertawa puas. Dengan cepat Rangga mendorong Ayla ke dalam danau, membuat Ayla tenggelam beberapa saat. "Gila! Lo mau bunuh gue?!" Ayla menciptakan air ke tubuh Rangga "Lo mau bunuh diri kan? Gue bantuin, bukannya terimakasih kek! Ngehina gue lo! Untung gue gak minta nyuruh lo bayar!" "Kurang ajar emang Lo!" Ayla memukul lengan Rangga dengan kuat saat berhasil keluar dari dalam danau. Sekarang dia sudah basah kuyup, siapa yang bertanggung jawab? "Kenapa lo gak jadi mati?! Mati aja udah, katanya lo mau ikut anak lo? Tenggelam aja!" Rangga melempar batu dengan kuat, hingga batu itu mendarat tepat ditengah danau. "Lo berenang sampe ke tengah! Nanti lo gak bisa nafas, gue jamin! Gak ada garansi lagi lo nafas. Yang paling penting Lo bunuh diri nggak usah caper sama orang-orang yang ngelewatin itu jembatan. Mau viral kok gitu banget." "Buat apa viral. Gue aja model, terkenal." "Ohhh, biar makin viral kali lo." Ayla malah berjongkok. Menangis saat aksinya malah dianggap lelucon. Padahal dia butuh untuk disemangati, bukan diremehkan seperti ini. "Bunuh diri gini rasanya sakit." "Udah tau sakit, kenapa lo masih mau bunuh diri? Emangnya lo mau cepat mati? Lo gak mau tebus kesalahan lo?" "Nebus kesalahan? Hahha, dengan cara apa ha?!" "Masa gue harus jelasin?! Katanya lo udah salah buat anak lo mati. Harusnya lo yakinin dong laki lo buat percaya sama lo! Lo cakep tapi blo'on lo!" "Gue nggak cinta sama dia! Dia yang salah, dia yang nikahin Gue dan dia yang maksa punya anak!" "Terus kenapa lo mau bikin juga?! Aneh lo lama-lama ya. Udah brojol aja lo gak mau, pas bikin aja lo semangat!" "Nggak usah so tau Lo, gue hamil tanpa disenduh!" "Gak di sentuh gimana?! Lo kira hamil pake pompa angin gitu? Ya laki lo lah yang berbuat! b**o juga lo jadi cewek." "Gue di suntik anjir! Iyalah gue disentuh. Tapi gue terpaksa!" "Lo kenapa mau aja? Katanya lo terpaksa! Tapi mau.. itu artinya lo ikhlas! Otak lo geser keknya!" "Lo nggak pernah rasain gimana harus pisah sama orang yang Lo cinta!" Rangga pusing karena tingkah dari Ayla. Ucapannya seputar itu-itu saja. Mungkin benar, dia adalah perempuan depresi yang mungkin keluar dari rumah sakit jiwa. "Sakit jiwa nih anak! Terserah lo dah! Mau apa, yang jelas lo kalo bunuh diri pake sianida! Mati dalam hitungan menit, bunuh diri kurang nyali lo!" Rangga Pergi berlalu meninggalkan Ayla sendirian. Ayla terdiam. Kesal setengah mati dengan perlakukan laki-laki itu. *** Arka mengambil gelang bayi yang ada di tangan Berlian. Di sana tersemat nama bayi itu. Berlian, mungkinkah orang tuanya sengaja memberikan nama itu dan melambangkan bahwa anak itu adalah hal yang sangat berharga bagi mereka? Tapi kenapa bisa bayi itu ada di depan rumahnya? Apa dia terpisah? "Saya nggak tau apa yang terjadi sama kamu, Berlian. Tapi kamu tenang saja, saya akan menjaga kamu dengan sangat baik. Saya sudah kehilangan Kayla anak saya, mungkin Tuhan sengaja kirim kamu untuk sebagai ganti putri saya." Arka tersenyum, kemudian mengsap tangan Berlian yang sudah tertidur nyaman di dalam ruangan inkubator. Sementara itu, Samudra membuat sayembara untuk menemukan anaknya. Bagi siapa saja yang menemukan bayi yang tidak itu, yang bernama Berlian akan di beri imbalan 5 miliar siapa pun itu. "Gwenny, maafin aku. Aku gagal menjaga salah satu anak kita. Aku minta maaf, sayang. Maaf, tapi kamu tenang aja, aku bakal lakukan apa pun untuk mengembalikan Berlian ke tengah-tengah kita." Samudra menggenggam tangan Gwenny, kemudian mengecupnya pelan. Dia sangat merindukan Gwenny. Lebih dari apa pun. Samudra hanya bisa berharap, semoga Tuhan segera mengizinkan Gwenny kembali membuka matanya. *** Dua bulan sudah berlalu. Gwenny masih belum