"Kau cukup hebat. Tetap saja, aku adalah orang yang memandumu, makanya gerakanmu baik-baik saja." Aluna melepaskan pelukan, ia menatap Devan dengan datar. "Kau tahu caranya merusak kesenangan orang lain "Dan kau tahu caranya membuat orang lain tersenyum." Devan menarik dagu Aluna, memberi kecupan kecil di kening wanita itu, "Kau harus istirahat sekarang." Aluna memegangi keningnya sembari menatap Devan yang berjalan ke arah pintu keluar. Saat pria itu meraih gagang pintu, Aluna membuka mulutnya. "Devan." "Hm?" "Mimpi indah." Devan tersenyum kecil, "Kau juga." Pintu tertutup. Aluna merasa aneh. Rasanya selama ini kehidupannya berjalan dengan lancar? la mendapat pelayan yang baik, uang, sahabat, dan seorang suami yang hebat. Tapi Aluna tahu, ancaman sesungguhnya akan datang saat har

