KOK NGILANG?

1018 Kata
Setelah mengobrol panjang lebar dengan Dira dan Bagas, Akhirnya Larissa memilih untuk bergumul di kasurnya untuk meredakan pikiran-pikiran yang berkecamuk pada kepalanya. "Hah! Kenapa semakin ke sini aku malah jadi semakin ragu sama Mas Pandu ya," ucap Larissa dengan keheranan dengan dirinya sendiri. "Tapi emang belakangan ini aku sama dia kan jadi jarang ketemu di kantor karena dia selalu dapat tugas ke luar kantor juga. Tapi kok rasa curiga ini tambah menjadi-jadi aja ya tuhan," lanjut Larissa sembari mengurut pelipisnya. Akhirnya Larissa memilih untuk mengambil handphone nya yang berada di meja kecil samping tempat tidurnya. Ia membuka aplikasi w******p nya untuk melihat-lihat status w******p orang-orang yang berada pada daftar nomor yang ia simpan di kontaknya. Tiba-tiba deringan handphone yang menandakan adanya panggilan telepon masuk menghiasi layar handphone nya. "Halo! Gimana, Na? Ada yang bisa Mbak bantu?" tanya Larissa setelah mengangkat panggilan masuk telepon tersebut. "Halo, Mba Ssa. Ana mau tanya aja Mas Pandu baru sama Mbak Larissa nggak sekarang?" balas Ana dengan suara sayup-sayup bising orang-orang yang sedang berbincang-bincang disekitarnya. "Nggak tuh, Na. Tadi Mas Pandu habis ngantar temannya pulang, dia terus pulang ke rumah buat istirahat bentar sama mandi plus ganti. Jam lima sore dia chat ke Mbak ngasih tahu kalau udah sampai rumah kok. Belum jemput kamu kah?" tanya Larissa sembari menatap jam yang berada di dinding kamarnya. "Weh iya kah, Mbak? Aku udah nelpon dia dari satu jam yang lalu buat ngingetin jangan sampai lupa jemput aku gitu niatnya. Tapi malah nggak aktif hand phone nya dia. Gabut banget di Bandara nih aku, Mbak Ssa. huhu" ucap Ana dengan membuat suaranya seperti sedang menangis. "Oh ya? Baterainya habis apa ya? Kemungkinan dia ketiduran juga, Na. Kayaknya kecapean dia. Kan baru balik dari Nusa Tenggara Barat kemaren dan hari ini dia pergi dari pagi sampai jam tiga sorean lah sama Mbak. Belum lagi masih nganterin temannya pulang dulu. Kamu masih mau nunggu nggak? Mbak aja yang jemput gimana?" ujar Larissa sembari merubah posisi rebahan nya menjadi duduk menyandar pada dinding kamarnya. "Mas Pandu mana ada baterai handphone phone nya habis, Mbak. Kecuali kalau memang dinonaktifkan sama dia baru aku percaya. Dia kan orang sibuk yang kerjaannya nggak bisa lepas dari handphone phone. Jadi handphone tuh nggak boleh mati sama sekali. Eh nggak usah deh, Mbak Ssa. Lagian dari Tanjung Priok ke Bandara Soekarno-Hatta kan mayan jauh dan udah malam pula juga. Ditambah malam minggu juga kan ini, pasti bakalan macet dimana-mana. Mbak Ssa istirahat di kosan aja deh. Aku pulangnya bisa cari taksi online atau minta jemput Bang Izal aja deh, Mbak" ucap Ana menolak dengan halus penawaran dari Larissa. "Ehm, Kemungkinan yang paling meyakinkannya saat ini handphone nya low-batt dan dia lupa charge karena udah capek banget, Na. Beneran nggak papa kamu pulang sendiri? Lagian ini Mbak juga nggak ada kegiatan apa-apa kok. Coba kamu tanya Rizal dulu aja dia bisa jemput atau nggak ya. Jangan pulang sendirian pokoknya," ucap Larissa dengan memberikan intruksi kepada Ana untuk opsi lainnya. "Serius, Mbak! Lagian kan seharian ini Mbak Ssa juga pergi sama Mas Pandu. Mendingan malam ini buat istirahat aja. Aku masih ada Bang Izal atau ntar kalau nggak minta tolong antarkan pulang Mas Dewa. Nanti aku kabarin ke Mbak deh jadinya pulang sama siapa nya ya," ucap Ana dengan mantap dan cepat. "Oke oke kalau gitu, Na. Aku juga coba hubungin Mas Pandu lagi ya. Siap! Mbak tunggu kabarnya ya," ucap Larissa mengiyakan perkataan Ana. "Oke siap, Calon kakak iparku! Adek akan memberikan kabar jika sudah ada kejelasan diantara kedua pria tersebut, haha" ucap Ana dengan terkekeh dan semangat. "Haha, Dasar ya kamu ini! Itu dua cowoknya segera dikasih kepastian dong salah satunya. Jangan dijadiin korban harapan palsu gitu. Ntar malah nggak kepegang semua lho," ucap Larissa dengan gelak tawanya. "Aduh berat, Mbak. Kalau sama Mas Dewa yang ada aku disuruh berhenti jadi pramugari buat ngikutin dinasnya dia di TNI AU yang sewaktu-waktu bisa dipindah-pindah. Kalau sama Bang Izal dia masih nggak jelas mau nikahnya kapan," ucap Ana dengan melenguh kesal. "Haha, emangnya kamu udah siap buat nikah dalam waktu dekat ini? Katanya kemaren target nikah di umur dua puluh tujuh aja kayak Mbak," balas Larissa dengan menggoda Ana. "Ah tahu deh, Mbak. Pusing pala barbie ini ngurusin dua cowok ini. Udah dulu ya, Mbak. Nanti aku nggak pulang-pulang ini kalau nggak cepat-cepat buat ngontak mereka berdua buat jemput aku. Besok kita rencanain buat meet up bareng ya, Mbak. Aku mau curhat banyak hal sama Mbak Ssa nih," ucap Ana dengan semangat. "Haha, Oke siap adik cantikku ini. Jangan kasih kabar ke Mbak ya kalau udah pasti bakalan pulang sama siapa nya, Na" ucap Larissa menyetujui perkataan Ana. "Oke siap, Mbak. Bye bye! See you soon!" ucap Ana dan kemudian mengakhiri panggilan telepon diantara keduanya. Larissa langsung saja mencoba untuk menelpon kekasihnya untuk memastikan apa perkataan dari Ana. "Loh kok nonaktif handphone nya sih?" ujar Larissa keheranan saat mendengar jawaban dari mbak mbak operator. "Jam lima sore tadi kan masih on dia. Apa habis itu dimatiin ya handphone nya biar nggak ada yang ganggu istirahatnya dia. Tapi kan biasanya walaupun di nonaktifkan kalau dia udah ada acara di hari itu pasti bakalan di setting alarmnya buat dia bisa siap-siap dan nggak terlambat berangkatnya," ucap Larissa sembari melihat ke arah jam yang berada dilayar handphone nya. Sudah menunjukkan pukul tujuh lebih sepuluh menit. Berarti kalau Pandu tidur dari jam lima sore, pria tersebut sudah tertidur lebih dari satu setengah jam lah ya. Pesan w******p baru masuk yang berasal dari Ana sebagai pengirimnya. 'Aku jadinya pulang sama Bang Izal, Mbak. Sekalian kita mau malam mingguan katanya,' ucap Ana pada bunyi pesan tersebut. 'Haha, Oke hati-hati ya kalian berdua di jalannya,' balasan pesan dari Larissa untuk Ana. Larissa mencoba sekali lagi untuk menelpon Pandu memastikan pria tersebut memang masih belum bisa untuk dihubungi atau tidak. Dan ternyata masih sama yang ia dapati hanya jawaban dari operator saja. "Udahlah. Mendingan aku nonton drama korea aja deh. Paling dia juga ketiduran. Toh Ana juga udah ada Rizal yang jemput dia. Sekarang mendingan mikirin diri kamu sendiri aja, Ssa. Mari kita me time di malam minggu ini," ujar Larissa pada dirinya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN