Hari ini cuaca sangat cerah, aku pergi pagi pagi sekali agar bisa puas jalan jalan di Mall nanti. Karena hari ini hari Minggu jadwal kembali ke asrama pukul 17.00 wib. Teman teman bakal pada datang dari jatah pulang mereka. Aku naik Angkutan umum dan rencana pertama aku ke kontrakan sahabat karibku. Aku sengaja tidak memberitahunya biar surprise. Baru nanti jam 10.00 wib aku lanjut ke mall.
"Kiri pak"..
Aku berhenti di depan gang kontrakan sahabatku. Aku membawa oleh oleh makanan kesukaannya, Rujak bihun pedas. Pasti dia sangat suka.
"Yank...,Yank..."
Klek, .!! pintu dibuka .
"Yank, kamu kok gak ngabarin kalo mau kesini?",
"Gak surprise donk kalo aku kasik kabar,", sambil nyengir aku nyelonong aja masuk ke dalam.
"Ni aku bawain rujak bihun super pedas spesial buat kamu", sambil kusodorkan bungkusan ke arahnya.
"Lho.., ini motor Deddy kan?"
Aku lihat motor matic hitam parkir di dalam ruang tamu. Memang sih, aku datang pagi banget. Jadi wajar, motor masih pada ada di dalam rumah. Tapi kenapa motor Deddy di sini?
"Yank.., sini ikut aku ",
"Aku mau ngomong sesuatu, kamu duduk sini",
"Ada apa yank? kayaknya kamu serius banget",
"Yank.., sebenernya aku repot mau ngomong apa ke kamu. Cuma aku kudu ngomong meski abangmu gak bolehin aku ngomong dulu.
Deddy ada di sini, dia nginep disini.".
"Deddy? dia bilang nya pulang ke rumahnya yank..",
"Aku kasik tau kamu ya, tapi janji kamu harus berfikir dengan kepala dingin."
Aku semakin penasaran, apa sebenarnya yang ingin dikatakan sama sahabatku ini. Selama ini dia tidak pernah menyembunyikan hal apapau. dariku.
"Deddy, kemarin main ke sini. Dia bareng sama cewek . Deddy ngenalinnya ke abangmu dia pacarnya. Spontan kemarin aku kaget smaa abangmu. Tapi kita jaga perasaan si cewek itu.
pacarnya itu teman sekampus nya. cuma beda kelas. Mereka jadian sebelum kalian balikan".
Entah apa karena mulai ada perasaan atau karena merasa dibohongin, hatiku terasa sakit mendengar penjelasan dari Hafshah. Aku gak bisa berkata apa apa, hatiku berdegup kencang . Dan tanpa terasa air mataku pun mulai mengalir dengan sendirinya tanpa bisa dihentikan. Aku menangis tanpa bersuara. Ternyata benar, Deddy hanya ingin membalas sakit hatinya kepadaku.
"Yank.., kamu yang kuat ya, yang sabar."
"Sekarang ceweknya Deddy juga disini?",
"Gak.., dia diantar pulang semalem",
"Deddy tidur sendiri didalam,"
"Aku mau selesein semua ini yank, aku gak bakalan marah, karena mungkin ini balasan yang pantas aku terima. Aku mau ketemu Deddy."
"Iya..., terserah kamu. sebaiknya kamu selesein".
Aku beranjak dari kamar Hafshah, dan aku menuju kamar yang biasa aku tempati ketika aku bermalam disini.
Klek.!! pelan pelan aku buka pintu kamar.
"ta...!".
Deddy ternyata sudah bangun, dan sedang menelpon dengan seseorang. Dan entah kenapa aku yakin dia sedang menelpon pacarnya. Dia segera menutup telponnya. Dia beranjak dari tempat tidur dan menghampiriku.
Aku hanya bisa menatapnya, dia salah tingkah.
"Kamu kok bisa ada disini?"
"Lebih tepatnya, aku yang tanya, Kamu kok ada disini?"
Deddy salah tingkah, Dia menyeret ku untuk duduk di pinggir tempat tidur.
"Sorry ta, aku bohongin kamu. Aku gak pulang ke rumah, aku ada acara sama temen temen di sini, makanya aku nginep di kontrakannya bang Arul".
"Kenapa harus bohong? apa pernah aku ngelarang kamu kemana aja ?"
"Aku gak enak ta, nanti kamu berpikiran yang aneh aneh".
"Yank, aku minta maaf ya kalo aku pernah nyakitin perasaan kamu. Dan mungkin kamu belum benar benar bisa maafin aku. Tapi kamu gak perlu lakuin ini sama aku. Aku sebenarnya sudah mulai sayang sama kamu. Aku mau hubungan kita lebih baik dari yang kemarin. Tapi ternyata aku salah paham. Kamu hanya ingin membalas rasa sakitmu kan?"
"Kamu ngomong apa sih ta.., "
"Kamu sudah punya pacar kan? selain aku?"
"Kamu balikan sama aku cuma buat mainin aku kan yank?"
"Ta, kamu ngomong apa ini?"
"Ayolah yank..kamu jujur sama aku, aku gak bakal marah.."
Tiba Tiba Deddy memelukku. Dia memelukku erat. Aku hanya diam dengan sikapnya ini.
"Aku masih sayang sama kamu ta, waktu kita putus, aku benar benar sakit hati. Aku stress ta, Aku langsung nembak 2 cewek sekaligus. Dan mereka terima aku semua. Tapi itu hanya pelampiasan ku sesaat. Tapi ternyata salah satu dari mereka anaknya sangat baik, aku gak tega buat mutusin dia. Saat kita ketemu lagi sini, aku berniat putusin mereka semua. Tapi aku gak tega sama yang namanya Mia. Dia terlalu baik."
Air mataku semakin deras mengalir. Ada rasa sakit hati, ada rasa lega namun ada rasa cemburu. Aku gak tau harus bagaimana.
"Trus, kamu sekarang maunya gimana yank?"
"Kamu mau tetep pacaran sama aku dan si Mia itu?"
"Aku belum bisa mutusin ta, aku bingung."
"Kamu sayang sama Mia?"
"Aku gak tahu, tapi aku merasa nyaman denga dia."
"Itu namanya kamu punya rasa yank",
"Aku masih sayang juga sama kamu ta,"
"Kita udahan aja ya yank, aku gak mau kamu nyakitin hati Mia. Dia yang berada di sisi kamu saat kamu terpuruk kan?, Bukan aku. Biar aku yang mundur yank".
Deddy justru memelukku semakin erat, aku tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaannya saat ini. Aku hanya diam, menunggunya mengatakan sesuatu.
"Aku belum bisa memilih sekarang ta, aku masih ingin bersamamu juga. Tolong kasik aku waktu untuk memutuskan."
"Yank..., biar aku yang mundur.., aku lebih baik sakit hati sekarang daripada nanti. Karena aku takut semakin lama aku semakin sayang sama kamu."
Dreeet ..Dreeet...Dreeet...
Hp Deddy bergetar ada panggilan masuk.
"Halo.. iya yank.., iya iya.. nanti aku jemput".
Sakit ternyata hati ini. Mendengar Deddy memanggil sayang kepada gadis lain. Perasaanku kepada Deddy benar benar mulai tumbuh. Aku merasa cemburu.
"Ta..., maafin aku ya..., untuk sekarang aku gak bisa mutusin apa apa. Aku sayang sama kamu, tapi aku gak bisa putusin Mia gitu aj",
Menetes lagi air mata ini. Aku tau Deddy juga mulai sayang dengan gadis itu.
"Aku mundur saja yank..",
Aku beranjak dari tempat tidur dan aku ingin cepat kembali ke asrama saja. Aku ingin segera pulang.
Tiba Tiba Deddy menarikku ke dalam dekapan nya. Dikecupnya dahiku begitu dalam. Aku merasa ini adalah perpisahan ku. Perpisahan yang sesungguhnya. Detak jantung Deddy sangat jelas terdengar di telingaku.
Dia terus memelukku erat.
"Maafin aku ya ta.., kamu baik baik ya, cari pacar yang benar ya",
Aku melepaskan pelukan Deddy, Aku tidak tahan lagi. Aku ingin segera pergi, aku ingin berlari entah kemana, aku ingin teriak. Dadaku sesak, hatiku hancur. Aku hanya ingin segera pergi.
***
Aku merasa ini adalah karma. Dulu aku tidak memperdulikan Deddy, laki laki yang sangat perduli dan sayang denganku. Dia sabar menjalani hubungan yang sebenarnya dia tau bahwa aku belum memiliki perasaan. Tapi dia dengan sabar terus memberikan perhatian.
Sungguh sakit rasanya, Aku menyadari bahwa mungkin seperti ini perasaan sakit yang dirasakan Deddy waktu itu. Hancur, kecewa, marah dan kacau. Aku hanya bisa menerima semua ini. Aku tidak bisa menyalahkan Deddy atas perbuatannya kepadaku saat ini.
Tanpa terasa aku sudah sampai di asrama. Ada beberapa teman yang sudah kembali. Namun sebagian besar masih belum datang. Termasuk teman teman kamarku. Belum ada yang datang. Aku merasa lelah dan pusing, aku ingin tidur. Aku ingin melupakan apa yang terjadi kepadaku saat ini.
Dreeet ... Dreeet.. Dreeet ...
Ponselku bergetar.. entah siapa yang menelpon. Aku sangat malas mengangkatnya. Aku ingin tidur. Dengan malas aku angkat teleponku.
"Halo.."
"Ta, Aku ada dibawah. Aku ada perlunya".
Deddy?? ada di bawah?? Ada apa ya?
"Iya.., tunggu" jawabku penasaran.
Aku rapikan baju dan dandananku. Segera ku turunin tangga dengan rasa penasaran.
Aku mencari sosok Deddy berada dimana?
Kuedarkan pandangan ku dan akhirnya aku melihatnya.
Tunggu..., Deddy bersama siapa?
Apa yang sebenarnya ingin dibicarakan lagi?
Siapa dia?
***