MENCURIGAKAN SIH

1621 Kata
"Etdah, Mbak kan tadi lihat sendiri aku menyambut ramah dan mempersilahkan kepada teman cewek Mbak Larissa itu dengan perkataan yang lembut juga," ucap Aira dengan protes dan mendengus kesal. "Emangnya dia tadi ngapain kamu sih? Kok jadi kesel baper gini kamu?" tanya Larissa sembari menatap ke arah Aira dan alisnya yang naik turun menandakan dia keheranan. "Dia keluar dari kamarku kan, terus aku tanya 'udah selesai ya, Mbak?'. Sekedar basa basi gitu lah, Mbak. Dia jawab 'Kalau udah keluar dari kamarmu kan berarti udah selesai. Makasih dan besok lagi kalau mau minjemin tamu tempat paling nggak tuh dibersihin atau dirapikan dulu ya'. Habis itu langsung dah dia pergi ke depan tanpa nunggu jawaban dari aku. Mana ngomongnya tuh kayak antara ngasih tahu tapi tatapan matanya malah kayak merendahkan orang lain njir," ucap Aira dengan menggebu-gebu. "Emang Mbak Ghina orangnya gitu kalau ngomong kaku dan nyablak. Tapi kalau udah kenal sih kayak udah maklum lah. Toh juga aslinya dia juga lumayan baik," ucap Larissa dengan menepuk pundak Aira, "Sabar, Ra. Sabar!". "Ya keleus masa dia ngasih kesan first impression di awal pertemuan sama orang baru kayak gitu sih, Mbak? Ya setidaknya kalau sifat aslinya begitu kan bisa dipoles dikit lah. Nggak harus yang langsung ramah. Tapi cukup ucapin Makasih atas bantuannya aja gitu. Nggak usah pakai segala koreksi-koreksi kamar aku lah," ucap Aira dengan mencebik dan menghela napasnya kasar. "Haha. Ya udah sih, Toh juga kamu nggak bakalan ketemu sama dia lagi kan. Jadi nggak perlu lah kenal lebih dalam sama dia," ucap Larissa dengan terkekeh dan mengangkat nampan yang berisikan dua gelas es sirup yang telah ia siapkan, "Mau ikut ke depan nggak? ada Mas Pandu, Bagas, dan Dira," "Nggak usah deh. Aku mau nungguin Mbak Rachel selesai mandi plus konser dari kamar mandi aja, Mbak. Udah sana buruan diantar ke depan. Ntar dikomen sama Mbaknya yang tadi lho 'Ih! Buat kayak gitu aja kok lama banget sih'. Cepetan, Mbak Ssa!" ucap Aira dengan nyinyir sembari mendorong punggung Larissa dengan halus agar segera meninggalkan area dapur bersama kos-kosan tersebut. "Ampun dah. Kamu nih ya lucu banget kalau udah kesel sama orang. Ada ada aja nyinyir nya. Bye adik kecil tukang ngambek aku!" ucap Larissa dengan tawanya dan segera berjalan ke arah teras depan. Selama diperjalanan menuju teras depan kos-kosan atau ruang tamu dari kos tersebut, Larissa benar-benar memikirkan perkataan Aira. Ia yakin Aira jelas tidak mungkin mengada-ngada cerita yang ada diantara interaksi dirinya dengan Mbak Ghina sebelumnya. Aira adalah salah satu penghuni kos yang terkenal nyablak dan apa adanya setelah Dira. 'Lagian apa untungnya juga untuk Aira dengan menjelek-jelekkan Mbak Ghina ya, Ssa,' batin Larissa dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Lama bener lu bikin minumnya, Ssa? Mana cuma bikin dua gelas doang lagi," ucap Dira saat Larissa meletakkan nampan pada meja dan mulai membagikan dua gelas tersebut ke hadapan Pandu dan Ghina. "Berisik amat sih lu, Dir. Kalau bukan karena tuh botol sirup pindah tempat random banget dari posisinya. Itu minuman bakalan udah jadi dari tadi," ucap Larissa dengan memutar bola matanya, "Silahkan diminum Mbak Ghina! Maaf cuma bisa ngasih seadanya aja untuk jamuan tamunya," ucap Larissa mempersilahkan kepada Ghina dan duduk pada kursi single yang posisinya berada di samping Dira. "Oh iya. Makasih ya, Ssa. Santai aja kok. Aku apa aja doyan, hehe" ucap Ghina dengan mengangkat gelas berisikan es sirup tersebut dan kemudian menyesapnya perlahan-lahan. "Oh iya, Yang. Setelah ini kita berdua pamitan pulang dulu ya. Aku lupa kalau jam setengah enam sore ini diminta jemput Ana di Bandara Soekarno-Hatta. Biasalah dia baru landing setelah tugas terbang hampir semingguan ini. Kalau ntar aku telat jemput bisa ngamuk anak itu. Soalnya ini kan aku harus nganterin Ghina balik dulu juga," ucap Pandu dengan menerangkan kepada Larissa. "Oh ya udah nggak papa, Yang. Kamu kan juga harus istirahat dulu bentar sama mandi dan ganti baju. Udah minumnya dihabisin dulu terus habis ini balik pulang aja," ucap Larissa dengan menganggukkan kepalanya yakin saat Pandu memandangi dirinya. Setelah menghabiskan minuman yang telah disiapkan oleh Larissa, Akhirnya Pandu dan Ghina berpamitan untuk pulang terlebih dahulu. Larissa, Bagas, dan Dira juga mengantarkan kedua tamu tersebut hingga ke depan pagar. "Hati-hati ya nyetirnya. Kalau udah sampai rumah jangan lupa kasih kabar ke aku ya, Yang. Salam buat Ana juga deh. Maaf belum bisa ikut jemput dia," ucap Larissa sembari mengusap bahu Pandu dengan lembut. "Siap, Sayang. Pokoknya nanti kalau udah sampai di rumah aku bakalan kasih kabar dan tenang aja salam dari kamu pasti aku sampaikan ke Ana juga. Ya udah kita masuk ke mobil dulu ya," ucap Pandu dengan mengusap rambut Larissa dengan lembut, "Saya duluan ya, Gas. Thank you udah nemenin ngobrol-ngobrol tadi". "Oke. Sama-sama, Ndu. Hati-hati!" ucap Bagas dengan datar dan kaku. Karena Bagas memang tipikal orang yang dingin dan kaku. Pria tersebut bisa dibilang hanya akan bicara perihal yang penting saja. Bisa dibilang dia adalah orang yang paling malas untuk basa basi. Setelah kepergian mobil Pandu, Mereka bertiga berjalan menuju ruang tamu kembali. "Ssa, Gue rasa kok si cewek yang sama Pandu tadi... ishh! Siapa sih namanya? gue malah lupa lagi," ucap Dira dengan mengetuk-ngetukkan jarinya pada pinggiran kursi kayu yang ia duduki. "Oh, Mbak Ghina? Kenapa memangnya?" tanya Larissa sembari membereskan kedua gelas es sirup bekas Pandu dan Ghina. "Tipikal wanita ular dia. Lu yakin Pandu nggak ada main sama dia?" ujar Bagas memotong percakapan antara Larissa dan Dira. "Hah? Maksudnya, Gas? Kok kamu bisa ngomong kayak gitu sih?" tanya Larissa dengan kaget dan keheranan. Seorang Bagas menjulid sangatlah langka. "Yah, Pantesan Pandu kepincut sama dia. Orangnya gatel gitu," ucap Bagas dengan datar dan menyandarkan tubuhnya pada kursi. "Gatel gimana sih, Yang? Gara-gara pas yang di Restoran Pagi-Sore tadi kah?" tanya Dira dengan mengernyitkan dahinya. Ia penasaran dengan pemikiran dari kekasihnya tersebut kepada Ghina. "Tadi selama kita ngobrol disini dia ada nyolek-nyolek paha Pandu dan kakinya juga tiba-tiba ngeraba betis aku waktu aku sandarin di sandaran kaki bawah meja. Dia tipikal cewek yang goda cowok pakai nafsu," ucap Bagas dengan menunjuk sandaran kaki yang berada pada bawah meja ruang tamu tersebut. Sontak saja Larissa dan Dira menganga dan terkejut karena shock dengan perkataan Bagas. Colek paha dan betis pria? Bahkan seorang Bagas yang baru saja Ghina kenal belum sampai dalam kurun waktu selama satu jam. "Yakin kamu, Yang? Dia ngeraba kaki betis kamu pakai kakinya?" ucap Dira dengan terbata-bata dan memandang Bagas tak percaya. "Hmm, Makanya akhirnya kakiku jadi gini posisinya," balas Bagas sembari menunjuk posisi kaki kanannya yang berada di atas paha kaki kirinya. "Kamu lihat Mbak Ghina colek-colek paha Pandu pas kapan? Soalnya aku kan dari tadi duduk menghadap dia nih," ucap Larissa sembari menunjuk posisi duduk Pandu sebelumnya. "Waktu kamu tadi nggak ada. Pas kamu baru bikinin minum, Ssa" ucap Bagas dengan tenang. "Kamu jeli banget, Yang!" ucap Dira dengan menepuk lengan Bagas dengan takjub. "Aku kan duduknya berhadapan persis sama nih cewek. Ya otomatis gerak gerik dia bakalan ketangkep pandangan mataku dong, Yang. Lagian kamu dari tadi malah fokus ke hand phone terus sih," ucap Bagas sembari menunjuk hand phone Dira yang tergeletak pada meja tamu. "Ya habisnya dia aku ngajak ngobrol jawabnya kayak nggak niat gitu sih, Yang. Kan jadinya mau ngobrol lagi canggung banget. Dia emang tipikal yang kaku irit ngomong gitu ya, Ssa? Berarti pas di mobil tadi selama perjalanan kalian cuma diam-diaman dan ngomong seperlunya aja? Gila boring banget njir!" ucap Dira dengan protes dan gemas. "Hah? Masa sih kalian cuma diam-diaman. Padahal selama di mobil dia yang aktif ngajak aku ngobrol lho. Tadi Aira juga bilang katanya dijudesin sama Mbak Ghina. Sumpah deh yang kalian ceritain beda banget sama perlakuan dia ke gue," ucap Larissa dengan mengernyitkan dahinya dan mengedip-mengedipkan matanya. "Sumpah demi Allah deh, Ssa! Ngapain juga kita ngarang cerita ke lu. Jangan-jangan dia supel bin ramah sama lu karena ada maunya lagi. Lu juga kenapa sih ngizinin Pandu balik sama dia berduaan? Kalau gue jadi lu bakalan gue pesenin Oh-jek atau taksi online dah. Gue nggak sanggup nahan cemburu dan overthinking mikirin hal yang aneh-aneh tentang pasangan gue," ucap Dira dengan ngotot. "Ya gue mau ngelarang-larang juga nggak punya hak kan. Kecuali kalau tadi yang dipake mobil gue. Lagian Mas Pandu sama Mbak Ghina juga udah sering keluar bareng ngerjain project divisinya dan sejauh ini masih aman-aman aja," ucap Larissa dengan ragu. "Ya mana ada mereka main terang-terangan, Ssa. Heran deh gue sama lu. Terus tadi gimana pas di Restoran Pagi-Sore? Mereka datangnya nggak bareng kan? Dan lagi alasan yang mereka bilang ke lu sama yang diliat Bagas nggak sinkron kan? Ditambah pula Pandu yang ngebet banget buat Ghina bisa pulang bareng sama kalian. Dia nggak mikirin perasaan lu apa? Harusnya walaupun lu bolehin dia nggak ngelakuin sih. Toh juga jaman sekarang udah canggih. Alasan banget njir," ucap Dira dengan dongkol dan mengusap wajahnya. "Ntahlah. Gue sebenarnya tadi juga udah ngomongin tentang uneg-uneg yang ganjel di hati gue selama ini sama Pandu. Tapi karena Pandu ngotot nggak mau disalahkan plus kita nggak mau malu karena cekcok di tempat umum. Jadi kita niatnya pulang itu buat bahas lagi empat mata. Tapi ya jadinya batal karena Mbak Ghina ikut ke mobil kita," balas Larissa dengan penjelasannya. "Lu kudu hati-hati sama nih cewek deh, Ssa. Perasaan gue bilang ini cewek manipulatif banget," ucap Dira dengan menatap Larissa dan menggigit bibirnya. "Nggak cuma sama itu cewek. Tapi sama Pandu juga, Ssa!" ucap Bagas dengan tegas dan menatap Larissa tajam, "Kalau memang dirasa banyak hal negatif dari hubungan yang kalian jalanin sekarang, Lepasin aja! Mumpung masih belum ke tahap yang lebih serius. Masalah setelahnya nanti kita pikirin bareng-bareng. Kita bakalan bantuin kamu" lanjut Bagas dengan mantap. "Iya, Ssa. Lu jangan sampai terjebak di hubungan toxic kayak gini selamanya. Gue nggak rela lu terjebak di neraka ataupun malah jadi menderita berkelanjutan," ucap Dira dengan menggenggam tangan Larissa erat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN