"Gila sih! Pak Kaisar yang dari dulu terkenal alot banget sama perusahaan kita setiap kali ngajuin tender ke PT. Indra Cipta Abadi, tiba-tiba hari ini ngasih kabar setuju dengan perusahaan kita sebagai rekan kerja buat tender Villa yang ada di Nusa Tenggara Barat. Rejeki nomplok banget sih ini," ucap salah satu staf kontruksi yang duduk pada meja kantin yang berada di sebelah meja Larissa berkumpul.
"Anjir! Beneran disetujuin dong, Ssa. Emang ucapan lu manjur banget dah. Ada untungnya juga ya kita ketemu lewat insiden kecelakaan minggu lalu," ucap Dandi sembari menepuk-nepuk pundak Larissa yang duduk di samping kanannya.
"Apaan sih, Dan? Kecelakaan kok malah beruntung. Toh juga itu terjadi karena usaha dari semua divisi yang ada di Perusahaan kita kali. Lagian kan kita juga hampir setiap tahun ngajuin tender ke PT. Indra Cipta Abadi juga. Jadi karena udah keseringan ditolak ya udah tahu apa aja yang harus dievaluasi dari kesalahan-kesalahan yang dulu," balas Larissa dengan malas dan melanjutkan suapan soto betawi yang menjadi menu makan siangnya.
"Emangnya ada apa pas kecelakaan itu, Mas?" tanya Ira yang baru saja seminggu ini menjadi peserta magang pada divisi keuangan dengan menatap penasaran kepada kedua seniornya.
"Katanya mereka berdua kecelakaannya melibatkan Pak Kaisar gitu, Ra. Jadi kayak ada chemistry yang terbentuk. Simpelnya kayak udah takdir dan jodoh gitulah sama perusahaan kita di hari presentasi tender ini," ucap Janu yang ikut nimbrung pada percakapan mereka sembari mengambil gelas es jeruk miliknya untuk ia minum.
"Chemistry apaan? Nggak usah ngada-ngada deh Mas Janu. Cuma kalian berdua doang yang mikir ada keberuntungan dari kecelakaan pas itu. Aneh banget tuh otak. Coba deh diperiksain ke psikiater. Siapa tahu mental kalian mulai terombang-ambing dan berujung ke gangguan jiwa gara-gara tekanan batin yang nggak tahu karena apa itu," balas Larissa dengan protes dan omelannya kepada kedua pria yang memang terkenal rese pada divisinya.
"Lu kalau kangen sama Pandu kagak usah uring-uringan gini sama kita dong, Ssa. Semua orang malah kena santlap omelan dari lu. Heran deh. Apa susahnya tanya kapan baliknya? Bilang aja udah kangen banget sama dia. Atau lu susulin ke Nusa Tenggara Barat aja sih. Mayan juga sekalian refreshing. Ajak gue sekalian mah jelas banget mau ikutan ke sana. Lagian bilangnya kan cuma seminggu dinasnya. Kok jadi lebih gini," ucap Dandi dengan senewen dan memutar bola matanya.
"Hish! Mulut lu lama-lama gue klip pakai staples foto copy juga nih, biar nggak kebanyakan omong hal-hal negatif. Heran banget jadi cowok kebanyakan silat lidah lu, Dan. Namanya juga tugas jauh siapa juga yang bakal ngira diperpanjang ataupun dipersingkat waktunya. Kan semua tergantung sama pihak rekan perusahaan kita juga. Daripada lu pusing-pusing mikirin tentang gue sama Pandu, Makanya cepat cari pasangan aja sih biar lu kagak iseng mulu sama anak-anak divisi keuangan," ucap Larissa dengan mencebik dan geram kepada rekan kerja terdekatnya tersebut.
"Oke gue kalah dari kanjeng mami. Ampun deh, Suhu! Dandi tidak akan mengulangi perbuatan ini," ucap Dandi dengan menyandarkan tubuhnya pada kursi dan menatap ke arah Larissa.
"Ealah, cowok kok takutnya sama cewek. Ya pantes aja nggak dapat-dapat pacar, Haha" ucap Janu dengan tawanya.
"Hilih! nggak ngaca sama dirinya sendiri dia!" ucap Dandi dengan malas dan menatap sebal ke arah Mas Janu.
"Udahlah berhenti saling ejek-ejekannya. Mendingan itu makanan cepat dihabiskan dan setelah itu kita langsung balik ke Ruang Divisi Keuangan. Takutnya ada revisi mendadak dari Bu Indira tentang perancangan anggaran tender villa ini sebelum nanti jam dua siang ditandatangani sama pihak PT. Indra Cipta Abadi," ucap Febi dengan tegas untuk melerai perdebatan kedua pria yang berada dihadapannya tersebut.
"Nah! Dengerin tuh kata Febi!" ucap Larissa dengan perintahnya.
Setelah selesai menyantap makan siang mereka, Akhirnya Mereka berlima kembali ke Ruangan Divisi Keuangan. Dan benar saja seperti perkataan Febi. Ketika mereka datang langsung saja disambut oleh tugas dari Bu Indira untuk merevisi anggaran biaya tentang Villa PT. Indra Cipta Abadi yang disampaikan melalui Azam yang memilih untuk beristirahat di kubikel meja kerjanya karena sedang melaksanakan puasa senin-kamis.
"Ini mau langsung kirim ke email ke Bu Indira masing-masing bagian atau kita gabungin jadi satu dulu nih, Gaes?" tanya Sarah dengan meregangkan kedua tangannya.
"Gabungin aja kali ya. Biar nanti Bu Indira bisa langsung print aja. Gimana? Lu udah selesai emang, Sar?" ujar Azam dengan melirik ke arah Sarah.
"Alhamdulillah udah selesai. Ya udah gue aja yang gabungin semuanya jadi satu bagian. Ntar kalian setor aja ke email gue ya, Gaes!" ucap Sarah dengan santai.
"Oke siap, Mbak!" ucap Larissa menyetujui perintah dari seniornya tersebut.
Pukul dua kurang lima belas menit semua karyawan dihimbau untuk berkumpul di dalam Aula kantor untuk menyaksikan proses penandatanganan kesepakatan tender Villa antara PT. Indra Cipta Abadi dengan PT. Arta Cipta Pusaka.
"Akhirnya bisa tahu gimana CEO dari PT. Indra Cipta Abadi yang katanya ganteng gila dan hot pula," ucap Ira dengan mata yang berbinar.
"Coba kamu tanya sama Mbak Larissa yang udah ketemu langsung pas kecelakaan aja, Dek. Biar ada sedikit gambaran sebelum nanti lihat langsung. Ya nggak Mbak Larissa?" ucap Febi dengan menggoda dan menyenggol pundak Larissa yang duduk di samping kirinya.
"Haduh! Kok kalian malah jadi salah fokus sama Pak Kaisar sih. Menurut gue biasa aja cuma menang turunan arab aja sama porsi tubuhnya yang tinggi tegap gitu," ucap Larissa dengan datar dan menyilangkan kedua tangannya pada pangkuannya.
"Kamu nggak boleh terlalu benci sama orang lho, Ssa! Emang cakep pisan kan? Kalau Mbak lihat-lihat waktu sesi presentasi proposal tender kemaren sih ganteng parah," ucap Sarah dengan menaik turunkan alisnya meminta persetujuan kepada Larissa.
"No comment lah. Ganteng itu kan relatif ya tergantung penilaian orang masing-masing. Jadi kalian lihat sendiri aja deh. Lagian dia juga udah nggak single, Gaes. Jadi tidak usah terlalu berharap ya para wanita-wanita di sini," ucap Larissa dengan santai dan tatapan menggoda serta mengejeknya.
"Yah kandas seketika deh harapanku dapet anak sulungnya salah satu konglomerat Indonesia. Padahal pingin banget ongkang-ongkang di rumah aja setelah nikah. Capek banget jadi b***k korporat," ucap Sarah dengan memanyunkan bibirnya.
"Mbak Larissa kok bisa tahu kalau Pak Kaisar udah punya calon? Berarti udah lumayan deket dong?" ucap Febi dengan penasaran dan menatap lekat ke arah Larissa.
"Ya pokoknya kemaren waktu nungguin Dandi yang masuk ke IGD. Kita berdua sedikit cerita-cerita gitu. Udah nggak usah ngomongin dia lagi. Udah pada dateng tuh rombongan dari PT. Indra Cipta Abadi. Jangan bikin malu-maluin kantor kita dengan ngobrolin tentang dia. Jangan lupa profesional, Gaes! Jangan dilihat sambil melotot kalau Pak Kaisar masuk ke ruangan ini ntar," ucap Larissa dengan lugas dan mengalihkan pandangan ke arah panggung setelah melihat ke arah pintu Aula yang dipenuhi oleh rombongan dari PT. Indra Cipta Abadi yang berjumlah kurang lebih dua puluh lima orang.
"Iya deh iya. Semangat move on, Gaes. Kita cari para perjaka lainnya aja," ucap Sarah dengan mengepalkan tangannya memberi semangat kepada para wanita single yang berada pada Divisi Keuangan