GOSIP ANAK KANTOR

1154 Kata
Setelah para rombongan karyawan PT. Indra Cipta Abadi masuk satu persatu ke dalam ruangan Aula dan duduk pada kursi kosong yang telah disediakan untuk mereka. Tak lama kemudian masuklah pria dengan bertubuh tegap dan gagah mengenakan setelah jas berwarna biru navy yang sejak tadi dinantikan para kaum hawa PT. Arta Citra Pusaka single untuk menatap paras tampannya. Kaisar berjalan berdampingan dengan CEO PT. Arta Citra Pusaka beserta jajaran orang-orang penting yang berada di dalamnya. "Gila sih Mbak! Itu mah definisi kayak titisan dewa yunani yang turun dari kayangan sih. Bisa-bisanya bentukan kayak gitu dibilang biasa aja. Kalau sama ini mah Mas Pandu udah kalah telak menurutku," ucap Ira menggeleng-gelengkan kepalanya dan menatap heran ke arah Larissa. "Ssst! Acaranya udah mulai, Ra. Jangan berisik!" ucap Larissa memberikan perintah kepada Ira dengan menatap tajam junior dari divisi keuangan tersebut. "Kita boleh mengagumi, tapi dibatin dalam hati aja ya adik-adik!" ucap Sarah memberikan nasihat kepada para juniornya dengan ramah dan mata yang berbinar. "Oke, Mbak Sarah. Kita di tim yang sama!" ucap Febi dengan tersenyum senang. Larissa hanya dapat menghela napasnya menanggapi para fans Kaisar Lovers pada divisi keuangan ini. Ya, Dia juga mengakui bahwa pria yang duduk pada bagian kursi paling depan tersebut sangatlah tampan dan rupawan. Ia tidak munafik. Tapi entah mengapa ia tidak memiliki ketertarikan sama sekali kepada pria jangkung itu. Lagian dia juga sudah memiliki kekasih yang sudah sekaligus menjadi tunangannya. Acara penandatangan tender Villa antara PT. Indra Cipta Abadi dan PT. Arta Citra Pusaka dilangsungkan secara simbolis di panggung setelah adanya sambutan dari para petinggi kedua perusahaan tersebut. Kaisar terlihat sangat berwibawa dan lugas. Bahkan pandangan mata para wanita yang menggandrungi dirinya tak lepas sedari tadi mengikuti turunnya pria tersebut dari panggung hingga tempat duduknya. Lima belas menit kemudian acara penandatangan tender Villa tersebut akhirnya usai juga pada pukul tiga sore bertepatan dengan jam pulang kantor. Larissa meregangkan tubuhnya pada kursi yang ia duduki. Ia dan rombongannya menunggu pihak dari PT. Indra Cipta Abadi untuk meninggalkan ruangan Aula tersebut sebagai bentuk penghormatan dari pihak tuan rumah dan karena pastinya akan terjadi antrian panjang nantinya. Toh ruangan divisi keuangan juga masih di lantai yang sama dengan ruangan tersebut. "Sumpah demi Allah deh, Mbak. Aku rela dipoligami kalau bentukannya sama yang begitu. Mana tajir melintir juga kan? Terjamin sudah kesejahteraan hidup kita," ucap Febi sembari memandang ke arah pria berstelan jas warna biru navy bersama para petinggi dari PT. Arta Citra Pusaka yang sedang berjalan ke arah mereka dengan maksud untuk melewati pintu yang berada di bagian belakang yang mengakibatkan mau tidak mau melewati mereka yang duduk pada barisan bagian tengah. Tanpa tak sengaja pandangan mata antara Kaisar dan Larissa bertemu saat rombongan tersebut sudah berada dekat dengan barisan tempat duduk dari divisi keuangan tersebut. Sontak saja Larissa langsung saja memalingkan pandangannya untuk memutus kontak mata diantara keduanya dengan menundukkan kepalanya. "Tadi Pak Kaisar ngelihat ke arah kita lho! Sumpah tajam banget ya pandangannya," ucap Ira dengan semangat dan kegirangan saat rombongan para petinggi dari kedua belah pihak perusahaan tersebut telah meninggalkan ruangan Aula. "Pede banget sih anak kecil ini. Pak Kaisar paling ngelihat ke arah lain," ucap Dandi yang sudah berdiri dari posisi duduknya dan mendekat ke arah kumpulan para wanita dari divisi keuangan tersebut. "Ih apaan sih Mas Dandi? Jelas-jelas tadi posisi kepalanya kayak nengok ke bagian kita kok. Bilang aja kamu iri karena nggak punya fans di sini," ucap Ira dengan mencebik dan ekspresi kesalnya. "Tanya aja sama Mbak Larissa, kenapa tadi kok dia tiba-tiba terus nunduk?" ucap Dandi sembari menunjuk ke arah Larissa dengan menggunakan isyarat dagunya. "Udah cukup nggak usah bahas dia lagi. Mendingan kita buruan balik ke ruangan aja. Ini ruangan mau diberesin sama cleaning service juga. Kalau kalian mau gosipin Pak Kaisar di Ruangan divisi keuangan aja," ucap Larissa menanggapi perkataan dari rekan-rekan kerjanya yang tak ada habisnya sejak tadi membahas pria keturunan arab tersebut. Setelah itu ia berdiri dari tempat duduknya dan menggeret Dandi untuk meninggalkan ruangan Aula tersebut karena menutupi jalannya keluar dari barisan tempat duduknya. "Lu kenapa sih, Ssa? Sewot banget sama Pak Kaisar? Masih dendam kesumat ya lu sama dia?" tanya Dandi dengan kebingungan karena wanita yang berjalan di sampingnya tersebut terlihat sekali datar dan terkesan pendiam dari biasanya. "Lu juga apaan ngomong kayak gitu ke anak-anak? Nanti mereka nyimpulin hal yang aneh-aneh antara gue sama dia gimana?" tanya Larissa dengan menatap tajam ke arah Dandi. "Lha emang yang ditatap Pak Kaisar lu kan tadi? Orang gue ngelihat sendiri pakai mata kepala ini," ucap Dandi sembari menunjuk ke arah matanya. "Bodo amat dah! Gue nggak peduli lagi sama omongan dari lu tentang dia. Lagian setelah hari itu gue udah nggak pernah ketemu sama dia lagi. By the way, Ntar gue bareng baliknya sama lu ya, Dan" ucap Larissa dengan santai dan jalan lebih dulu untuk memasuki ruangan divisi keuangan yang sudah berada dihadapannya. "Gue hari ini mau ngelembur di kantor buat ngerjain deadline anggaran proyek perumahan yang di Bogor, Ssa. Lu gue pesenin Oh-jek aja ya," ucap Dandi memberikan penawaran kepada Larissa. "Lha lu langsungan banget lemburnya? Nggak pulang ambil baju ganti dulu gitu?" ucap Larissa dengan wajah memelas. "Gue udah bawa ganti sih. Soalnya emang udah gue rencanain hari ini bakalan lembur di kantor aja biar bisa fokus. Atau kalau nggak lu bareng sama Mas Janu coba. Kan searah tuh," ucap Dandi dengan menunjuk ke arah tas gendongnya yang berada di kursi kubikel meja kerjanya. "Nggak enak gue kalau pulang bareng sama Mas Janu. Segan, Dan. Ya udah gue pesan Oh-jek aja deh ntar," ucap Larissa sembari membereskan barang-barang yang berada pada meja kerjanya. "Giliran sama Mas Janu aja lu bisa segan. Kalau sama gue malah seenaknya sendiri. Sekalian aja lu segan sama abang-abang ojek online, Ssa" ucap Dandi dengan menggerutu. "Ya kalau Mas Janu kan udah punya cewek, Jadi gue menjaga sebagai wanita menghargai perasaan pacarnya dong. Kalau sama lu yang single mah bebas diajak kemana-mana. Toh juga palingan yang nyariin lu cuma ibu kosan atau Bu Indira doang," ucap Larissa dengan nada mengejek. Larissa menunggu abang ojek online yang ia pesan pada pos satpam PT. Arta Citra Pusaka. Saat ia sibuk memainkan hand phone yang berada di genggaman tangannya, tiba-tiba terdapat mobil Range Rover berwarna hitam berhenti dihadapannya. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Ali yang tak lain adalah salah satu satpam PT. Arta Citra Pusaka yang berjaga saat ini saat pemilik mobil tersebut menurunkan kaca jendela mobilnya. "Tidak, Pak. Terimakasih! Larissa, Kamu ngapain di sini?" ucap Kaisar dengan ramah. "E-eh saya, Pak?" ucap Larissa yang terkaget dengan sapaan tiba-tiba dari pria yang ia hindari sedari tadi tersebut. "Mbak Larissa menunggu jemputan ojek online, Pak" ucap Ali menjawab untuk mewakili Larissa. "Bareng dengan saya saja!" ucap Kaisar dengan tegas. "Tidak usah, Pak. Ini driver Oh-jek nya sebentar lagi udah mau sampai kok," ucap Larissa menolak dengan halus. "Saya tunggu di depan situ saja kalau kamu malu dengan karyawan yang lain," ucap Kaisar sebagai perintah yang tidak dapat diganggu gugat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN