Bab 26

2072 Kata
Sementara itu, dari luar ruangan bayi, Rangga menatap Samudra penuh dendam. Karena perbuatan Samudra, dia harus kehilangan sebelah matanya. Tidak masalah, Rangga akan membalasnya dengan mengambil kedua bayi itu. Memisahkannya dari Samudra dan Gwenny. Dengan begitu, pasti mereka akan sengsara. Samudra menatap dari kaca inkubator. "Haaiii.. anak Papa, kalian belum dikasih nama. Papa masih bingung mau namain siapa." "Namanya Binar Berlian aja, Sam." Gwenny berdiri di belakang Samudra. "Binar dan Berlian. Kalian mau nama itu? Nanti kalau udah besar kita main sama-sama." Samudra mengajak bicara bayi yang masih berkulit kemerahan itu. "Sam, aku mohon jaga mereka ya. Aku sayang banget sama kalian." Gwenny lantas memeluk Samudra. Seakan benar-benar menyampaikan rindu yang teramat. "Aku akan bersama mereka sampai beranjak dewasa." Samudra memeluk hangat Gwenny. Namun saat itu juga, tubuh Gwenny hilang. Kedua bola Samudra membulat praktis. Ternyata dia hanya berhalusinasi. Kecewa? Tentu. Dia kecewa karena hingga detik ini Tuhan belum mengembalikan istrinya. Samudra kembali mendekati kedua bayinya. Mengambil pulpen yang ada di kantongnya. Diraihnya tangan bayi itu, menyematkan nama pada gelang yang ada di tangan Binar dan Berlian. "Sekarang kalian udah punya nama. Papa sayang kalian, papa izin dulu ke kamar mama, ya. Papa mau jenguk mama kalian." Samudra bergegas keluar dari ruangan bayi, ditambah karena sudah habis jam jenguk bayi. Rangga yang memiliki kesempatan, masuk tanpa diketahui oleh siapapun. "Kedua bayi lucu yang malang, sebenarnya sih bukan lawan gue harus main-main sama bayi. Tapi orang tua kalian, terutama ayah kalian! Dia sudah bikin gue cacat!" Rangga tersenyum Sarkas, menatap kedua bayi itu penuh kesumat. Akibat ulah samudra saat itu, dia harus kehilangan salah satu kornea matanya, Sekang dia hanya memiliki satu mata saja. Tak ingin menyiapkan kesempatan Rangga berhasil mengeluarkan bayi itu dari dalam inkubator. Sekarang, Berlian sudah berada di tangannya. Tinggal satu lagi, Bayi berjenis kelamin laki-laki itu pun harus dia dapatkan. "Sorry, kalian harus gue pisahin." Rangga ingin mengambil Binar, tapi gerakan itu tertahan saat dia melihat suster yang ingin masuk ke dalam ruangan bayi. Dengan cepat Rangga pun langsung pergi dari ruangan bayi, membawa Berlian yang masih dalam keadaan lemah. Suster yang menyadari pintu terbuka lebar tanpa ada petugas yang menjaga, bergegas memberi tahu keamanan. "Cepat! Hubungi petugas keamanan, bayi kembar hilang salah satunya, itu milik keluarga Bapak Samudra." Scurity langsung bergegas, memberikan informasi kepada beberapa rekannya untuk berpencar mencari bayi yang hilang. Seorang suster lantas memasuki ruangan Gwenny, dimana Samudra berada. Karena tadi dia pun sudah sempat bertemu dengan Samudra beberapa saat "Pak, Pak...." Wajah suster begitu panik, dia takut rumah sakit ini dituntut karena sudah lalai dalam menjaga bayinya. "Kenapa suster? Ada apa? Anak saya semuanya baik-baik saja kan?" Samudra ikut panik karena mendengar ada bayi yang hilang. "Maaf, Pak. Salah satu bayi bapak, hilang." "Hilang?! Kenapa bisa hilang sus! Jawab saya kenapa!" Samudra tidak habis pikir kenapa bisa terjadi dengan kehilangan salah satu anaknya. "Tadi, ruangan bayi kosong, Pak. Suster yang menjaga sedang ke toilet" "Saya minta bukti CCTV! Kenapa bisa suster?! Rumah sakit sebesar ini harusnya tidak terjadi seperti ini. Bagaimana pun juga saya akan tuntut atas kejadian ini!" "Maaf, Pak. CCTV yang mengarah ke ruangan bayi, sedang bermasalah." Samudra serasa dibuat gila setengah mati dengan hilangnya salah satu bayinya. Gwenny masih koma, semantara sekarang dia juga harus kehilangan bayinya. Kenapa cobaan terus datang bertubi-tubi? "Apa semua ini ulah dari Ayla?" Samudra menerka nerka semua kejadian yang begitu singkat. Dari berita kematian anak Ayla, Rangga yang ingin mencelakai Gwenny dan sekarang hilangnya Berlian. "Samudra?" Ardi baru datang, dan langsung mendengar kabar buruk yang menimpa cucunya "Kenapa kalian lalai? Saya tidak mau tau! Cari cucu saya!" Ardi terkejut mendengar ini semua, bagaimana nanti jika Gwenny sadar dan mengetahui bahwa salah satu bayinya hilang? Tanpa pikir panjang Samudra bergegas mencari Berlian. "Ini pasti Rangga!" Rangga berjalan di tepi jalan. Tertawa puas atas aksinya barusan. "puas! Gue benar-benar. Gak apa-apa cuma satu bayi seenggaknya mereka pasti menderita. Karena bayinya hilang. Saat Gwenny tau, pasti dia bakal cerai sama Samudra dan balikan sama gue." Samudra yang seharian mencari Berlian kesusah karena masih bayi dan dilaporab kepihak yang berwajib sangat kurang bukti siapa penculiknya. Bertanya disetiap sudut kota, orang dijalan, hingga tunawisma. "Mas, ada laki-laki yang mencurigakan membawa bayi tidak?" "Bayi? Di sekitaran sini nggak ada mas saya lihat." Rangga yang melihat Samudra lantas berjalan mendekati Samudra. Dengan tampang angkuh, dia terus tertawa penuh rasa puas. "Samudra, Samudra. Kasihan sekali kamu." "Lo bawa kemana anak gue! Dimana dia!" Langsung menghajar Rangga ditempat. Rangga memasang wajah remeh. Kedua bahunya terangkat acuh. "Lo kan bapaknya, ngapain nanya ke gue? Belum puas Lo bikin gue cacat?" "Dimana bayi gue!!" Hajar tanpa henti. Samudra seperti orang kesetanan kehilangan separuh jiwanya yang di buang Rangga. Ini jelas membuat Samudra tidak akan memaafkan Rangga dengan cara apapun dengan ampunan apa saja, tidak akan. "Hahaha, Samudra, Samudra. Lo udah kaya orang gila. Terserah Lo mau bunuh gue sekali pun gue gak peduli. Yang penting gue puas, anggap aja anak Lo itu sebagai bayaran mata gue yang udah Lo rusak!" Rangga tergolek di atas tanah. Tidak peduli lagi yang jelas dia puas "Jawab gue Rangga!!" Menginjak kepala Rangga. "Lo yang bermasalah sama gue, jangan lo usik Anak gue!" "Sampai mati pun gue nggak bakal bilang di mana anak Lo!" Menahan sakit disekujur tubuhnya akibat luat perbuatan Samudra "Aaargh!" Menghantam Rangga dengan batu cukup besar. "DIMANA BAYI GUE RANGGA!!" Rangga sudah tergolek tak sadarkan diri. "Apa yang kamu lakukan?! Dia sudah babak belur!" Beberapa warga yang lewat lantas memisahkan Samudra dengan Rangga "Kamu bisa dipenjara kalau menghabisi nyawa dia!" "Masih ada yang membelanya tidak bersalah? Dia yang membuang anak saya tidak tau dimana! Masih bisa untuk tidak dikatakan jahat?! Siapa disini yang sebenarnya jahat! Siapa?!" "Seharusnya kamu jangan main hakim sendiri! Berikan dia pada pihak yang berwajib!" *** Seseorang pemulung paruh baya terkejut saat menemukan seorang bayi ditempat pembuangan s****h. Dia kaget menemukan bayi yang sangat mungil itu. "Ya Allah Nak, kenapa orang tuamu tega membuang kamu di sini?" Dia membawa Berlian ke dalam pelukan. Dia melihat gelang di tangan bayi itu bertuliskan nama Berlian. "Saya nggak bisa rawat kamu, untuk makan saya dan keluarga saya saja saya susah. Tapi kamu tenang saja, saya akan bawa kamu ke rumah seseorang. Di sana, ada rumah seorang dokter. Dia kaya, pasti dia mau merawat kamu." Pria itu memasukkan Berlian ke dalam gerobak s****h miliknya. Membawa Berlian ke tempat yang dia tuju. "Kenapa zaman sekarang masih ada yang tega membuang bayinya sendiri? Padahal banyak di luar sana yang pengen punya anak." Laki-laki itu bergumam sepanjang jalan. Sesampainya di tempat tujuan, dia langsung menetapkan Berlian di depan pagar rumah mewah milik Arka. "Maafkan saya, tapi di sini pasti kamu dirawat dengan baik. Kamu akan jadi anak orang kaya." *** Pemakaman Kayla telah selesai, hari sudah mulai sore. Air mata Arka masih belum berhenti turun, kehilangan Kayla sangat menghancurkan hatinya. Kayla, adalah harta berharga yang dia miliki. Suara bayi terdengar nyaring dipenjuru halaman rumah Arka. Hujan deras mengguyur sebagian wilayah Jawabarat, dari pagi hingga sore ini belum juga berhenti. Pemakaman hanya didatangi oleh kerabat dekat dan keluarga saja. Rasanya baru kemarin Kayla bisa berjalan dan belajar berbicara dengan Arka. Tidak ada kata maaf untuk Ayla meskipun ibu kandung dari putrinya sendiri. Merasa penasaran dengan suara tangisan bayi Arka memilih untuk keluar dari dalam rumah.Kedua bola Arka membulat saat menemukan seorang bayi di depan rumahnya "Astaga, bayi siapa ini?" Hujan membuat udara semakin dingin, apalagi di malam hari seperti ini. Bayi seperti Berlian tidak akan sanggup menahan hawa dinginnya hujan. Masih menangis. Ditambah karena haus dan ingin berada didekat ibunya. Arka membawa bayi itu ke dalam dekapannya. "Siapa yang tega membuang bayi ini?" Arka lantas membawa Berlian ke dalam rumah. Memeriksa kondisi bayi itu. "Bayi ini sepertinya lahir sebelum waktunya. Apa kamu anak dari hasil...." Arka mengantungkan ucapannya. "Tidak, saya tidak boleh seperti ini. Apa pun caranya aku aku menjaganya. Aku sudah kehilangan Kayla. Mungkin anak ini bisa mengobati hatiku yang sakit karena ditinggal oleh Kayla." Segera Arka memesan kaca inkubator untuk segera di antar ke rumahnya. Petugas yang memasang alat itu sedikit bertanya-tanya dan tepikirkan kenapa Dokter Arka sampai susah payah membeli inkubator untuk dirumahnya. "Alatnya sudah tepasang Dok. Ini untuk bayi siapa? Atau Dokter Arka memiliki bayi lagi?" "Iya. Tolong jangan banyak tanya. Lakukan saja yang terbaik untuk anak saya." *** Samudra masih mencari keberadaan Berlian. Dan kini sudah ada di kantor polisi, dibawa warga setempat karena membuat onar pengguna jalan. Samudra yang menerima pengaduan, tetap santai tidak ada yang perlu dipusingkan. Tidak lama setelah itu ponsel Samudra berdering. Pertanda panggilan masuk dari Ardi. Samudra hanya menekan tanda terima panggilan telepon tidak menjawab sepatah kata pun. Hanya terdengar suara dari para polisi sedang menangani tersangka dari berbagai macam tuduhan. "Samudra. Kamu dimana? Segera ke rumah sakit. Ini tentang Gwenny." "Sam di kantor polisi Pa. Ini juga tentang Berlian, aku jelaskan nanti." "Baiklah. Nanti kamu langsung saja bicara dengan dokter gimana baiknya. Saya, saya sudah menyerah. Jika memang Gwenny ingin pergi, saya sudah merelakannya. Kasihan dia." Terdengar suara Ardi yang parau. Putus asa dan merasa tidak tega dengan Putrinya yang terus terbaring bagaikan mayat hidup "Tolong, percayakan pada putri papa. Aku tau ini berat, tapi aku yakin Pa. Gwenny akan kembali untuk kita semua." Ardi mengembuskan napas pelan. Menyerah rasanya. Tidak ada seorang ayah yang ingin melihat anaknya menderita. "Sudalah... Cepat temukan Berlian juga. Jika Gwenny sadar dan tau anaknya hilang. Saya takut dia kembali Anfal." Samudra kembali ke Rumah sakit. Dengan muka yang babak belur penuh luka memar memberanikan diri menemui orang terdekatnya di rungan Gwenny. "Sam, gimana dengan Berlian? Kasih tau mama Sam, berlian ketemu kan? Kasian dia, Sam. Dia itu prematur harus di inkubator Sam. Kalau enggak dia bisa kenapa-napa...." "Ini ulah Rangga ma, semua dilakukan Rangga karena dendam. Sam belum ada bukti apapun untuk penjarakan Rangga saat ini." Sam, gimana dengan Berlian? Kasih tau mama Sam, berlian ketemu kan? Kasian dia, Sam. Dia itu prematur harus di inkubator Sam. Kalau enggak dia bisa kenapa-napa...." "Ini ulah Rangga ma, semua dilakukan Rangga karena dendam. Sam belum ada bukti apapun untuk penjarakan Rangga saat ini." "Semua terjadi begitu saja ma, dia dendam karena Sam membuatnya cacat saat Sam selamatkan Gwenny di hari penculikan. Itu sebabnya kenapa Gwenny sampai seperti ini." Kedua orang tua Gwenny dan Samudra sepakat untuk membuat laporan tentang kejahatan yang sudah Dilakukan oleh Rangga *** Ayla berdiri di sisi jembatan. Sekarang hidupnya sudah benar-benar hancur. Samudra lelaki yang dia cinta sudah bahagia bersama Gwenny. Sebentar lagi mereka akan memiliki seorang anak sebagai pelengkap rumah tangga mereka. Sementara dirinya? Sangat menyedihkan. Dia menikah dengan orang yang tidak dia cintai. Kemudian melahirkan seorang anak tanpa cinta. Sekarang, dia ingin membuat anaknya bahagia, menerima anaknya dan menyayangi anaknya. Tapi kenapa Tuhan justru mengambil anaknya? "Buat apa gue hidup? Buat apa?! Arka benci sama gue, dia nggak ngizinin gue buat meluk Kayla untuk terakhir kalinya. Sejak dia lahir sampai meninggal pun gue nggak pernah mandiin dia." Pandangan Ayla beralih pada air sungai yang mengalir deras. Air sudah merenggut anaknya, sekarang dia pun akan menghabisi nyawanya di dalam air. Mungkin dengan begitu dia bisa bertemu dengan anak yang sekarang dia rindukan. "Kay sayang, mama mau susulan kamu, Nak. Kamu pasti senang kan?" Seperti orang frustrasi berat, Ayla bersiap untuk terjun ke bawah. Rangga yang baru saja membereskan urusannya dengan pihak berwajib. Menelusuri jalanan dengan gaya preman palak dipasar raya. Ekor matanya melihat seorang perempuan muda sedang berdiri di tepi jembatan setinggi 15 meter diatas permukaan air sungai. Cukup dalam untuk tenggelan dari atas jembatan ini. Rangga mendekati perempuan itu. "Hoi!! Lu nggak akan langsung mati kalau lu terjun dari atas jembatan ini!" Teriak Rangga. Ayla beralih menatap ke arah sumber suara. "Lu nggak usah so tau, yang namanya bunuh diri pasti bakal mati! Nggak usah sok peduli, Lo nggak kenal sama gue, Lo nggak tau seberat apa masalah gue!" "Lu mungkin akan mengalami kelumpuhan, bagus ih.. lu belum terjun. Paling dari koma nanti lumpuh, yaaa... silahkan. Gue nggak larang." "Lo nggak tau rasanya gimana ditinggal nikah sama orang yang Lo cinta. Lo nggak tau rasanya gimana dipaksa nikah sama laki-laki asing sampai harus melahirkan anak, Lo nggak tau rasanya gimana cerai dan anak Lo pisah sama Lo dan anak Lo pisah. Dan yang lebih nyakin lo nyaksiin anak Lo meninggal di depan mata Lo dan Lo di disalahkan atas semua itu!" Rangga diam tertegun mendengar itu semua. Semuanya dia rasakan, tapi apa benar perempuan ini begini? "Sejahat-jahaynya gue, nggak mungkin gue sengaja bunuh anak gue sendiri! Jadi buat apa lagi gue hidup!" *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN