Semakin kesini mengapa kisah cintaku semakin rumit saja rasanya. Aku hampir tidak tau apa yang sebenarnya hati ini rasakan.
Apakah Cinta atau hanya terbawa perasaan saja. Apa iya, hati ini bisa mencintai dua laki laki sekaligus? Ingin mengabaikan semuanya tapi hati ini melarang. Ingin tetap memilikinya bukankah itu terlarang? Aku harus mengambil keputusan. Meski tidak mudah, karena pasti ada hati yang akan terluka.
Berfikir realistis mungkin mudah bagi mereka yang tidak pernah berada diposisiku. Pastinya semua akan menyalahkanku jika aku memilih bertahan dengan salah satunya. Mereka sama sama ada yang memiliki. Dan aku yakin semua kesalahan akan tertuju padaku. Ya , Hanya padaku. Aku akan dianggap sebagai pelakor, atau perebut pacar orang. Meski mereka tidak paham apa yang sebenarnya terjadi. Tetap saja endingnya akulah yang tertuduh dan bersalah.
Jujur dari hati yang paling dalam, perasaanku saat ini bingung. Aku sebenarnya mencintai siapa?
"Mbak Liya, Abang Deddy ngapain tadi? Bukannya Mbak dan Abang sudah putus ya?" Tanya Yanti yang mungkin sedari tadi penasaran menunggu penjelasanku.
"Gak tau juga Yan, tadi kan belum sempat bicara terus ada pak Hadi", jawabku sambil naik ke atas tempat tidurku.
Malam pun semakin larut. Teman teman sekamarpun mulai tak terdengar lagi celotehannya. Mereka satu persatu mulai tertidur. Akupun mulai memejamkan mata.
Pagi ini adalah hari terakhir perkuliahan. Setelah ini kami dihadapkan dengan Karya Tulis Ilmiah. Tugas terakhir seorang mahasiswi kebidanan. Rasanya waktu begitu cepat berlalu. Banyak kenangan kenangan praktik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Tak terasa kami akan segera lulus. Ada rasa senang dan juga sedih.
"Mbak Liya..",
Aku kenal sekali suara yang memanggilku.
Akupun menoleh.
"Iya pak..",
"Nanti tempelkan pengumuman untuk pembagian Dosen pembimbing Karya Ilmiah di Mading ya".
"Mbak Liya nanti ke ruangan saya ambil kertasnya".
"Iya pak,".
Kami di kampus memang seperti itu. Entah sepertinya secara otomatis sikap Kami dan cara bicara kami formal seperti dosen dengan mahasiswanya. Terkecuali hanya berdua saja. Dia akan berbeda, meski kadang aku mencoba bersikap sama. Dia selalu membuatku gagal move on. Perhatiannya yang bikin hati ini luluh lantah. Membuat aku hilang akal bahwa hubungan ini tidak wajar dan terlarang.
Tapi dimataku, dia adalah sosok laki laki sempurna.Dan hati ini pasti akan luluh kembali.
Kubaca dengan teliti nama nama dosen pembimbing yang aku ambil di meja ruangan Pak Hadi tadi. Namaku menjadi prioritas ku,
"Astaga..., Dosen Pembimbing 1 ku pak Hadi",
Aku ragu menempel Kertas ini di Mading.
Kenapa aku harus dibimbing langsung olehnya. Pasti aku akan menjadi bahan pembicaraan lagi. Aku harus menemuinya. Meminta untuk merubah dosen pembimbingku.
"Tok tok tok.., Assalammualaikum pak.."
"Waalaikumsalam.., masuk mbak Liya".
"Hmm.. Pak, Bapak gak salah ngetik dosen pembimbing 1 untuk saya?", tanyaku agak ragu .
Ia mendongak kan kepalanya sambil meletakkan Bulpoin yg sedari tadi ia pegang entah menulis apa.
"Kenapa? kamu gak mau saya bimbing langsung?", tanyanya balik.
"Bukan begitu, saya hanya tidak mau ada berita berita tidak menyenangkan lagi".
"Gak usah mikirin yg bukan bukan. Kamu fokus dengan KTI kamu. Jangan sampai telat, Minggu depan saya tunggu Judul proposal kamu di meja saya."
Ia melanjutkan menulis lagi tanpa melihat ke arahku yang menatapnya dari tadi.
Aku pun beranjak keluar dari ruangannya.
Mencoba meyakinkan diri semua akan baik baik saja.
Jujur, meski perasaan ini masih jelas ada. Tapi akupun lebih memilih rasa takutku utk ku pupuk agar aku tidak melampaui batas lagi. Aku tidak ingin menjadi pergunjingan lagi di kampus dan asrama. Entah, kenapa ia masih saja seperti merasa tidak bersalah.
***
Suasana di asrama kali ini sangat ramai. Mahasiswa lebih antusias menghadapi KTI. mungkin karena kami tidak perlu berangkat pagi untuk kuliah dan tidak ada lagi praktik. Kami hanya fokus menyusun laporan untuk penelitian kami nanti. Apalagi hari ini malam Minggu. Jatah weekend yang kebanyakan mahasiswa menerima tamu ataupun keluar untuk hang out.
Aku yang sedari tadi duduk di teras toko asrama sedikit terkejut melihat dari arah barat sosok Deddy datang menghampiri ku.
" Ta, Jalan yuk nanti. Aku jemput jam 7 malam ya..", Sambil tersenyum berharap aku menyetujuinya.
Aku diam sejenak, bingung harus mengiyakan ajakannya atau menolaknya.
"Hmm... aku.., sebenernya janjian ma anak anak Ded, mau ke Swalayan belanja", jawabku asal.
"Ayolah ta.., belanja kan bisa besoknya, malam Minggunya bisa lewat. Kamu kan hampir KTI, pasti bakalan susah jalan nantinya ",
Aku merasa tidak nyaman, tapi entahlah perasaan ku ini antara senang dan tidak senang.
"Hmm... baiklah.., ".
"Sip, nanti aku jemput di sini lagi ya jam 7",
Sambil tersenyum manis dia berlalu pergi.
Aku bingung dengan perasaanku saat ini. Seperti tidak bahagia.
"Mbak, nanti malam kita sewa VCD film hantu yuk, kita nonton sepuasnya di kamar bareng anak anak.", kata Yanti sambil ngunyah cemilan yang dia beli di toko tadi.
"Aku mau keluar ma Abangmu",
"Bang Deddy?",
Aku mengangguk kan kepalaku. Sambil melihat respon Yanti.
"Mbak balikan ma Abang??",
" Gak, aku gak balikan",
"Lha terus ngapain malmingan bareng Abang?",
"Aku penasaran aja, kenapa dia bersikap seperti ini. Mungkin nanti aku bisa tau jawabannya".
"Oh.., ketahuan pak Hadi nanti gimana?",
" Kenapa?? apa urusannya dia?",
"Biasanya kan dia ngecek mbak ada di asrama apa gak, kalo malam Minggu begini".
"Kawaaaaaannn!!, nanti malam kita nobar layar tancap di ruang makan, Film Kuntilanak"
Teriak suara si Astri dari lantai bawah .
"Yess, gak usah sewa VCD kalo gitu.", kata Yanti antusias.
.***
Jam 18.50 wib.
Aku sudah berpakaian rapi.
Dan aku menunggu sms dari Deddy.
Ta, aq di bwh
Aku matikan ponselku. Aku simpan di tempat biasa. Kuturuni tangga pelan, aku liat mahasiwa sudah banyak yang duduk menunggu nobar dimulai. Aku melirik seseorang yang sedang sibuk memasang Layar dan mempersiapkan semuanya. Aku pura pura tidak melihatnya. Aku yakin dia pasti nanti akan bertanya kepada Yanti. Aku mengisi buku keluar, dan segera menghampiri Deddy yang sudah ada di depan teras toko.
Kaos putih dipadupadankan dengan celana jeans lusuh dan rambut lurus yang basah, Aroma parfum maskulin yang segar. Wangi khas Deddy sejak dulu. Dia terlihat tampan malam ini.
Aah... kenapa aku ini.
"Yuuk naik",
Aku membonceng dan kamipun pergi dari asrama.
**Di Asrama**
"Mbak Yanti, kesini", Pak Hadi memanggil Yanti sebelum film dimulai.
"Iya pak,",
"Mbak Liya pergi kemana itu?"
"Hm.. gak tau pak kemana, cuma bareng sama Abang", jawab Liya jujur.
"Deddy?"
"Iyaa pak, bang Deddy ngajak mbak Liya malmingan",
"Mbak Liya pacaran lagi sama Deddy?",
"Kalau kata mbak Liya tadi sih gak pak, tapi gak tau juga pastinya".
"Ya sudah, makasih ya".
***Alun Alun***
"Kita makan sate ya ta?",
"Terserah kamu Ded",
Kamipun duduk di lesehan sate yang cukup Virall di kota ini. Deddy memesankan pesanan kami.
"Ta.., kita balikan ya?",
Aku sangat terkejut secara tiba tiba Deddy ngajak balikan tanpa basa basi dulu.
Bagaimana ini?
Apa yang harus aku lakukan?
Kenapa rasanya sulit sekali menjawab permintaan Deddy?
Kenapa rasanya permintaan ini membuatku ragu dan bingung?
**Share, ❤️ dan Koment ya kawan.., Biar aku semangat nulisnya?**