DIA YANG MEMULAI

1113 Kata
"Hah! Menyebalkan" ucap Larissa dengan kesal saat mobil milik Kaisar telah melenggang pergi ke titik yang ia maksud dari pandangannya. "Bareng sama Bapak yang tadi aja, Mbak. Emangnya udah dapat driver Oh-jeknya juga, Mbak? Mana ini mendung pula lho. Kayaknya mau hujan," ucap Ali sembari menatap ke arah langit yang terlihat gelap dari biasanya padahal masih menunjukkan pukul empat sore. "Saya nggak kenal sama dia, Li. Belum juga sih," jawab Larissa sembari menatap ke arah langit. Memang benar juga perkataan Ali bahwa saat ini mendung sekali dan sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Sedangkan jika dia bersama dengan abang Oh-jek bisa-bisa dia basah kuyup sampai kosannya karena jelas saja ia akan terjebak kemacetan pada jam-jam pulang kantor ini. "Masa nggak kenal sih, Mbak? Lha tadi Bapaknya manggil nama Mbak Larissa kan? Nah karena belum dapat driver Oh-jek mendingan sekarang Mbak Larissa buruan nyamperin mobilnya aja. Mumpung ini yang pada balik kantor belum keluar semua lho. Saya pasti bakalan tutup mulut deh ke Mas Pandu masalah ini," ucap Ali sembari mempraktikkan gestur tubuh seolah-olah mengunci mulutnya. "Saya juga baru kenal beliau baru minggu kemaren, Li. Ntar kalau saya diapa-apain gimana? Ya memang kamu harus tutup mulut baik dari Pandu ataupun karyawan yang lainnya dong, Li!" ucap Larissa dengan jengah. "Nggak mungkin ah, Mbak. Pikirannya Mbak Larissa nih ngelantur kemana-mana. Udah mendingan susulin mobilnya sekarang aja noh, Mbak. Udah mulai gerimis lho ini. Siap! akan saya jaga rapat-rapat rahasia ini," ucap Ali dengan memberikan hormatnya kepada Larissa. "Ya udah lah. Daripada malah adu mulut sama kamu di sini mendingan aku samperin mobilnya beliau sekarang aja. Takut keburu hujannya tambah deres juga gerimisnya sih. Inget! Pokoknya kamu tutup mulut ya, Li!" ucap Larissa sembari berdiri dari duduknya dan nada tegas memberikan perintah kepada Ali. "Oke siap tutup mulut saya, Mbak! Mau bawa payung nggak, Mbak? Takutnya mobilnya agak jauhan gitu nunggunya ntar malah belum sampai mobilnya Mbak Larissa malah udah kehujanan duluan lagi. Kan sama aja malah jadi basah kuyup," ucap Ali sembari mengambil satu payung di dalam tempat payung yang berada di samping kursi tempat ia duduk. Lalu ia memberikan payung tersebut kepada Larissa. "Thank you ya, Li. Besok aku balikin payungnya. Aku balik duluan. Baik-baik jaga kantornya," ucap Larissa sembari menerima payung pemberian dari Ali. "Sama-sama, Mbak. Ya udah buruan disamperin mobilnya, Mbak. Jangan sampai beliau nungguin kelamaan. Kayaknya beliau orang penting juga kan ya? Soalnya saya agak asing baik sama mobilnya ataupun orangnya juga," ucap Ali dengan tersenyum sumringah. "Oke. Iya beliau memang bukan orang dari PT. Arta Citra Pusaka. Beliau CEO dari kolega perusahaan kita. Dah ya aku mau nyamperin mobilnya beliau. Nggak ada habisnya kalau ngobrol sama kamu di sini terus mah. Bye, Li!" ucap Larissa yang kemudian membuka payungnya dan berjalan meninggalkan pos satpam kantornya tersebut. Larissa berjalan menyusuri trotoar untuk mencapai mobil Kaisar yang terparkir dua ratus lima puluh meteran dari gedung PT. Arta Citra Pusaka. Tak lupa juga Larissa menyapa rekan kerja kantornya yang berpapasan dengannya saat lewat dihadapan mereka. 'Untung aku pakai payung ini. Coba kalau nggak udah fix basah kuyup kayak diomongin sama Ali. Heran banget, kenapa juga parkirnya jauh banget sih! Mana aku pakai high heels pula ini,' batin Larissa dengan menggerutu. Setelah berjalan kurang lebih sekitar lima sampai delapan menit, akhirnya Larissa sampai juga di depan mobil Pajero Sport hitam milik Kaisar. Ia mengetuk jendela dari mobil tersebut untuk memberikan isyarat atas kehadiran dirinya kepada sang pemilik mobil tersebut. Tak lama kemudian pintu mobil bagian tengah terbuka dengan perlahan dan terlihatlah Kaisar yang membukakan pintu mobil tersebut. "Langsung masuk saja ya!" ucap Kaisar memberikan perintah pada Larissa. "Sebentar, Pak. Saya masih ingin mengistirahatkan kaki saya yang sedikit keram karena berjalan lumayan jauh untuk ke sini tadi," balas Larissa sembari mengurut kakinya yang terbalut celana panjang berwarna hitam yang ia kenakan dan tidak melanjutkan membuka lebar pintu mobil tersebut agar air hujannya tidak masuk membasahi mobil milik Kaisar. "Pak Budi! Tolong kamu keluar dan bantu payungi dia biar nggak kehujanan!" perintah Kaisar kepada supirnya. "Baik, Pak!" balas Pak Budi menyetujui perintah atasannya. "E-eh! Nggak usah, Pak. Saya bisa sendiri kok. Bentar lagi juga reda keramnya," ucap Larissa dengan cepat menolak bantuan tersebut. "Kamu ini memang selalu seperti ini ya? Sudah Pak Budi dibantu saja. Kan malah lebih enak kalau kamu selonjoran di dalam mobil kakinya daripada berdiri seperti itu," ucap Kaisar sembari menunjuk ke arah kaki Larissa. "Siapa suruh parkirnya jauh amat dari kantor saya. Sudah nggak usah dibantu, Pak. Ini kaki saya sudah agak mendingan dan mau masuk ke mobil sekarang saja," ucap Larissa yang akhirnya memilih untuk segera masuk ke mobil karena terlihat rekan-rekan kerja kantornya yang sudah mulai ramai keluar dari kantor satu persatu dengan mengendarai kendaraannya dan ia tidak ingin rekan-rekan kerjanya ada yang mengetahui tentang perihal ini. "Kalau saya parkir di dekat kantor kamu nanti rekan-rekan kantor kamu malah jadi tahu perihal ini. Saya tidak mau kita berdua terlibat gosip-gosip yang tidak jelas," ucap Kaisar saat Larissa sudah masuk ke dalam mobilnya dan duduk di sampingnya sembari menutup payung yang wanita tersebut gunakan sebelumnya. "Saya paham kok. Tapi kayaknya yang akan kena banyak masalah atau dampaknya dari ini nantinya saya deh. Secara itu kantor saya dan saya yang bakalan ketemu mereka setiap hari kalau beneran terjadi gosip diantara kita setelah ini," ucap Larissa dengan mencebik, "Ini payungnya saya letakkan dimana?" "Ya berdoa saja semoga tidak ada gosip yang aneh-aneh yang tercipta diantara kita berdua. Kalau nantinya memang terjadi ya sudah biarkan berlalu saja. Lagi pula hubungan kita kan hanya sebatas teman saja," ucap Kaisar dengan santai dan menyandarkan tubuhnya pada kursi, "Kamu taruh dibawah saja nggak papa". "Harus sekali tidak ada gosip diantara kita berdua. Lagian kita punya pasangan masing-masing yang harus juga dijaga perasaannya kan," balas Larissa dengan tegas dan kemudian ia meletakkan payung yang ia gunakan pada bagian bawah pijakan kakinya. "Iya mungkin begitu. Alamat rumah kamu di daerah mana?" tanya Kaisar sembari melirik ke arah Larissa yang sedang mencari posisi nyaman duduknya. "Di daerah Tanjung Priok. Kamu nggak papa nganterin aku pulang? Sejalur nggak sama rumah kamu?" ucap Larissa dengan sungkan dan menatap ke arah Kaisar. "Nggak papa. Hitung-hitung sebagai ganti dari insiden yang terjadi minggu lalu diantara kita. Bisalah kalau dibikin sejalur. Rumah saya juga cuma di daerah Kelapa Gading. Nggak jauh-jauh amat lah dari Tanjung Priok," ucap Kaisar dengan menjentikkan jarinya pada dagu. "Ya sudah saya ngikut aja deh sama yang ngasih tumpangan. Maaf jadi merepotkan, Pak" ucap Larissa kepada Pak Budi dengan sungkan. "Nggak papa, Mbak. Saya juga cuma ngikut perintah dari Mas Kaisar saja," ucap Pak Budi dengan ramah. "Kamu kalau mau tidur juga nggak papa nanti kalau kita sudah bisa keluar dari kemacetan ini, Saya bangunkan!" ucap Kaisar memberikan penawaran kepada Larissa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN