KEJUTAN YANG TAK TERDUGA

1104 Kata
Setelah melewati kemacetan selama dua jam yang sangat padat dikarenakan adanya hujan lebat yang turun merata pada Wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan jam pulang kantor yang memang biasanya menimbulkan kemacetan akhirnya mobil Pajero Sport hitam milik Kaisar tiba juga di depan kos-kosan milik Larissa. Kaisar menepuk-nepuk tangan milik wanita yang duduk di sampingnya agar terbangun dari tidurnya. Larissa memang sebelumnya memberikan share lokasi kepada Kaisar agar memudahkan pria tersebut untuk menemukan kos-kosan nya jikalau dirinya tertidur. "Ehm!" lenguh Larissa sembari meregangkan tubuhnya dan membuka matanya perlahan. "Sudah sampai, Ssa. Benar yang ini kan kos-kosan nya?" ucap Kaisar sembari menatap ke arah rumah lantai dua bercat putih dan abu-abu. "Hmm! Iya betul kok. Terimakasih ya sudah mengantarkan saya pulang, Mas. Maaf malah jadi merepotkan Mas Kaisar. Mana kejebak macet lama banget," ucap Larissa dengan sungkan dan menatap ke arah Kaisar. "Oke. Sama-sama, Ssa. Sama sekali nggak merepotkan kok. Niat saya memang mau membantu kamu saja. Daripada kamu pulang dengan Oh-jek malah basah kuyup semua karena kehujanan," ucap Kaisar dengan santai dan menyunggingkan senyum tipisnya. "Oh gini aja. Sebagai balasan dari kebaikan Mas Kaisar, Gimana kalau saya traktir makan malam dulu? Ya walaupun saya nggak bisa traktiran yang mahal-mahal juga sih. Cuma di sekitar sini ada nasi goreng yang enak dan sudah jadi langganan saya hampir setiap hari. Siapa tahu Mas Kaisar berkenan," ucap Larissa memberikan penawaran kepada Kaisar. "Hmm, Oke boleh juga. Sekalian kami menunggu kemacetannya mulai mereda saja biar tidak kelamaan saat di jalan. Saya nggak harus makan makanan yang mahal dan mewah kok. Saya juga sering makan di pinggir jalan dan asalkan masakannya halal juga saya tetap bisa makan," ucap Kaisar dengan melihat ke arah jam berwarna hitnya yang melingkar pada tangan kanannya. "Oke, Mas. Ini mau jalan kaki atau sekalian naik mobil saja ke sananya?" tanya Larissa dengan ragu. "Kira-kira berapa meter dari sini? Kalau sekiranya lumayan jauh lebih baik sekalian naik mobil saja. Nanti kamu mengeluh kakinya kram lagi," ucap Kaisar dengan tegas dan penuh penekanan. "Sekitar tujuh ratus lima puluh meter kalau dari sini, Mas. Biasanya kalau saya beli juga naik motor sih sama teman kosan, hehe" jawab Larissa dengan tawa canggungnya. "Ya sudah kita lanjut cari makan dulu ya, Pak Budi! Kamu tunjukkan jalannya ke beliau. Oh iya di sekitar sini ada masjid? Saya ingin melaksanakan sholat Maghrib," ucap Kaisar dengan cepat tanpa bertele-tele. "Oke, Mas. Oh ada nanti sekitar lima ratus meter dari sini di kiri jalan ada Masjid Al Kalam, Mas. Nanti saya pandu untuk ke sana" jawab Larissa dengan ramah dan menegakkan posisi duduknya. "Nah masjidnya yang itu, Pak!" ucap Larissa saat kubah dari Masjid Al Kalam sudah mulai terlihat dari mobil Kaisar. "Iya, Mbak!" balas Pak Budi dengan ramah. Akhirnya mobil Pajero Sport hitam milik Kaisar sudah terparkir dengan rapi pada halaman Masjid Al Kalam. Kaisar langsung saja turun dari mobilnya. "Kamu tidak sholat Maghrib? Lagi halangan?" tanya Kaisar setelah turun sembari menatap ke arah Larissa. "Ehm, Saya non muslim Mas. Hehe," jawab Larissa dengan terkekeh. "Oh begitu. Ya sudah kamu menunggu di dalam mobil atau ikut turun?" tanya Kaisar dengan sungkan dan melepas jasnya. "Ehm, Saya ikut turun saja deh Mas. Sekalian mau beli cilor di situ," ucap Larissa menunjuk ke arah gerobag kecil yang menjual cilok di dekat Masjid tersebut. "Oke. saya sama Pak Budi sholat Maghrib dulu ya. Kamu bawa kuncinya saja," ucap Kaisar sembari meminta kunci mobilnya kepada Pak Budi. Setelah membeli cilor yang ia inginkan, Larissa langsung kembali mendekati mobil Kaisar kembali dan menyantap cilor tersebut di luar mobil sembari menunggu Kaisar dan Pak Budi selesai melaksanakan ibadah sholat Maghrib. 'Ternyata dia muslim ya? Aku kira dia juga non muslim. Tapi kalau dari muka-mukanya Arab juga sih. Wajarlah ya kalau muslim,' batin Larissa dengan berkutat dengan pikirannya. "Kalau makan jangan sambil berdiri," ucap Kaisar dengan tiba-tiba saat sudah selesai menjalankan ibadah sholat maghrib nya. "E-eh iya, Mas. Ini dikit lagi udah selesai kok makannya," balas Larissa dengan gagap dikarenakan kaget dengan kehadiran Kaisar dari balik tubuhnya. "Ya sudah. Lain kali dibiasakan untuk duduk supaya tidak terjadi sakit pencernaan. Tunggu sebentar ya. Pak Budi sedang ke kamar mandi," ucap Kaisar dengan tenang dan bijaksana. "Oh iya, Mas. Sebentar, Ini kunci mobilnya kalau Mas Kaisar mau masuk mobil lebih dulu. Saya mau cuci tangan sebentar di situ," ucap Larissa sembari mengeluarkan kunci dari saku celananya dan kemudian menunjuk ke arah keran air yang berada di dekat parkiran. "Oke! Terimakasih, Ssa" ucap Kaisar saat menerima kunci mobil miliknya yang diberikan oleh Larissa. Akhirnya mereka tiba juga pada warung Nasi Goreng yang terlihat ramai tersebut. Setelah memesankan menu makan malam mereka, Larissa langsung bergegas untuk bergabung pada meja makan yang telah diduduki oleh Kaisar dan Pak Budi. "Kamu asli dari mana, Ssa?" tanya Kaisar membuka percakapan diantara mereka bertiga setelah meletakkan hand phone nya pada meja makan. "Saya asli Manado, Pak" jawab Larissa dengan tersenyum tipis. "Oh Manado. Memang asli orang manado nya?" ucap Kaisar dengan menatap ke arah Larissa yang duduk dihadapannya. "Kalau saya kelahiran Manado, Mas. Tapi orang tua saya orang Jawa, Hehe" jawab Larissa dengan terkekeh. "Oalah. Ikut program transmigrasi ya dulu orang tua?" balas Pak Budi dengan mengangguk-nganggukkan kepalanya. "Ayah saya kebetulan dipindah tugaskan ke wilayah Sulawesi saat itu, Pak. Dan akhirnya saya lahir saat ayah bertugas di Manado deh, hehe" ucap Larissa dengan ramah. "Kalau boleh tahu ayahnya Mbak Larissa kerja apa, Mbak? Polisi atau tentara?" tanya Pak Budi dengan tersenyum. "Ayah saya kerjanya jadi tentara Angkatan Darat, Pak" balas Larissa dengan sumringah. Akhirnya santapan makan malam mereka jadi juga dan langsung saja mereka bertiga menyantapnya dengan cepat. Setelah selesai dengan santapan makan malam nasi goreng tersebut, Mereka langsung bergegas untuk kembali mengantarkan Larissa ke kos-kosan lagi. Saat sudah berada di depan rumah kos-kosan milik Larissa, Terlihatlah mobil yang sudah sangat dihapal di luar kepala oleh Larissa. Tentu saja ia sangat terkejut. Pasalnya sang pemilik mobil tersebut sama sekali tidak memberi kabar kepadanya bahwa akan datang ke kos-kosannya. "Terimakasih Mas Kaisar dan Pak Budi sudah mengantarkan saya untuk pulang," ucap Larissa dengan segera berpamitan kepada kedua orang yang sudah berbaik hati membantunya untuk pulang dengan selamat hari ini. "Sama-sama. Terimakasih juga untuk traktiran nasi gorengnya, Ssa" ucap Kaisar dengan tersenyum tipis. "Sama-sama. Hati-hati untuk perjalanan pulangnya Mas Kaisar dan Pak Budi. Saya pamit duluan ya," ucap Larissa dengan tersenyum dan dibalas anggukan oleh Kaisar karena tiba-tiba hand phone Kaisar berdering. Saat keluar dari mobil Kaisar, Larissa langsung bergegas berlari untuk masuk ke dalam kos-kosannya. Dan benar saja pria yang sejak kemaren pergi tersebut menyambutnya dengan raut wajah datarnya. "Siapa dia? Kenapa kamu pulang sama dia?" tanya Pandu dengan nada datar dan menatap tajam ke arah mobil milik Kaisar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN