Ayla berjalan memasuki area rumah mantan suaminya. Masih ingat saat pertama kali memasuki rumah ini menjadi seorang istri dari lelaki bernama Arka. Kedua ujung bibir Ayla tertarik ke samping, seharusnya pernikahan itu adalah sesuatu yang membahagiakan baginya. Tapi Ayla tidak pernah mendapatkan kebahagiaan dari pernikahan ini. Menikah dengan Arka, adalah sebuah keterpaksaan yang dia lakukan.
Dia sangat mencintai Samudra, tapi Jihan sudah membuatnya dan Samudra harus berpisah dan terjebak dalam pernikahan tak bahagia bersama Arka.
Ayla sudah mencoba menerima Arka, bahkan sampai dia melahirkan Kayla cinta itu tak kunjung tumbuh. Tak ingin larut dalam pernikahan yang tak diharapkan, mereka memilih untuk berpisah.
Ayla bahagia, merasa terbebas dari pernikahan ini. Namun dia harus bisa menerima bahwa Arka memenangkan hak asuh atas putrinya.
Ayla mengembuskan napas pelan. Hari ini dia akan mengajak Kayla untuk jalan-jalan. Setelah sekian lama mendapatkan izin dari Arka, kini dia bisa membawa Kayla dan melepas rindu.
Ayla memencet bel beberapa kali. Hingga pintu terbuka dan menampilkan sosok anak perempuan kecil berusia 4 tahun sambil membawa boneka kecil ditangannya.
"Mama?" panggilnya dengan nada melengking. Kayla, akhirnya bisa bertemu mama yang sangat dia rindukan
"Kaylaaaa... apa kabar anak Mama yang cantik?" Ayla membelai lembut pipi cubby anaknya.
Rasanya ingin membawa pergi jauh dari Arka, dan hanya ada Kayla dan dirinya dimana pun berada.
Gadis kecil 4 tahun itu, sangat suka Wisata Air. Libur panjang akhir tahun akan selesai' jadi Ayla harus menyempatkan waktu sebanyak mungkin untuk putri kecilnya Kayla.
Di dalam mobil Ayla, sudah mempersiapkan kebutuh Vacationnya hari ini. Dari baju, makanan, mainan yang Kayla suka sudah siap. Semoga hari ini sangat menyenangkan, pikir Ayla.
"Kita piknik ke pantai yuk sayang, Kayla mau? Mama udah siapkan semuanya, Kayla mau nggak jalan-jalan sama Mama? Nanti pulangnya nginep dirumah Mama dulu?"
Tidak lama setelah itu Arka datang. Mengelus kepala putrinya. Sebenarnya dia ragu membiarkan Ayla pergi membawa Kayla. Tapi dia juga tidak ingin egois, bagaimanapun pasti Kayla merindukan moment bersama mamanya.
"Papa, Kayla mau pergi sama mama. Boleh kan pa?" Kepala Kayla terangkat ke atas, menunggu reaksi sang papa apakah memberinya izin.
"Iya, sayang. Tentu boleh. Tapi ingat, Kayla harus nurut sama Mama. Jangan jauh-jauh dari Mama."
Kayla mengangguk semangat, langsung memeluk kaki sang papa.
"Makasih papa."
Arka kemudian berjongkok menyamai tingginya dengan Kayla.
"Kayla sayang sama papa." Kayla memeluk hangat tubuh Arka, memberikan kecupan di pipi sang papa.
Ayla menunggu bediri diteras. Menyaksikan hangatnya Ayah dan Anak itu. Pantas saja Kayla bahagia, ternyata Arka adalah sosok papa terbaik bagi Kayla.
Banyak tempat yang ingin di kunjunginya, semoga Ayla bisa meningkatkan mood Anak gadisnya. Karna dulu, Ayla sangat susah dihubungi dan itu membuat putri kecilnya sangat kecewa.
"Ayo sayang, nanti keburu hujan loh." Ayla mengulurkan tangannya. Kemudian disambut hangat oleh Kayla.
Dilihatnya wajah Arka yang seakan tidak mau melepaskan anaknya. Ada rasa tidak ingin Kayla berada dekat dengan ibunya.
Kayla anak yang cukup cerdas. Di usianya yang baru menginjak empat tahun, dia sudah paham kalau papa dan mamanya sudah tidak lagi bersama. Dia paham kalau menanyakan hal ini terlalu awal di usianya akan sangat terbebani.
"Ayla. Kamu bisa membawa Kayla kemana lun hari ini. Aku izinkan, tolong kembalikan dia besok dalam keadaan baik-baik saja. Jaga dia, pantau dia dan jangan lepaskan dia dari pantauan kamu." Arka kembali memperingati. Seperti ada sebuah firasat yang tak baik akan terjadi kedepannya.
"Dia aman, aku tau Kayla. Aku ibunya dan aku paham mana yang baik dan buruk untuk anak aku. Aku bisa jaga dia."
"Aku tau. Cuma aku masih ragu. Kamu kan nggak pernah ngurus Kayla dari dia kecil. Kamu cuma sibuk sama karier kamu itu. Kayla sakit? Kamu kemana? Sibuk Potoshot!"
"Jangan permalukan diri kamu sendiri Ar. Kamu melarang aku? Kamu nggak ada hak apapun lagi. Ingat, ada Kayla yang melihat bagaimana kamu sebenarnya. Kamu marah-marah begini Kayla akan berpikir kalau Papanya nggak pernah sayang sama Mamanya, mau jawab apa kamu Ar"
Arka hanya bergeming. Mencoba menahan emosi yang mulai terpancing.
"Kalau kamu memang memikirkan Kayla, seharusnya kamu bisa menerima pernikahan kita! Bisa mencintai aku dan melupakan laki-laki itu." Arka berbicara pelan, tepat di samping Ayla.
"Hari ini aku ada operasi beberapa pasien. Jaga Kayla!" Arka berlalu begitu saja.
Ayla membawa Kayla pergi. Sesampainya ditempat tujuan' betapa senang hati riang gembira terasa mimpi. Kayla bermain seharian dengan mamanya di pantai.
"Kayla seneng nggak sayang? Nanti kita main lagi yang jauh ya. Jangan bilang sama papa oke?"
"Oke, Mama." Kayla mengacungkan jempolnya. Senyum manis terukir di wajah Kayla.
"Makasih mama, udah ajak Kayla jalan-jalan. Coba ada papa, pasti lebih seru."
"Papa sibuk, nanti lain kali kita pergi sama ppa." Ayla dan Kayla bermain pasir pantai.
Di sana ternyata ada beberapa fans dari Ayla. Mereka bersorak ria saat mengetahui keberadaan Ayla.
"Kaaakk, kak Aylaaaa..." Beberapa orang langsung berkerumun mendekati Ayla. Wajah mereka bersi sangat bahagia.
"Kakk, kak Ayla, minta foto dong...."
"Maaf ya. Saya sedang quality time dengan Anak saya, kapan-kapan kita meet up, oke?" Ayla pergi juga dalam pengawasan Asisten dan pengawalnya. Takut hal ini juga terjadi, karena publik figure sangat rentan dengan Fans.
Tapi tetap saja mereka menarik Ayla dan mengerumuni tubuh Ayla. Mereka terlalu bahagia bisa bertemu dengan Ayla di sini.
Sementara itu, Kayla yang sedang membangun istana pasirnya sudah lepas dari pantauan Ayla.
Kayla, mengambil bola yang menggelinding menuju bibir pantai dikejar oleh Kayla. Hanya dalam hitungan beberapa detik saja, ombak besar berhasil merenggut tubuh mungil Kayla ke tengah laut.
"Astaga! Anak kecil, itu anak siapa?!"
Para pengunjung pantai mendadak ricuh seketika. Bersorak panik saat ombak menggulung Kayla ke tengah.
Ayla yang menyadari Kayla sudah hilang dari pandangannya, mulai ikut panik.
"Kayla!! Kaylaaaa! Anak saya pak, tolong!" Ayla berteriak histeris, kacau, sangat kacau.
Hampir satu jam Kayla masih belum ditemukan. Para Tim SAR sudah ikut membantu pencarian Kayla.
"Mbak, sabar ya mbak. Kita berdoa aja. Semoga anaknya cepat ditemukan."
Ayla yang menangis, menelpon Arka untuk meminta bantuan.
Arka yang sejak tadi memiliki perasaan tidak enak, berniat untuk menghubungi Ayla. Tapi kebetulan, Ternyata Ayla dulu lah yang menghubunginya.
"Hallo? Ayla. Ini udah jam makan siang, Kayla sudah makan? Dia baik-baik saja, kan? Kalau dia rewel, tolong jangan marahi dia "
"Arka.. tolong, Kayla..." suara parau.
"Kayla tenggelam Ar, tolong aku Arka." Kembali tangisnya pecah.
"Apa?!" Kedua kaki Arka lemas. Ponsel yang dia pegang jatuh. Tenggelam? Raga Arka seakan tak bernyawa lagi.
Kedua tangannya terkepal kuat. Menyesal karena membiarkan Ayla membawa putrinya. Ternyata benar, Ayla tidak becus menjaga anaknya.
"Dokter. Pasien sudah ada meja operasi."
Arka tersentak. Bagaimana ini? Dia tidak mungkin melakukan operasi dengan situasi seperti ini. Arka takut, jika dia tidak fokus maka akan berakibat Fatal bagi pasiennya.
***
"Maaf, Mbak. Pasang air sudah semakin naik. Bahaya jika kita terus melakukan pencarian. Kalau pun anak mbak ditemukan itu sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Apalagi usianya masih empat tahun." salah satu Tim SAR memberi penjelasan yang sangat membuat Ayla gila setengah mati
"Kaylaaaa! Kaylaaaa!!!" Histeris Ayla menatap sekeliling air laut. Berjalan menelusuri bibir pantai. Berharap segera menemukan Kayla.
***
"Dok? Pasien susah siap, bisa kita mulai operasinya?" Situasi mencekam di dalam ruang operasi terasa menerkam. Arka yang gemetar tidak tahu harus memulai darimana, dua orang membutuhkan dirinya. Tetapi putrinya jauh lebih penting dari hidup dan nyawanya sekali pun.
Berita yang dia dengar cukup membuat pikirannya terkuras. Arka gagal menangani pasien di meja operasi karena terjadinya pendarahan dan Arka lamban dalam menangani pasien.
"Ya Tuhan...." Arka mendesah resah. Dia keluar dari ruangan operasi dan harus memberikan kabar yang tidak mengenakan.
"Dokter, bagaimana kondisi kakak aku? Dia baik-baik aja kan Dok? Makasih, dokter udah bantu kakak aku buat dioperasi."
Air mata Arka jatuh melihat bocah umur sepuluh tahun ini kini harus hidup sebatang kara.
"Azzam, maafkan om dokter." Bisik Arka pelan, sangat pelan.
Azzam hanya menatap bingung ke arah Dokter Arka. Tapi, baginya Arka sangat baik. Sebab Arka bersedia membantunya untuk membiayai operasi kakaknya. Azzam sudah tidak memiliki kedua orang tua lagi, hanya kakaknya lah yang dia punya sekarang.
"Dokter, kakak aku kapan pulang." Pertanyaan Azzam semakin membuat d**a Arka sesak. Sungguh, Arka tidak bermaksud menghabisi nyawa Luna di meja Operasi. Arka seperti ini karena tidak bisa konsen dalam menangani pasiennya.
"Dokter...."
Arka tersungkur di lantai, tangisnya pecah mengisi koridor Rumah sakit. Teringat kayla yang tidak kunjung di temukan, Arka harus bagaimana menerimanya.
"Azzam, nggak punya kaka lagi ya dok? Kakaaaa." Ada dua orang yang sama kehilangannya, di hari yang sama. Pecah sudah tangis keduanya menggema.
"Kakaa.. Azzam sama siapa, Azzam nggak punya teman lagi kaa.." tangis Azzam tersedu-sedu.
"Azzam, om harus pergi. Nanti Om akan kembali." Dengan tenaga yang masih tersisa, Arka pergi meninggalkan rumah sakit.
***
"Ayla! Kenapa kamu lalai! Berapa kali aku bilang jaga Kayla! Jagaaaaa!" Arka benar-benar lepas kontrol. Memandang Ayla rasanya ingin menghabisi nyawa perempuan itu.
Ayla masih menangis histeris.
"Maaf, tolong maafin aku. Aku lalai menjaga Kayla."
"Minggir!" Mendorong Ayla dengan kencang
"Aku tau, kamu emang nggak pernah terima pernikahan kita aku tau kamu nggak pernah cinta sama aku dan Kayla pun lahir tanpa cinta kita! Tapi kenapa kamu harus bunuh Kayla! Anak kamu, darah daging kamu! Kalau kamu nggak suka sama kehadiran Kayla, cukup! Cukup kamu menjauh dan tidak muncul di kehidupan Kayla!" Arka sudah kehilangan kesabarannya. Dia ikut serta mencari Kayla bersama dengan para Tim SAR. Hampir satu jam kemudian, Kayla akhirnya ditemukan.
Tubuhnya basah, wajahnya pucat pasi. Arka membawa Kayla ke dalam pelukan. Merasakan sesak yang tak terkira. Pertolongan apa pun yang Arka berikan tidak akan berpengaruh apa-apa. Kayla sudah meninggal dunia.
Berita sepeninggalnya Kayla, banyak diliput oleh wartawan. Apalagi Artis seterkenal Ayla akan mudah menyebar.
"Kayla.. mama minta maaf sayang, Kayla bangun nak. Ini mama, Kayla bangun sayang." Arka dan Ayla menangis memeluk jasad anaknya. Berharap ada tanda vital yang muncul. Ternyata tidak ada sama sekali.
Arka yang kalut terus berusaha memberikan pertolongan, menekan d**a Kayla berkali-kali, memberi napas buatan, tapi tidak ada tanda apa pun.
"Minggir kamu!" Mendorong tubuh Ayla dengan kuat. "Jangan sentuh anak aku! Kalau kamu gak lalai, Kayla nggak bakal meninggal!"
Apakah ini imbalan dari perbuatannya sendiri? Ayla membayangkan perbuatannya terhadap Samudra dan Gwenny. Apa yang dia tanam sekarang adalah hasilnya, berimbas dari semuanya kenapa harus Kayla yang merenggut nyawa? Ayla sebagai contoh seorang perempuan sekaligus Ibu yang lalai dalam menjaga anaknya. Hanya mementingkan karir dan popularitas semata, haruskah dia menyalahkan dirinya atas segalanya? Buah hati satu-satunya pergi lebih dulu. Ayla sangat mengutuk dirinya sendiri. Tidak bisa menyentuh jasad terakhir putrinya, tidak bisa juga dia membuat putrinya tetap aman selama bermain. Kalau bukan karena fansnya yang antusias, Kayla tidak akan jauh dari pantauannya. Dan yang paling benar, ini adalah akibat Samudra dan keluarganya. Jika dulu dia dan Samudra menikah pasti dia dan Arka tidak bertemu dan dia tidak akan kehilangan seorang anak.
"Kaylaaaaa!! Kayla! Buka mata nak! Kayla!" Ayla masih histeris.
"Apa yang kamu lakukan ha? Sampai kamu lalai!" Arka menggendong tubuh Kayla.
"Aku bisa jelaskan Ar. Tolong, aku mau peluk Kayla, aku mau minta maaf sama Kayla, Ar."
Arka berlalu begitu Saja. Tidak akan pernah dia biarkan Ayla menyentuh Kayla lagi. Arka membawa Kayla ke rumah sakit, dengan harapan bantuan medis bisa menyelamatkan putrinya.
"Jangan pernah temui Kayla lagi!"
***
"Ini kamu yakin kan nggak ada yang ketinggalan lagi?" Gwenny merapikan dasi Samudra
"Nggak ada kayaknya sayang, udah rapih kan? Tumben banget kesiangan, bisa-bisa potong gaji nanti nih."
"Mau dipotong sama siapa?" Gwenny tertawa pelan. Menoyor pelan pipi Samudra.
"Udah, sama berangkat. Hati-hati kamu."
"Ya sama Papa, kan aku karyawan juga. Oh ya, tadi ada berita kamu liat nggak? Anaknya Ayla tenggelam di laut."
"Aaa..apa? Anaknya Ayla? Tenggelam di mana?"
"Di laut, aku nggak tau bisa terjadi begitu karena hal apa. Masih kecil anaknya kasian loh."
"Ya ampun..." Gwenny bergidik ngeri, "kasian ya Ayla. Kehilangan anak pasti rasanya sakit banget, aku juga nggak bisa bayangin gimana kalau kita kehilangan anak kita. Mungkin aku nggak akan ada semangat hidup lagi."
"Jangan disamakan dengan anaknya Ayla dong, anak kita semuanya baik-baik aja."
"Aku takut aja. Nanti kamu harus jagain mereka ya, janji sama aku."
"Aku janji ibu boosss.." Samudra mengkerucutkan bibir Gwenny seperti Ikan.
Gwenny tertawa pelan.
"Yaudah sana berangkat."
Sebelum berangkat seperti biasa, Samudra menyempatkan untuk mencium kening Gwenny.
Sampai di kantor semua heboh dengan berita Ayla. Tidak habis pikir, bisa-bisa menggosipkan orang yang tertimpa musibah terlebih lagi orang yang sudah meninggal.
"Kok rame banget, ada apa ini?"
"Itu loh, Pak. Anaknya si Ayla pelakor. Meninggal tenggelam, pasti kena karma tuh."
"Saya hitung sampai tiga, kalau belum bubar juga. Potongan gaji diberlakukan sampai jam kalian bergosip, mau?!"
Para karyawan lun akhirnya bubar mendengar ancaman Samudra.
***
"Dibilang ada yang tinggal atau enggak, malah berkasnya yang tinggal. Padahal tadi tuh aku udah wanti-wanti, ada yang tinggal gak, ada yang tinggal gak, dijawab enggak. Ditelpon nggak masuk!" Gwenny mengomel sepanjang perjalanan, menunggu tadi namun tak kunjung datang. Terpaksa Gwenny berjalan keluar dari gedung apartemen.
Dari jauh, Rangga memantau Gwenny di dalam mobilnya.
Wajahnya ditutup masker hidung hitam, baju dan jaket hitam, topi hitam. Hanya terlihat bola mata saja.
"Mana sih ini, Taxi kenapa nggak ada yang lewat, ya ampun. Mana ini berkas penting lagi buat meeting dia ." Kepala Gwenny celingak-celinguk mencari taxi
Rangga masih diposisi yang sama. Kemudian dia mulai berpikir untuk menjadi taxi online.
Berhenti di bahu jalan tempay Gwenny menunggu taxi.
"Taxinya mbak, taxi online. Saya dari pagi belum dapat penumpang."
"Ohh kebetulan, tolong antar saya ke kantor suami saya, ROYAL SAMUDRA GROUP, tolong antar saya ya pak." Tanpa pikir panjang, Gwenny langsung masuk ke dalam mobil berwarna hitam itu
Rangga melajukan mobilnya tapi bukan ke arah yang Gwenny maksud. Jalanan semakin jauh dari keramaian jauh dari perkotaan.
Masih diam terus membawa Gwenny sejauh mungkin.
"Pak, maaf pak, ini kita salah jalan. Harusnya tadi itu belok kana. Kenapa jadi ke sini?" Gwenny melirik ke belakang, menunjuk jalan yang dia maksud.
"Pak, dengar saya nggak sih? Saya harus ke sana, suami saya mau meeting!"
Rangga membuka masker dan topinya. Seringai senyum menyeramkan nampak jelas di spion dalam mobil.
"Rangga?!" Gwenny yang panik lantas menarik kuat rambut Rangga hingga Rangga mengerem mobil secara mendadak, Gwenny tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dia lantas keluar dan berjalan secepat mungkin meninggalkan Rangga.
Tangannya bergetar, mencari ponsel untuk menghubungi Samudra.
"Sam, angkat, Sam. Please....." Gwenny berlari menjauh dari Rangga, meski perut terasa keram, Gwenny tetap memaksa untuk berlari.
"Hahaha! Kita sudah lama rupanya, kamu darimana Gwenn hahaha mau bersenang-senang dulu?'
Kamu jangan mendekat, Rangga! Kamu nggak liat? Aku lagi hamil, kamu jangan sakiti aku
Samudra yang tengah meeting, menjawab telpon dari Gwenny.
"Iya sayang, dokumen aku dibawa nggak?" Samudra masih menunggu jawaban dari lawan bicara.
"Sam, tolong aku, Sam. Tolong." Suara Gwenny terengah-engah. Merasakan sakit dibagian perut karena harus berlari menjauhi Rangga.
Samudra di buat penasaran, ada apa sebenarnya. Orang yang ada di ruangan meeting saling pandang ikut merasakan kepanikan.
"Gwenn, kamu dimana sekarang Gwenn? Kamu tenang, share lokasinya ada dimana."
"Rannga kejar aku, dia mau nyakitin aku, sakit, Sam...." Gwenny share lokasi ke Samudra. Membuang ponsel ke dalam semak-semak takut jika Rangga tau dan merenggut ponselnya
"Rangga, kamu mau apa lagi, Please, jangan apa-apain aku!" Gwenny berada di jalan buntu. Kali ini dia merasakan sakit yang tak terkira. Bukan hanya dibagian perut, tapi dia Marasa jantungnya seakan berhenti bekerja
Tanpa pikir panjang Samudra meninggalkan ruangan meeting. Menelusuri Maps yang dikirim Gwenny, jalanan yang jauh dari pusat kota.
"Hahahha aku cuma mau kamu menyadari isi hati aku yang sesungguhnya Gwenn haha."
"Rangga, sampai kapan sih aku harus bilang. Aku nggak bisa terima kamu! Apalagi sekarang aku udah nikah sama Samudra. Aku juga lagi hamil, Please..." Gwenny menangis, takut jika seandainya Rangga menyakiti calon anaknya.
Kecepatan mobil samudra melebihi batas maksimal. Hampir sampai ditempat yang Gwenny bagikan.
Kondisi Gwenny sudah sangat menghawatirkan, darah segar mengalir di betisnya. Disertai cairan bening yang deras. Gwenny tahu, itu adalah air ketubannya yang pecah. Akibat terjatuh dan berlari dari kejaran Rangga.
Rangga yang semakin mendekati Gwenny. Siap menerkam kapan pun dia mau, obsesinya masih tinggi.
"Hahaha jangan takut, aku baik, gak akan celekai kamu sedikit pun hahha."
"b******k!" Samudra lantas menarik kasar Rangga dari belakang. Membogem keras hidung Rangga.
"Lo gila! Lo mau bunuh istri gue?!" Samudra kalut, dia kembali menghantam wajah Rangga dengan pukulan yang amat keras, membuat tubuh Rangga tersungkur di atas tanah
Rangga balik memukul tubuh Samudra.
"Dia milik gua! Cuma gua!! Hahaha." Teriak Rangga seperti orang kesetanan.
Samudra mengambil ranting yang ada di dekatnya, tanpa basa nasi Samudra menusuk tepat benda itu di mata kanan Rangga.
Rangga menjerit, menahan sakit yang teramat. Cairan merah mengalir dengan deras
"Sam...." Suara Gwenny terdengar lirih, wajahnya pucat pasi.
Samudra tinggalkan Rangga seorang diri di jalan buntu. Bergegas membawa Gwenny pergi ke Rumah sakit terdekat.
"Gwenn, kamu tahan sedikit. Kita sebentar lagi sampai di Rumah sakit."
"Aku nggak kuat Sam... Sakit ..." Gwenny menangis, sekujur tubuhnya sangat sakit.
***
Bersambung