Aku terdiam sambil melihat mereka berbincang bincang dari kejauhan. Sesekali tangan mereka bersentuhan. Ada rasa cemburu di hati ini.
Akhirnya sepasang mata melihatku yang sedang memperhatikan mereka sejak tadi.
Seorang gadis yang tadinya bersama Deddy berjalan menghampiriku.
"Liya ya..?" tanya nya langsung sambil menyodorkan tangannya ke arahku.
"Iya.., Aku Liya, Mbak siapa ya?" tanyaku balik.
"Aku Mila, pacar Deddy". jelas nya sambil menjabat tanganku.
"Oh... kamu ada perlu denganku?",
"Iya, ada yang mau aku bicarakan sama kamu".
"Aku langsung aja ke poinnya, kamu mantannya Deddy kan?"
Aku sedikit terkejut dia menanyakan hal itu. Sambil menganggukkan kepala aku penasaran apa yang sebenarnya mau ia bicarakan.
"Deddy cerita semua tentang kamu sama aku, ternyata Deddy sempat balikan sama kamu kamrin? padahal ia sudah pacaran sama aku".
Belum sempat aku jawab, ia melanjutkan kalimatnya.
"Aku gak nyangka sih, Deddy sempet selingkuhin aku, meski pada akhirnya dia lebih memilih aku ketimbang kamu",
Rasanya seperti ada yang menusuk dihati. Perkataannya membuatku merasa sakit hati. Entahlah, apa maksud semua ini. Kenapa dia mengatakan semua ini. Jelas jelas aku sudah tidak punya hubungan dengan Deddy.
"Aku minta sama kamu, kamu hargai keputusan Deddy. Aku minta sama kamu, jangan pernah kamu hubungi Deddy lagi. Aku tau, Deddy belum sepenuhnya move on dari kamu. Tapi aku yakin, dia bakal move on sepenuh nya dari kamu".
" Maaf ya mbak, pertama, jujur waktu kami balikan lagi aku gak tau Deddy sudah punya pacar. Kedua, kami sudah putus tepatnya tadi pagi di kontrakannya bang Arul. Ketiga, aku gak punya niatan buat merusak hubungan kalian. Justru tadi aku yang memilih untuk mundur dari hubungan ini." Aku sedikit emosi seolah olah, aku yang mencoba merebut Deddy lagi.
"Makanya aku menegaskan lagi sama kamu, aku gak mau kejadian kemarin terulang lagi dalam hubungan ku dengan Deddy. Kamu pasti paham kan? Apa yang aku maksud?",
Sungguh menguras emosiku. Dia mengungkit hubunganku bersama Pak Hadi yang mungkin bukan rahasia lagi. Sungguh sakit rasanya dicap wanita perusak hubungan. Meski tidak terucap kata seperti itu, namun perkataannya mengarah kesana. Aku mencoba menahan emosiku.
"Jangan khawatir mbak, aku gak bakalan ganggu hubungan kalian. Semoga kalian langgeng. Maaf, perlu mbak tau, yang ngajak balikan kemarin adalah Deddy. Bukan aku, Kalo udah gak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku permisi mau kembali ke kamar.",
"Oke, Aku pegang omongan kamu. Jangan sampai aku dengar, kamu dekatin Deddy lagi."
Mengapa aku yang selalu disalahkan? Dan Deddy, hanya diam saja melihat kami dari kejauhan. Sungguh sangat menyakitkan.
Gadis baik apaan. Dia hanya bisa menyalahkan aku saja. Jelas jelas Deddy yang hianatin dia. Masih saja nyalahin aku yang sebenarnya adalah korban kali ini. Kasihan sekali aku ini, kisah cintaku harus berakhir drama seperti ini. Aku butuh hiburan. Apa karma ini masih belum berkesudahan?
***
Aku tertidur sampai teman teman kamarku sudah pada datang.
"Mbak Liya.. Tumben sore sore gini masih tidur?" kata Yanti sambil nyodorin oleh oleh dari rumahnya.
Apa aku harus cerita, dan harus aku mulai dari mana? Aah.. biarlah mereka tau dengan sendirinya. Aku malas menceritakan kisah sedih ini. Aku ingin menghibur diri saja. Aku mau melupakan semuanya. Kejadian kejadian yang menguras pikiran dan emosi jiwa.
Perkuliahan dimulai lagi. Mata kuliah semakin hari semakin bikin pusing. Tugas tugas yang menumpuk, Praktik Laboratorium yang tidak berkesudahan. Tapi justru kesibukan ini membuatku lupa dengan segala permasalahan yang terjadi kemarin. Drama percintaan yang membuatku pusing kepala.
Ujian sudah hampir tiba. Aku harus bisa fokus mempertahankan nilai nilai ku. Agar beasiswa ku tidak diganti kan dengan mahasiswa lainnya. Menyemangati diri sendiri. Kini Tak ada sosok yang spesial menyemangati diri ini. Namun aku harus tetap semangat.
Tet..tet..tet...
Bel tanda pulang sudah berbunyi.
Anak anak yang bermuka letih dan lesu berganti ceria. Maklumlah, seharian dikelas dan di laboratorium. Bel tanda pulang seakan akan adalah penyelamat kehidupan kami. Rasanya ingin cepat Praktik klinik lagi. Kami lebih senang praktik klinik lapangan. Bisa cuci mata. Hihihi..
"Mbak Liya.., ikut aku yuk ke kantor. Mau bayar SPP", ajak Yuni yang sedari tadi tampak lesu akibat semalam begadang telponan dengan pacar barunya.
Kami pun berjalan menuju kantor TU.
" Mbak Liya, habis ini beli rujak bihun yuk.. pengen yang pedes pedes", Ajak Yuni yang udah ngiler duluan.
"Saya dibelikan ya mbak Yanti", Tiba tiba ada suara nyeletuk dari arah belakang kami.
Kami spontan menoleh.
"Eh, pak Hadi.. mau dibelikan rujak bihun pak?" Yanti mulai sok akrab.
"Boleh mbak Yanti, nanti saya ambil ke asrama".
" Mau yang petis apa kacang pak? cabe berapa?" Yanti serius banget terima pesanan.
"Tanya ma mbak kamu, dia tau kesukaan saya", sambil ngeloyor ke ruangannya, meninggalkan kami yang saling bertatapan.
Apa dia tidak sadar, kalau di ruangan ini bukan hanya ada kami saja. Cari perkara saja ni orang.
"Mbak Liya, ke ruangan saya sebentar", Sambil terus berjalan ke ruangannya dia sedikit berteriak.
"Apa apa an sih ni orang", Lirihku.
"Iya Pak?",
" Masuk mbak ",
"Besok, Dr. Roan minta masuk di jam 19.00wib."
"Haduh pak, malem banget",
"Iya, bliaunya tadi telfon saya. Siang nya masih ada acara di RSUD".
"Baik pak, nanti saya sampaikan ke PJMK nya",
Sambil menyodorkan Bulpen kalung berwarna pink di atas mejanya ke arahku,
"Ni buat kamu", suaranya lebih pelan.
"Buat saya pak?"
Dia mengangguk sambil sok sibuk mencari sesuatu dilaci.
"Ya sudah, cepat kembali ke asrama. Jangan lupa rujak saya nanti saya ambil ke sana".
Sambil tersenyum menggoda inilah yang membuat aku gagal move on.
" Iya pak, Terima kasih" Aku mengambil bulpoin dari atas mejanya dan memasukkannya ke dalam tasku. Aku tidak mau ada yang tahu.
"Sudah Yan?"
"Sudah mbak",
Kami pun kembali ke asrama sambil bercerita banyak mulai dari pacar baru Yanti, mantan pacarnya sampai akhirnya sampai di topik Deddy.
" Abang ma mbak gimana?"
"Kita dah putus Yan, kemarin".
"Iya kah??, kenapa?? Bukannya baru CLBK?"
" Abangmu udah punya pacar sebelum CLBK ma mbak",
"Serius mbak??, Waaah minta dihajar Abang ini".
"Sudahlah., biarin.. mungkin ini jalan terbaik, sekali kali mbak mau ngejomblo",
"Yang naksir mbak Liya lho banyak, Ngapain ngejomblo".
" Capek tau, istirahat lah".
"Aah.. ,rujaknya masih Mak?" Yanti langsung gak sabar pesan rujak di depan asrama.
"Ada nak, ada.., mau rujak apa?"
bla..bla..bla..
"Pak Hadi tadi mau rujak apa mbak?"
"Rujak petis, cabe 1 yang kecil Mak". kataku kepada Mak.
"Hm.., paham bener yak",
Aku mengedipkan mata pada Yanti, khawatir si Mak jual rujak berfikir yang macam macam.
Setelah selesei kamipun kembali menuju asrama, sebelum masuk pagar kami dikejutkan dengan Deddy yang berdiri di samping pagar asrama.
"Ngapain bang disini?" Tanya Yanti dengan nada rada ketus.
"Ada perlunya dengan Liya",
"Ada apa Ded? ini bukan jam berkunjung, nanti ketahuan dosen kena sanksi kita".
"Sebentar aja".
Sambil menarik tanganku, Deddy mengajakku menepi di dinding sebelah asrama.
"Ta, aku mau kita.."
Tit..tit..
Klakson sepeda motor milik pak Hadi.
"Mbak Liya, ini bukan jam berkunjung, masuk ke asrama.
"Mas Deddy, gak boleh ke asrama Akbid diluar jam berkunjung".
"Eh..iya pak," Sambil melepas genggaman tangan Deddy, aku bergegas masuk ke asrama.
"Mbak Liya, titipan saya mana?"
"Maaf pak, ini", sambil menyodorkan rujak bihun pesanannya aku melihat raut wajah Deddy yang tidak senang dengan kejadian ini.
Akupun buru buru masuk lagi ke dalam asrama dan menaiki tangga ingin lekas sampai dikamar.
"Mbak, Abang ngapain tadi?" tanya Yanti yang mungkin penasaran sedari tadi.
"Nanti aku ceritain, mau kekamar mandi dulu". jawabku sambil mengalihkan perhatiannya.
Di kamar mandi aku masih penasaran sebenarnya apa yang akan dibicarakan Deddy tadi. Mengapa Deddy masih memanggilku dengan panggilan cinta. Kepalaku jadi pusing. Mengapa rasanya semua cepat pergi, dan cepat pula kembali. Deddy yang sudah jelas jelas pergi kini tiba tiba datang kembali. Pak Hadi yang sudah lama menjaga jarak, Tiba Tiba kini dekat kembali. Mengapa perasaanku ini semakin mendrama.
***