Bab 25

1730 Kata
"Dokter tolong!!! Dokter!!" Teriak Samudra melengking memanggil Dokter. "Sam. Aku udah nggak kuat..." suara Gwenny terdengar lirih. Kali ini, bukan hanya sakit dibagian perut saja. Gwenny merasa bahwa detak jantungnya seakan sudah tidak berfungsi lagi. "Sayang, aku mohon. Kamu jangan bicara kayak gitu. Kamu harus kuat, please Gwenny, tahan...." Air mata Samudra sudah tak terbendung lagi, sebelah tangannya menggenggam tangan Gwenny yang sedang menahan rasa sakit. Kecepatan mobil Samudra semakin kencang. Setelah sampai di rumah saki, dengan cepat Gwenny langsung ditanggani oleh Dokter. "Sam, kita harus mengeluarkan bayi Gwenny sekarang. Pendarahannya sangat banyak ditambah air ketubannya sudah kering. Bahaya untuk bayi kamu." "Tapi, Dok. Dia baru 7 bulan. Apa anak saya bisa selamat?" "Saya akan berusaha menyelamatkan Gwenny dan anak kamu." Samudra menganggukkan kepala. Selanjutnya Samudra menghubungi keluarganya memberi tahu kabar tentang Gwenny. Samudra tidak tahu kenapa Rangga bisa menyakiti istrinya. Yang jelas Samudra merasa menyesal karena sudah meninggalkan berkas itu. Jika Samudra tidak meninggalkan berkas itu pasti Gwenny tidak akan keluar dari apartemen. "Maafin aku Gwen." *** Dokter Areta keluar dari ruangan operasi. Kondisi Gwenny saat ini benar-benar sangat buruk. Mungkin untuk menyelamatkan nyawa Gwenny hanya tipis. Jadi, Dokter menyarankan untuk menyelamatkan nyawa bayinya. "Samudra, kondisi Gwenny saat ini kritis. Kita tidak punya pilihan lain. Kita hanya bisa menyelamatkan nyawa bayimu. "Nggak! Dia harus hidup. Aku yakin dia bisa bertahan, pasti ada cara lainnya Dok!" Menentang takdir memang bukan kodrat dari manusia. Tetapi berharap bisa meminta sebuah doa yang akan terkabul. Samudra pernah dengar, kalau kita terus berdoa pada Tuhan, ibarat kita berdiri didepan pintu-NYA. Semakin kuat kita panjatkan doa, pintu itu akan terbuka dengan izin Allah SWT. Seyakin iti Samudra ingin mengembalikan nyawa gwenny yang berada diambang batas antara hidup dan mati. "Kamu ikut saya, temani Gwenny." Di dalam ruanga opersi, ada dokter Aretha dan Dokter Lia. Spesialis jantung dan kandungan. Sekarang, tindakan terbaik sekarang adalah menyelamatkan bayi yang ada di dalam kandungan Gwenny. Kedua bayi Samudra sudah berhasil di keluarkan. Laki-laki dan perempuan. Tubuh mereka kecil dan kulit yang masih sangat tipis. Dua orang suster berjalan mendekati Samudra, memberikan kedua bayi itu pada Samudra. Air mata Samudra tak berhentih mengalir, melihat situasi seperti ini. Di luar sana semua orang juga mencemaskan Gwenny. "Mudah-mudahan cucu kita selamat ya Pa, begitu juga Gwenny. Mama takut pa.... Gwenny.." Aruni harap cemas dengan situasi saat ini. Samudra yang di dalam ruangan tidak hentinya selaiu berdoa untuk ketiganya. Jangan ada lagi yang harus berkorban nyawa, mereka harus tetap bersama. Melihat tumbuh kembang si kembar dari bayi hingga dewasa adalah harapan mulia bagi seorang Ayah. Berkali-kali Samudra menciumi kening Gwenny, membisikan bahwa Gwenny harus bertahan. "Dokter, jantungnya berhenti." Kedua bola mata Aretha membulat praktis. Dia melakukan tindakan Defibrilasi, yaitu tindakan pemberian kejut listrik pada jantung untuk mengembalikan irama atau denyut jantung Gwenny yang tidak normal akibat aritmia atau berhentinya detak jantung seseroang. Alat kejut listrik yang digunakan akan kembali mengaktifkan jantung sehingga organ ini dapat kembali optimal dalam memompa darah ke seluruh tubuh. "Satu, Dua, Tiga, Clear!" Tubuh Gwenny terangkat dalam beberapa detik. Dokter Aretha menatap layar Monitor Holter, salah satu alat medis yang merekam ritme jantung. "Tidak ada respons. Gwenny, kembali, ayo! Ada bayimu!" Dokter Aretha kembali melakukan Defibrilasi. Namun masih belum ada detak jantung Gwenny. Di monitor itu masih menunjukkan garis lurus. Dokter Aretha menimta suster untuk menaikkan tekanan pada alat Defibrilasi itu, namun masih belum ada reaksi apa pun. Jantung Gwenny sudah berhenti berdetak. "Samudra, maafkan saya." Samudra menggelengkan kepala cepat. "Satu kali lagi Dok! Saya mohon. Saya yakin dia baik-baik saja Dok, tolong!" Samudra berharap Tuhan mengabulkan permintaannya. Walau itu mustihal, Samudra tetap yakin dengan Gwenny yang akan bernapas lagi. "GWENN!! GWENNY!!" Samudra menggucang dua sisi bahu Gwenny. Gila memang, menentang takdir dari Tuhan. Menentang orang yang sudah tidak bernyawa. Berharap kembali bernapas? "Suster, tolong dicatat waktu kematiannya." Aretha beralih pada Samudra. "Kalau tidak terjadi seperti kejadian tadi, mungkin Gwenny tidak akan seperti ini. Jantung Gwenny sudah bermasalah, ditambah lambatnya dibawa ke rumah sakit." Dalam beberapa detik memang tidak ada detak jantung Gwenny, tapi Samudra bisa melihat jelas, mata Gwenny bergerak dan menitikkan air mata. "DIA MASIH HIDUP DOK! GWENNY MASIH HIDUP!" Samudra kekuh dengan pendiriannya. Ruangan operasi semakin tegang, kedua bayi Samudra pun sudah ditangani untuk mendapatkan pertolongan. Dokter Aretha kembali melakukan tindakan Defibrilasi. Berkali-kali sesuai permintaan Samudra. Selama beberapa menit, Monitor Holter kembali merekam ritme jmdetak jantung Gwenny. Meski pelan, tapi setidaknya ada harapan. "Jantungnya berdetak." Samudra menangis histeris. Antara bahagia atau sedih sekaligus campur haru. Napas lega dari keluarga terasa seperti menaiki wahana berpacu jantung. "Ma! Gwenny hidup, Ma. Gwenny berhasil." "Alhamdulillah....." Mereka berucap penuh sukur. Tak apa, meski pun sekarang Gwenny koma, setidaknya Samudra memiliki harapan untuk terus bersama Gwenny. *** Arka menggosokkan punggungnya yang sudah tak tegap lagi di tembok. Kali ini dia benar-benar sangat hancur, anaknya sudah pergi dan tidak akan pernah kembali lagi. Harapannya untuk melihat anaknya tumbuh dewasa sudah pupus. Tuhan sudah mengambil putri nya dan ini terjadi atas kelalaian Ayla. Kedua tangan Arka memukul tembok berkali-kali hingga buku-buku tangan Arka mengeluarkan darah. Sakit memang, namun tidak sebanding dengan rasa sakit hati akibat kehilangan Kayla. Putri yang sudah dia jaga dengan sangat baik, merenggut nyawa dalam satu hari saat dia pergi bersama mamanya. "Pembunuh kamu, Ayla. Pembunuh!" Telunjuk Arka mengarah pada Ayla yang juga sedang menangis histeris "Arka.. Arka.. aku mohon, maafin aku Ar. Aku salah! A.. aku.. aku menyesal. Tolong maafin aku." Ayla berlutut di kaki Arka. Beraharap belas kasih pengampunan atas perbuatannya. "Maaf kamu nggak bisa bikin Ayla hidup lagi. Kamu nggak sayang sama dia, Ay. Kamu nggak sayang, padahal dia lahir dari rahim kamu. Kamu sia-siakan dia, sampai dia harus meninggal karena kelalaian kamu. Kamu jahat karena udah ninggalin dia dan kamu jahat karena udah misahin aku dan dia. Padahal aku sama dia udah bahagia. Aku menyesal, menyesal pernah menikah dan mengizinkan kamu membawa Kayla pergi!" Ayla masih tetap tersungkur dikaki Arka. Benar-benar semua hilang dalam sekejap mata. "Arka, aku mohon.. aku menyesal. Aku menyesak Arka!" "Aku bakal tuntut kamu, kamu harus bertanggung jawab!" "Aku nggak sengaja! Aku nggak membunuh Anakku Ar! Ini murni atas dasar kecelakaan karena tenggelam saat bermain. Kamu pikir aku yang membuhnya!? Kayla jelas bahagia bersama aku. Dia senang hati mau berlibur, aku yang melahirkan dia! Aku tau persis seperti apa itu kehilangan. Dan bukan hanya kamu yang merasa menyesal akan hal ini, Aku juga Ar!" Ayla meninggikan suara. Bayangan Ayla kembali pada empat tahun yang lalu tepat saat dia melahirkan Kayla. "Namanya, Kayla. Itu singkatan dari nama Arka dan Ayla. Aku mau dia selalu ada buat kita, Ay. Menjadi pelengkap keluarga kita dan menjadi sumber bahagia buat kita." Arka membawa Kayla ke dalam pelukannya. Merasakan bahagia karena beberapa jam yang lalu anaknya sudah lahir ke dunia. Arka memberikan bayi itu kepada Ayla. Wajahnya persis seperti Arka. "Kamu sayangi dia, ya. Jaga dia baik-baik. Selama aku kerja, tolong berhenti jadi model. Kasih seluruh waktu kamu buat Kayla." "Aku bisa kok ambil job sambil bawa Kayla, nanti kita bisa gantian jagainnya. Aku kerja kamu kerja." "Jangan gitu, lah. Nggak baik buat kesehatan Kayla. Dia bayi, masa kamu bawa-bawa." "Aku bosan dirumah Ar, atau aku bisa kok ambil job yang ringan. Aku gak mau fakum dari dunia model, kamu paham kan maksud aku?" Arka berusaha menahan emosinya. Sejak dulu Ayla tidak pernah mau memenuhi apa pun yang dia mau. Tak ingin merusak momen bahagia, Arka memilih diam. Arka sesak mengingat sekelebat masa itu. "Kamu lihat, karena kamu gila akan karir kamu, Kayla jadi korban. Kamu nggak usah ikut ke pemakaman Kayla. Jangan ikut memandikan dia!" Ayla tetap manangis histeris memohon ampun dikaki Arka. Bahkan untuk melihat seujung kuku pun Ayla tidak bisa menyentuh Kayla untuk terakhir kalinya, ini kutukkan untuk ibu yang jahat seperti Ayla. Ibu yang tidak pernah menginginkan Kayla hadir dari rahimnya, jelas Arka sangat terpukul karena hal ini. "Sekarang anak saya sudah koma. Seperti ada raga tapi tak bernyawa." Ardi menatap putrinya uang kini sudah terbujur dengan alat-alat medis untuk menopang hidupnya. Gwenny koma dan belum bisa diprediksi kapan Gwenny akan sadar. "Gwenny tidak akan bisa melayani kamu lagi." "Sam berharap Gwenny pasti akan siuman lahi Pa. Sam yakin itu, dia nggak selemah yang orang lain bayangkan." Ardi tersenyum miring. "Saat dia sehat saja, kamu masih selingkuh. Apalagi di seperti sekarang." Lebih memilih untuk tidak terpancing.. "Orang lain hanya bisa memandang Sam lebih buruk dari sebelumnya. Tapi papa harus ingat, ada yang jauh lebih menghargai perjuangan Sam selama ini. Putri papa, Gwenny lebih percaya aku dari papanya sendiri." Sebisa mungkin Ardi menahan emosinya. Dia akan melihat perjuangan Samudra jika memang dia mencintai Gwenny pasti dia tidak akan pernah meninggalkan Gwenny. Tidak lama setelah itu Jihan dan Dirga datang. Sesampainya di Bandara mereka lantas bergegas menuju rumah sakit. Yaps, mereka baru pulang dari Bali. Ternyata saat sampai di Jakarta justru dikejutkan dengan kejadian seperti ini. "Sam, gimana sama Gwenny, Sam." Jihan lantas mendekati putranya itu. Tercetak raut wajah yang sangat khawatir tentang Gwenny. "anak kembar kalian gimana? Kandungan Gwenny baru 7 bulan, gimana kondisi bayi kamu, Sam?" "Gwenny masih koma dan anak-anak ada di inkubator ma. Mereka butuh perawatan lebih lanjut, untuk sekarang kita jangan dulu interaksi dengan bayinya." Kehadiran Jihan membuat Samudra lebih tidak menanggapi Ardi yang masih emosi dengan kejadian ini. Harus lebih membuktikan lagi bahwa Samudra mampu. Jihan mendesah resah, dilihatnya Aruni yang masih menangis. Dia tahu perasaan sahabatnya itu. Jihan berjalan mendekati Aruni. Di dekapnya Aruni kedalam pelukan. "Percaya sama aku, Gwenny akan baik-baik saja. Dia sekarang sudah punya dua bayi. Dia pasti nggak mungkin tega meninggalkan anaknya." berberapa hari ini Samudra sudah disibukan dengan mengurus Gwenny dan kantor. Dia lakukan itu semua agar bisa membagi waktunya. "Semuanya baik Dok? Selalu hubungi saya kapan pun perkembangan Gwenny dan anak-anak saya." "Gwenny masih belum ada perubahan, Sam. Sementara bayi kamu, Alhamdulillah sudah menunjukkan perkembangan yang baik. Keduanya sehat, jantungnya sehat. Gwenny tidak menurunkan kelainan jantung itu pada anak kalian." "Sekarang apa boleh untuk dijenguk Dok? Rasanya semakin hari rasa rindu pada anak-anak belum terlaksana. Kalau untuk memenuhi nutrisi bisa darimana?" Sudah, kamu bahkan bisa menyentuhnya nanti. Tapi belum bisa untuk digendong dan keluar inkubator ya Samudra masuk keruang bayi khusus prematur. "Anak aku yang mana ya? Kan belum dikasih nama, mana banyak banget lagi bayinya. Pusing gue." Di papan bayi tertulis nama Ny. Gwenny Arsyalia "Ini bayi kamu, Sam. Karena belum dikasih nama, saya kasih nama ibunya." "Ooh.. iya terimakasih Dok. Memang belum dikasih nama karena belum disiapkan juga." *** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN