"Cepat jawab, Yang! Siapa dia? Kenapa kamu dari tadi cuma diam saja? Selingkuhan kamu yah itu?" tanya Pandu dengan bertubi-tubi.
"Dia cuma kenalan aku saja. dia nawarin pulang bareng karena tadi aku nggak dapat-dapat Oh-jek dan hujan deras banget. Kamu kenapa sih datang-datang kok jadi kayak gini? Capek ya?" ucap Larissa dengan lirih dan mencoba memberikan penjelasan dengan kepala dingin agar Pandu tidak tambah tersulut lagi emosinya.
"Kenalan? Dia bukan orang kantor kita kan? Dandi mana ada punya mobil begitu. Janu juga cuma pakai Yaris doang. Aneh kamu mah! Ya jelas dong aku jadi kayak gini karena mau ngasih kejutan ke kamu tapi malah dapat kejutan balik, haha" ucap Pandu dengan sarkasme dan menatap tajam ke arah Larissa.
"Kok kamu malah jadi bawa-bawa mobilnya Dandi sama Mas Janu. Aku nggak suka ya kamu marah-marah gini malah sambil merendahkan orang lain kayak gini, Yang. Aku sudah ngasih jawaban yang jujur sama kamu. Apa kalau kamu kurang buktinya aku telponin orangnya langsung saja? Terus kamu nanya-nanya sendiri biar percaya?" ucap Larissa dengan tegas dan menatap Pandu dengan tak percaya karena pria tersebut seperti tidak biasanya seperti ini.
"Kan itu kenyataannya dan realitanya. Lagian rekan kerja cowok terdekat kamu di kantor kan cuma mereka. Dan aku juga udah tahu banget track record kehidupan mereka berdua seperti apa. Halah, percuma juga kita telpon dia kalau ternyata dia sekongkol sama kamu buat nutupin hal ini. Mana mau selingkuhan ngakuin dirinya sendiri. Mabuk kamu, Yang! Kamu pikir aku bakalan percaya semudah itu?" ucap Pandu dengan senyum smirk dan arogan.
"Udahlah. Daripada kita cuma bahas ini nggak selesai-selesai karena emosi kamu yang meletup-letup nggak jelas kayak gini dan malah membuat kebisingan di sini malam-malam gini, mendingan kamu pulang aja sekarang. Istirahat di rumah dan meredam emosi kamu sembari memikirkan kembali dengan kepala dingin semua ini. Besok pagi kita bertemu lagi dan membahas permasalahan ini kembali. Aku akan menjelaskannya dengan sejujur-jujurnya ke kamu. Walaupun sebenarnya saat ini aku juga sudah jujur ke kamu," ucap Larissa dengan lembut dan penuh kesabaran.
Plak! "Ahh" lenguh Larissa dengan meringis kesakitan setelah Pandu memberikan satu tamparan pada pipi kanannya.
"Bilang saja kamu malu kalau ketahuan binal kayak gini dengan teman-teman kos-kosan kamu. Enak saja kamu mau melarikan diri dari masalah begini giliran ketahuan. Kemaren saja kamu sebegitunya curiga ke aku karena aku ke Bandung sama Ghina mendadak. What the f**k kamu, Yang!" ucap Pandu dengan lantang dan menjambak rambut Larissa.
"Sakit, Yang! Sumpah demi tuhan yesus! Aku sama dia nggak ada hubungan apa-apa. Aku cuma cinta sama kamu," ucap Larissa dengan mantap dan mata yang berkaca-kaca karena merasakan kesakitan pada kepalanya yang dijambak kencang oleh Pandu.
"Kamu kalau nggak diginiin kan bakalan jujur soalnya, Sayang! Kamu memang harus selalu diberi pelajaran kayak gini dulu biar kapok. Makanya pikir-pikir lagi kalau mau main belakang sama aku," ucap Pandu dengan menambahkan kebrutalan intensitas menjambak rambut Larissa.
"Sayang sakit banget! Lepasin tolong!" ucap Larissa dengan mencoba melepaskan tangan Pandu dari kepalanya.
"Nggak akan! Kalau bisa aku buat rambut kamu rontok sekalian. Biar selingkuhan kamu tahu rasa dan nggak mau lagi sama cewek jalang kayak gini, Haha!" ucap Pandu dengan mendekatkan wajahnya kepada Larissa dan mencengkram rahang Larissa dengan keras menggunakan tangan kirinya.
"Sa-sayang! Sudah! Aku mohon jangan kayak gini. Sakit!" ucap Larissa dengan susah payah karena cengkraman tangan Pandu pada rahangnya membuatnya kesulitan untuk bicara.
"Haha, Biar kamu tahu rasa dulu!" ucap Pandu dengan tawanya.
"Yaish! Orang gila! Lu apakan teman gua? Hah?" ucap salah satu teman kos Larissa yang kamarnya paling dekat dengan ruang tamu tersebut yang tak lain adalah Sinta dan diikuti kedua orang lagi di belakangnya.
"Kalian nggak usah ikut campur! Ini masalah antara saya dan pacar saya yang selingkuh," ucap Pandu dengan lantang dan menatap rendah ke arah ketiga wanita tersebut.
"Kita bertiga bahkan yang lainnnya sangat berhak untuk ikut campur karena lu melakukan penganiayaan kepada orang lain di depan mata gue dan membuat kebisingan di kos-kosan cewek begini. Apa mau sekalian gue panggilin Pak RT sama Bapak Kos? Terus gue serahin bukti ini ke polisi, Biar lu diarak keliling kampung sini sekalian sama mereka," ucap Andin dengan menunjukkan hand phone nya yang sudah merekam kelakuan Pandu yang bringas sejak awal.
"Cuih! Dasar cewek-cewek nggak tahu diuntung! Kamu masih hutang penjelasan dengan aku. Besok pagi kita ketemu dan hadirkan pria itu ataupun saksi dari kalian untuk menjelaskan ini," ucap Pandu dengan meludah dan akhirnya melepaskan perlakuan kasarnya pada rahang dan kepala Larissa. Lalu kemudian pria tersebut lekas melenggang pergi dari hadapan Larissa.
Larissa langsung merosot tak berdaya jatuh ke lantai dan menangis sejadi-jadinya.
"Dasar cemen! Larissa! Ya Allah!" ucap Andita dengan keras dan langsung bergegas menenangkan Larissa.