KEJELASAN

1084 Kata
"Hmm, Iya deh saya percaya mentang-mentang Bapak ada uang dan ganteng. Cewek mana yang nggak nyantol ya kan?" ucap Larissa dengan datar. "Oh, jadi saya tampan ya? Tapi kalau bisa jangan panggil saya Bapak. Karena umur saya belum setua itu untuk dipanggil Bapak," ucap Kaisar dengan menatap tajam ke arah Larissa. "Ehm, Ya menang dikit lah ya buat ketampanannya. Saya manggil anda Bapak karena bentuk keprofesionalan saya sebagai karyawan PT Arta Citra Pusaka," ucap Larissa dengan menaik turunkan alisnya pertanda ia kebingungan dengan kepribadian CEO dari PT Indra Cipta Abadi tersebut. "Tapi ini di luar kantor dan kejadian ini termasuk ke dalam masalah pribadi. Jadi saya tidak membutuhkan sikap profesional kamu di sini," ucap Kaisar sembari menunjuk tempat mereka bercengkrama saat ini. "Ya sudah. Lagian kita juga tidak sedekat yang anda pikirkan untuk memanggil dengan sebutan yang terkesan akrab, Pak. Sekarang Bapak mau saya panggil dengan sebutan apa?" ucap Larissa dengan cuek dan pasrah. "Kita sudah pernah bertemu dua kali. Nggak ada salahnya untuk saat ini kita saling mengenal satu sama lain," ucap Kaisar dengan menatap ke arah Larissa dan membetulkan posisi duduknya. "Oke, saya dulu deh yang memulai. Nama saya Larissa. Saya karyawan PT Arta Citra Pusaka pada Departemen Keuangan. Pakai umur nggak nih, Pak?" ucap Larissa dengan menodongkan tangannya untuk menjabat tangan pria tampan yang berada di sampingnya tersebut. "Ehm, Boleh sekalian aja. Biar saya juga enak manggil kamu dengan sebutan apa nantinya. Nama saya Kaisar. Mungkin kamu sudah mengetahui jabatan saya seperti apa pada PT Indra Cipta Abadi jadi saya tidak perlu menjelaskan kembali ya. Umur saya saat ini dua puluh delapan tahun. Jadi kamu bisa panggil saya nama atau terserah kamu mau ngasih panggilan apa yang penting bukan bapak," ucap Kaisar dengan menuntut dan membalas jabatan tangan dari Larissa. "Umur saya dua puluh enam tahun, Pak. Emangnya sepenting itukah sebutan diantara kita berdua, Pak? Toh juga kita bakalan jarang ketemu jika di luar urusan kantor," ucap Larissa dengan mengerutkan keningnya tanda ia berpikir keras. "Berarti kamu lebih muda dua tahun dari saya ya. Saya panggil kamu Rissa saja ya. Ya memang kita jarang ketemu di luar kantor nantinya. Tapi kalau ketemu kan lebih enak panggil yang selain Bapak gitu," ucap Kaisar dengan menatap dalam ke arah Larissa. "Oke. Kalau gitu saya panggil Mas Kaisar saja ya, Pak. Tapi kalau saat urusan kantor ataupun posisinya sedang di kantor saya akan panggil anda Bapak lagi," ucap Larissa mengiyakan kesepakatan diantara dirinya dengan pria yang saat ini bersamanya tersebut. "Oke deal! Karena sekarang kita di luar kantor. Mendingan kita bicara secara informal saja. Biar lebih luwes juga," ucap Kaisar dengan menerbitkan senyum tipisnya. "Hmm, iya deh Pa-eh Mas. Sorry masih kebawa, Mas" ucap Larissa dengan tergagap dan canggung. "Oke nggak papa. Santai aja, Ssa" ucap Kaisar dengan menganggukkan kepalanya. "Eh iya, Mas" balas Larissa dengan membetulkan posisi duduknya agar kembali menatap ke arah banner yang berada dihadapannya sebelumnya. Keheningan saat ini meliputi diantara kedua orang berbeda jenis tersebut. Dandi yang masih berada di IGD belum terlihat batang hidungnya sampai saat ini. Padahal Dandi sudah di dalam selama dua puluh menit. "Aku ingin minta maaf tentang perkara yang terjadi saat kita berada di Butik Almira waktu itu, Ssa. Aku nggak bermaksud untuk memaksa kamu dan merendahkan diri kamu saat itu dengan perilaku yang aku berikan kepada kamu," ucap Kaisar membuka pembicaraan untuk memecah keheningan