KALUT DAN BIMBANG

1103 Kata
"Ayok kita duduk dulu, Ssa," ucap Andita sembari membantu Larissa berdiri dari posisi duduknya di lantai yang dingin dan lembab karena terkena hujan. Sedangkan Larissa tidak memberikan jawaban ataupun tanggapan dengan isyarat sedikitpun. Ia masih terlihat syok dengan pandangan mata yang kosong dan dalam keadaan masih sesenggukan. "Gue ambilin air putih dulu deh ke belakang," ucap Andin dengan menatap ke arah Sinta dan Andita yang duduk di samping Larissa dan mengusap-usap pundak Larissa untuk meredam kesedihan teman mereka tersebut. Tiba-tiba terdengarlah suara motor yang berhenti di depan pagar kos-kosan. Setelah saling berpandang-pandangan, Akhirnya Sinta berjalan ke arah pagar untuk melihat siapakah orang yang datang pada pukul delapan lebih sepuluh menit malam tersebut. "Tumbenan lu bukain pintu pagar, Sin? Baru ada tamu ya lu?" tanya Dira yang baru saja pulang dengan diantarkan Bagas yang tak lain adalah kekasih dari wanita tersebut. "Pacar lu rese ya, Gas? Ada masalah tadi sama Larissa dan Pandu. Mendingan sekarang lu buruan masuk terus bantuin kita nenangin Larissa," ucap Sinta dengan menarik Dira untuk segera bergabung bersama Larissa, Andita, dan Andin yang sudah kembali dari dapur dengan gelas yang berisi air putih terpampang di atas meja. Bagas pun juga mengikuti kedua wanita tersebut sembari menuntun motornya ke dalam garasi kos-kosan, setelah itu mengambil tote bag milik Dira dan bungkusan martabak yang telah mereka beli sebelumnya. Lalu ia bergegas untuk bergabung bersama keempat wanita yang berada di teras yang memang diperuntukan untuk tamu anak-anak kosan apalagi para kaum laki-laki. "Kronologinya tadi kayak gimana? Kok bisa sampai merah-merah gitu? Dia diapain lagi?" tanya Dira dengan bertubi-tubi sembari menatap ke arah ketiga temannya tersebut. Karena sangat tidak memungkinkan pertanyaan itu akan dijawab oleh Larisaa yang masih seperti orang linglung dengan pikirannya sendiri. "Mereka berdua debat tentang Pandu yang cemburu dan nuduh Larissa selingkuh. Gue cuma dengar sebatas itu aja. Habis itu gue keluar kamar mau video call sama mas pacar eh malah ngeliat Pandu baru jambak dia sambil emosi gitu. Awalnya masih gue diemin dulu sambil manggil nih anak dua karena yang lainnya nggak pada balik kampung sama belum pulang kantor. Eh bukannya mereda si Pandu makin menjadi-jadi pakai cengkram dagu Larissa sampai kayak gitu. Ya udah kita ikut campur dong," ucap Andita dengan menggebu-gebu dan geram. "Gila si Pandu! Si b*****t masih main tangan juga ternyata sampai sekarang!" balas Dira dengan emosi dan menatap ke arah Larissa yang hanya diam saja serta menatap kosong ke arah langit tak berjiwa. "Sekarang Pandu kemana?" tanya Bagas dengan tenang. "Tadi setelah kita ikut campur dan ngancem bakalan laporin ke Pak RT dan Polisi dia langsung pergi. Tapi tadi sebelum dia pergi dia ngajak Larissa ketemuan buat jelasin semuanya plus bawa cowok yang dituduh selingkuhan itu dan saksi," ucap Andita memberikan penjelasan dengan santai dan runtut agar tidak terjadi kesalahpahaman ataupun miskomunikasi diantara mereka dan malah menimbulkan emosi yang semakin menjadi-jadi diantara teman-temannya. "Kalian tahu siapa cowok yang digadang-gadang jadi selingkuhannya Larissa sama Pandu ini?" tanya Bagas lagi sembari menatap ke arah Larissa. "Dia cuma kenalan aku, Gas. Bahkan aku juga nggak mungkin bisa selingkuh sama dia. Dia cuma anterin aku pulang tadi karena nggak dapat-dapat Oh-jek dan posisi mau hujan. Ya udah aku terima. Aku nggak tahu kalau Pandu udah pulang dari Nusa Tenggara Barat. Kalau aku tahu dia udah balik pastinya aku bakalan minta jemput dia," ucap Larissa dengan frustasi menjawab pertanyaan tersebut dan mata yang berkaca-kaca kembali. "Oke gue paham. Sekarang lu tenangin diri dulu, Ssa" ucap Bagas dengan menganggukkan kepalanya dan lembut. "Ssa, Lu masih yakin sama Pandu yang kayak gini? Gue kasian sama lu yang selama ini kalau dia emosinya nggak ke kontrol selalu main tangan ke lu," ucap Andira dengan menatap nanar ke arah Larissa dan memberikan segelas air putih yang berada di meja kepada Larissa. "Sekarang masalah itu dibahas nanti. Yang penting dibahas sekarang adalah gimana cara buat si cowok ini mau datang pas ketemuan besok," ucap Larissa dengan gusar dan menggigit-gigit kukunya. "Dia tahu kalau lu udah punya tunangan, Ssa? Jangan bilang kalian cuma sebatas kenal doang," ucap Dira dengan menggenggam tangan Larissa. "Udah, Ra. Bahkan dia juga udah punya calon istri. Masalahnya gue sama dia cuma sebatas kenal aja dan dia tuh CEO dari salah satu kolega perusahaan gue. Gue udah janji sama diri sendiri dan dia nggak bakalan saling berurusan lagi dan bersikap profesional selayaknya klien aja. Tapi sekarang malah jadi runyam begini," ucap Larissa dengan menundukkan kepalanya dan lesu. "Lu ada kontaknya nggak, Ssa? Mungkin bisa lu tanyain ke dia sekarang. Mumpung masih jam segini juga dan besok weekend. Jadi lu pastiin dulu dia jadinya gimana ntar. Biar Pandu nggak tambah menjadi-jadi marahnya ke lu nantinya," ucap Andin dengan menatap ke arah Larissa. "Tapi gue gimana jelasinnya ke dia, Ndin? Masa tiba-tiba bilang pacarku cemburu sama kamu. Dia aja belum pernah ketemu Pandu sekalipun dan tadi juga nggak ketemu langsung sama Pandu karena dia sibuk terima telpon pas gue pamitan turun dari mobilnya," ucap Larissa dengan gelisah dan bingung. "Tenang aja kan ada kita berempat. Pastinya kita bakalan bantuin lu buat ngejelasin semuanya kok. Udah sekarang telpon aja, Ssa" ucap Sinta dengan memberikan tas Larissa. Larissa mengeluarkan hand phone nya dari dalam tas dan kemudian setelah mantap serta dorongan dari keempat temannya tersebut ia langsung mengirimkan chat kepada Kaisar. 'Selamat Malam Pak Kaisar. Mohon maaf jika saya mengganggu malam-malam begini. Apakah Bapak ada waktu untuk menerima telpon dari saya? Ada yang ingin saya sampaikan kepada Bapak dan harus dijelaskan melalui telpon. Bagaimana, Pak?' tulis Larissa pada kolom chat dirinya dengan Kaisar pada aplikasi w******p. Sekitar dua belas menit kemudian terdapat panggilan masuk dari Kaisar. Sontak saja Larissa berjingkat kaget dan malah ragu untuk menjawab telpon tersebut. Namun Dira yang sudah gemas ingin segera membuat masalah tersebut segera selesai satu persatu-satu langsung mengambil handphone milik Larissa dan menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan telpon dari pria tersebut. "Selamat Malam! Ada apa Larissa?" ucap Kaisar membuka pembicaraan terlebih dahulu. "Ehm, Selamat malam Mas. Maaf sudah ganggu waktunya malam-malam," jawab Larissa dengan terbata-bata karena merasa canggung setelah mendapatkan sikutan pada lengannya yang diberikan oleh Andita. "Nggak papa. Santai aja lagian saya juga sedang tidak ada kesibukan malam ini. Mau ngomong apa? Kayaknya penting banget ya sampai harus lewat telpon begini," ucap Kaisar dengan santai dan tenang. "Saya loud speaker ya, Mas. Soalnya nanti bakalan ada juga yang bantu saya buat ngomong ke Mas Kaisar," ucap Larissa dengan ragu. "Oh oke oke. Santai aja kalau sama saya. Lagian ini juga sudah diluar urusan kantor juga," ucap Kaisar dengan menyetujui permintaan Larissa. Akhirnya sesi obrolan kasus tersebut terjadi juga dengan ditemani empat orang jubir lainnya yang dengan sukarela membantu melengkapi penjelasan dari pemaparan yang dilakukan oleh Larissa kepada Kaisar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN