"Kita sekalian anterin Ghina sampai Apartemennya aja gimana, Yang?" tanya Pandu sembari menggunakan seat belt nya.
"Ah, Ya udah terserah kamu aja. Aku kan tadi udah bilang bukan hak aku juga buat menentukan mau mengantar pulang ataupun nggak kan, Yang?" ucap Larissa sembari mengeluarkan satu botol air mineral dari tas kresek belanjaannya tadi saat di Supermarket tersebut.
Ya, Ghina tadi memutuskan untuk memilih naik taksi online atau ojek online saja untuk melanjutkan perjalanannya pulang ke Apartemennya. Dan sekarang terlihatlah Ghina yang sedang duduk pada salah satu meja yang berada di depan Supermarket dan sedang fokus dengan hand phone yang berada di genggaman tangannya.
"Beneran boleh? Kamu nggak marah kan, Yang? Niat aku cuma mau bantuin dia aja. Toh juga sejalur sama jalan pulang aku kok Apartemennya," terang Pandu sembari menatap ke arah Larissa dan memberikan tatapan matanya yang seperti memelas.
"Up to you, Sayang! Aku nggak berhak juga kan ngatur-ngatur kamu. Lagian dia juga teman kerja satu divisi kamu. It's okay! Kalau memang Apartemennya sejalur sama kamu ya udah sekalian anterin aja. Tapi anterin aku pulang dulu. Aku butuh istirahat karena lagi datang bulan hari pertama ini nggak enak banget badannya," ucap Larissa dengan menyandarkan tubuhnya pada kursi penumpang yang ia duduki dan memijat-mijat pelipisnya.
"Okay! Thank you so much, Sayang! Aku panggil dia dulu sekarang biar kita lebih cepat untuk pulang ke kosan kamu ya? Biar kamu juga bisa istirahat segera," ucap Pandu sembari mengusap lembut rambut Larissa dan menyunggingkan senyumannya.
"Hmm, Buruan gih! Sana kamu panggil dia," ucap Larissa sembari menunjuk ke arah Ghina dengan menggunakan isyarat dagunya.
"Okay! Wait ya!" ucap Pandu dengan menyunggingkan senyum tipisnya dan kemudian membuka seat belt nya serta bergegas keluar dari mobilnya untuk menjemput rekan kerja satu divisinya tersebut.
'Heuh! Giliran sama Mbak Ghina aja gercepnya bukan main. Padahal jelas-jelas Mbak Ghina bisa pulang sendiri pun. Bodo amat dah yang penting aku sampai di kos-kosan lebih dulu dan langsung rebahan aja,' batin Larissa dengan kesal dan menatap ke arah Pandu dan Ghina yang sedang berbincang-bincang.
Tiba-tiba hand phone nya bergetar dan berdering. Ia langsung saja mengambil hand phone tersebut dan melihat siapakah pelaku yang mengirim pesan dengan berturut-turut tersebut.
Dira Ayu: P
Dira Ayu: hoy! Bad news!
Dira Ayu: Bagas bilang sepenglihatan dia tadi selama di Restoran pagi-Sore itu cewek nggak ada ketemu klien. Dia cuma sendirian di mejanya dan Bagas ngeliat tuh cewek langsung nyamperin ke daerah kamar mandi setelah lu sama Pandu berpisah ke arah kasir dan sampai akhirnya mereka keluar dari daerah kamar mandi dengan jalan berdampingan.
Dira Ayu: Dia baru cerita setelah gue bilang ke dia tentang masalah yang lu ceritain barusan. Dia pikir itu cewek bukan siapa-siapa which is kayak ya baru kenal karena ketemu aja gitu. Dia juga mana tahu wajah-wajahnya temen-temen Pandu. makanya dia nggak langsung cerita.
Larissa yang membaca pesan yang dikirimkan oleh Dira sontak saja tercengang dan kaget. Pasalnya perkataan Pandu dan Ghina tadi sangatlah berbeda dengan apa yang dilihat oleh Bagas. Siapakah yang sebenarnya berbohong Pandu, Ghina, atau Bagas? Tapi untuk apa Bagas berbohong kepadanya. Kemungkinan yang sangat besar dapat terjadi adalah kekasih hatinya lah yang berbohong kepadanya.
Larissa langsung memandang ke arah Pandu dan Ghina yang sedang berjalan berdampingan untuk menuju ke arah mobil. Larissa langsung saja mengunci layar hand phone nya serta memasukkannya ke dalam sling bag nya kembali. Ia juga berusaha menormalkan kembali dirinya dalam mode tenang agar tidak dicurigai oleh kedua pelaku yang berada di dekatnya saat ini tersebut.
"Sorry ya, Ssa. Aku jadi ikut nimbrung kalian berdua lagi ini," ucap Ghina setelah membuka pintu mobil bagian penumpang belakang.
"Oh-ah! Nggak papa kok, Mbak. Lagian Apartemen Mbak sama Mas Pandu juga sejalur kan ya?" ucap Larissa sembari menyunggingkan senyumannya.
"Oh iya. Satu jalur, Ssa. Thank you ya udah ngizinin aku buat gabung sama kalian lagi," ucap Ghina dengan menepuk pundak Larissa.
"Ya sama-sama, Mbak. Ya udah ayuk buruan jalan, Yang. Perutku udah mules banget dari tadi nih," ucap Larissa sembari menatap ke arah Pandu dengan memelas dan memohon.
"Oke siap! Kita bergegas untuk mengantarkan nyonya Pandu terlebih dahulu untuk sampai di kos-kosannya," ucap Pandu dengan semangat dan mengacak gemas rambut Larissa.
"Ishh! berantakan tahu jadinya rambutku mah. Kamu nih ngapain juga mainin rambut aku," ucap Larissa dengan merengut dan bersedekap tangan.
"Haha! Iya iya deh. Maaf sayang! Kamu kalau lagi PMS tuh lucu banget deh. Mood Swing nya itu lho sama sekali nggak bisa ditebak," ucap Pandu dengan terkekeh dan melirik ke arah Larissa.
"Udah sih. Buruan jalan nggak nih mobil? Kalau nggak jalan-jalan aku milih naik taksi online atau ojek online aja nih," ucap Larissa dengan menatap tajam ke arah Pandu.
"Okay okay! Mari kita mulai perjalanan menuju ke kos-kosan ibumu terlebih dahulu ya, Nak!" ucap Pandu sembari mengusap-usap stir mobilnya.
"Buruan ish! Malah ngajak ngobrol mobil pun kamu. Heran deh," ucap Larissa dengan sewot dan jengah. Namun hanya dibalas dengan tawa oleh kedua orang lainnya yang berada pada mobil tersebut.
Perjalanan pulang mereka bertiga lebih di d******i oleh obrolan yang Larissa tidak mudeng diantara kedua partner kerja satu divisi tersebut. Hingga akhirnya ia malah jadi ketiduran karena dongeng dari kedua pelaku utama tersebut.
"Sudah tidur juga pacar kamu, Ndu" ucap Ghina sembari menatap ke arah Larissa.
"Iya. Kemarin kami lagi ada masalah. Pastinya dia banyak pikiran dan kurang tidur. Ditambah pula sedang datang bulan. Biarkan saja nanti kalau sudah sampai kos-kosannya biar aku bangunkan atau nanti aku gendongnya," ucap Pandu dengan tenang dan memandangi Ghina melalui spion yang berada di bagian tengah mobilnya.
"Nanti kamu beneran mampir ya! Kamu harus ambil itu kan. Terakhir kali kamu ambil kan minggu lalu," ucap Ghina dengan lirih.
"Okay. Setelah mengantarkan Larissa ya. Pokoknya nanti kamu siapkan sebaik mungkin aja. Biar nanti aku garapnya," ucap Pandu dengan menyeringai.
"Oke. Nanti aku siapkan untuk kamu. Sekalian kamu selesaikan dengan tuntas ya," ucap Ghina dengan menyunggingkan senyuman lebarnya.
"Okay siap. Kan memang harus sempurna kan itu laporannya," ucap Pandu dengan bertukar pandangan dengan Ghina melalui spion kaca tengah mobil tersebut.
"Jelas dong. Nanti kan bakalan di evaluasi juga kan. Jangan sampai garapan kita mengecewakan ya," ucap Ghina dengan tersenyum tipis.