diantara keduanya. "Oh nggak papa kok, Mas. Saya waktu itu juga sedang bad mood karena calon saya tidak jadi datang. Mungkin memang saat itu nasib kita samaan jadi ya boom kita bisa klop dengan sandiwara itu," ucap Larissa dengan menatap ke arah Kaisar. "Saat itu saya memang hanya berangkat sendiri saja. Calon istri saya sedang sakit dan sudah opname selama lima hari di Rumah Sakit Abdi Husada. Karena dia sudah memesan gaun pernikahan kami satu bulan sebelumnya jadi saat itu adalah waktu kami pengecekan ukuran kembali dan akhirnya saya mau tidak mau harus datang sendiri dan waktu itu entah mengapa saat melihat kamu yang kebingungan dan terlihat panik menunggu seseorang membuat aku tergerak untuk menjadikan kamu pengganti calon mempelai wanitaku saja," ucap Kaisar menjelaskan kronologi yang terjadi saat itu yang mengakibatkan mereka berdua harus bersandiwara sebagai calon pengantin atau Larissa yang terpaksa didapuk menjadi calon mempelai wanita Kaisar. "Oh jadi itu alasannya. Semoga calon mempelai wanita Mas Kaisar lekas sembuh dari penyakitnya ya. Kalau boleh tahu sakit apa, Mas? Sebenarnya saya juga merasa sedikit tertolong juga atas ajakan Mas sebagai pendamping saat itu. Karena saya sudah datang setengah jam sebelumnya dan menunggu kedatangan calon suami saya yang tidak berkabar tentu saja membuat saya panik dan malu kepada karyawan yang sudah membantu memilah-milah rancangan baju pernikahan yang cocok untuk saya saat itu," ucap Larissa dengan sedikit menyunggingkan senyuman pada bibirnya. "Dia mengidap penyakit kanker otak. Saat ini dia masih dalam keadaan koma. Maka dari itu saat di Butik saya meminta bantuan kamu karena merasa sepertinya kita sama-sama saling membutuhkan satu sama lain," ucap Kaisar dengan tenang. "Turut berduka ya, Mas. Semoga calon istrinya Mas Kaisar segera diberikan kesembuhan dan kesehatan kembali. Tapi saat itu bukannya ukuran baju pengantin wanitanya dibuat seperti ukuran tubuh saya ya, Mas? Apa malah nggak merusak ukuran baju pengantin wanitanya Mas Kaisar? Soalnya kalau dari ukuran baju yang sebelumnya kan agak kebesaran sedikit waktu itu," ucap Larissa dengan mengetuk-ngetukkan jarinya pada kursi kosong yang berada di sampingnya. "Amin. Terimakasih atas simpati dari kamu untuk calon istriku. Saya pikir saat itu ukuran tubuh calon istri saya dengan ukuran tubuh kamu hampir mirip. Jadi mungkin dari pihak Butik Almira memang membuat gaun tersebut dengan ukuran yang lebih besar sedikit untuk memperkirakan apakah adanya perubahan besar pada tubuh calon istri saya setelah satu bulan yang lalu. Lagian kan lebih baik kebesaran tapi bisa dikecilkan daripada kekecilan tapi susah untuk dibesarkan kembali," ucap Kaisar dengan menatap ke arah Larissa lembut. "Sama-sama, Mas. Tapi kalau nanti ternyata nggak sesuai dengan perkiraan Mas Kaisar gimana? Kan malah jadi susah kalau kekecilan dari ukuran tubuh calon istrinya Mas. Apalagi kemaren gaun pengantinnya bagus banget. Kan sayang kalau nantinya akhirnya nggak jadi terpakai karena kekecilan," ucap Larissa dengan murung. "Ya sudah. Kami tinggal buat gaun pengantin yang baru saja. Kamu sudah jadi mencari gaun pengantin untuk pernikahan kalian sekarang?" ucap Kaisar dengan santai. "Wah mentang-mentang banyak duit jadi semuanya mudah ya, Mas. Saya yang kamu mendang-mending ini merasa tersinggung lho. Sudah, Mas. Kami tapi tidak jadi pesan di Butik Almira," jawab Larissa dengan sumringah. "Hahaha, Baguslah. Semoga kamu dan calon suamimu bisa langgeng sampai hari H dan sampai mau memisahkan ya," ucap Kaisar dengan terkekeh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN