Bagian 15

1386 Kata
Ada yang baik di depan doang Ada yang emang baik beneran Ada juga yang baik tapi suka ngomongin dibelakang Makin kesini jadi paham kalau isi kepala dan hati manusia itu beda-beda. ~Rea Rea yang sedang mengantri makanan melihat lea sedang berjalan kearahnya untuk memesan makanan yang sama. "Hai reaa" sapa lea senang, karena rea dan lea memang beda kelas rea anak kelas dua belas mipa 1 yang merupakan anak ambis semua jadi mereka jarang bertemu selain di luar kegiatan osis. "Kamu mau pesen batagor juga?" tanya rea. "Iya, tapi temen aku pada pesen indomie semua jadi sendirian antrinya" cemberut lea yang memang antri sendirian karena temannya pada ingin makan indomie sedangkan dirinya sudah nyidam batagor dari kemarin. "Aku tadi juga sendirian ntar gabung sama temen lo ya" ujar rea yang memang ke kantin sendirian, rea memang tak seperti lea yang mempunyai banyak teman ia lebih senang kemana-mana sendiri, ditambah kelasnya yang memang anak pintar semua mereka rata-rata memilih makan di depan kelas sambil membaca buku timbang pergi makan ke kantin. Biasanya rea juga makan di depan kelas namun hari ini ia ingin makan di kantin, moodnya sedang tidak baik apalagi tadi wahyu makan di depan kelasnya bersama seorang cewek yang membuat rea bertambah malas, meskipun beda kelas namun kelas mereka sebelahan, wahyu yang kelas 12 mipa 2 selalu mengganggu rea yang merupakan tetangga kelasnya. Ngeselin sih sudah jadi mantan masih saja senang mengganggu pikir rea, meskipun terkadang ia rindu saat-saat cowok itu perhatian dengan menemaninya kemanapun ia ingin pergi, bahkan cowok itu rela pergi keperpustakaan timbang kekantin meskipun akhirnya wahyu hanya duduk mengganggu rea yang membaca namun kedatangan wahyu sedikit mengubah hari rea, wahyu yang ceria, wahyu yang receh, wahyu yang jahil, dan wahyu yang selalu ada buat rea namun itu dulu. "Re, kok malah ngelamun" lea menepuk pundak rea membuat perempuan itu sadar dari lamunannya. "Eh iya, yuk ke meja temen lo" ajak rea yang sudah mendapatkan batagor mereka. "Ayok" Baru saja beberapa langkah berjalan lea memegang kepalanya membuat rea yang berada di belakangnya memandang tubuh kurus sahabatnya. "Lo ngakpapa kan le" tanyanya khawatir. "Nggakpapa" jawab lea namun dari suaranya saja rea tahu kalau gadis itu sedang menahan sakit. Rea lebih memilih diam sambil mengekori lea dan memperhatikan langkah gadis itu, takut jika gadis di depannya tak dapat menjaga keseimbangan badannya. Dugaannya benar lea jatuh, namun bukan karena ia tak dapat menahan keseimbangan tubuhnya tapi karena kaki salah seorang cewek yang mencegal langkah lea, rea yang melihat kejadian itu memilih menolong lea terlebih dahulu karena sudah banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka. "Ya ampun lea lo ngakpapa" ujar sebuah suara. "Le, kepala lo pusing biar gue papah ya kita ke uks" ujar rea yang disetujui lea namun baru saja ia akan berdiri lea pingsan dengan darah mengalir di hidung cewek itu membuat rea semakin khawatir, ia juga bingung bagaimana mengangkat tubuh lea meskipun ia kurus namun tetap saja tenaga perempuan tak sekuat itu untuk mengangkat tubuh orang lain. "Minta bantuan anak cowok re" ujar reta lagi. "Diem bisa nggak sih lo, ini juga gara-gara lo yang sengaja bikin lea jatuh s****n" bentak rea emosi, ia sudah menahan amarahnya sedari tadi saat reta sengaja mengeluarkan kakinya dari kolong meja saat lea hendak lewat. Reta yang mendengar bentakan rea terkejut, ia kira tadi rea tak melihat ulahnya reta hanya kesal melihat lea yang selalu menjadi pusat perhatian dan dekat dengan atha, reta juga benci melihat anak cowok dikelasnya selalu memujinya, dirinya yang sudah berusaha agar dia terlihat dimata semua orang nyatanya tak membuat anak cowok di kelasnya memujinya seperti memuji lea, sedari kecil dirinya kurang diperhatikan oleh kedua orang tuanya, apa ia salah jika dirinya menginginkan perhatian lebih dari orang lain. "Rea aku tadi nggak seng..." ucapan reta terpotong oleh kedatangan seseorang tanpa permisi laki-laki itu membopong tubuh lea di ikuti oleh teman-teman lea dan juga rea. "Awas lo ya" ancam rea pada reta sebelum pergi meninggalkan area kantin. Sedangkan reta mengabaikan ucapan rea perhahatiannya lebih terfokus pada atha yang menggendong tubuh lea tadi. "s****n, ada hubungan apa mereka" Batinnya. ******** Atha tadinya hanya ingin melihat lea berjalan, memastikan langkah perempuan yang ia cintai meskipun lea dapat tertawa lepas namun wajah pucat gadis itu cukup menunjukkan bahwa lea sakit. Baru beberapa menit atha menundukkan pandangan saat ia menolehkan kepalanya pada lea lagi perempuan itu langsung jatuh, dengan langkah lebarnya ia langsung menghampiri sang kekasih tak peduli reaksi orang sekitar ia hanya ingin memastikan gadisnya baik-baik saja. "Diem bisa nggak sih lo, ini juga gara-gara lo yang sengaja bikin lea jatuh s****n" suara rea membuat atha mengerutkan keningnya namun melihat lea yang pingsan dan mimisan membut ia mengabaikan itu, ia langsung mengangkat tubuh lea melewati kerumunan, seakan tahu atha akan lewat kerumunan itu otomatis memberinya jalan. Setiap langkah atha ia berdo'a agar gadisnya baik-baik saja, demi tuhan saat ini ia takut jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, napasnya memburu, begitu sampai uks rea dengan sigap memanggil dokter sekolah. "Lea sadar dong, jangan bikin orang khawatir" ujar salah satu teman lea yang atha ketahui namanya kara. "Telpon ayah sama bundanya juga" saran sukma. "Tapi mereka lagi diluar kota" "Terus gimana?" "Telpon Tantenya lea aja gimana?" usul sofia yang langsung disetujui mereka. "Permisi bentar ya, biar temannya saya periksa dulu" Dokter yang di panggil rea akhirnya datang, gadis itu ikut bersender disebelah atha menormalkan nafasnya yang masih memburu. "Lea hanya kecapekan makannya mimisan, mungkin karena kekurangan cairan ia jadi pingsan" jelas dokter itu membuat mereka semua lega. "Nanti makannya kasih yang lembut dulu ya bubur atau roti, kayaknya lea punya riwayat tifus" "Iya dok, terimakasih" Setelah dokter itu pergi pandangan teman-teman lea menoleh ke arah atha, seakan bertanya ngapain laki-laki itu masih disini. "Makasih ya ta udah nolongin teman kita" ujar kara. "Iya" jawab atha. "Gue balik ke kelas dulu ya semua" ujar rea yang di ikuti atha, sejujurnya atha berat meninggalkan lea namun mau gimana lagi hubungannya dengan lea tak ada orang yang tahu. Di kelas atha menjadi tak tenang memikirkan lea, ia sudah berniat akan langsung ke rumah cewek itu saat pulang sekolah nanti. "Lo ada hubungan apa sama lea?" tanya abas kepo. "Atau lo pacaran sama lea tapi diem-diem ya? kan sekarang jamannya kayak gitu" sahut aldo tepat sasaran. "Nggak, dia temen gue" jawab atha namun tak memuaskan semua temannya, mereka masih kepo mengenai hubungan atha dan lea namun juga segan bertanya takut cowok itu marah bisa bahaya. Sepulang sekolah atha langsung pergi ke rumah lea, namun ternyata banyak teman lea yang juga menjenguk gadis itu membuat atha memutar arah, ia menaruh motornya di halaman belakang rumah lea, sedikit usaha lalu ia memanjat pagar belakang yang tingginya tiga meter, setelah itu atha mengendap untuk masuk. Sebelum naik ke lantai atas atha memastikan teman-teman lea apakah sudah pulang apa belum, namun baru saja ia menaiki dua tangga suara orang berjalan turun tangga membuat atha menghentikan langkahnya, ia memilih berbalik kemudian sembunyi di belakang tangga seperti maling yang takut ketahuan. "Lo harus jaga kesehatan ya, awas sakit-sakitan lagi" petuah kara, perempuan itu terlihat masih enggan meninggalkan lea. "Iya le, jangan sok kuat lo kalau sakit nyeremin nggak pernah bilang tau-taunya langsung pingsan" sahut Sofia. "Jangan banyak kegiatan dulu, bentar lagi lo sibuk ngurus classmeeting habis tengah semester satu kan" "Iya-iya kalian tenang aja, gue udah mendingan nih makasih ya" kata lea melihat kekhawatiran teman-temannya. "Yaudah kita pulang, obatnya diminum" "Kalau ada apa-apa langsung hubungin kita" ujar vani yang di angguki mereka semua. "Iya, makasih ya" kata lea tulus. Baru saja lea hendak berbalik arah namun kedatangan lelaki yang menjulang tinggi tepat di depannya membuat ia kaget. "Atha, kok kamu bisa ada disini?" heran lea. "Aku punya seribu cara biar deket sama kamu sayang" sombong atha. "Terus tadi lewat mana?" tanya lea penasaran. "Halaman belakang, udah sekarang kamu istirahat ya aku nggak mau kamu pingsan lagi" "Terus mo..." ucapan lea terpotong karena lelaki itu dengan seenak jidatnya mengangkat tubuh lea membuat perempuan itu terkejut. "Aaa atha ngeselin banget sih, turunin nggak" "Jangan gerak le, kita bisa jatuh ke bawah bareng" "Sayang aku takut" mohon lea yang takut saat cowok itu nekat mengangkat tubuhnya menaiki tangga. "Udah berapa lama kalian punya hubungan?" suara orang yang sangat lea kenali membuat ia dan atha menegang di tempat, atha menurunkan lea pelan-pelan memastikan perempuan itu tak jatuh. "Jadi selama ini kalian pacaran" tanya perempuan itu lagi membuat lea bingung mau menjawab apa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN