Bagas menjatuhkan tubuhnya di sofa. Ia tatap wajah Aira yang saat ini tengah menundukkan kepalanya. Bagas lalu mencengkram kedua lengan Aira. “Sekarangkan jelaskan padaku, Ra. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu meminta ku untuk berbohong kepada om kamu? ada masalah apa lagi kali ini?” Sejak tadi, kedua mata Bagas bahkan menatap leher putih Aira. Leher yang kini dipenuhi oleh tanda merah yang Rain tinggalkan malam itu. Ia bukanlah pria bodoh yang tidak tahu tanda apa itu. Bahkan, tanpa Aira menjelaskan padanya pun, ia sudah tahu apa yang sebenarnya telah terjadi di antara Aira dan Rain. “Ra, jujur sama aku sekarang. Apa yang sebenarnya terjadi?” desaknya lagi. Bagas ingin mendengarnya langsung dari mulut gadis yang masih sangat dicintainya itu. Aira menggelengkan kepalanya. “M

