"Jadinya gimana, Ssa? Pacar lu minta ketemuan jam berapa hari ini?" tanya Dira yang semalam akhirnya memilih untuk tidur di kamar Larissa dan menemani temannya tersebut untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan karena emosi Larissa masih sangat labil dan naik turun.
"Belum tahu nih. Dia belum ngabarin sampai pagi ini, Ra" balas Larissa sembari menunjukkan layar handphone nya yang menampilkan chat room w******p nya dengan Pandu masih di posisi percakapan terakhir di hari Kamis.
"Sumpah deh, Ssa. Lu yakin masih tetap mau lanjut sampai sah sama orang yang kayak gini? Gue bukannya pingin bikin lu goyah atau gimana-gimana. Tapi bisa dilihat sendiri kan gimana tempramen emosinya kalau menghadapi suatu masalah. Pernikahan itu kan harapannya bisa selamanya sama dia sampai akhir hayat kita ya. Lu mau sampai kapan jadi korban peluapan emosi nggak stabilnya dia yang kayak gitu? Gue nggak mau lu terjebak dalam pernikahan yang kayak neraka nantinya. Mendingan lu selesain sekalian di awal aja sebelum kejadian daripada udah terlanjur terjadi karena untuk mundur lagi pastinya nggak akan mudah," ucap Dira dengan menatap nanar ke arah Larissa dan menggenggam kedua tangan Larissa dengan erat.
"Gue juga masih bingung dengan perasaan gue sendiri, Dir. Di satu sisi gue sayang banget dengan sikap dia yang baik-baik dan bahkan sangat membantu kehidupan gue selama di sini. Tapi gue juga pesimis banget bisa merubah sifat jeleknya yang satu ini. Walaupun dia kontrol emosinya sangat minus tapi entah kenapa gue masih merasa itu bisa ditoleransi karena dia kasar kayak gitu juga nggak saat selalu dia marah. Tapi ngelihat dia yang kalau baru kayak gitu gue juga sedih banget ditambah pula dia nyakitin fisik dan perasaan gue sekaligus dengan kata-katanya pas diposisi itu. Lu paham kan maksud gue, Dir?" balas Larissa dengan mata yang berkaca-kaca dan nada bicara yang bergetar.
"Gue paham maksud lu kok, Ssa. Tapi menurut gue sifat jeleknya ini nggak bakalan bisa lu ubah kalau bukan dia sendiri yang berniat mau berubah. Lu juga harus mikirin gimana ke depannya lho, Ssa. Oke lah kalau sekarang dia kayak psikopatnya cuma di titik-titik tertentu. Karena untuk saat ini dan pada status hubungan yang sekarang permasalahan kalian tuh masih intrik-intrik yang mainstream dihadapi orang-orang pacaran kayak yang lainnya. Yang gue sayangkan dari pacar lu adalah diposisi saat ini aja lu nggak bisa menebak-nebak emosi nggak stabilnya ini kapan akan muncul apalagi nanti kalau udah berumah tangga yang masalahnya bakalan bertubi-tubi dan lebih complicated, Ssa" ucap Dira dengan khawatir dan mata yang berkaca-kaca,
"Kalau di agama gue nih ya banyak yang bilang namanya pernikahan itu kan ibadah terlama yang dijalani seorang hamba Allah SWT ya. Pastinya yang namanya ibadah nggak akan mudah jalannya. Setan mana yang senang kita lancar jalanin itu apalagi dapat pahala pula kan. Udah gitu nilai plus nya ganjaran masuk surga. Dia nggak mau rugi dong ya dan bakalan ganggu kita lah gila aja dia nggak ada kerjaan cuma ngelihatin. Apalagi ini pihak cowok yang nantinya bakal jadi kepala keluarga lu, Ssa. Jangan sampai lu salah pilih untuk melanjutkan perjalanan hidup yang selanjutnya. Makanya ibu gue selalu bilang bagi lelaki memilih perempuan seperti sekolah untuk keturunannya sedangkan bagi perempuan memilih lelaki seperti memilih antara surga dan neraka. Kodratnya lelaki memang yang akan memilih kita sebagai pendamping hidupnya kelak. Tapi perempuan punya hak untuk memutuskan menerima dan menolak saat terpilih, Ssa. Gue cuma mau ngingetin lu aja untuk saat ini dan meminta lu mempertimbangkan lagi keputusan ini dengan matang-matang lagi," lanjut Dira dengan menganggukkan kepalanya yakin.
