"Yang, Bangun yuk!" ucap Pandu yang terdengar sayup-sayup pada telinga Larissa serta terdapat goncangan kecil yang diberikan pada lengan kanannya.
Larissa menggeliat dan mulai membuka matanya perlahan-lahan yang disambut dengan wajah Pandu yang sedang menatapnya dan menyunggingkan senyumannya.
"Ehm, Udah sampai ya, Yang?" tanya Larissa dengan suara serak khas bangun tidurnya.
"Iya udah sampai, Yang. Yuk aku antar sampai dalam," ucap Pandu sembari mengusap rambut Larissa dengan lembut.
"Oh. Aku bisa jalan sendiri kok, Yang! Kamu mau mampir kah?" tanya Larissa sembari melepas seat belt yang ia kenakan.
"Ehm, Gimana mau mampir nggak, Ghin?" ucap Pandu sembari melengos ke arah kursi penumpang belakang.
Oh iya Larissa lupa jika diantara mereka berdua ada Ghina yang menumpang pada mobil Pandu. Efek dari tidurnya membuatnya amnesia dengan kehadiran wanita yang digadang-gadang rekan kerja Pandu tersebut.
"Mau mampir kah, Mbak? Tapi ya cuma ada ala kadarnya aja, hehe" ucap Larissa dengan terkekeh dan menoleh ke arah Ghina.
"Boleh deh, Ssa. Aku mau numpang ke kamar mandi. Kebelet pipis nih daripada nanti harus mampir ke pom bensin dulu. Kalau ditahan sampai Apartemen kelamaan soalnya. Belum lagi kalau kena macet. Boleh nggak, Ssa, Ndu? hehe" ucap Ghina dan Pandu sembari menatap Larissa dengan terkekeh.
"Boleh, Ghin. Lagian kalau nahan pipis kelamaan kan bisa bikin penyakit ntar. Ya udah kalian turun dulu aja. Aku mau parkirin mobil dulu biar nggak nutupin jalan dan kendaraan anak-anak kosan Larissa yang mau keluar masuk," ucap Pandu sembari menunjuk lokasi yang bisa dijadikan tempat parkir mobilnya.
"Oke. Yuk mari, Mbak!" ucap Larissa sembari membuka pintu mobil Pandu untuk keluar.
"Oke. Thank you, Ssa!" ucap Ghina dan segera menyusul Larissa untuk keluar dari mobil Pandu.
Larissa membuka slot pintu pagar kos-kosannya. Lalu ia mempersilahkan Ghina untuk masuk ke bagian dalam ruang tamu yang berada di teras.
"Bentar dulu ya, Mbak. Aku tengokin dulu kamar mandinya ada yang pakai apa nggak yang untuk tamu," ucap Larissa sembari menunjuk ke arah dalam kos-kosannya.
"Oh oke, Ssa. Santai aja masih bisa ditahan kok. Nggak harus yang keluar sekarang," ucap Ghina dengan tawanya dan mempersilahkan Larissa untuk masuk ke dalam kos-kosannya.
"Nggak jaga pagi, Ra?" tanya Larissa saat melewati ruang santai yang berada di tengah-tengah area kos-kosannya tersebut.
"Kan aku habis jaga malam, Mbak Ssa. Hari ini aku off dong. Nggak kuku dedek kalau harus jaga malam terus. Yang ada bukannya segera dapat calon suami eh malah dapatnya penyakit dan cuma ditemenin penunggu rumah sakit terus deh," ucap Aira dengan cemberut dan lesu.
"Haha, Iya deh kaum jomblo yang sedang mencari tambatan hatinya ini. Emangnya nggak ada yang kecantol sama kamu gitu di Rumah Sakit. Secara pegawai laboratorium klinis nih, senggol dong! Minta dikit dong mie nya" ucap Larissa sembari menyendokkan mie instan goreng yang berada di pangkuan Aira.
"Ada sih. Cuma ntah kenapa aku nggak ada rasa tertarik sama mereka. Ntahlah Mbak, aku juga masih bingung sama diriku ini. Intinya aku nggak pingin pacaran, pinginnya langsung sat set sat set. Tapi nggak mau juga kalau nikah dekat-dekat waktu sekarang," ucap Aira dengan memanyunkan bibirnya dan melepaskan tangan Larissa dari sendok makannya, "Tolong ya jangan banyak-banyak! Ini mie instan terakhirku untuk bulan ini lho, Mbak!".
"Yah bilang aja kalau itu pingin ngebucin tapi nggak mau sakit hati lagi. Kamu masih belum bisa move on dari mas mas TNI angkatan Laut itu kan? Ngaku deh," ucap Larissa sembari mencolek pipi Aira dengan gemas.
"Ssstt! Dia udah aku hempaskan kok sampai ke segitiga bermuda dan Antartika. Nggak bakalan lagi aku mau balik lagi sama cowok yang plin plan kayak gitu," ucap Aira dengan mendengus kesal.
"Haha, Sebenarnya kalian tuh cuma terkendala di komunikasi sama saling gengsi aja lho. Jangan terlalu benci sama dia, Ra. Nanti malah susah move on. Lebih baik kalau dia buka kesempatan percakapan lagi. Cuss kamu omongin semua uneg-uneg yang kamu tahan selama ini. Sekali-kali kamu bilang ke dia. Jangan ditahan-tahan lagi karena sabar pasti juga ada batasnya kan? Jangan sampai kamu terjebak kayak aku, Ra" ucap Larissa sembari menyunggingkan senyuman tipisnya dan menepuk pundak Aira lembut.
"Huwe jadi sedih deh ini. Semoga Mbak Ssa dan Mas Pandu segera diberikan jalan titil terang yang terbaik ya," balas Aira dengan menatap nanar ke arah Larissa.
"Ya tuhan! Aku malah kelupaan kalau mau nengok kamar mandi tamu ada orang atau nggak. Astaga! Gara-gara keasyikan ngobrol sama kamu sih ini," ucap Larissa dengan menepuk jidatnya.
"Ada Mbak Rachel deh tadi, Mbak. Soalnya kamar mandi dalam kamarnya kan airnya bermasalah gitu kan kemaren. Baru bisa dibetulin hari ini kata Bapak kos. Coba dilihat dulu aja. Siapa tahu udah keluar urusan kamar mandinya," ucap Aira sembari menunjuk ke arah kamar mandi tamu.
"Kamarmu dibuka nggak? Aku nggak yakin kalau yang pakai Rachel cepat kelarnya dia di kamar mandi," ucap Larissa dengan menaikkan alisnya.
"Coba anda lihat pintu kamar saya, Bu. Apakah terbuka atau tidak?" tanya Aira sembari menunjuk ke arah kamarnya dengan jari telunjuknya.
"Oke. Aku numpang dulu ya. Soalnya kalau aku bawa ke kamarku kelamaan banget harus naik ke lantai dua juga," ucap Larissa sembari mengeluarkan jurus tatapan memelas nya.
"Bukan Mas Pandu kan tamunya? Ogah aku kalau dia yang makai. Kamarku sangatlah suci dari jamahan para kaum pria," ucap Aira dengan menyilangkan kedua tangannya pada d**a.
"Bukanlah! Cewek kok. Semua kamar kan nggak boleh dijamah pria odong! Bisa-bisa diusir sama Bapak kos kita mah. Udahlah aku mau ke depan dulu. Titip belanjaanku bentar ya!" ucap Larissa dengan cepat sembari berjalan meninggalkan Aira untuk menghampiri Ghina.
"Mbak! E-eh, Habis dari mana kalian berdua?"
ucap Larissa saat akan memanggil Ghina, tapi ternyata pada ruang tamu tersebut sudah ada Bagas dan Dira yang duduk berhadapan dengan Pandu dan Ghina.
"Habis dari nge date lah. Dipikir cuma lu doang apa," balas Dira dengan mencebik dan bersedekap tangan.
"Iya dah. Mbak Ghina jadi ke kamar mandi?" tanya Larissa sembari menatap ke arah Ghina.
"Oh iya jadi, Ssa. Sorry ya jadi ngerepotin kamu nih," ucap Ghina sembari berdiri dari posisi duduknya.
"Nggak papa kok, Mbak. Yuk ke dalam, Mbak. Bentar dulu ya, Yang. Kalian berdua tolong temenin pacar gue ya," ucap Larissa sembari menatap ke arah Pandu.
Larissa dan Ghina berjalan masuk ke dalam kawasan kos-kosan. Ghina terlihat mengamati isi kos-kosan tersebut dengan teliti.
"Oh iya, Mbak. Berhubung kamar mandi tamunya sedang dipakai sama anak kos yang kamar mandi dalam kamarnya lagi rusak. Jadi pipisnya pakai kamar mandi kamarnya anak kos bawah dulu ya," ucap Larissa dengan mempersilahkan Ghina untuk masik ke kamar Aira.
"Oh nggak papa, Ssa. Ini aku masuk nggak papa ya?" tanya Ghina dengan sungkan.
"Nggak papa, Mbak. Itu anaknya tadi udah ngizinin buat dipakai kok. Nggak papa dipakai aja. Nanti langsung ke depan aja ya, Mbak. Aku buatin minum dulu," ucap Larissa dengan menyunggingkan senyumannya dan menunjuk ke arah Aira.
Setelah Ghina masuk ke dalam kamar mandi, Larissa lekas berjalan ke arah dapur bersama kos-kosan untuk membuatkan minum Ghina dan Pandu.
"Siapa weh itu, Mbak?" tanya Aira dengan meletakkan piring mie instan gorengnya ke wastafel serta mencucinya.
"Kok kamu udah di sini aja, Ra. Mbak Ghina udah keluar dari kamarmu?" tanya Larissa sembari mengaduk gelas yang berisi es sirup yang ia buat.
"Udah kok. Tadi cuma bilang makasih doang terus langsung ke depan dia. Sombong banget ya Allah!" ucap Aira dengan mendengus kesal.
"Hah? Masa sih? Perasaan dia orangnya supel kok. Kamu pasti pasang tatapan judes kayak biasanya kan?" ucap Larissa dengan mengernyitkan keningnya.