menunjukkan perkembangan apapun untuk segera membuka mata. Tapi, sekarang Samudra cukup bahagia, sebab Binar sudah diperbolehkan untuk dibawa pulang. Kondisinya semakin membaik dan berat badannya sudah normal seperti bayi pada umumnya. Melihat Binar ada digendonggannya, ia teringat Berlian yang sampai detik ini belum diketahui dimana keberadaannya. Jujur, Samudra masih berharap ada kabar baik dari orang-orang yang berhasil menemukan Berlian. Sebab Samudra akan memberikan apa pun yang mereka mau. "Samudra. Gwenny masih belum sadar sampai sekarang, sementara berlama-lama di rumah sakit juga tidak baik untuk Binar. Untuk sementara, biarkan mama yang merawat Binar. Kamu fokus pada kerjaan kamu dan Gwenny saja." kata Rini memberi saran. Dia juga ingin merawat satu-satunya anak Gwenny yang masih tersisa. Aruni, Dirga, Jihan dan Dirga pun tentu tidak akan tinggal diam. Mereka pun sampai detik ini masih berusaha mencari keberadaan Berlian. Beruntung Samudra memiliki satu beberapa foto Berlian saat dia menggendong anaknya itu. Satu-satunya petunjuk yang ada adalah, tanda lahir di bahu Berlian yang berwarna hitam. Baru saja Samudra membersihkan badan Gwenny. Keseharian seperti ini sudah biasa, membagi waktu luang antara kerja, mengurus istri, dan anak. Bersyukur ada keluarga yang selalu mensuport segala sesuatunya. "Iya ma. Ma aku titip Binar di rumah, apa pun yang terjadi tetap hubungi Samudra. Untuk Berlian masih dalam pencarian, teman papa yang orang kepolisian juga berusaha mencari." Beberapa pakaian untuk dikemas dibawa pulang, dicuci, dan diganti dengan yang baru. Seperti itu dilakukan setiap minggunya. Rumah sakit seperti rumah kedua bagi Samudra, apapun demi Gwenny ingin cepat siuman dan pulih kembali. Tapi bagaimana dengan kabar Berlian yang seperti ini? Apa Gwenny bisa menerima atau sangat terpukul? Jujur, Samudra tidak bisa membayangkan jika Gwenny tahu bahwa anak mereka hilang. Kini Ardi pun mulai melunak, melihat Samudra yang setiap hari seakan tak ada istirahat menjaga Gwenny. Mungkin benar, samudra sudah berubah dan mencintai Gwenny begitu besar. Aruni mengembuskan napas resah "Bagaimana jika nanti Gwenny tau, Sam. Mama khawatir Gwenny kembali Anfal." Air mata Aruni kembali jatuh. Berkali-kali rasanya ingin menyerah, sebab tidak tega melihat Gwenny terlalu lama menderita seperti itu. Koma, tidur yang entah sampai kapan akan bertahan seperti itu. Padahal ada Binar yang juga sangat membutuhkan pelukan dan Asi dari Gwenny. Samudra memeluk hangat Aruni, hanya bisa mengharapkan keajaiban dari Tuhan. Hanya kuasa-Nya yang mampu mengembalikan keadaan. Di benak Samudra masih terpikirkan akan seperti apa jika Gwenny bangun dari koma. Salah satu bayinya hilang entah kemana sampai kapan harus mencari dari ujung kota dan berakhir kembali ke Rumah sakit? Lelah? Sudah pasti dirasakan setiap hari. Tetapi Samudra dengan sukarela mengurus Gwenny sampai hari ini. "Kita berdoa untuk Gwenny, Ma. Apa pun yang terjadi nanti, kita tetap mendoakan yang terbaik untu Berlian dan Gwenny. Sam selalu mencari keberadaan Berlian, dimana pun itu." "Maafin mama, Sam. Maafin Gwenny yang gak bisa sempurna jadi istri kamu. Mama juga minta maaf, karena mama menjodohkan kamu dengan Gwenny, anak mama yang penyakitan." Samudra meregangkan dekapan sang mama. "Jangan bicara begitu, aku sangat mencintai Gwenny, lebih dari apa pun bahkan lebih dari cinta aku ke mama aku sendiri." Aruni menangis haru. "Mau Sam antar? Besok Sam harus cari Berlian lagi ma. Mungkin ada petunjuk dimana Berlian." "Nggak usah, Sam. Sebentar lagi papa datang jemput mama." "Yasudah, hati-hati dijalan ma. Sam titip Binar, tolong jaga baik-baik. Nanti Sam jenguk kalau ada wakt luang." Aruni menganggukkan kepala. Tentu dia akan menjaga dengan sangat baik. *** Tengah malam, tepat pukul 11 malam, Gwenny mulai menggerakkan jemarinya. Di alam bawah sadar, dia mengikuti jalan yang menuntunnya menuju cahaya terang. Gwenny merasa penasaran siapakah sosok yang ada di balik cahaya terang itu. Seharian penuh Samudra meluangkan waktu seperti ini sudah hal biasa, entah kenapa Sam tidur lebih awal. Dipenuhi kegiatan padat, Samudra tertidur di sofa berbalut selimut yang dibawa dari rumah. Kebetulan ada suster yang menjaga dan sedang melakukan pergantian infus. Dia melihat Gwenny menggerakkan mata. "Ma syaa Allah. Ibu Gwenny..." Gwenny menandakan dengan gerakan kecil dari jarinya. Hal ini belum di sadari oleh Samudra yang masih terlelap tidur, kegiatan sehari-hari yang padat membuatnya merasa ingin tidur cepat dan bangun saat orang-orang masih tertidur disubuh pagi. Suster langsung memanggil dokter Aretha. Kebetulan dokter Aretha dinas dari pagi subuh. Setelah itu, Aretha masuk ke dalam ruangan Gwenny. Memeriksa Gwenny secara menyeluruh "Pak, pak Samudra. Istri anda..." Samudra terbangun. Matanya masih sangat susah dibuka. "Mmh? Ada apa suster? Istri saya kenapa sus.." "Istri anda, sadar, Pak." Mendekati Gwenny. "Gwenn?" Terasa baru kemarin malam samudra tertidur pulas dnegan mimpi yang menjadi kenyataan. Tuhan berada di pihak Samudra, di uji sekian lama dia tetap bertahan hingga hari ini. Gwenny belum merespon apa-apa. Matanya beralih menatap Dokter Aretha yang sedang memeriksanya. "Samudra. Selamat, semua doa kamu terkabulkan. Gwenny sudah sadar kembali." "Terimakasih Dok. Ini juga hasil percaya diri dari Dokter, ada banyak kejutan lain dari Tuhan sepertinya Dok." Hari yang penuh kabar gembira dengan kembalinya Gwenny dari komanya. Rasanya seperti bunga tidur di siang hari, berkali-kali Samudra meyakinkan dirinya bahwa ini bukan dari khayalan meminjam "Sa...Sam... Ba...bayi kita ..." "Ada, tapi kamu belum bisa gendong mereka. Harus pulih dulu.. dan kamu boleh gendong." Samudra dan Dokter Aretha berada diluar kamar Gwenny. "Dok, lalu bagaimana dengan Berlian? Apa yang harus saya lakukan mengenai hal ini. Saya yakin Gwenny akan kembali terpukul akan situasi ini." "Saya juga bingung, Samudra. Saya mewanti-wanti jangan sampai Gwenny shcok lagi. Apa kamu tidak bisa menemukan Berlian dalam waktu dekat ini?" "Berlian hilang saat baru berusian1 bulan Dok. Sangat susah dicocokan dengan foto, apalagi wajah yang belum terbentuk." "Tanda lahir Berlian? Mungkin itu bisa jadi petunjuk utama." "Dibahu kanan ada tanda warna hitam bentuknya bulan sabit. Sampai saat ini belum tau seperti apa infomasi terbaru tentang Berlian." "Kasih tahu Gwenny pelan-pelan. Tapi jangan sekarang, saat kondisi jantungnya sudah kuat. Saya akan pantau dan memberi tahu kamu kapan sebaiknya memberi tahu Gwenny." *** "Sam, makasih ya. Kamu udah setia nunggu aku di sini. "Itu kewajiban aku Gwenn, kamu harus janji sama aku satu hal Gwenn." "Apa itu?" "Kamu janji? Aku akan beri kamu satu hal tapi sedikit demi sedikit. Dan kamu harus janji juga, apapun yang terjadi kamu tetap ada untuk anak-anak. "Aku akan selalu ada. Buktinya aku tepatin janji aku, kan? Lalu liat, Sam. Aku baik-baik aja, aku kembali buat kamu dan bayi kita. Kamu tau? Selama aku nggak sadar, aku ada di jalan yang jauh banget, aku nggak nemuin siapapun yang aku kenal. Tapi suatu saat, akhirnya aku bisa kembali. Itu demi kamu." Kata Gwenny dengan suara lirih. Dia menggenggam tangan Samudra dengan pelan. Samudra diam tertegun harus bicara apa nanti saat Gwenny menanyakan dimana Berlian. "Makan yang banyak, minum obatnya nanti kita biar cepat pulang." "Iya. Tapi, nanti mama bawa si kembar ke sini kan? Oh iya, kamu udah kasih mereka nama? Maaf, aku lama nggak bangunnya " "Uumm.. boleh aja, tapi dokter melarang untuk dibawa kesini. Imunnya masih rentan jadi aku gak berani bawa kesini. Nama mereka Binar dan Berlian." Samudra segala persiapan akan dia katakan. Saat Gwenny menanuakan dimana Berlian? Seribu pertanyaan tidak ada yang pantas untuk dijawab nantinya. "Aku janji sama kamu, aku bakal segera sembuh. Kamu tidur di sini kan? Aku kangen banget sama kamu." Gwenny meminta Samudra untuk tidur di tempat tidurnya. Mungkin sekarang hanya pelukan dari Samudra yang Gwenny butuhkan. "Kamu pasti punya foto mereka kan? Aku boleh lihat?" "Gak suprise dong kalo liat di foto.. nanti aja kalo kamu udah bisa pulang." "Saammm, Please...." Gwenny memasang wajah melas, menatap Samudra penuh harap "Uummm gimana yaaa... gak seru dong gak surpise nanti. Yg jelas gantengnya kaya aku cantiknya kaya kamu hehe" "Ahh kamu mah nggak seru." Gwenny membalikkan tubuhnya membelakangi Samudra. "Yaudah, aku ngambek aja. Kan aku yang hamil, aku yang lahirin, pas lahir aku juga gak tau, masa kamu nggak mau kasih liat fotonya." "Yaaa gimana... aku hapenya rusak kecemplung di got.." ucap Samudra lirih. Dia sengaja agar Gwenny tidak semakin penasaran dengan wajah anaknya. "Nggak tau, ah. Aku ngambek." *** Hari ini Ayla datang ke rumah Arka. Dia merindukan Kayla. Mungkin dengan memeluk barang-barang milik Kayla bisa membuat rindu dihatinya sedikit berkurang. "Kayla, mama datang." Ayla memencet bel rumah milik Arka. Menunggu laki-laki itu segera membuka pintu. Ayla tidak peduli jika nanti Arka mengusirnya. Tapi dia akan terus berusaha meminta izin untuk diperkenankan masuk ke dalam kamar putrinya. Arka yang ada didalam rumah mendengar ketukan dari Ayla. Sengaja tidak membukakan pintu. "Jangan ada yang berani membuka pintu, ingat.. siapapun itu." Arka memperingati asisten rumah tangganya. "Arka, aku mohon buka pintunya. Aku cuma pengen meluk barang-barang Kayla yang masih tersisa..." "Jangan bantah perintah saya! Melanggarnya, berarti mengundurkan diri! Ingat, tidak ada toleransi bagi siapapun yang membuka pintu untuk Ayla." Ayla berteriak dari luar rumah. "Kamu nggak ada hak buat larang aku, Ar. Aku ibu Kayla. Aku yang melahirkan dia, dengan segala tahurhan nyawa aku! Kalau ada yang perlu disalahkan itu kamu! Kamu Ar!" Seperti sudah kehilangan akal sehatnya, Ayla sudah seperti orang depresi saat ini Masih memantau Ayla dari jendela lantai atas. "Jangan ada lagi yang merasa kasihan, membuka pintu kalian saya pecat!" "Tuan, bagaimana dengan kehadiran non Berlian. Kami takut jika tidak ada tuan di rumah, nyonya Ayla datang dan dia melihat keberadaan non Berlian. Kami harus jawab apa?" "Sementara ini saya cuti. Tidak ada yang ditakutkan lagi." "Arkaaaa, buka. Kamu nggak inget? Gimana perjuangan aku saat ngelahirin Kayla? Kamu pernah janji sama aku, kalau aku dan Kayla akan selalu jadi yang berharga buat kamu. Kamu juga janji nggak akan nyakitin aku yang udah berjuang buat lahirin anak kamu. Kamu yang ucapin itu, karena aku udah mau kasih kamu anak!" Ayla menangis, sesekali memukul pintu rumah Arka "Gwenny, kamu harus sembuh dulu. Baru bisa bertemu bayi kamu kalau kamu belum bisa berdiri dan makan, kamu belum saya izinkan ketemu bayi kamu, oke?" Gwenny hanya tersenyum pelan mendengar persyaratan dari dokter Aretha. Dia berjanji akan segera pulih. Sebab dia tidak sabar bertemu dengan kedua anaknya. "Samudra, saya akan terus pantau Gwenny. Jika dia semakin membaik, saya akan pindahkan ke ruangan pemulihan. Segera beritahu keluarga kalian tentang kabar gembira ini." *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN