Erin berdiri di persimpangan lampu merah. Memandang penuh harap pada butik di seberang jalan. Tempat di mana dirinya melihat wanita yang amat mirip dengan sang mama keluar bersama seorang pria. Dirinya ingin melihat wanita itu sekali lagi. Menghapus jejak rindu pada mamanya yang kini entah berada di mana. Pandangannya kemudian beralih pada tiang lampu lalu lintas, tempat di mana Kean selalu berdiri atau duduk bersandar di sana. Menunggu pergantian warna lampu. Namun, sekarang di tiang lampu itu tidak ada lagi sosok sang kakak. Di sana hanya ada tiga orang anak kecil yang melepas tawa, tanpa ada seorang pun yang mau menyapanya. Tiba-tiba saja air mata Erin tertumpah tanpa sebab. Anak kecil itu tidak mengerti kenapa ia menangis, hanya dapat merasakan hatinya kosong dan sepi. Kerinduan pada