"Gue harus gimana, Dir? Gue memang akhir-akhir ini mulai merasa ada keraguan-keraguan yang nggak mendasar dalam hati gue tentang Pandu. Tapi gue juga nggak bisa mutusin hubungan ini sepihak dengan alasan yang jelas. Apalagi udah ada ini. Mau dibawa kemana nama keluarga gue kalau sampai nggak jadi ke jalur yang serius, sedangkan selama ini aja keluarga gue udah sering direndahin sama orang-orang? Tapi gue juga nggak mau terjebak dengan hal-hal yang lebih negatif lagi nantinya. Apalagi gue masih harus mikirin tanggungan gue yaitu Ibu dan adik gue," ucap Larissa dengan meneteskan air mata dan memutar-mutar cincin pertunangannya dengan Pandu yang tersemat pada jari manisnya.
"Sorry, Ssa. Untuk urusan ini gue memang nggak punya hak untuk ikut campur lu untuk memutuskan arah hubungan kalian ini nantinya mau dibawa kemana. Tapi kalau ini terjadi di hidup gue maybe gue akan lebih memilih keputusan terpahitnya sekalipun. Karena gue rasa untuk menjalani rumah tangga, sepertinya gue nggak akan kuat menghadapi nahkoda yang modelan Pandu kayak gini. Soalnya pilihan dua-duanya sama-sama punya plus minus masing-masing. Jadi gue bakalan ambil keputusan yang resikonya masih bisa ditoleransi daripada memaksakan dan berakhir remuk redam setelahnya. Emang sih kedengarannya egois. Tapi yang nantinya akan menjalani pilihan itu kan diri kita sendiri. Jadi pilihan gue lebih baik melindungi diri saja. Sorry banget gue ngomong gini dan malah bikin lu tambah overthinking lagi," ucap Dira dengan menyesal.
"Gue nggak merasa kata-kata lu jadi bikin gue overthinking atau nambah-nambahin pikiran jelek gue ke Pandu kok, Dir. Malah gue merasa ternyata ada juga orang yang berpikiran sama kayak gue. Selama ini gue pikir apa yang gue pikirin belakangan ini cuma firasat aneh-aneh sebelum menikah aja atau termasuk cobaan buat gue sama Pandu untuk mempertahankan hubungan ini. Tapi setelah dengar semua wejangan dari lu gue jadi sadar dan berpikir lebih rasional lagi saat ini karena kalau ditarik gari lurus sebenarnya selama ini gue selalu denial dengan semua yang terjadi diantara kita berdua. Gue terlalu takut untuk berpikiran buruk ataupun negatif sedikitpun tentang semua ini. Sampai akhirnya gue selalu memaklumi apa hal-hal minus yang terjadi diantara kita berdua dan masih punya pikiran dan harapan nantinya gue akan mendapatkan hal baik dari kesabaran ini ataupun dia berubah dengan sendirinya ataupun dengan dipandu gue sebagai pendamping hidupnya. Tapi gue juga sadar perilaku dia yang ini nggak bisa secepat itu akan berubah dan kemungkinannya untuk berubah juga masih abu-abu banget," ucap Larissa dengan murung dan getir.
"Nggak papa, Ssa. Gue juga kadang masih berpikiran kayak lu kok kalau menghadapi Bagas. Kadang memang yang namanya perempuan yang lebih dominan dipakai perasaannya dulu. Jadi ya kita milih selalu menjadi peredam saja agar permasalahan itu selesai dengan mudah daripada menghadapinya dan malah jadi rumit dan melebar kemana-mana. Padahal kita juga nggak tahu realita yang terjadi kalau kita hadapi nantinya bakal gimana. Bisa aja dengan adanya komunikasi yang lancar dan kejujuran diantara kedua belah pihak malah selesai dengan tuntas dibandingkan kita menghindarinya dengan pikiran cara itu yang lebih baik untuk meredam semuanya tapi hati kita lama-lama dongkol juga. Pesan gue sekarang ke lu, Gue cuma minta lu bisa lebih tegas dan rasional lagi aja dalam menghadapi hubungan yang kalian berdua jalanin saat ini. Untuk terdekatnya kasus yang sekarang kalian hadapi ini selesaikan sampai tuntas tanpa adanya kesalahpahaman lagi dari Pandu," ucap Dira dengan tersenyum tipis dan mengusap air mata yang mengalir dari mata Larissa.
"Hah! Bener banget, Dir! Kalau nanti gue sama Pandu janjian buat ketemuan. Ntar lu sama Bagas pantau kita dari jauh ya. Gue takut ntar terjadi hal-hal yang tambah bikin masalah baru lagi. Apalagi Pandu baru dalam kondisi tempramen kayak sekarang. Please bantu gue ya, Dir!" ucap Larissa memohon dengan putus asa serta helaan yang menderu dan tatapan sendunya.
"Oke siap, Ssa. Lu kasih kabar aja ntar tempatnya dimana. Ntar gue sama Bagas bakalan nyusul ke lokasi tempat janjian kalian berdua," ucap Dira dengan menyunggingkan senyumnya dan menenangkan Larissa.
"Thank you banget kalian berdua udah bantuin gue dari tadi malam," ucap Larissa sembari memeluk Dira.