CLEAR?

1417 Kata
"Kamu jemput aku atau kita ketemu di tempat, Yang?" tanya Larissa pada Pandu lewat sambungan panggilan telepon yang sedang mereka lakukan saat ini. "Aku jemput kamu. Emangnya kamu mau berangkat sendiri? Naik apa?" balas Pandu dengan nada datar. "Ehm, Maksudnya kalau kamu nggak bisa jemput nanti aku bisa berangkat naik Oh-jek. Atau pinjam motornya anak kos, Yang" balas Larissa dengan lirih. "Nggak usah! Aku jemput aja ke kosan kamu. Nanti malah kenapa-napa di jalan malah tambah jadi masalah. Aku jemput kamu jam setengah sebelas, Yang!" ucap Pandu dengan tegas dan lugas. "Ah! Oke aku tunggu kamu jemput deh. Nanti kalau kamu udah mau on the way jangan lupa kasih kabar ke aku ya, Yang" ucap Larissa akhirnya dengan pasrah menuruti perkataan kekasihnya yang masih dalam keadaan suasana hati yang tidak baik tersebut. "Iya nanti aku kabarin. Kamu jangan lupa suruh orang itu datang!" ucap Pandu dengan datar namun terdapat penekanan dan terlihat ia emosi. "Iya, Yang. Nanti aku kasih tahu dia untuk datang di tempat kita ketemuan dan menjelaskan semuanya tentang masalah yang kemarin dan hubungan pertemanan diantara kita berdua," ucap Larissa dengan lembut dan memilih kata-kata yang tepat untuk meredam emosi yang nantinya akan tersulut dan malah bisa jadi akan membuat Pandu bad mood seharian ini. Ia takut nantinya malah menjadi tambah runyam saat di perjalanan mereka berdua menuju tempat makan dan tempat pertemuan tersebut. "Hmm. Up to you lah nanti gimana. Yang penting dia harus datang! Dan kalian berdua jelasin semuanya," ucap Pandu dengan tegas. "Iya, Yang. Aku usahain dia bisa datang," ucap Larissa mengiyakan perkataan dari kekasihnya tersebut. "Hmm, Bye!" ucap Pandu menyudahi percakapan panggilan telepon mereka dan langsung mematikannya. Larissa hanya bisa menghela napasnya dan menyandarkan kembali tubuhnya pada kasur. Ia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi nantinya di dalam hubungan dirinya dengan Pandu ataupun antara hubungan dirinya dengan Kaisar yang nantinya menjadi tak karuan karena pertemuan mereka nantinya. Menurutnya ini adalah hari Sabtu yang nantinya akan membuatnya lelah baik dari segi pikiran maupun emosional. Tapi mau tidak mau memang harus dia hadapi. Larissa mengirimkan chat via w******p kepada Kaisar untuk lokasi dan jam tempat mereka bertiga janjian akan bertemu nantinya. 'Oke. InsyaAllah saya usahakan akan datang. Tapi kemungkinan saya akan sedikit telat karena harus mengantarkan keponakan saya untuk les balet di jam yang sama,' balas Kaisar pada isi chat w******p yang ia kirimkan kepada Larissa. "Nggak papa, Mas. Mas Kaisar bisa datang saja sudah sangat membantu saya sekali. Sekali lagi terimakasih dan mohon maaf malah membuat Mas Kaisar terseret pada masalah kesalahpahaman seperti ini," ucap Larissa membalas pesan chat Kaisar dengan perasaan yang tidak enak dan sungkan. 'Oke, Ssa. Sama-sama. Kalau saya bisa membantu meluruskan kesalahpahaman ini pastinya akan saya lakukan. Lagian saya juga terlibat di dalam kasus ini kemaren,' ucap Kaisar dalam balasan pesan chat w******p diantara keduanya. "Baik, Mas. Ya sudah dilanjutkan kembali aktivitasnya. Mohon maaf sudah mengganggu waktunya. Pagi!" ucap Larissa segera mengakhiri percakapan diantara keduanya agar tidak semakin panjang lagi. 'Oke. Kamu nggak ganggu sama sekali kok, Ssa. Pagi juga dan sampai bertemu nanti,' ucap Kaisar membalas chat terakhir yang diberikan oleh Larissa. Larissa memutuskan untuk tidak menjawab kembali percakapan diantara mereka dan bahkan dia juga tidak membaca chat dari CEO PT. Indra Cipta Abadi tersebut. Lalu ia berjalan ke kamar Dira untuk memberikan kabar kepada temannya tersebut perihal tempat pertemuan dirinya, Pandu, dan Kaisar. "Kenapa, Ssa?" tanya Dira saat perempuan tersebut membuka pintu kamar kosnya. "Gue mau ngasih tahu ke lu kalau nanti gue, Pandu, dan Mas Kaisar bakal ketemuan di Restoran Pagi Sore Pantai Indah Kapuk pas jam makan siang. Pandu nanti jemput gue jam setengah sebelas buat ke sana," ucap Larissa dengan tersenyum tipis. "Oke oke. Ntar gue sama Bagas berangkat jam sepuluh lebih dua puluh menit deh. Biar ceritanya gue dulu gitu yang nyampe sama Bagas ntar kan Pandu ngiranya nggak sengaja ketemu kita. Are you ok berangkat berdua sama Pandu doang? ucap Dira dengan menatap ke arah Larissa. "Oke. Nanti kalian cari tempat duduk yang sekiranya nggak dekat sama posisi kita tapi tetap bisa ngelihat meja kita bertiga ya, Dir. Oke kok. Yang penting aku usahain untuk nggak mancing-mancing emosinya dia lagi aja dan lebih milih-milih lagi kalau lagi ngobrol sama dia, Dir. All is well, Beb. Ya udah gue balik ke kamar lagi ya buat siap-siap mau mandi, haha" ucap Larissa dengan menyunggingkan senyumnya dan menepuk pundak Dira untuk menenangkan kekhawatiran temannya tersebut. Benar saja pukul setengah sebelas mobil Pandu sudah terparkir rapi di depan pagar kos-kosan Larissa dan setelah Larissa siap dengan riasannya, mereka langsung bergegas untuk berangkat ke Restoran Pagi Sore tersebut. Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam yang dihiasi dengan keheningan, akhirnya mereka berdua sampai juga pada halaman restoran tersebut. Mereka berdua langsung memesan menu santapan makan siang untuk mereka bertiga dan menunggu kedatangan Kaisar. Tak lama setelah kedatangan mereka berdua, akhirnya Kaisar muncul juga lima belas menit setelahnya. Pandu menatap kedatangan Kaisar dengan mengerutkan keningnya. Entah kenapa ia merasa tidak asing dengan sosok Kaisar. Tapi dia juga lupa pernah bertemu sosok seperti Kaisar dimana saat itu. Tapi ia tetap mencoba sedikit beramah tamah dengan pria tersebut dengan mengajak Kaisar untuk berjabat tangan. "Mohon maaf sudah mengganggu waktu anda di hari Sabtu seperti ini. Pandu," ucap Pandu dengan basa-basi. "Tidak apa-apa. Saya juga hari ini tidak ada kesibukan dan Larissa juga meminta saya untuk membantunya menjelaskan kesalahpahaman diantara kalian berdua karena kehadiran saya tadi malam. Saya Kaisar," ucap Kaisar dengan dingin. "Oke. Kita bahas hal tersebut setelah menyantap makan siang saja, Bagaimana?" tanya Pandu menawarkan option kepada Kaisar. 'Kaisar? Nggak mungkin kan Kaisar yang itu," batin Pandu. "Oke," ucap Kaisar menyetujui permintaan Pandu. Setelah selesai menyantap menu makan siang dari Restoran Padang tersebut, Akhirnya sesi meluruskan kesalahpahaman tersebut tiba juga. "Jadi kalian berdua ingin menjelaskan dari mana?" tanya Pandu sembari menatap ke arah Larissa dan Kaisar secara bergantian. "Oke saya saja yang menjelaskan, Ssa. Saya dan Larissa baru berkenalan beberapa minggu ink karena adanya insiden kecelakaan antara saya, Larissa, dan temannya yang bernama Dandi. Lalu akhirnya kami bertemu lagi karena PT. Arta Citra Pusaka lolos pengajuan tender pembangunan villa oleh kami pihak PT. Indra Cipta Abadi. Kebetulan kemarin sore adalah waktu penandatanganan kontrak antara kedua belah pihak pada PT. Arta Citra Pusaka. Lalu saat saya akan pulang kebetulan saya melihat Larissa sedang duduk di pos satpam saat jam pulang kerja. Ya sudah saya tanya saja kenapa disitu. Ternyata dia menunggu orderan Oh-jek yang ia pesan untuk diambil oleh driver. Karena kemaren keadaan juga sedang mendung sekali dan berakhir hujan, akhirnya saya menawarkan diri untuk sekalian mengantarkan dia pulang saja bersama saya yang kebetulan satu jalur juga kos-kosannya dengan jalan perjalanan saya untuk pulang ke rumah. Hubungan diantara kami berdua hanya sebatas teman saja dan saya juga sudah memiliki tunangan," terang Kaisar dengan runtut dan jelas seperti kejadian yang sebenarnya. "A-ah begitu. Pantas saja saya merasa tidak asing dengan anda. Saya juga karyawan PT. Arta Citra Pusaka. Mohon maaf atas kesalahan saya yang sudah berburuk sangka tentang kejadian semalam kepada anda, Pak" ucap Pandu dengan canggung karena ternyata orang yang berada dihadapannya benar seperti yang ia duga setelah ia mengetahui nama pria tersebut. "Jika kamu masih kurang yakin dengan perkataan saya, Kamu bisa tanyakan perihal kemaren dengan satpam yang bersama Larissa di pos satpam tersebut kemarin," ucap Kaisar dengan datar dan menatap Pandu. "Baik, Pak. Terimakasih atas penjelasannya. Kemarin saya juga sedang dalam keadaan suasana hati yang tidak baik dan menjadikan saya gelap mata tentang hal ini tanpa memikirkan kemungkinan-kemungkinan lainnya sebagai pertimbangan dari kesalahpahaman ini," ucap Pandu dengan tersenyum tipis. "Oke. Saya tidak terlalu ambil pusing dengan masalah ini. Tapi pesan saya sebelum menduga sesuatu dengan emosi lebih baik pikirkan dulu dengan kepala dingin apalagi ini berkaitan dengan perempuan yang lebih mendahulukan perasaannya," ucap Kaisar dengan menyandarkan tubuhnya pada kursi. "Baik, Pak. Terimakasih atas masukannya. Berkat penjelasan dari anda kesalahpahaman ini sudah clear," ucap Pandu dengan sungkan. "Oke. Kalau begitu karena sudah clear masalahnya saya pamit undur diri dulu karena harus menjemput keponakan saya terlebih dahulu dari les baletnya," ucap Kaisar sembari berdiri dari duduknya. "Ah Baik, Pak. Mohon maaf sudah menggangu waktu Bapak. Mari saya antarkan ke depan, Pak" ucap Pandu. "Tidak usah. Untuk urusan diluar perusahaan anggap saja saya seperti orang biasanya yang kalian kenal. Saya tidak menuntut keprofesionalan seseorang jika diluar urusan pekerjaan," ucap Kaisar. "Terimakasih atas waktunya, Mas. Hati-hati untuk di perjalanannya," ucap Larissa setelah bungkam sedari tadi untuk mendengarkan percakapan diantara kedua laki-laki tersebut. "Iya, Sama-sama. Kalian juga hati-hati saat perjalanan pulang. Mari!" ucap Kaisar yang kemudian meninggalkan meja makan mereka bertiga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN