"Udah sampai, Yang!" ucap Pandu sembari mematikan mesin mobilnya setelah memarkirkan mobilnya dengan rapi pada parkiran supermarket yang Larissa maksud sebelumnya.
"Oh iya. Aku beli pembalut dulu ya. Kamu mau ikut turun atau tunggu di mobil saja, Yang?" jawab Larissa sembari melepaskan seat belt yang ia kenakan.
"Ikut deh. Aku mau beli rokok, Yang" ucap Pandu sembari melepaskan seat belt nya.
"Wah, Kalian lupa nih kalau masih ada aku disini? Kita bertiga lho ini, Haha" ucap Ghina menyela percakapan diantara dua sejoli yang asyik dengan dunianya sendiri.
"Oh iya, Mbak Ghina mau ikut turun sekalian aja kah?" tanya Larissa dengan basa-basi namun tetap dengan berusaha ramah tamah.
"Ehm, Aku di mobil aja deh, Ssa. Soalnya ini nggak ada tukang parkirnya. Takutnya ntar kalau mobil depan mau keluar malah mobil ini nutupin jalannya. Nanti biar aku pindahnya aja parkirnya, Ndu" ucap Ghina sembari menunjuk mobil Innova berwarna abu-abu yang berada di depan mobil Pandu.
"Oh iya malah baru ngeh kalau ada mobil di depan kita, haha. Ya udah aku tunggu di mobil aja. Kalian berdua kalau mau masuk nggak papa kok. Aku titip minta tolong beliin rokok yang kayak biasanya sama air mineral dingin ya, Yang" ucap Pandu dengan menepuk jidatnya dan kemudian menatap ke arah Larissa.
"Oke. Ya udah aku turun dulu. Yuk, Mbak!" ucap Larissa sembari melengos ke arah kursi penumpang untuk mengajak Ghina.
"Oke, Ssa. Aku ikut turun deh," ucap Ghina sembari merapikan bajunya.
Larissa dan Ghina berjalan berdampingan memasuki supermarket tersebut. Setelah masuk Larissa langsung mengambil keranjang belanjaan.
"Kamu pilih-pilih dulu aja, Ssa. Aku cuma mau ambil uang tunai aja kok," ucap Ghina sembari menunjuk mesin ATM yang berada pada sudut ruangan dan terdapat tiga orang yang sedang mengantri untuk memakainya.
"Oh gitu, Mbak mau beli apa? Aku ambilin sekalian deh kalau gitu," ucap Larissa menawarkan bantuannya.
"Nggak usah deh, Ssa. Aku masih bingung juga mau beli apaan soalnya, hehe" ucap Ghina dengan menolak halus dan tersenyum tipis.
"Ya udah kalau gitu, Mbak. Aku cari-cari barang yang mau dibeli dulu ya. Nanti kalau Mbak udah selesai duluan kalau mau balik ke mobil duluan nggak papa kok," ucap Larissa sembari menyunggingkan senyumnya dan berjalan ke arah rak-rak yang berjajar rapi di dalam Supermarket tersebut.
Setelah berpisah dengan Ghina, Larissa langsung saja mengeluarkan handphone nya. Kemudian ia membuat panggilan telepon kepada Dira.
"Halo! Kenapa lu, Ssa? Pandu macam-macam lagi kah?" tanya Dira setelah panggilan telepon diantara keduanya tersambung dan dengan nada bicara yang cepat.
"Satu-satu napa nanyanya, Dir. Macam-macam yang kasar gitu ke gue sih nggak. Tapi lu tahu nggak yang bikin gue kesal banget adalah tadi padahal setelah Mas Kaisar pulang dia ngomel-ngomel ke gue panjang lebar karena nggak terbuka. Pas gue udah balik ke mobil dan dia izin ke kamar mandi, Eh pas balik-balik dah tu dia bawa cewek. Dan lu tahu siapa tuh cewek? Yaitu orang yang selama ini bikin gue overthinking banget karena selalu kemana-mana barengan sama cowok gue. Anjir banget emang!" ucap Larissa dengan gemas dan kesal sembari mengambil barang-barang yang ingin ia beli.
"Hah? Kok bisa? Siapa sih nama ceweknya? Terus itu cewek sekarang ikut di mobil kalian?" ucap Dira dengan heboh dan sangat penasaran.
"Nggak tahu deh. Kok bisa kebetulan banget dia baru ketemu klien nya juga di Restoran Pagi Sore tadi dan dia juga pas banget baru nggak bawa mobil katanya. Mbak Ghina teman satu divisinya Mas Pandu. Iyalah, Lu tahu sendiri kalau kawasan Pantai Indah Kapuk kan susah banget buat dapat taksi online, Dir. So jelas aja Mas Pandu kasih tawaran ke dia buat bareng sama kita aja pulangnya," ucap Larissa dengan dongkol dan cemberut.
"Itu cewek yang pernah lu ceritain yang pergi sama Pandu tiba-tiba ke Bandung berdua itu kan ya? Gila si Pandu mah! Bisa-bisanya malah diajakin pulang bareng padahal udah tahu masalahnya sendiri aja belum karuan selesai. Eh dia mau nambah lu sakit hati lagi aja," ucap Dira yang terdengar sangat kesal dan mencebik.
"Iya, Awalnya sih gue masih positif thinking dia sama Mas Pandu cuma sebatas teman porfesional aja. Tapi kok kalau dilihat dari interaksi mereka berdua selama di mobil tadi tuh keliatannya mereka berdua kayak udah kenal lama dan saling tahu tentang luar dalam dari diri mereka gitu. Gue dari tadi yang dengerin cuma bisa nyimak aja deh," ucap Larissa sembari menatap ke arah mesin ATM untuk melihat keberadaan Ghina yang tadi sedang mengantri. Ternyata rekan kerja satu divisi Pandu tersebut sedang menggunakan mesin ATM tersebut.
"Lu liat aja deh selama di mobil setelah ini interaksi mereka kayak apa lagi. Lu coba aja bikin pancingan-pancingan kecil gitu deh buat informasi dari mereka berduanya langsung. Daripada lu jadi obat nyamuk diantara mereka berdua, mendingan lu tadi ikut mobil gue sama Bagas aja sih, Ssa" ucap Dira dengan berapi-api.
"Ya udah lah ya. Udah kejadian juga. Lu juga kan nggak bakalan jemput gue disini. Gue tutup deh telponnya. Ntar gue ceritain lagi kalau udah sampai di kosan deh. Thank you ya tadi udah datang," ucap Larissa dengan cepat dan mematikan sambungan telponnya dengan cepat. Karena Ghina sedang berjalan menuju ke arahnya.
"Udah selesai ambil uangnya, Mbak?" tanya Larissa dengan basa-basi dan menyimpan handphone nya di dalam saku celananya.
"Udah kok, Ssa. Barusan telpon siapa kok kayaknya serius banget," ucap Ghina dengan tersenyum tipis.
"Oh itu temen kosan saya, Mbak. Dia mau pinjam sesuatu dari saya. Terus tanya kunci kamarnya dimana, hehe" ucap Larissa dengan terkekeh.
"Haha, Oalah. Kamu memangnya asli mana, Ssa?" tanya Ghina dengan menatap ke arah Larissa.
"Saya asli Manado, Mbak. Kalau Mbak Ghina orang asli jawa atau perantauan juga?" jawab Larissa sembari memasukkan satu abrang yang ia pilih dari rak makanan yang berada di hadapannya.
"Wah orang Sulawesi toh ternyata. Merantau nya lumayan jauh juga ya. Aku asli Bogor, Ssa. Dekat aja, Haha" ucap Ghina dengan terkekeh.
"Oh orang jawa asli nih ya berarti, Mbak. Ngelaju atau kos juga disini, Mbak?" tanya Larissa sembari menatap ke arah Ghina.
"Haha, Iya aliran Jawa Sunda nih. Awalnya dulu ngelaju. Tapi semenjak kerjaan kantor padat banget harus pergi ke sana kemari, akhirnya memutuskan untuk tinggal bareng sama temen," ucap Ghina sembari mengambil satu botol minuman yang berisi teh.
"Capek juga sih ya kalau ngelaju. Ngekos bareng berarti, Mbak?" balas Larissa.
"Iya. Soalnya waktu udah banyak habis buat di jalan juga. Jadinya buat istirahat nya minim banget. Nggak, Ssa. Dia ada apartemen gitu di sini dan kebetulan ada kamar kosong pula. Jadi aku diajak barengan aja biar nggak kesepian juga katanya," ucap Ghina dengan menyunggingkan senyumannya.
"Wah enak juga ya, Mbak. Haha" ucap Larissa dengan menatap ke arah Ghina.
"Ada plus minusnya juga sih. Sama aja aku juga akhirnya harus bantu-bantu buat bersihin apartemennya akhirnya, haha" ucap Ghina dengan tawanya.
Larissa merasa Ghina adalah wanita yang sangat misterius. Memang benar wanita yang sekarang berada disampingnya sedang mengantri pembayaran di kasir ini terlihat sangat elegan dan berkelas. Jika dibandingkan dengan dirinya pastilah jomplang sekali seperti langit dan bumi. Jika dilihat dari tampilannya bisa dibilang sepertinya Ghina adalah orang dari kalangan menengah keatas.